Kerajaan Mataram (8): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (5)

in Islam Nusantara

Last updated on January 24th, 2024 04:15 am

Aneksasi yang kali pertama dilakukan oleh Sutawijaya adalah terhadap Kerajaan Demak terjadi pada tahun 1588 M.

Gambar ilustrasi: harianmerapi.com

Dikemukakan oleh de Graaf dan Pigeaud, “Panembahan Senapati (Sutawijaya) adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kemunduran Pajang dan sekaligus peletak dasar Kerajaan Mataram Islam”.[1] Sutawijaya sebagai raja pertama Mataram, membangun kekuasaan politiknya dengan berbagai upaya.

Pemberontakan dan Penaklukkan Wilayah oleh Mataram

Pemberontakan pada Mataram kali pertama dilakukan oleh Pangeran Puger. Sebagai keturunan terakhir Demak, Pangeran Puger awalnya sudah menyesuaikan peralihan kekuasaan Pajang di bawah pemerintahan Mataram. Ia pun mengikuti Sutawijaya saat perlawatan ke daerah Jawa Timur.

Namun, diam-diam Pangeran Puger menjalin aliansi dengan Kerajaan Surabaya, sehingga ingin melepaskan diri dari vasal Mataram. Tentu saja hal tersebut segera diantisipasi oleh Sutawijaya. Aneksasi yang kali pertama dilakukan oleh Sutawijaya adalah terhadap Kerajaan Demak terjadi pada tahun 1588 M[2], yang mengakibatkan Pangeran Puger harus lengser.

Pangeran Puger, terpaksa meninggalkan tanah warisannya. Ia harus menyingkir ke Malaka, lalu berpindah ke Banten. Demak pun berhasil menjadi wilayah kekuasaan Sutawijaya.[3]

Ada perbedaan versi dan tahun pada sumber lain, yang menyatakan bahwa Pangeran Puger justru melakukan pemberontakan setelah wafatnya Sutawijaya. Peristiwanya mungkin terjadi setelah tahun 1600-an. Pangeran Puger yang menjadi Adipati Demak, sekaligus kakak dari Panembahan Anyakrawati—putra Sutawijaya, kecewa tidak mendapatkan hak waris takhta Mataram.[4]

Sedangkan pada beberapa sumber lainnya menyebutkan pemberontakan Pangeran Puger pada periode pemerintahan Sutawijaya.

Setelah dikuasainya Demak, Sutawijaya mengirim utusan kepada Sunan Giri (Isi surat sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya). Maka setelah mendapat jawaban dari sang sunan, berangkatlah Sutawijaya bersama pasukannya menuju Japan (Mojokerto), sekitar tahun 1589 M.

Di sana Sutawijaya sudah dihadang oleh pasukan dari Jawa Timur dan Madura yang dipimpin Pangeran Surabaya. Kerajaan Surabaya sudah memerdekakan diri semenjak Pajang mengalami polemik. Pangeran Surabaya selaku pemegang hegemoni politik di Jawa bagian timur, menentang keras Sutawijaya. Karena itu, banyak kerajaan di wilayah Jawa Timur yang bersekutu dengan Pangeran Surabaya. Mereka tak ingin tunduk di bawah kuasa Sutawijaya selaku penguasa Mataram.

Hampir terjadi pertempuran di sana, tetapi datang utusan dari Sunan Giri. Utusan tersebut membawa pesan larangan untuk berperang, karena yang akan menderita adalah rakyat. Maka kedua belah pihak yang hampir bertikai tersebut memutuskan untuk berdamai. Kisah ini digambarkan dengan benang merah yang isinya nyaris sama antara Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha.[5]

Upaya pertama Sutawijaya untuk menaklukkan Jawa Timur pun gagal. Hal ini memicu kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah yang semula berada di bawah kekuasaan Pajang lalu beralih ke Mataram, mulai bergerak untuk melepaskan diri.

Penaklukkan wilayah yang dilakukan oleh Sutawijaya terus berlangsung.

Pada tahun 1590-1591 M, Sutawijaya menaklukkan Madiun. Namun, hal ini memicu Raja Pragola dari Pati menentang keras pada Mataram.

Pragola adalah putra dari Ki Juru Mertani, yang juga adik ipar Sutawijaya. Sudah tentu, Pragola awalnya mengakui kekuasaan tertinggi ada di tangan Mataram. Penguasa Pati ini memberontak setelah Sutawijaya menaklukkan Madiun dengan cara kekerasan.[6]

Di periode tahun yang bersamaan, Kudus ditaklukkan oleh Sutawijaya. Penguasa Kudus sudah mencari suaka ke Jawa Timur, untuk menghindari penjajahan Mataram.

Di tahun 1951, Jipang jatuh ke tangan Mataram, termasuk Bojonegoro yang merupakan wilayah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.[7]

Sepertinya Sutawijaya memusatkan serangan pada daerah-daerah penting untuk bisa menembus wilayah Timur. Pada tahun 1595 M, terjadi pertempuran di Lembah Madiun. Disusul oleh pemberontakan kedua Pati, pada tahun 1600 M. Dari laporan para pelaut Belanda, hanya wilayah Banten yang tak berhasil ditaklukkan oleh Sutawijaya pada tahun 1597 M.[8]

Menjelang akhir masa hidupnya, pada tahun 1599 M, Sutawijaya berhasil menaklukkan Jepara. Meski belum sepenuhnya Jawa dikuasai oleh Sutawijaya, tetapi selama masa ia berkuasa, Mataram merupakan dinasti terakhir kerajaan yang terbesar di tanah Jawa.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Taufik Abdullah (editor), Endjat Djaenuderadjat  (editor), Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia: Akar Historis dan Awal Pembentukan Islam Jilid 1 (Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015) Hlm 190

[2] M.C. Rickfleft, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Sutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf), hlm 99

[3] DR. H.J De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa (Grafitiperts, 1985, pdf vers), hlm 251

[4] Ardian Kresna, Sejarah Panjang Mataram (DIVA Press, XXXX), hlm 33

[5] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 103

[6] DR. H.J De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Op. Cit., hlm 251

[7] DR. H.J De Graaf, DR. TH.G. TH. Pigeaud, Loc. Cit.

[8] M.C. Rickfleft, Loc. Cit., hlm 100

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*