Kerajaan Mataram (7): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (4)

in Islam Nusantara

Last updated on January 24th, 2024 04:16 am

Pangeran Benawa memberi mandat agar Sutawijaya mengambil alih kekuasaan Pajang, dan menjadi sultan. Sutawijata pun menerima, meski ia tidak menggunakan gelar sultan. Hal tersebut ia lakukan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Sutawijaya hanya menggunakan gelar Panembahan Senopati.

Gambar ilustrasi. Sumber: harianmerapi.com

Gelar Sultan Ngawantipura diberikan kepada Arya Pangiri selama ia menduduki takhta di Kesultanan Pajang. Namun, rupanya ia bukan sosok pemimpin yang diharapkan oleh rakyat Pajang. Tindak-tanduknya terlalu berat sebelah sebagai seorang sultan, hingga ia melakukan kesalahan yang cukup fatal. Sehingga menyulut kemarahan Pangeran Benawa untuk mengambil alih Kesultanan Pajang.

Pemberontakan Pangeran Benawa

Konon Arya Pangiri memiliki sifat mudah curiga, ia pun memiliki ambisi untuk menaklukkan Mataram. Namun, ia tidak pernah bertindak lebih jauh untuk mengkonfrontir Sutawijaya, karena tak ingin melanggar wasiat dari Sultan Hadiwijaya—yang berpesan baik Pajang maupun Mataram adalah saudara.

Arya Pangiri cenderung tidak mempedulikan kesejahteraan rakyat Pajang. Dalam Babad Tanah Jawi digambarkan bahwa sultan baru justru terlalu membela orang-orang dari wilayahnya sendiri. Para pejabat yang berasal dari Demak dinaikkan satu tingkat jabatannya.[1]

Terjadi eksodus orang Demak ke Pajang yang diprakarsai sang sultan, di mana pemukiman dari orang-orang ini diambil dari sepertiga tanah penduduk. Tentu saja hal ini membuat rakyat Pajang geram. Mereka yang kehilangan tanah, mulai melakukan kejahatan. Bahkan tak sedikit yang hijrah ke Jipang juga Mataram.

Seorang mantri, bernama Mantri Pangalasan mengungkapkan masalah ini kepada Sutawijaya. Mantri meminta agar Sutawijaya merebut takhta Pajang, tetapi penguasa Mataram itu menolak.

Mengenai kisah ini tidak ada dalam Serat Kandha.

Tentu saja Pangeran Benawa menjadi berang dengan tata pemerintahan yang dijalankan oleh Arya Pangiri. Ia pun mengutus duta ke Mataram, meminta Sutawijaya datang ke Jipang. Namun, Sutawijaya yang mengundang Pangeran Benawa untuk datang ke Mataram.

Maka berangkatlah Pangeran Benawa bersama seribu pasukannya ke kerajaan Sutawijaya. Pangeran Benawa meminta Sutawijaya untuk mengambil kekuasaan Pajang, dan mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Mataram.

Sutawijaya menolak permohonan tersebut, tetapi ia bersedia membantu Pangeran Benawa untuk merebut kembali takhta Pajang dari tangan Arya Pangiri.

Maka gabungan dari Jipang, Mataram, dan orang-orang Pajang berangkat menuju Kesultanan Pajang. Pertempuran antara pasukan Pangeran Benawa juga Sutawijaya, melawan pasukan Arya Pangiri tidak dapat dihindari lagi. Namun, armada Arya Pangiri tidak bisa membendung serangan yang datang.

Akhirnya, Arya Pangiri pun menyerah.

Arya Pangiri lengser dari jabatannya sebagai Sultan, dan tidak dieksekusi karena permohonan sang istri pada Sutawijaya. Ia diperkenankan kembali ke Pajang, tetapi hanya menjabat sebagai Adipati. Sempat Arya Pangiri melakukan pemberontakan, tetapi usahanya gagal. Sehingga ia menyingkir, dan melarikan diri ke Banten.[2]

Dalam sumber lain dikisahkan, setelah penaklukkan, Arya Pangiri dikembalikan ke Demak setelah istrinya memohon pada Sutawijaya untuk diberi pengampungan. Ia dibawa dalam tandu dengan tangan terikat, dan baru dilepaskan setelah tiba di Demak.[3]

Penyerahan Kesultanan Pajang pada Sutawijaya

Setelah Arya Pangiri dipaksa turun dari jabatannya, maka Pangeran Benawa naik ke tahta Kesultanan Pajang menjadi sultan. Namun, pemberontakan demi pemberontakan terjadi setelah peristiwa pertempuran dengan Arya Pangiri. Pemberontakan dari para bupati di pesisir pantai utara, yang ingin memerdekakan diri dari Pajang.[4]

Pangeran Benawa tidak bisa mengatasi masalah tersebut, sehingga sebelum menjelang ajal kekuasaan Pajang diberikan kepada Sutawijaya. Pangeran Benawa memberi mandat agar Sutawijaya mengambil alih kekuasaan Pajang, dan menjadi sultan.

Selama satu tahun Pangeran Benawa bertakhta menjadi Sultan Pajang, lalu ia meninggal dunia.

Maka Sutawijata pun melanjutkan pemerintahan Kesultanan Pajang, meski ia tidak menggunakan gelar sultan. Hal tersebut ia lakukan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Sutawijaya hanya menggunakan gelar Panembahan Senopati.

Bersamaan dengan Sutawijaya menjadi penguasa Pajang, maka diangkatlah anggota keluarga kerajaan, saudara, maupun patih ke tingkat yang lebih tinggi. Pangeran Puger, Pangeran Singasari, Pangeran Juminah (Blitar), adalah sosok-sosok yang diangkat oleh Sutawijaya.

Semenjak saat itu Sutawijaya menjadi Raja Mataram pertama, dan setelah menjadi penguasa Pajang-Mataram posisi kerajaannya semakin melesat ke puncak.

Akan tetapi, pergolakan terjadi setelah Sutawijaya mengambil alih Pajang. Daerah-daerah yang berada dalam kedaulatan Pajang, berusaha memerdekakan diri dari Mataram. Mereka ingin menjadi kerajaan yang memerintah wilayahnya sendiri, tidak di bawah vasal Mataram.[5]

Sutawijaya pun melakukan penaklukan ke berbagai wilayah, untuk melebarkan daerah kekuasaannya. Ia berkeinginan agar kerajaan-kerajaan ini menjadi bawahan Mataram. Sutawijaya tetap mempertahankan wilayah Mataram di Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan hingga ke Jawa Barat.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 91

[2] Prof. Dr. Hamka, Sejarah Umat Islam (Pustaka Nasional PTE LTD Singapura), hlm 772

[3] DR. H.J. De Graaf, Op. Cit., hlm 94

[4] Binuko Amarseto, Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia (Istana Media, 2015), hlm 183

[5] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 33

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*