Kerajaan Mataram (9): Raja-Raja Penguasa dan Masa Keemasan Kerajaan (1)

in Islam Nusantara

Last updated on January 31st, 2024 05:57 am

Di masa pemerintahannya, Panembahan Hanyokrawati nyaris tidak ada ekspansi wilayah, melainkan ia sibuk menumpas pemberontakan-pemberontakan.

Sumber gambar: kompas.com

Sekalipun Sutawijaya telah menaklukkan hampir seluruh tanah Jawa, sukses di bidang politik-militer, tetapi banyak raja yang tak mengakui Sutawijaya sebagai raja sederajat dan sejajar dengan mereka. Mungkin itu sebabnya, yang membuat Sutawijaya seolah ‘haus akan validasi’ untuk menundukkan tanah Jawa. Di mana hal tersebut, terpatri di hati dan jiwa keturunannya untuk menjadikan seluruh kerajaan-kerajaan di pulau Jawa sebagai vasal Mataram.

Masa Pemerintahan Panembahan Anyokrowati

Pada sekitar abad ke-17 dan 18 M, sudah menjadi adat bagi para tetua untuk mengangkat calon raja sebelum raja turun dari takhta. Tujuannya agar tercipta suasana yang lebih kondusif dan tenang, ketika penentuan raja selanjutnya sudah ditentukan. Sehingga amanat raja akan dilaksanakan, dan hal tersebut merupakan titah absolut yang tak bisa dibantah.

Sinuhum Prabu Hanyokrowati atau Raden Mas Jolang adalah putra mahkota, dan telah dinobatkan sebagai calon raja tiga tahun sebelum Sutawijaya wafat. Pada tahun 1600 M, Sutawijaya mangkat dan Raden Mas Jolang menjadi penguasa Mataram berikutnya.[1]

Begitu menduduki takhta, putra mahkota diberi gelar Panembahan Seda ing Krapyak, yang memerintah Kerajaan Mataram pada tahun 1600 M hingga 1613 M (dalam nara sumber lain disebutkan pada tahun 1601-1613 M)[2]. Ia pun dikenal sebagai Panembahan Anyokrowati.

Masa pemerintahan Panembahan Hanyokrowati, meneruskan apa yang telah dicapai oleh ayahnya, yakni Sutawijaya. Lalu di masa jabatan sang panembahan yang juga dijuluki Krapyak ini, masih terjadi pemberontakan-pemberontakan terhadap Mataram.

Dalam paparan M. C. Ricklefs, peristiwa pemberontakan pernah tertulis dalam dokumen VOC sebagai salah satu bukti. Sehingga membuat peristiwa lebih jelas. Pada tahun 1602, sebelas pasukan VOC ditawan oleh Demak. Lima di antaranya berhasil meloloskan diri, dan menegaskan laporan mengenai pertikaian antara Mataram dan Demak.[3]

Pemberontakan dilakukan oleh Pangeran Puger di tahun tersebut (1602 M), yang menjabat sebagai penguasa (adipati) Demak. Hal ini dipicu oleh ketidakpuasan Pangeran Puger yang justru merasa disingkirkan, dan tidak menduduki takhta Mataram setelah Sutawijaya wafat.

Pangeran Puger adalah putra kedua Sutawijaya dari selir bernama Nyai Adisara. Putra pertama Sutawijaya dari permaisuri Rara Semangkin, yaitu Raden Rangga Samudera, sudah lama meninggal. Sehingga Pangeran Puger merasa dia sebagai putra tertua, berhak menjadi penguasa Mataram.[4]

Akan tetapi, Sutawijaya mengangkat Panembahan Hanyokrowati sebagai pemegang takhta selanjutnya.  Sehingga Pangeran Puger yang sakit hati, sama sekali tidak menghadiri pertemuan kenegaraan.

Hal tersebut disadari oleh Panembahan Hanyokrowati, dan ia berinisiatif mengangkat Pangeran Puger sebagai penguasa Demak. Sayangnya, mendapatkan jabatan sebagai adipati Demak, tak menyurutkan ambisi Pangeran Puger untuk menjadi raja Mataram.

Terprovokasi oleh hasutan Adipati Gending (Gresik) dan Adipati Panjer (Tulungagung), Pangeran Puger pun melakukan pemberontakan. Perlawanan Pangeran Puger yang cukup sengit, sempat membuat pasukan Panembahan Hanyokrowati kewalahan dan mundur.

Namun, tiga tahun kemudian (1605 M) pemberontakan Pangeran Puger berhasil dipatahkan, oleh adik-adik Hanyokrowati, yaitu: Pangeran Tembaga dan Pangeran Kedawung. Disebutkan dalam kronik-kronik Mataram, penguasa Demak tersebut diasingkan ke Kudus bersama sanak keluarganya.

Pemberontakan lain sempat terjadi antara tahun 1607-1608 M.

Pada tahun 1607 M (dalam nara sumber lain disebutkan pada tahun 1608 M[5]), terjadi pemberontakan terhadap Mataram. Pemberontakan ini dilakukan oleh Jayaraga, kakak Hanyokrowati yang menjadi bupati Ponorogo.[6]

Perlawanan Jayaraga dipadamkan oleh adik-adik Hanyokrowati yang lain, yaitu Pangeran Pringgalaya dan Martalaya. Di mana Jayaraga pun diasingkan ke Masjid Watu di Nusakambangan. Lalu pada tahun tahun 1608, terjadi pemberontakan di Kediri, yang segera ditumpas oleh kerajaan Mataram.

Di masa pemerintahannya, Panembahan Hanyokrawati nyaris tidak ada ekspansi wilayah, melainkan ia sibuk menumpas pemberontakan-pemberontakan. Termasuk melawan kekuasaan di wilayah timur Jawa, yaitu Surabaya.

Konon Surabaya merupakan negara dengan wilayah yang luas, yaitu sekitar 37 kilometer. Surabaya pun menguasai Gresik dan Sidayu. Yang merupakan lawan paling tangguh untuk Kerajaan Mataram.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] DR. H.J. De Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati Seri Terjemahan Javanologi (PT. Pustaka Grafitipers, 1987), hlm 126

[2] M.C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Sutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf), hlm 99

[3] M.C. Ricklefs Ibid. hlm 100

[4] Dr. H. Sudjak, M. Ag, Serat Sultan Agung: Melacak Jejak Islam Nusantara, (Bildung, 2016), hlm 15

[5] Dr. H. Sudjak, Ibid, hlm 16

[6] M.C. Ricklefs Op. Cit. hlm 101

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*