Kesultanan Banten (19): Sebab dan Akibat Runtuhnya Kesultanan

in Islam Nusantara

“Syekh Yusuf tertangkap. Sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya, lolos dan bersembunyi ke daerah pedalaman.”

Gambar ilustrasi. Sumber: kompas.com

Sikap pro Sultan Haji kepada VOC membuat kekecewaan besar di hati Sultan Ageng Tirtayasa. Apalagi putranya yang sudah memiliki kekuasaan cukup besar, mulai menancapkan cengkramannya terhadap kerajaan. Sehingga terjadi perpecahan di Kesultanan Banten, antara faksi Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji.

Kudeta Terhadap Sultan Ageng Tirtayasa

Di bulan Mei 1680 M, Sultan Haji mengutus perwakilannya menemui Gubernur VOC di Batavia, dengan tujuan meminta dukungan untuk pengukuhan dirinya sebagai Sultan. Sultan Ageng Tirtayasa dilengserkan, dan Sultan Haji maju ke publik sebagai sultan baru. Sang ayah ditawan di istana Tirtayasa. Bahkan Sultan Haji mengawasi istana Tirtayasa dengan mengirimkan pasukan untuk berjaga-jaga.[1]

Hal ini memicu pergolakan di kerajaan. Tindakan Sultan Haji tidak bisa diterima oleh rakyat, para bangsawan, juga pendukung Sultan Ageng Tirtayasa. Terlebih saat Sultan Haji menunjukkan koalisi terhadap bangsa Belanda, ketika memberi ucapan selamat kepada Gubernur VOC baru di Batavia. Sultan Haji justru terang-terangan bekerjasama dengan musuh Banten.

Pecahnya Perang Antara Ayah dan Anak

Maka Sultan Ageng Tirtayasa pun menghimpun kekuatan. Dibantu oleh aliansinya yang merupakan pecahan dari kerajaan yang sudah jatuh ke tangan VOC yakni orang-orang Makassar, lalu orang-orang Melayu, Caringin, Pontang, Lampung, Bengkulu, dan Tanara. Dengan kekuatan penuh Sultan Ageng Tirtayasa berangkat menuju Surosowan untuk merebut kembali kekuasaannya.[2]

Tersudut oleh serangan Sultan Ageng Tirtayasa, terpaksalah Sultan Haji harus menandatangani surat perjanjian terikat dengan VOC. Pihak Belanda akan membantu Sultan Haji, apabila ia menyerahkan kekuasaan sesuai kesepakatan yang telah dibuat.

Sultan Haji di bawah perlindungan VOC, memukul pasukan Sultan Ageng Tirtayasa yang terpaksa mundur ke daerah Cipontang dan Cisadane. Tidak lama setelah itu, istana Tirtayasa pun berhasil direbut oleh VOC. Sehingga Sultan Ageng Tirtayasa bersama Pangeran Purbaya melarikan diri ke daerah selatan.[3]

Dalam pelariannya dan bertempat di daerah Lebak, Sultan Ageng Tirtayasa menyusun kembali usaha perlawanan, tetapi tidak sekuat sebelumnya. Namun, VOC menyerang daerah Lebak hingga Syekh Yusuf tertangkap. Sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya, lolos dan bersembunyi ke daerah pedalaman.[4]

Penyergapan Sultan Ageng Tirtayasa

Dengan tipu dayanya, Sultan Haji mengutus 52 orang dari keluarga kerajaan untuk membujuk Sultan Ageng Tirtayasa agar menghentikan peperangan dan berdamai dengan VOC. Di waktu yang bersamaan Sultan Haji mengirimkan surat kepada pihak VOC, bahwa sang ayah akan dibawa ke istana Surosowan.

Sultan Ageng Tirtayasa memakbulkan keinginan putranya, maka ia pun pergi menuju istana Surosowan untuk menemui Sultan Haji tanpa ada kecurigaan.

Pada 14 Maret 1683 M berangkatlah rombongan Sultan Ageng Tirtayasa dalam misi perdamaian.[5] Akan tetapi, dalam perjalanan itulah Sultan Ageng Tirtayasa disergap dan ditangkap oleh tentara VOC.

Untuk beberapa lama ia ditahan di Banten, lalu dipindahkan ke Batavia. Pada tahun 1695 M, Sultan Ageng Tirtayasa wafat di dalam tahanan.

Runtuhnya Kesultanan Banten

Harapan Sultan Haji untuk memegang penuh kuasa kerajaan, rupanya melenceng dari perkiraannya. Sultan Haji tak ubahnya boneka bagi VOC. Kedudukan sultan hanya sebagai simbolis, tetapi kekuasaan dipegang penuh oleh pihak Belanda. Ia hanya mengecap lima tahun menduduki takhta, dan meninggal dunia mendahului sang ayah pada tahun 1687 M. Pun cucunya yang menggantikan Sultan Haji, wafat di tahun 1690 M.[6]

Kesultanan Banten selama tahun-tahun berikutnya tidak bisa keluar dari kuasa VOC, tidak ada lagi pemimpin layaknya Sultan Ageng Tirtayasa dan para pendahulunya.

Awal abad ke-19, Herman Willem Daendels—Gubernur Jenderal Hindia Belanda—menitahkan Sultan Banten pada masa itu untuk memindahkan pusat kerajaan ke Anyer. Sang sultan menolak, hingga Daendels mengepung istana Surosowan dan menangkap penguasa Banten.[7]

Sultan Banten ditangkap dan diasingkan ke Batavia. Lalu pada tahun 1808 M, Daendels menyatakan bahwa Kesultanan Banten merupakan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Enam tahun kemudian yakni 1813 M, Kesultanan Banten dihapuskan oleh kolonial Inggris yang berkuasa di Banten. Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin yang menduduki takhta sultan pada masa itu, dipaksa turun dari jabatannya. Maka Kerajaan Islam yang terkuat di Jawa Barat itu pun berakhir.

(Selesai)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Prof. Dr. Hamka, Sejarah Umat Islam (Pustaka Nasional PTE LTD Singapura) hlm 877

[2] Mujajid, Biografi Sultan Ageng Tirtayasa, pada laman https://www.republika.id/posts/41439/biografi-sultan-ageng-tirtayasa, diakses pada 25 Oktober 2023

[3] Hamka, Dari Pembendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Nusantara (Gema Insani, 2020), hlm 73

[4] Prof. Dr. Hamka, Loc. Cit., hlm 879

[5] Dr. Johan Setiawan M. pd, Sultan Ageng Tirtayasa Perjuangannya Dalam Menghadapi VOC, pada laman https://www.academia.edu/35889257/SULTAN_AGENG_TIRTAYASA_PERJUANGANNYA_DALAM_MENGHADAPI_VOC diakses pada 20 Oktober 2023, hlm 10

[6] Hamka, Op. Cit., hlm 74

[7] Dini Daniswari, Mengapa Kerajaan Banten Runtuh?, pada laman https://regional.kompas.com/read/2022/07/23/200312278/mengapa-kerajaan-banten-runtuh?page=all diakses pada 25 Oktober 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*