Kerajaan Mataram (4): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (1)

in Islam Nusantara

Last updated on December 14th, 2023 04:33 am

Sutawijaya yang diberikan gelar istimewa oleh Sultan Hadiwijaya, mulai menunjukkan pembangkangan terhadap Pajang.

Gambar ilustrasi. Sumber: atlastanahjawi.github.io

Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sang putra hidup sangat layak. Jabatan kekuasaan sebagai bupati Mataram, Kepala Prajurit Pengawal Raja, diserahkan kepada Sutawijaya. Bahkan Sultan Hadiwijaya mengangkat ia menjadi seorang panglima, dengan gelar Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (panglima yang dijunjung tinggi atau sang panglima di medan perang).[1]

Lantas apa yang membuat perangai Sutawijaya justru mengabaikan kebaikan sang sultan, bak air susu dibalas air tuba?

Kronik Sutawijaya Sebelum Menguasai Mataram

Sutawijaya terlahir dengan nama Raden Bagus. Dalam karya Cense disebut Bagus Srubut (Sirabut). Sedangkan dalam Serat Kandha, bernama Danang lalu Sultan Hadiwijaya menambahkan gelar Raden Mas Danang. Di Sadjarah Dalem dituliskan namanya adalah Raden Bagus Danar. Arti Danar adalah kuning muda yang indah.[2]

Sultan Hadiwijaya begitu menyayangi Sutawijaya, menganggapnya seperti putra sendiri, bahkan memberikan payung kuning (emas) pada putra Ki Ageng Pemanahan itu. Sutawijaya diberikan pendidikan kenegaraan dan perang, layaknya seorang putra mahkota. Konon sang ayah pun memanggilnya dengan sebutan “Gusti”.

Gelar Raden Ngabehi Lor Pasar pun disematkan pada Sutawijaya, karena saat di Pajang ia tinggal di dalem sebelah utara pasar.

Perlakuan istimewa dari sultan bukan hanya karena hubungan yang erat dengan orang-orang dari Sela ini, tujuannya menjadikan Sutawijaya sebagai lanjaran. Sultan Hadiwijaya ingin memiliki putra kelak, seperti Sutawijaya.

Tidak lama kemudian Sultan Hadiwijaya pun dikaruniai seorang putra, yang diberi nama Pangeran Benawa. Hubungan antara Sutawijaya dan Benawa sangat akrab, mereka seperti kakak-adik.

Nama Sutawijaya diberikan setelah putra Ki Ageng Pemanahan itu beranjak dewasa. Sultan Hadiwijaya mengangkat Sutawijaya menjadi ngabehi, dan memberi gelar R. Ng. Sutawijaya. Suta berarti “putra”, dan Wijaya merupakan penggalan dari nama sultan.[3]

Ketika Ki Ageng Pemanahan hijrah ke Mentaok (Mataram), Sutawijaya pun turut serta. Meski konon, sang sultan agak keberatan, tetapi ia menyetujui Sutawijaya ikut bersama keluarganya ke sana. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Sultan Hadiwijaya seperti memiliki harapan besar bahwa Sutawijaya akan setia pada Pajang.

Namun, Sutawijaya seperti memiliki agenda tersendiri, untuk meluluskan ambisinya.

Pembangkangan Sutawijaya terhadap Sultan Pajang

Sutawijaya yang masih muda mungkin memendam ambisi besar bahwa Mataram akan menjadi kerajaan besar. Ia yang dibesarkan bak putra mahkota seumur hidupnya, tidak dipungkiri memiliki visi untuk membangun dinastinya sendiri. Pengaruh dari ramalan Sunan Giri pun, bisa jadi memupuk hasrat sang senopati muda itu.

Karena, Sutawijaya pernah mengirim utusan membawa sepucuk surat untuk Sunan Giri. Dalam surat tersebut Sutawijaya ingin memastikan ramalan kebenaran dari sang sunan. Lalu Sunan Giri pun berkata;

Utusan, sampaikanlah pada Ki Senapati, jika mau membuat ramalanku menjadi kenyataan, suruhlah menaklukkan Jawa Timur. Ramalanku ini sudah takdir kehendak Allah, apabila raja Mataram kelak akan memerintah orang Jawa semua, meski di Giri sini kelak juga akan ditaklukkan Mataram. Sebab kehendak Allah itu sudah tidak dapat diubah-ubah, dibuatlah zaman ini terbalik. Yang tuan menjadi hamba, yang hamba menjadi tuan, contohnya sudah ada, di Pajang dan Mataram itu.” Kisah ini digambarkan pada Babad Tanah Jawi.[4]

Sutawijaya yang diberikan gelar istimewa oleh Sultan Hadiwijaya, mulai menunjukkan pembangkangan terhadap Pajang.

Kewajiban sowan atau menghadap setiap tahunnya kepada sang raja merupakan kewajiban bagi bawahan-bawahan, karena dianggap sebagai bentuk kesetiaan. Karena Sutawijaya diberikan kelonggaran tidak mengunjungi Sultan Hadiwijaya di tahun pertama, ia justru menyelewengkan kepercayaan itu.

Pada awal tahun menjadi penguasa Mataram, Sutawijaya menitahkan rakyatnya untuk membuat benteng yang terbuat dari batu bata. Ia membangun cepuri (benteng dalam) yang mengelilingi keraton, dan baluwarti (benteng luar) mengelilingi wilayah kota. Kurang lebih luasnya sekitar 200 hektar. Benteng tersebut dilengkapi dengan parit pertahanan lebar, dengan luas sekitar 400 x 400 m2.[5]

Ia membangun kekuatan militer untuk menjaga wilayah Mataram, membenahi tata kota layaknya menjadi sebuah kerajaan. Mengangkat pamannya Ki Juru Mertani sebagai penasihat pribadi.

Dalam sumber lain disebutkan gelar Sayidin Panatagama yang berarti ulama pengatur kehidupan beragama, disematkan oleh Sutawijaya sendiri. Ia memosisikan sebagai raja di Mataram, dan jelas hendak memisahkan diri dari vasal Pajang.[6]

Sutawijaya pun mangkir dari kewajibannya untuk menghadap sultan Pajang, dan hal ini membuat Ki Juru Mertani menasihati kemenakannya berkali-kali. Sang paman khawatir bahwa perilaku Sutawijaya akan membawa murka sang sultan.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 21

[2] DR. H.J. De Graaf, Ibid.

[3] DR. H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 22

[4] M. Ilham Wahyudi, Sunan Giri dalam Legitimasi Kekuasaan Mataram pada Babad Tanah Jawi, pada laman https://www.researchgate.net/publication/356729549_Sunan_Giri_dalam_Legitimasi_Kekuasaan_Mataram_pada_Babad_Tanah_Jawi diakses pada 25 November 2025

[5] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 30

[6] Ardian Kresna, Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*