Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Mualaf

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (5): Indonesia Telah Merdeka, Perjuangan Selanjutnya adalah Dakwah

“Setelah merdeka tujuan dakwah Islam Karim Oey difokuskan kepada etnis Tionghoa di Indonesia. Pertimbangannya adalah bahwa dakwah terhadap etnis Tionghoa akan lebih efektif apabila dilakukan oleh sesama etnis Tionghoa yang muslim.” –O– Di dalam penjara, Letnan Van den Berg mendatangi Karim Oey tengah malam. Mereka berdialog berhadapan, namun Karim Oey tidak dapat melihat wajah Van… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (4): Pengkhianatan Masyumi Bengkulu

“Pembentukan Negara Federal Bengkulu tanpa memberi tahu pemerintah, maka itu berarti mancung pipi daripada hidung, dan sikap saudara-saudara ini termasuk pengkhianat bangsa.” ­–O– Tentara Belanda terus mendesak. Desa Tabarenah tak dapat dipertahankan sehingga mereka leluasa memasuki daerah Muara Aman. Sebentar-sebentar mereka muncul di sekitar kota kecil itu. Akhirnya Karim Oey dan kawan-kawan terpaksa mencari tempat… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (3): Perjuangan Kemerdekaan

“Pasca agresi militer Belanda ke-2,  Oey menjadi buronan tentara Belanda. Mengetahui hal ini, dia melarikan diri ke pedalaman Bengkulu.” –O– Tiga bulan setelah proklamasi, tepatnya pada tanggal 7 November 1945 berdiri sebuah Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) di Yogyakarta. Pada tahun 1946, Masyumi didirikan juga di Bengkulu, di sana Abdul Karim Oey Tjeng Hien… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (2): Masuk Islam

“Oey Tiang Seng: ‘Ananda adalah orang yang mampu, orang keturunan baik-baik mengapa mau masuk suku Melayu, pakaian jorok dan serba buruk itu.'” –O– Di Bintuhan usaha Oey Tjeng Hien berkembang pesat. Dia telah menjadi pengusaha yang sukses dan kaya raya,  tapi hatinya terasa kosong dan hampa. Pegangan batin yang dia bawa dari Padang adalah kepercayaannya… Teruskan Membaca

Mualaf

Mengenal Abdul Karim Oey (1): Tionghoa Pembela Rakyat Kecil

“Van den Berg berkata, ‘orang-orang Tionghoa biasanya pedagang. Tetapi tuan menjadi orang politik. Sekarang sudah masuk penjara. Apa keuntungannya? Kalau tuan mau bekerjasama dengan Belanda, bisa saya usulkan tuan menjadi agen perusahaan-perusahaan Belanda seperti Borsumij, Internatio, Tels, atau agen Geo Wehry. Itukan suatu keuntungan besar?’ Abdul Karim Oey menjawab, ‘Saya banyak mengucap terima kasih atas… Teruskan Membaca

Mualaf

WS Rendra (5): Akhir Hayat

“Saya menangis untuk masalah-masalah lain. Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan… Teruskan Membaca

Mualaf

WS Rendra (4): Penghayatan terhadap Islam

Derajat keislaman seseorang ketika sudah memeluk agama Islam tidak serta merta langsung menuju tingkatan yang kaffah. Begitu pula dengan Rendra, dia melewati fase-fase tertentu dalam perjalanan keislamannya. Untuk fase awal, sewaktu beliau belum masuk ke Islam, dengan latar belakangnya sebagai penyair, pemain teater, seniman, dan juga budayawan, beliau sudah memiliki wawasan yang luas, filosofi kehidupan… Teruskan Membaca

Mualaf

WS Rendra (3): Mengucap Syahadat

Ada beberapa versi mengenai kapan persisnya WS Rendra memeluk agama Islam. Pertama, yaitu mengucapkan syahadat ketika hari perkawinannya dengan Sitoresmi, 12 Agustus 1970.[1] Kedua, surat kabar Angkatan Baru (24 November 1968) telah memberitakan bahwa “WS Rendra dan istri keluar dari agama Katolik.”[2] Ketiga, sebagaimana diungkapkan oleh Rendra sendiri dalam sebuah wawancara, bahwa beliau mengucap syahadat… Teruskan Membaca

Mualaf

WS Rendra (2): Mengenal Islam

Banyak kalangan menilai bahwa masuknya WS Rendra dari Katolik ke Islam adalah karena persoalan poligami. Pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertamanya pada diri Sunarti Suwandi. Dia kemudian menikahinya pada 31 Maret 1959 itu, dari pernikahan tersebut Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.[1]… Teruskan Membaca

Mualaf

WS Rendra (1): Sang Penyair

“Kesadaran Adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi Cakrawala dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata” (WS Rendra. Depok, 22 April 1984) Itulah kutipan dari puisi WS Rendra yang begitu melegenda. Puisi tersebut begitu melekat bagi para aktivis pergerakan di zaman orde baru berkuasa. Seringkali puisi tersebut dikutip dalam mimbar-mimbar orasi pergerakan, atau dalam sebuah tulisan yang… Teruskan Membaca