Kerajaan Mataram (10): Para Raja dan Masa Keemasan Kerajaan (2)

in Islam Nusantara

Last updated on February 13th, 2024 11:22 am

“Ketika sedang berburu kijang, Hanyokrowati mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Peristiwa ini, terjadi di hutan Krapyak.”

Sumber gambar: sampoernaacademy.sch.id

Lebih dari satu dekade Mataram berusaha menaklukkan Surabaya sebagai vasal wilayahnya di bagian timur Jawa. Di bagian barat, adalah Banten yang hingga masa runtuhnya Mataram, sama sekali tidak bisa dijatuhkan oleh Mataram. Justru Banten hancur, karena VOC.

Akhir Masa Kepemimpinan Hanyokrowati

Masa peperangan antara Mataram dan Surabaya, cukup alot dan sengit. Salah satu pos dagang VOC yang berada di Gresik pada tahun 1602-1615 M, menyatakan laporan-laporan mengenai awal mula peperangan Mataram dan Surabaya.[1]

Panembahan Hanyokrowati menyerang Surabaya di tahun 1610 secara terbuka. Hingga tahun 1613, lahan-lahan pertanian diserang dan dibakar hingga melemahkan perekonomian Surabaya. Bahkan agen dagang VOC di Gresik dan Jortan harus menyingkir, ketika pembakaran yang dilakukan Mataram terjadi.

Kemungkinan besar, karena peperangan dengan Surabaya ini yang membuat Mataram melakukan kontak kali pertama dengan pihak VOC. Panembahan Hanyokrowati beranggapan bahwa VOC pun merupakan musuh dari Surabaya.

Sehingga raja Mataram itu pun, mengirimkan duta kepada Gubernur Pieter Both yang berada di Maluku pada tahun 1613 M, dengan tujuan menjadikan VOC sebagai sekutu. Atas persekutuan yang dibangun antara Mataram dan VOC ini, maka dibangun pos dagang VOC di Jepara di bawah pengawasan Mataram. Akan tetapi, VOC pun masih menempatkan pos dagangnya di Gresik, di bawah pengawasan Surabaya.

Apa yang menjadi upaya Hanyokrowati, hanya mampu melemahkan roda perekonomian Surabaya, tetapi tidak menjatuhkan sang rival itu sendiri.

Lalu pada tahun 1613 M, ketika sedang berburu kijang, Hanyokrowati mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Peristiwa ini, terjadi di hutan Krapyak. Tahun wafatnya Hanyokrowati diperkuat dengan salah satu informasi dari Belanda, kira-kira pada bulan Oktober 1613. Karena pada tanggal 28 September 1613, Gubernur Pieter Both pergi dari Jepara, lalu tak lama Hanyokrowati mangkat.[2]

Setelah meninggal dunia, Hanyokrowati diberi anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, dan dikenal dengan gelar tersebut.

Masa Peralihan Kekuasaan Setelah Hanyokrowati

Dalam salah satu sumber dikatakan, sempat terjadi kekosongan pemegang tahta kekuasaan. Sehingga Adipati Martapura yang menjadi penguasa Mataram. Adipati Martapura atau Adipati Anom, adalah putra dari Hanyokrowati dan Ratu Tulungayu (putri dari Ponorogo), terlahir dengan nama Raden Mas Wuryah.[3]

Diangkatnya Raden Mas Wuryah, karena Hanyokrowati sempat berjanji kepada Ratu Tulungayu, kelak jika mereka memiliki putra akan dijadikan raja. Janji tersebut diucapkan Hanyokrowati ketika belum menjadi penguasa Mataram (kekuasaan masih di bawah kepemimpinan Sutawijaya), dan pernikahan Hanyokrowati dengan Ratu Tulungayu belum dikaruniai anak.

Karena belum mendapatkan keturunan dari Ratu Tulungayu, Hanyokrowati menikahi putri penguasa Pajang, yaitu Dyah Banowati. Lalu lahirlah Raden Mas Rangsang.[4]

Akan tetapi Ratu Tulungayu pun akhirnya mengandung, dan lahirlah Raden Mas Wuryah. Akan tetapi, kondisi fisik Raden Mas Wuryah kurang baik. Ia sering sakit-sakitan sehingga tidak lama menduduki tahta penguasa Mataram.[5] Begitu Raden Mas Wuryah lengser, maka Raden Mas Rangsang yang naik menjadi raja Mataram.

Kronik-kronik masa peralihan dari Adipati Martapura pada Raden Mas Rangsang, memuat beberapa versi, meski hampir memiliki benang merah yang sama.

Sumber lain menyebutkan, bahwa Hanyokrowati sempat memberi mandat sebelum wafat, bahwa Raden Mas Rangsang yang ia tunjuk sebagai penerus takhta.[6]

Akan tetapi, karena janji Hanyokrowati kepada Ratu Tulungayu, maka terjadi perdebatan bahwa tetap putra dari ratu pertama yang menjadi raja. Maka untuk memenuhi ikrar yang sempat diucapkan Hanyokrowati, Adipati Martapura diangkat menjadi Raja Mataram hanya satu hari.

Setelah Adipati Martapura turun dari takhtanya yang hanya sehari semalam, lalu Raden Mas Rangsang naik menjadi raja Mataram.

Dalam biopiknya, Raden Mas Rangsang di masa itu sedang mencari ilmu di salah satu padepokan, dan tidak tertarik pada masalah kerajaan, seolah ia “mengasingkan diri”. Namun, karena desakan dari pejabat-pejabat kerajaan, maka Raden Mas Rangsang pun kembali ke Mataram, lalu bersedia menjadi raja.

Pernah disebutkan oleh penasihat spiritual kerajaan, Panembahan Bayat, bahwa Raden Mas Rangsang justru yang akan membawa Mataram pada puncak kejayaan.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Sutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf), hlm 101

[2] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 127

[3] Joko Darmawan, Mengenal Budaya Nasional Trah Raja-Raja Mataram di Tanah Jawa (Penerbit DEEPUBLISH, 2012),

[4] Joko Darmawan, Ibid. hlm 21

[5] Binuko Amarseto, Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia (Istana Media, 2015), hlm 192

[6] Verelladevanka Adryamarthino, Tri Indriawati, Pangeran Martapura, Pemimpin Tersingkat Pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, pada laman https://www.kompas.com/stori/read/2023/05/31/110000979/pangeran-martapura-pemimpin-tersingkat-kerajaan-mataram-islam, diakses pada 28 Januari 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*