Kerajaan Mataram (1): Membangun Sejarah di Tanah Jawa

in Islam Nusantara

Last updated on December 3rd, 2023 11:26 am

“Wilayah kadipaten yang kelak menjadi Kerajaan Mataram itu merupakan hadiah yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan.”

Gambar Ilustasi. Sumber: mjscolombo.com

Sejarah historis nama Mataram digunakan kali pertama oleh sebuah kerajaan pra-islam di abad ke-8 M, diambil dari Bahasa Sanskerta “Matr” artinya adalah “Ibu”.[1]

Kerajaan yang disebut Mataram Kuno ini terletak di Bhumi Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya), Jawa Tengah. Lalu pada abad ke-10 M kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur, dan runtuh di awal abad ke-11 M.

Mataram Kuno memiliki julukan lain yakni, Kerajaan Medang; yang merujuk pada masa periode di Jawa Timur, dan atas penemuan-penemuan prasasti di sekitar lokasi Jawa Tengah – Jawa Timur.[2]

Namun, nama Medang tersebut sebetulnya merupakan sebuah keraton Medang yang memang terletak di sekitar wilayah Kerajaan Mataram Kuno. Etimologi nama Medang, berasal dari pohon Medang yang tumbuh di sekitar wilayah keraton tersebut.[3]

Beberapa abad kemudian berdiri kerajaan Mataram lain, yakni Kerajaan Mataram Islam yang muncul di abad ke-16 M. Untuk membedakan kedua dinasti kerajaan berbeda periode ini, maka Mataram Kuno pun disebut juga sebagai Kerajaan Mataram Hindu.

Kerajaan Mataram Islam merupakan cikal bakal dari beberapa kesultanan di tanah Jawa, kelak. Dalam artikel ini hanya akan disebut sebagai Kerajaan Mataram.

Kronik Pra-Kerajaan Mataram

Terletak di antara Kali Opak dan Kali Praga, wilayah Mataram merupakan tempat subur yang memungkinkan untuk pertumbuhan dan perkembangan kerajaan. Sebelum didirikannya kerajaan Mataram Islam, di daerah alas (hutan) Mentaok, Bangutapan, Kabupaten Bantul (sekarang Yogyakarta) tersebut merupakan sebuah kadipaten di bawah penguasaan Kesultanan Pajang.[4]

Mentaok sebetulnya merupakan wilayah Kerajaan Mataram Kuno yang telah runtuh, ditinggalkan saat Gunung Merapi meletus. Beberapa abad kemudian wilayah tersebut kembali menjadi hutan lebat.

Wilayah kadipaten yang kelak menjadi Kerajaan Mataram itu merupakan hadiah yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan, setelah ia menyingkirkan Aria Penangsang dari Jipang.

Peristiwanya sendiri berlangsung sekitar tahun 1540 – 1550 M, terjadi friksi antara Sultan Hadiwijaya—dijuluki Joko Tingkir—penguasa Pajang dengan Aria Penangsang dari Jipang.[5]

Sultan Hadiwijaya, penguasa dari Pajang menobatkan dirinya sebagai penerus Kesultanan Demak, dan memindahkan pemerintahan ke daerah pedalaman Pajang. Namun, Aria Penangsang justru ingin mengklaim kekuasaan Demak.

Tidak terjadi perdamaian antara keduanya, sehingga membuat Sultan Hadiwijaya mengambil sebuah keputusan, yakni membuat sayembara. Bagi siapa pun yang bisa melenyapkan Arya Penangsang maka akan dihadiahi “tanah perdikan” (wilayah bebas pajak yang diberikan kepada orang-orang tertentu, yang dianugerahkan oleh raja).[6]

Saudara-saudara angkat sang sultan, Ki Ageng Pemanahan, Ki Pejawi, Ki Juru Mertani, berpartisipasi dalam sayembara tersebut. Bahkan putra Ki Ageng Pemanahan yang juga dianggap sebagai putra angkat sang sultan, Danang Sutawijaya, ikut membantu ayahnya.

Aria Penangsang berhasil dilenyapkan, meski sebetulnya ia tewas akibat kecerobohannya sendiri.

Meskipun begitu, seperti seharusnya yang dijanjikan oleh Sultan Hadiwijaya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang berhasil menyingkirkan Aria Penangsang rupanya tersendat. Penguasa Pajang seolah ‘lupa’ dengan janjinya pada Ki Ageng Pemanahan dan putra. Sehingga melibatkan Sunan Kalijaga (guru Sultan Hadiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan) mendesak Sultan Hadiwijaya untuk menepati janji.[7]

Versi lain memaparkan bahwa Sultan Hadiwijaya sebetulnya khawatir, karena ramalan dari Sunan Giri. Ramalan tersebut mengatakan, bahwa di daerah Mentaok kelak akan berdiri sebuah kerajaan yang kekuasaannya melampaui Kesultanan Pajang. Hal itu membuat Sultan Hadiwijaya ragu untuk menyerahkan wilayah Mentaok pada Ki Ageng Pemanahan.[8]

Penyerahan “tanah perdikan” tertunda hingga tahun 1556, dan akhirnya diketahui oleh Sunan Kalijaga. Hal tersebut dimusyawarahkan Sunan Kalijaga bersama Sultan Hadiwijaya dan Ki Ageng Pemanahan. Maka Ki Ageng Pemanahan bersumpah akan setia kepada Sultan Hadiwijaya, di mana Mentaok akan tetap menjadi vasal dari Kesultanan Pajang.

Yakin bahwa Ki Ageng Pemanahan tidak akan mengingkari janji, tidak lama kemudian Alas (hutan) Mentaok pun diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Setelah itu, Ki Ageng Pemanahan bersama seluruh keluarga juga para pengikutnya hijrah ke Alas Mentaok.

(Bersambung)

Catatan kaki:


[1] Fandy, Memahami Sejarah dan Letak Kerajaan Mataram Kuno, pada laman https://www.gramedia.com/literasi/kerajaan-mataram-kuno/ diakses pada 25 November 2023

[2] El-Ibrahim, Moh. Noor, Kerajaan Mataram Kuno (Penerbit Mutiara Aksara, 2019), hlm 1

[3] Fandy, Op. Cit.

[4] Joko Darmawan, Trah Raja-Raja Mataram di Tanah Jawa (Deepublish, 2017), hlm 1

[5] M.C. Rickfleft, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Sutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf), hlm 97

[6] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 25

[7] M.C. Rickfleft, Op. Cit., hlm 97

[8] Ardian Kresna, Op. Cit., hlm 29

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*