Kerajaan Mataram (11): Para Raja dan Masa Keemasan Kerajaan (3)

in Islam Nusantara

“Sultan Agung kerap mengembara dan bertapa. Tapa yang dimaksud sebagai jalan mistisisme untuk melatih aspek ruhani, dengan berpuasa, beribadah, bermeditasi. Tujuannya mencapai penyucian diri.”

Gambar ilustrasi. Sumber: kebudayaan.jogjakota.go.id

Rupanya memberikan takhta kerajaan kepada Raden Mas Rangsang, merupakan keputusan tepat. Hanyokrowati yang berwasiat bahwa putranya dari Dyah Banowati untuk menjadi raja, mungkin atas berbagai pertimbangan yang melihat jiwa kepemimpinan Raden Mas Rangsang.

Raden Mas Rangsang adalah penguasa paling terbesar dari raja-raja di tanah Jawa, dan menjadi salah satu sosok yang dianugerahi sebagai pahlawan nasional, yang dikenal dengan nama Sultan Agung.

Masa Kepemimpinan Sultan Agung

Sultan Agung Hanyokrokusumo lahir di Mataram (Kota Gede, Yogyakarta sekarang), pada tanggal 14 November 1593.[1] Ia memiliki nama kecil Raden Mas Jatmiko, yang berarti sopan dan rendah hati. Juga julukan lain yaitu Raden Mas Rangsang.

Di masa mudanya, Sultan Agung kerap mengembara dan bertapa. Tapa yang dimaksud sebagai jalan mistisisme untuk melatih aspek ruhani, dengan berpuasa, beribadah, bermeditasi. Tujuannya mencapai penyucian diri.[2]

Sifat Sultan Agung tidak jauh berbeda dari Panembahan Senapati—kakeknya. Sultan Agung mempunyai semboyan, bahwa seorang harus melindungi rakyat, bersikap adil, berwibawa, dan disegani negara lain, pun menjaga nama baik leluhur.

Semasa mudanya, Sultan Agung berada di bawah pengasuhan Ki Ageng Mertani. Di mana Ki Ageng Mertani menyampaikan ajaran-ajaran dari Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela kepada Sultan Agung. Karena itu, Sultan Agung pun disebut-sebut sebagai garis darah murni ‘pedalaman’ murid-murid Sunan Kalijaga.[3]

Rupanya ajaran-ajaran dari Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela cukup berpengaruh bagi Sultan Agung, begitu ia beranjak dewasa. Banyak hal yang ia implementasikan dalam ajaran yang diterima, ketika Sultan Agung menjadi pemimpin Mataram.

Dalam pandangan Sultan Agung, kehidupan bertani lebih mulai dibandingkan dengan kehidupan perdagangan. Sehingga ia menempatkan agronomi sebagai fondasi kesejahteraan pun ketahanan. Sehingga masyarakat agraris feodalistik, dipandangnya akan melahirkan petani sekaligus ksatria yang tangguh.[4]

Perilaku pedagang yang dijalani oleh bupati-bupati Jawa pesisir, cenderung hedonis. Hal ini dicermati betul oleh Sultan Agung, sehingga ia bertekad untuk menundukkan seluruh Jawa, bukan hanya untuk mengekspansi wilayah, melainkan memberantas sifat-sifat egosentris para penguasa pesisir.

Roda Politik dan Pertahanan Pemerintahan Sultan Agung

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, wilayah kekuasaan Mataram hampir meliputi seluruh tanah Jawa. Ia membagi wilayah Mataram menjadi dua, yaitu wilayah pusat dan luar (mancanegara).[5]

Wilayah pusat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Kutanegara atau Kutagara, yaitu ibukota kerajaan sebagai pusat pemerintahan.
  2. Negara Agung, adalah wilayah luar yang mengitari Kutanegara. Bagian wilayah ini terbagi lagi menjadi empat, yaitu: Daerah Kedu, Daerah Siti Ageng atau Bumi Gede, Daerah Bagelen, dan Daerah Pajang.

Sedangkan wilayah luar (mancanegara), cakupannya di luar Negara Agung, tetapi tak termasuk daerah pantai. Mancanegara adalah wilayah yang lebih luas, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga terbagi menjadi dua. Mancanegara Wetan (Timur) dan Mancanegara Kilen (Barat).[6]

Untuk wilayah tepi pantai, disebut Pasisiran, yang juga dibagi menjadi Pasisir Wetan (Timur) dan Pasisir Kilen (Barat). Sebagai batas dua daerah pasisiran ini adalah sungai Tedunan atau disebut juga Sungai Serang, yang mengalir di antara Jepara dan Demak.

Penerapan ajaran dari buku Sastra Gending dan Serat Niti Praja, digunakan Sultan Agung untuk menegakkan ideologi negara. Ia memposisikan dirinya sebagai kepala negara dan pemimpin agama, yang tentunya harus menjadi suri tauladan bagi seluruh rakyat Mataram.[7]  

Dari segi hukum, Sultan Agung melakukan berbagai pembaharuan, ia pun membuat undang-undang, dan membina mahkamah pengadilan. Undang-undang yang ditulis oleh Sultan Agung dibukukan dengan judul Surya Alam, yang artinya Matahari Dunia.

Dalam buku tersebut, telah disusun undang-undang pidana dan perdata bagi Mataram. Undang-undang yang ditulis oleh Sultan Agung merupakan adaptasi hukum Nusantara yang telah berlaku sejak zaman Majapahit, disesuaikan dengan hukum Islam. Contohnya antara lain, mengenai hukum perkawinan dan hukum waris, pun hukum adat.

Sektor pertahanan Kerajaan tak luput dari perhatian Sultan Agung. Warisan dari zaman silam (Majapahit) bahwa tugas keprajuritan adalah esensial, maka semua penduduk (yang memenuhi syarat) wajib mengikuti wajib militer.

Di sudut-sudut ibukota Kutanegara, ada gong yang dipukul dengan irama tertentu, maka dalam kurun waktu enam jam alun-alun Kutanegara akan dipenuhi oleh 200.000 pasukan siap tempur.

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Serafica Gischa, Biografi Sultan Agung, Penguasa Mataram yang Tangkas dan Cerdas, pada laman https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/26/142305969/biografi-sultan-agung-penguasa-mataram-yang-tangkas-dan-cerdas?page=all diakses pada 5 Februari 2024

[2] Dr. H. Sudjak, M. Ag, Serat Sultan Agung: Melacak Jejak Islam Nusantara (Bildung, 2016), hlm 61

[3] Dr. H. Sudjak, Ibid., hlm 25

[4] Dr. H. Sudjak, Op. Cit., hlm 34

[5] Binuko Amarseto, Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia (Istana Media, 2015) hlm 185

[6] Binuko Amarseto, Ibid., hlm 186

[7] Dr. H. Sudjak,  Loc. Cit., hlm 62

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*