Kerajaan Mataram (2): Jejak Perjalanan Berdirinya Sebuah Kerajaan (1)

in Islam Nusantara

Last updated on December 4th, 2023 09:17 am

“Pujangga kerajaan Mataram di abad ke-17 hingga 18 M, menuliskan kisah-kisah secara hiperbolis mengenai kebangsawanan dan asal-usul moyang raja. Sehingga banyak cerita dianggap isapan jempol belaka.”

Gambar ilustrasi. Sumber: atlastanahjawi.github.io

Di nara sumber sebelumnya, Arya Penangsang sempat terluka oleh tombak Sutawijaya (putra Ki Ageng Penambahan) hingga ususnya terburai keluar. Namun, Arya Penangsang menyarungkan ususnya pada gagang keris. Bahkan ia masih sanggup bertarung hingga mendesak posisi Sutawijaya.

Di saat itu Ki Juru Mertani berteriak, “Arya Penangsang, bunuh saja Sutawijaya!” Rupanya itu merupakan provokasi agar Arya Penangsang kehilangan kesabaran dan semakin emosi. Arya Penangsang mencabut keris, tetapi tindakan tersebut malah memotong ususnya sendiri. Akibatnya Arya Penangsang jatuh dan tewas karena kecerobohannya sendiri.[1]

Lalu ada versi lain mengenai penaklukan Arya Penangsang, yang cukup berkaitan dengan akibat-akibat politik pada masa tersebut. Digambarkan dalam Babad Tanah Jawi, bahwa Arya Penangsang justru tewas di tangan Sutawijaya setelah tertusuk tombak. Akan tetapi, atas nasihat Ki Juru Mertani, para tokoh-tokoh dari desa Sela ini memutuskan tidak memberitahukan kepada Sultan Hadiwijaya kejadian “sebenarnya”.[2]

Berita yang akan mereka sampaikan pada sultan yakni, Arya Penangsang berhasil disingkirkan oleh Ki Ageng Pemanahan bersama Ki Pejawi (atau Panjawi). Keputusan tersebut diambil karena Sutawijaya masih belia, kemungkinan besar yang akan diberikan kepadanya hanya hadiah hiburan berupa pakaian-pakaian bagus.   

Ki Juru Mertani pun menyampaikan laporan palsu kepada Sultan Hadiwijaya. Setelah itu disiarkan secara luas bahwa Ki Ageng Pemanahan bersama Ki Pejawi yang menaklukkan Arya Penangsang. Maka Sultan Hadiwijaya pun memberikan hadiah “tanah perdikan” kepada keduanya.

Ki Pejawi diberi wilayah Pati, sedangkan Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wilayah Mentaok. Daerah Pati pada saat itu sudah ada pemukiman, dan sudah membentuk kota kecil. Namun, Ki Ageng Pemanahan yang merasa sebagai kakak paling tua, mengalah kepada Ki Pejawi. Karena itu ia memilih Mentaok sebagai hadiah atas jasanya.

Asal-Usul Ki Ageng Pemanahan

Ki Ageng Pemanahan yang merupakan perintis lahirnya Kerajaan Mataram adalah putra Ki Ageng Ngenis, dan cucu dari Ki Ageng Sela. Konon, leluhur Ki Ageng Pemanahan masih berkaitan dengan Kerajaan Majapahit. Dalam buku Awal Kebangkitan Mataram, De Graaf mengutip silsilah Ki Ageng Pemanahan dari garis keturunan Ki Ageng Sela yang diambil dari kisah Babad Tanah Jawi:[3]

Brawijaya—raja terakhir Majapahit—menikah dengan seorang permaisuri dari Wandan, pernikahan mereka dianugerahi putra bernama Bondan Kejawan alias Lembu Peteng. Bondan Kejawan menikahi Nawangsih, putri dari Kiai Ageng Tarub. Dari pasangan ini lahirlah Ki Getas Pandawa.

Ki Ageng Sela adalah putra sulung, lelaki satu-satunya dari tujuh bersaudara keturunan Ki Getas Pandawa. Setelah menikah, Ki Ageng Sela memiliki tujuh orang anak, dan Ki Ageng Ngenis adalah anak lelaki satu-satunya yang paling bungsu.

Namun, para pujangga kerajaan Mataram di abad ke-17 hingga 18 M, menuliskan kisah-kisah secara hiperbolis mengenai kebangsawanan dan asal-usul moyang raja. Sehingga banyak cerita dianggap isapan jempol belaka. Meski mungkin saja silsilah raja Mataram memang keturunan penguasa Majapahit, karena kisahnya dilebih-lebihkan sehingga tampak istimewa.

Disebutkan bahwa Ki Ageng Pemanahan adalah cucu penguasa Sela, nama lama daerah Pati (Grobogan, sebelah selatan Demak), ayahnya pengikut raja Pajang. Namun, keluarga Ki Ageng Ngenis menetap di Laweyan (sebelah timur istana Pajang).

Berbeda dengan kisah-kisah abad ke-17 M yang disampaikan penulis dari tanah Sunda, justru Ki Ageng Pemanahan dan kerabatnya berasal dari golongan masyarakat sederhana. Ki Gede Ngenis yang dikatakan keturunan Ki Gede Sela, merupakan kisah “rekaan” pujangga Mataram saja.[4]

Namun, tak dipungkiri bahwa raja-raja Mataram di abad ke-17 M menganggap daerah kecil Sela tersebut sebagai tanah leluhur mereka.

Ki Ageng Pemanahan memiliki nama kecil yakni, Bagus Kacung atau Castioeng menurut Van der Horst.[5] Nama Pemanahan dipakai oleh Ki Ageng Pemanahan setelah ia beranjak dewasa, yang merupakan nama daerah ia bermukim, yakni Manahan. Daerah Manahan berada di utara Laweyan, yang kini menjadi sebuah kampung (kelurahan) di Kota Surakarta.[6]

Ia memiliki saudara angkat bernama Ki Pejawi (Panjawi), dan keduanya berguru kepada Ki Ageng Sela. Ki Ageng Pemanahan pun mempersunting sepupunya, yakni Nyai Sabinah atau dikenal sebagai Nyai Ageng Pemanahan. Atas pernikahan ini, Ki Ageng Pemanahan menjadi sepupu sekaligus ipar dari Ki Juru Mentani.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 27

[2] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 43

[3] DR. H.J. De Graaf, Ibid.,hlm 5

[4] DR. H.J De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (Grafitiperts, 1985, pdf vers), hlm 248

[5] DR. H.J. De Graaf, Op. Cit, hlm 21

[6] DR. H.J. De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Op.Cit., hlm 248

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*