Kerajaan Mataram (6): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (3)

in Islam Nusantara

Last updated on December 16th, 2023 04:03 am

“Sultan Hadiwijaya pun mengambil tindakan atas perbuatan Sutawijaya yang sudah berkhianat terhadap Pajang. Ia membawa pasukannya untuk menyerang Mataram. Peristiwa peperangan Pajang dan Mataram terjadi pada tahun 1587 di sekitar Candi Prambanan.”

Sumber gambar: nasional.okezone.com

Alasan-alasan yang berkaitan dengan pembangkangan Sutawijaya telah dipaparkan sebelumnya, tetapi belum menjadi momentum terjadinya pemberontakan. Sultan Hadiwijaya masih memiliki kesabaran, dan seolah berharap putra angkatnya itu kembali berperangai baik.

Namun, pada akhirnya terjadi peristiwa yang menimpa Tumenggung Mayang. Hal ini merupakan titik pemberontakan Sutawijaya, yang tak bisa lagi ditolerir oleh sultan Pajang.

Meletusnya Pemberontakan Mataram terhadap Pajang

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha perihal Tumenggung Mayang, meski dalam Serat Kandha tidak dibumbui kisah romantis, dan cenderung cukup singkat. Akan tetapi, dari dua babad ini ada benang merah yang hampir sama.[1]

Tumenggung Mayang adalah saudara ipar Sutawijaya yang tinggal di Pajang. Sang tumenggung memiliki putra, yakni Raden Pabelan yang konon tampan, dan flamboyan. Rupanya Raden Pabelan membuat kesalahan besar, ia memiliki hubungan asmara dengan salah satu putri Sultan Pajang, Ratu Sekar Kedaton, yang menyulut amarah Sultan Hadiwijaya.

Raden Pabelan dieksekusi, pun keluarganya ikut terseret. Tumenggung Mayang hendak dibuang ke Semarang, atas titah Sultan. Namun, istri tumenggung sempat mengirim pesan pada Sutawijaya, mengenai musibah yang dialami keluarganya.

Mengetahui bahwa Tumenggung Mayang akan disingkirkan oleh Sultan, maka Sutawijaya pun menitahkan mantri-mantri pamajegan untuk mencegah rombongan. Iring-iringan yang membawa Tumenggung Mayang diserang oleh orang-orang Sutawijaya, lalu keluarga Tumenggung Mayang diberi suaka di Mataram.

Sultan Hadiwijaya pun mengambil tindakan atas perbuatan Sutawijaya yang sudah berkhianat terhadap Pajang. Ia membawa pasukannya untuk menyerang Mataram.

Peristiwa peperangan Pajang dan Mataram terjadi pada tahun 1587 di sekitar Candi Prambanan. Ketika pertempuran terjadi, terjadi erupsi Gunung Merapi, sehingga membuat keadaan menjadi cukup kacau. Dalam peristiwa tersebut Sultan Hadiwijaya terjatuh dari gajah yang ditungganginya, dan ia terluka parah.[2]

Dalam Serat Kandha digambarkan ketika meletusnya Gunung Merapi terjadi, kondisi prajurit Pajang sudah kehilangan sisa semangat juang mereka. Karena alam yang mengamuk, membuat pasukan Pajang terpaksa harus melarikan diri, terlebih sultan mereka terluka.

Sultan Hadiwijaya pun dibawa ke Bayat, dan meninggal di sana. Dalam Babad Tanah Jawi, diungkapkan bahwa kematian sultan Pajang karena dihabisi oleh juru taman yang bersimpati kepada Sutawijaya. Konon, juru taman ini adalah perwujudan dari roh halus (jin).[3]

Sedangkan dalam Serat Kandha, mangkatnya sultan Pajang karena hal-hal yang wajar; terluka parah dan karena usia yang tua. Bahkan sebelum meregang nyawa, Sultan Hadiwijaya sudah memaafkan perbuatan putra angkatnya itu. Digambarkan juga bahwa Sutawijaya datang ke acara pemakaman Sultan Hadiwijaya; memberi penghormatan terakhir, dan mencium kaki penguasa Pajang yang sudah meninggal dunia.[4]

Perang Saudara di Pajang dan Kaitannya Dengan Sutawijaya

Sepeninggal Sultan Hadiwijaya kondisi kesultanan Pajang mengalami guncangan. Pangeran Benawa yang seyogianya menduduki takhta sebagai sultan Pajang, tidak mendapatkan haknya meski ia putra mahkota.

Arya Pangiri, menantu tertua Sultan Hadiwijaya yang sebelumnya adalah Tumenggung (Adipati) Demak, diangkat menjadi sultan Pajang. Pengangkatan Arya Pangiri ditunjuk oleh Sunan Kudus, yang merupakan sosok disegani juga dihormati.[5]

Sedangkan Pangeran Benawa menjadi Adipati Jipang. Hal ini membuat sang pangeran jengkel, tetapi ia bukanlah sosok yang memiliki wibawa maupun kemampuan untuk melawan.

Sutawijaya hendak menyanggah, tetapi pamannya (Ki Juru Mertani) meminta agar ia tetap “diam”. Bagaimanapun juga, Mataram belum memiliki pengaruh kuat untuk menjadi oposisi Demak dan Tuban. Pengaruh Demak dan Tuban cukup besar di Pajang, yang kala itu didukung oleh Sunan Kudus.[6]

Sedangkan dalam nara sumber lain menuliskan bahwa Sutawijaya adalah sosok yang cerdik ketika peristiwa pengangkatan sultan Pajang berlangsung. Ia seolah bisa membaca situasi, dan mengetahui ke mana arah permasalahan kekuasaan ini akan berlanjut. [7]

Sutawijaya tidak menunjukkan ambisi untuk menguasai Pajang, sepeninggal Sultan Hadiwijaya. Seolah baginya, cukup hanya memiliki kerajaan Mataram yang merdeka. Justru Sutawijaya hanya ingin mengembalikan kekuasaan Pajang kepada pewaris takhta yang sebenarnya, yakni Pangeran Benawa.

Namun, pengangkatan Arya Pangiri sebagai sultan Pajang menimbulkan ketidakpuasan beberapa pihak, termasuk Pangeran Benawa yang merasa diasingkan ke Jipang.

Karena tidak memiliki pengaruh juga kewibawaan seperti kakak angkatnya, Pangeran Benawa pun meminta pertolongan Sutawijaya. Tujuannya untuk merebut kembali takhta Pajang dari kuasa Arya Pangiri.

Melihat kesempatan tersebut, Sutawijaya pun melancarkan siasatnya.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 81

[2] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 31

[3] DR. H.J De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (Grafitiperts, 1985, pdf vers), hlm 250

[4] DR. H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 87

[5] DR. H.J. De Graaf, Loc. Cit., hlm 90

[6] DR. H.J. De Graaf, Loc. Cit.

[7] Prof. Dr. Hamka, Sejarah Umat Islam (Pustaka Nasional PTE LTD Singapura), hlm 771

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*