Kesultanan Banten (2): Wilayah Banten Diduduki oleh Kerajaan Pajajaran dan Demak

in Islam Nusantara

Last updated on October 3rd, 2023 02:30 pm

“Penaklukan oleh Kerajaan Pajajaran berdampak cukup buruk bagi perekonomian masyarakat negeri Banten Girang.”

Sumber gambar: soedonowonodjoio.family

Kerajaan Banten Girang atau Kerajaan Sunda yang diluluhlantakan oleh Kerajaan Pajajaran, menghilang dalam catatan dan nama negeri Sunda sendiri melebur menjadi satu wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran. Nama “Sunda” beralih menjadi satu wilayah keseluruhan di bawah kekuasaan kerajaan tersebut.

Kerajaan Pajajaran didirikan oleh beberapa bangsawan dari Galuh pada tahun 1333, beribukota di Pakuan. Kerajaan ini yang pertama kali berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat di bawah kekuasaan tunggal. [1]

Dari fragmen Carita Parahyangan, menceritakan mengenai Tarusbawa sebelum mendirikan Kerajaan Sunda dan masa bertahtanya Maharaja Tarusbawa dan Rakéyan Darmasiksa, yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran (Bogor). Dapat dikatakan bahwa Carita Parahyangan merupakan versi dari warga Kerajaan Galuh.[2]

Masa Pendudukan Kerajaan Pajajaran

Kehancuran Banten Girang pada tahun 1400 dan menjadi salah satu wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Pajajaran, berlangsung hingga abad 16 M. Penaklukan oleh Kerajaan Pajajaran berdampak cukup buruk bagi perekonomian masyarakat negeri Banten Girang.

Kegiatan niaga di Banten dialihkan oleh penguasa Pajajaran ke pelabuhan-pelabuhan yang lebih dekat dengan ibukotanya. Termasuk salah satunya Kelapa (Jakarta), dan sebuah pelabuhan di muara Sungai Citarum. Pada masa tersebut Kerajaan Pajajaran menjalin hubungan diplomatik dengan Portugis, yang sudah berkuasa di Melaka.

Namun, Banten Girang mengalami lagi masa gemilangnya dan menjadi salah satu pusat perniagaan penting China sekitar tahun 1500. Redupnya penguasaan Kerajaan Pajajaran, dimanfaatkan oleh Banten Girang untuk memulihkan lagi perekonomian mereka. Tumbangnya Kesultanan Malaka pada tahun 1511, kemungkinan besar mempercepat roda perniagaan kembali menggeliat di Banten Girang.[3]

Masa Pendudukan Kerajaan Demak

Ketika tidak ada penguasa di Pakuan, Banten menjadi incaran orang Jawa, yaitu Kerajaan Demak. Kerajaan tersebut hendak mengekspansi perniagaan, dengan menggabungkan pelabuhan-pelabuhan pesisir Utara.

Wilayah Banten yang penduduknya merupakan penganut agama Hindu, menolak islamisasi yang dilancarkan oleh pihak Kerajaan Demak. Sekitar tahun 1520, Kerajaan Demak melancarkan serangan-serangan militer terhadap Banten, tetapi mengalami kegagalan.

Pada tahun 1522, Petinggi di Sunda-Banten yang merupakan vasal Kerajaan Pajajaran, meminta bantuan Portugis di Malaka untuk mempertahankan wilayah Banten. Tawarannya adalah kemudahan berniaga dan dibangunnya sebuah benteng, serta penempatan pasukan Portugis.[4]

Perencanaan pembangunan benteng ditempatkan di muara Sungai Cisadane, dengan tujuan mencegah serangan dari Kerajaan Demak. Namun, hal tersebut tidak segera ditanggapi oleh pihak Portugis.

Saat pemimpin kota yang disebut “Sanghyang” meninggal, kekuatan militer di Banten melemah. Hingga akhirnya, Ki Jongjo, salah satu petinggi kota Banten yang merupakan mualaf dan berpihak pada Demak, menyerang Banten dari dalam. Dengan dukungan Sunan Gunung Jati dan putranya, Hasanuddin, maka pada tahun 1526, pelabuhan Banten dan ibukota Banten Girang berhasil diduduki oleh Kerajaan Demak.[5]

Pelabuhan utama kedua Kerajaan Pajajaran—Sunda Kelapa (Jakarta)—pun direbut oleh kaum Muslim. Yang kemudian nama pelabuhan tersebut diganti menjadi Jayakerta atau Surakarta, berasal dari Bahasa Sansakerta yang berarti ‘jaya dan makmur’.[6]

Hasanudin memerintah beberapa tahun di Banten Girang, hingga pada akhirnya Sunan Gunung Jati memerintahkan pemindahan istana ke pelabuhan Banten. Sampai akhir abad ke-17 situs Kerajaan Banten Girang masih digunakan oleh para penguasa Islam sebagai pesanggrahan.

Maka merunut dari kronik sejarah, dinasti Islam di Banten dan kerajaannya tidak berdiri begitu saja. Melainkan dibangun setelah merebut wilayah tersebut dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Dimana sebelumnya, Kerajaan Pajajaran pun menaklukkan Kerajaan Banten Girang sebagai kerajaan paling pertama di sana. Begitu Sunan Gunung Jati memberi titah membangun istana di pelabuhan Banten, di sinilah awal mula terbentuknya Kesultanan Banten.

Raja pertama Kesultanan Banten adalah putra Sunan Gunung Jati, yaitu Maulana Hasanuddin, yang bertahta pada tahun 1552-1570 M. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah tidak pernah menjadi raja di sana, ia kembali ke Cirebon dan kelak memberikan kebebasan kepada keturunannya dari Kerajaan Demak.

Didirikannya Kesultanan Banten merupakan hasil manifestasi penyebaran Islam, juga upaya Kerajaan Demak untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.

(Bersambung)

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Claude Guillot, Banten. Sejarah dan Peradaban (Abad X – XVII), diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hendra Setiawan, Maria E. Sundah, Monique Zaini-Lajoubert, Daniel Perret, Soegeng Saleh, Fida Muljono Larue, Ken Madya, Winarsih Arifin (KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), hlm 17

[2] Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, KEBUDAYAAN SUNDA Zaman Pajajaran (PT. Dunia Pustaka Jaya, Edisi Elektronik 2018), hlm 93

[3] Op cit, hlm 29

[4] M.C. Rickfleft, A History of Modern Indonesia since c. 1200 Third Edition, diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Satrio Wahono, Bakar Bilfagih, Hasan Huda, Miftah Helmi, Joko Stutrisno, Has Manadi, Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004 (PT. SERAMBI ILMU SEMESTA anggota IKAPI, cet-3 2007 versi pdf) pada hlm 91

[5] Claude Guillot, Banten. Sejarah dan Peradaban (Abad X – XVII), diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Hendra Setiawan, Maria E. Sundah, Monique Zaini-Lajoubert, Daniel Perret, Soegeng Saleh, Fida Muljono Larue, Ken Madya, Winarsih Arifin (KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008), hlm 30

[6] Op cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*