Kerajaan Mataram (5): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (2)

in Islam Nusantara

Last updated on December 15th, 2023 04:40 am

“Sebelum menunjukkan pemberontakannya kepada Pajang, Sutawijaya melalui berbagai peristiwa yang sebagian berkesan bak cerita “supernatural”.”

Gambar ilustrasi. Sumber: erlanggapedia.id

Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Juru Mentani rupanya menjadi nyata. Mendapati perangai Sutawijaya yang terkesan menyepelekan, membuat sultan Pajang menyadari ada sesuatu yang tak beres dari sikap putra angkatnya.

Utusan Sultan Pajang ke Senopati Mataram

Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan Sultan Hadiwijaya mengirimkan dua utusan ke Mataram, yakni Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta. Kedua utusan ini ditemui oleh Sutawijaya ketika sedang berkuda di Lipura. Sikap Sutawijaya tidak menunjukkan kesopanan pada dua utusan Pajang, bahkan tidak turun dari kudanya.

Para utusan menyampaikan titah Sultan Hadiwijaya, yang pertama, Senopati tidak boleh begitu sering mengadakan jamuan. Kedua, harus mencukur rambut ketika sowan ke Pajang.[1]

Sutawijaya senang melakukan perjamuan politik, untuk memikat para tamu dengan jalan memberi hiburan. Hal tersebut dianggap terlalu berfoya-foya. Sang senopati harus memperbaiki tatanan kehidupan beragama, karena tingkah laku yang buruk sebagai seorang Muslim. Dan tidak menghadiri upacara sembah (kepada sultan) setiap tahun, merupakan kesalahan yang besar.

Akan tetapi, jawaban dari Senopati sungguh di luar dugaan. Ia mengatakan makan dan minum tak dapat ditinggalkannya. Mencukur rambut dirasa tidak perlu, karena akan tumbuh lagi. Yang terakhir, ia akan menghadap ke Pajang apabila sultan tidak mengawini dua wanita kakak-beradik, dan tidak merebut istri maupun anak perempuan para bawahannya.

Poin yang terakhir, sepertinya merupakan sindiran keras dari Sutawijaya, karena kegemaran Sultan Hadiwijaya terhadap perempuan.

Para utusan tidak berani menyampaikan secara gamblang kepada sultan Pajang, lalu mereka mereka jawaban berbeda. Mereka hanya mengatakan Sutawijaya akan melaksanakan segala titah sultan, dan akan datang ke Pajang. Hanya untuk menenangkan hati sultan yang sudah tua itu.

Sedangkan dalam Serat Kandha menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Utusan yang dikirim adalah Tumenggung Wiramerta dan Tumenggung Mertanagara. Peringatan dari Sultan pun hanya mengenai kebiasaan Sutawijaya yang senang berfoya-foya.[2]

Jawaban dari Sutawijaya adalah, ia akan memenuhi permintaan sultan Pajang asalkan Sutawijaya yang naik takhta. Karena, Pangeran Benawa—putra sultan—dianggap tidak kompeten untuk menduduki singgasana oleh Sutawijaya. Para utusan pun kembali ke Pajang dengan memperhalus jawaban dari Sutawijaya yang mereka sampaikan kepada sultan.

Ikhtisar Tiga Tahun Pertama Kekuasaan Sutawijaya

Sebelum menunjukkan pemberontakannya kepada Pajang, Sutawijaya melalui berbagai peristiwa yang sebagian berkesan bak cerita “supernatural”.

Ini terjadi saat Sutawijaya berangkat ke Lipura, dan pada malam hari ia mendapati sebuah bintang jatuh. Konon bintang tersebut meramalkan bahwa Sutawijaya hingga cicitnya akan menjadi raja Mataram. Lalu pertemuan Sutawijaya dengan Roro Kidul, dan tokoh gaib itu memberi sembah dan meramalkan masa depan Sutawijaya yang gemilang.[3]

Apa yang dipaparkan cukup bertolak belakang dengan ajaran Islam dengan adanya pemujaan terhadap gunung dan laut, bentuk-bentuk duniawi yang tidak sesuai kaidahnya. Tetapi, dibubuhkan alasan bahwa hal-hal tersebut merupakan penyembahan terhadap Allah. Ini menunjukkan bahwa adanya akulturasi dari zaman purbakala yang masih dipakai, lalu dipadukan dengan ajaran Islam.

Yang masih dapat diterima oleh nalar adalah mengenai sekutu (pengikut) awal Sutawijaya. Mereka adalah mantri-mantri pamajegan dari daerah Kedu dan Bagelen (sebelah barat Mataram).

Sutawijaya yang cerdik, menjamu para mantri-mantri ini dengan baik. Sehingga terucap sumpah dari para mantri ini untuk setia kepada Sutawijaya. Mantri Kedu dan Bagelen berpendapat lebih baik mengakui Sutawijaya sebagai raja. 

Utusan kedua kalinya dari Pajang yang tidak berjalan mulus, merupakan peristiwa yang cukup penting dalam tiga tahun pertama pemerintahan Sutawijaya.[4]

Dalam Babad Tanah Jawi, sikap Sutawijaya semakin meresahkan sultan Pajang sehingga diutuslah Pangeran Benawa, Adipati Tuban—menantu sultan, dan Patih Tumenggung Mancanagara. Mereka ditemui Sutawijaya di daerah Randulawang, di mana sikap Sutawijaya tetap “bersahabat” pada Pangeran Benawa.

Di Mataram, Pangeran Benawa dijamu dengan baik, dan terlintas bahwa Sutawijaya tidak bersalah. Namun, ada peristiwa yang melibatkan putra Sutawijaya, yakni Raden Rangga, yang melakukan keributan di kala perjamuan. Sehingga membuat Pangeran Benawa dan Adipati Tuban pergi tanpa pamit.

Sultan pun menerima laporan yang kontradiktif, tetapi menganggap keterangan Pangeran Benawa dan Adipati Tuban sama-sama benar. Hanya saja sikap Sultan bersikap pasrah, ia hanya mengikuti apa yang menjadi takdir Allah.

Sedangkan dalam Serat Kandha, yang mengadu kepada sultan adalah para menantu, Tumenggung (Adipati) Demak dan Tuban. Maka diutuslah para tumenggung bersama Pangeran Benawa. Peristiwa keributan pun terjadi, yang sama disebabkan oleh Raden Rangga.

Sehingga bisa ditarik garis kesimpulan, atas peristiwa ini muncul perpecahan antara Mataram dengan Pajang.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 70

[2] DR. H.J. De Graaf, Ibid., hlm 71

[3] DR H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 74

[4] DR H.J. De Graaf, Loc. Cit., hlm 77


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 21

[2] DR. H.J. De Graaf, Ibid.

[3] DR. H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 22

[4] M. Ilham Wahyudi, Sunan Giri dalam Legitimasi Kekuasaan Mataram pada Babad Tanah Jawi, pada laman https://www.researchgate.net/publication/356729549_Sunan_Giri_dalam_Legitimasi_Kekuasaan_Mataram_pada_Babad_Tanah_Jawi diakses pada 25 November 2025

[5] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 30

[6] Ardian Kresna, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*