Kerajaan Mataram (3): Jejak Perjalanan Berdirinya Sebuah Kerajaan (2)

in Islam Nusantara

Last updated on December 5th, 2023 06:06 am

“Kurang lebih tujuh tahun Ki Ageng Pemanahan berkuasa di istana Mataram yang terletak di daerah Kotagede, dan di tahun 1584 M ia mangkat.”

Gambar Ilustrasi. Sumber: atlastanahjawi.github.io

Ki Ageng Pemanahan, Ki Pejawi, Ki Juru Metani disebutkan dalam Babad Tanah Jawi memiliki kekerabatan begitu erat. Ketiganya berguru kepada Sunan Kalijaga, di mana Sultan Hadiwijaya pun turut menjadi murid sang sunan.

Hubungan antara sesama murid guyub dan kekeluargaan. Bahkan begitu sukanya Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan dan Ki Pejawi, keduanya diangkat menjadi lurah wiratamtama di Pajang. Sedangkan pekerjaan Ki Juru Metani sebagai juru nasihat dan memberi titah kepada dua saudaranya.[1]

Terbentuknya Mataram

Setelah peristiwa pemberontakan Arya Panangsang, Ki Ageng Pemanahan pun hijrah ke Mentaok begitu mendapatkan hadiah “tanah perdikan” dari Sultan Hadiwijaya. Tidak ada konflik-konflik berarti pada masa itu. Hanya kisah bagaimana Mataram mulai terbentuk.

Mentaok yang semula kawasan hutan begitu luas, mulai dibuka menjadi wilayah pemukiman oleh Ki Ageng Pemanahan. Pembangunan dan perluasan menjadi kawasan layak huni dilakukan pada tahun 1577 – 1578 M. Ki Ageng Pemanahan bekerja keras agar Mentaok menjadi pemukiman yang tertata, hingga di akhir abad ke-16 M wilayah tersebut tumbuh makmur.

Setelah didirikan dalem (keraton), Mentaok yang akhirnya diberi nama Mataram menjadi wilayah yang banyak dikunjungi saudagar-saudagar asing. Kedudukan Ki Ageng Pemanahan di Mataram adalah sebagai pemilik tanah, dan petani berstatus penyewa lahan. Bentuk hubungan seperti ini memunculkan adanya gusti-kawula, priyayi-wong cilik dalam kehidupan keraton.[2]

Nama Ki Gede Mataram disematkan sebagai julukan Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa Mataram. Tindak tanduknya tidak sebagai penguasa yang merdeka di Mataram, lebih cenderung menjadi penguasa bawahan raja yang taat dan patuh. Sesuai dengan janji yang dipegang teguh, bahwa Mataram adalah vasal dari Kesultanan Pajang.

Kurang lebih tujuh tahun Ki Ageng Pemanahan berkuasa di istana Mataram yang terletak di daerah Kotagede, dan di tahun 1584 M ia mangkat. Ia dimakamkan di sebelah barat istana Mataram.

Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Ki Juru Metani bersama keluarga Mataram berangkat ke Pajang untuk menyampaikan berita duka. Setelah itu Ki Juru Metani menanyakan kepada Sultan Hadiwijaya, siapakah yang berhak untuk menjadi penguasa Mataram?

Sang sultan pun menunjuk Sutawijaya sebagai pengganti Ki Ageng Pemanahan. Sultan Hadiwijaya pun memberikan kelonggaran kepada Sutawijaya, agar tak perlu berkunjung ke Pajang dalam satu tahun pertama masa jabatannya. Karena sultan ingin Sutawijaya lebih dulu menertibkan wilayah sebagai penguasa pengganti sang ayah.

Tidak ada pemikiran cela dari sultan terhadap Sutawijaya. Ia berpikir bahwa putra Ki Ageng Pemanahan sama setianya. Akan tetapi, Sutawijaya justru sosok yang memprakarsai Mataram menjadi sebuah kerajaan besar di tanah Jawa, seperti yang pernah diramalkan.

Ramalan dan Dongeng Keturunan Mataram Menjadi Penguasa

Kisah yang cukup menarik yang seolah melegitimasi bahwa Mataram kelak akan menjadi kerajaan besar, yakni ramalan Sunan Giri, dan pertemuan Ki Ageng Pemanahan dengan Ki Gede Giring.

Yang pertama, sempat tertundanya penyerahan “tanah perdikan” Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan karena kekhawatiran Sultan Hadiwijaya, akan ramalan dari Sunan Giri bahwa keturunan dari Ki Ageng Pemanahan akan memerintah tanah Jawa, dan di Giri pun kelak akan takluk (pada Mataram).

Kisah yang kedua, adalah pertemuan Ki Ageng Pemanahan dengan sahabat karibnya yang sama-sama berguru kepada Sunan Kalijaga, yakni Ki Gede Giring atau Ki Ageng Giring, julukan lainnya Paderesan. Ki Ageng Pemanahan berkunjung ke daerah Gunung Kidul untuk menemui sang sahabat yang bermukim di sana.[3]

Ki Gede Giring sedang berada di ladang, dan Ki Ageng Pemanahan melihat ada sebutir kelapa di rumah sang sahabat. Karena dahaga maka kelapa tersebut diminumlah tanpa bersisa oleh King Ageng Pemanahan, tanpa mengetahui asal usul kelapa.

Dikatakan bahwa kelapa muda tersebut merupakan buah bertuah, dan hanya satu-satunya. Bahwa barang siapa yang meminum air kelapa tersebut, kelak ia dan keturunannya akan berkuasa atas tanah Jawa.[4]

Akhirnya Ki Gede Giring pun dengan rendah hati meminta apa keturunannya boleh menyelingi kedudukan keturunan Ki Ageng Pemanahan, hal tersebut disetujui setelah keturunan ketujuh.

Kisah ini dipaparkan dalam Babad Tanah Jawi, yang kelak akan berhubungan dengan kisah keturunan ke enam dari Ki Ageng Pemanahan. Di mana keturunan dari Ki Gede Giring karena ketidaksabarannya, memberontak kepada Mataram, ketika Amangkurat II berkuasa.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 19

[2] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 29

[3] DR H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 50

[4] DR H.J. De Graaf, Loc. Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*