Kesultanan Banten (17): Puncak Kejayaan Kesultanan (1)

in Islam Nusantara

Last updated on November 13th, 2023 06:41 am

“Sikap keras Sultan Ageng Tirtayasa tak hanya diimplementasikan pada syariat agama yang dijalankan di kesultanan, tetapi juga masalah perniagaan dan perekonomian.”

Gambar ilustrasi Syekh Yusuf al-Makassari, Sumber: bantenhay

Perkembangan agama Islam di Banten pada masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, semakin kuat. Terlebih sang sultan menjalankan syariat agama secara ketat di wilayah kekuasaannya, Islam menjadi bagian tak terpisahkan bagi budaya masyarakat. Ilmu tarekat dan ilmu tasawuf menyebar secara signifikan di Banten.

Implementasi Syariat Islam di Masa Sultan Ageng Tirtayasa

Kesultanan Banten menjadi salah satu kerajaan Islam di pulau Jawa yang paling ketat melaksanakan syariat dibandingkan dengan kerajaan lainnya. Ini karena, Sultan Ageng Tirtayasa memiliki hubungan yang baik dengan kesultanan di luar pulau Jawa. Selain Sultan di Makkah, hubungan diplomasi penguasa Banten cukup erat dengan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Mughal di India.[1]

Selayaknya sosok suksesor seperti sultan-sultan sebelumnya, Sultan Ageng Tirtayasa sangat memperhatikan ilmu agama Islam. Salah satu guru agama Islam yang cukup dikenal dalam sejarah Islam Nusantara, yakni Syekh Yusuf al-Makassari, ditunjuk sebagai mufti oleh sang sultan.

Hubungan Sultan Ageng Tirtayasa dengan Syekh Yusuf terjalin sudah cukup lama. Sang syekh adalah sahabat sang sultan ketika masih menjadi putra mahkota. Syekh Yusuf singgah di Banten, lalu ke Aceh, dan di tahun 1644 M melakukan perjalanan ke barat. Selama kurang lebih 30 tahun lamanya, Syekh Yusuf menimba ilmu di Madinah dan Mekkah.[2]

Ketika Syekh Yusuf kembali ke Indonesia pada tahun 1672 M, ia tidak pulang ke Makassar melainkan ke Banten. Karena pada saat itu Makassar sudah jatuh ke tangan VOC dan Arung Palakka. Syekh Yusuf memperkenalkan dan menyebarkan tarekatnya sendiri yakni Khalwatiyyah-Yusuf. Ilmu tersebut ia terapkan, karena selama di tanah Arab, Syekh Yusuf bergabung dengan tarekat Khalwatiyyah.[3]

Syekh Yusuf merupakan salah satu sosok yang setia dan mendukung Sultan Ageng Tirtayasa, meski beberapa rekannya dari Makassar memutuskan keluar dari Banten pada tahun 1673 – 1674 M.

Ahli-ahli agama dari Mekkah dan India pun banyak yang singgah di Banten untuk menyebarkan agama Islam. Keturunan-keturunan sayyid tinggal di sana dan dihormati sebagai bangsawan. Bahkan beberapa sayyid ada yang menikahi putri-putri bangsawan.[4]

Atensi Sultan Ageng Tirtayasa pada syariat agama tak cukup hanya sampai di situ, ia pun mengirim putranya, Abun Nashar Abul Kahaar untuk menimba ilmu di tanah Arab. Sang sultan menitahkan putranya untuk mengunjungi tanah Mesir, Turki, Istambul yang pada masa itu merupakan kekuasaan Utsmani.[5]

Namun, meski ketatnya syariat dan hukum agama Islam di Banten tetap saja ada beberapa aspek yang mengganggu stabilitas kesultanan. Akibat ramainya perniagaan di Banten mulai menimbulkan beberapa dampak negatif pada kehidupan sosial masyarakat, salah satunya penyebaran candu.

Candu mulai masuk ke Nusantara yang dibawa oleh kapal-kapal dagang, terutama oleh bangsa Eropa. Menyadari bahwa candu dan tembakau akan merusak, maka Sultan Ageng Tirtayasa melakukan usaha preventif. Ia menitahkan razia dan penangkapan para pecandu, dan sebagai hukuman mereka dipekerjakan untuk menggali terusan (proyek-proyek sang sultan).[6]

Sanksi berat pun tidak segan-segan dijatuhkan bagi pelaku tindak asusila, dan hukuman potong tangan untuk mereka yang melakukan tindak pencurian. Mereka yang melakukan pencurian sekurang-kurangnya satu gram emas, akan dipotong tangan kanannya. Apabila kembali mengulang perbuatan tersebut secara berturut-turut, maka dipotong tangan kirinya.[7]

Dengan sanksi yang tegas ini membuat penduduk menghormati sekaligus segan pada penguasa mereka yang dianggap adil juga bijaksana. Karena sang sultan tak hanya duduk diam dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di wilayah Banten, ia justru memiliki andil terbesar.

Sikap keras Sultan Ageng Tirtayasa tak hanya diimplementasikan pada syariat agama yang dijalankan di kesultanan, tetapi juga masalah perniagaan dan perekonomian. Hal tersebut menimbulkan kebencian VOC semakin menjadi-jadi. Terlebih, sang sultan menunjukkan sikap permusuhannya terhadap bangsa Belanda.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Zarhen Ahmet, Negara Islam di Jawa 1500 – 1700, pada laman https://www.academia.edu/37616644/NEGARA_ISLAM_DI_JAWA_1500_1700 diakses pada 20 Oktober 2023 hlm 22

[2] Zarhen Ahmet, Ibid hlm 23

[3] M.C. Rickfleft, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Stutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf), hlm 182

[4] Hamka, Dari Pembendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara (Gema Insani, 2020), hlm 72

[5] Hamka, Ibid.

[6] Claude Guillot, Banten. Sejarah dan Peradaban (Abad X – XVII), diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hendra Setiawan, Maria E. Sundah, Monique Zaini-Lajoubert, Daniel Perret, Soegeng Saleh, Fida Muljono Larue, Ken Madya, Winarsih Arifin (KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), hlm 165

[7] Zarhen Ahmet, Op. Cit. hlm 22

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*