Kisah Bilal bin Rabah (10): Adzan Terakhir yang Tak Pernah Usai

in Tokoh

Last updated on January 23rd, 2019 02:26 pm

“Sepeninggal Rasulullah, Bilal tidak pernah mau untuk Adzan lagi, dan dia lebih memilih hijrah ke Suriah. Atas permintaan Nabi di dalam mimpi, Bilal berkunjung kembali ke Madinah. Hasan dan Husain meminta Bilal untuk adzan. Ketika sampai kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Bilal menangis tersedu sedan dan tidak pernah sanggup melanjutkan Adzan.”

–O–

Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriyah di usianya yang ke 63. Ketika beliau wafat, kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah berubah menjadi muram. Anas meriwayatkan, “aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulullah SAW masuk ke tempat kami, dan tidak kulihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulullah SAW meninggal dunia.”[1]

Begitu pula dengan Bilal bin Rabah, sepeninggal Rasulullah dia dilanda kesedihan yang amat sangat. Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan adzan selama tiga hari. Setiap sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaahi,” dia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.[2]

Riwayat lainnya berkisah, Bilal menemui Abu Bakar (khalifah pertama) dan berkata, “wahai khafilah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘amal orang mukmin yang utama adalah berjihad fi sabilillah.’” Abu Bakar bertanya, “jadi apa maksudmu, hai Bilal?” Bilal menjawab, “aku ingin berjuang di jalan Allah sampai aku meninggal dunia.” Lalu, “siapa lagi yang akan menjadi muadzzin bagi kami?” kata Abu Bakar. Dengan air mata berlinang Bilal menjawab, “aku takkan menjadi muaddzin lagi bagi orang lain setelah Rasulullah.”[3]

Kelanjutannya dikisahkan oleh Ibnu ‘Abd al-Barr, seorang ulama madzhab Maliki kelahiran Andalusia tahun 978 M, dalam kitabnya yang berjudul al-Isti’ab,  dikisahkan bahwa sepeninggal Rasulullah Bilal tidak pernah melakukan Adzan lagi. Ibnu ‘Abd al-Barr mengisahkan, “ketika Nabi wafat, Bilal ingin pergi ke Suriah. Abu Bakar menyuruhnya untuk tetap berada dalam pengabdian. Bilal berkata, ‘jika engkau telah membebaskanku untuk dirimu sendiri, maka buatlah aku tertawan lagi; Tapi jika engkau telah membebaskan aku untuk Allah, maka biarkan aku pergi di jalan Allah.’ Abu Bakar meninggalkannya sendirian.”[4]

Setelah Bilal pergi dari Madinah, dia menghabiskan sisa hidupnya di Suriah. Suatu saat Umar bin Khattab (khalifah kedua) berkunjung ke Suriah. Pada kesempatan tersebut orang-orang meminta khalifah untuk memintakan kepada Bilal untuk Adzan untuk satu shalat saja. Konon, itu adalah Adzan terakhir Bilal.[5]

Versi lainnya adalah, Bilal mengumandangkan Adzan terakhirnya di Madinah. Begini kisahnya:

Pada suatu malam yang istimewa di Suriah. Malam di mana saat Bilal sedang tertidur lelap, dia bermimpi didatangi seorang yang sangat dicintainya, seorang teladan sejati. Malam itu, dia bermimpi didatangi  Rasulullah SAW. Dan satu pertanyaan tertuju padanya, “wahai Bilal, mengapa engkau tak pernah mengunjungiku?”[6]

Sontak, Bilal terperanjat. Jantungnya berdebar. Dia terbangun, lalu dengan sigap ia bersiap-siap untuk  menempuh perjalanan ke Madinah. Sesampainya di sana, dia berziarah di makam Nabi Muhammad SAW. Di Kota Madinah yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW, Bilal menangis tersedu menumpahkan rasa rindu. Rindu kepada Sang Nabi SAW yang telah menunjuknya menjadi muaddzin. Saat air mata membasahi pipinya, tiba-tiba datanglah dua orang pemuda berjalan mendekat, mereka adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husain.[7]

Dengan mata sembab Bilal menatap keduanya. Dia bergerak mendekat, memeluk kedua cucu Nabi SAW itu. Salah seorang dari mereka bicara, “paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami, paman.”[8]

Bilal bin Rabah RA yang sudah semakin tua, hatinya luluh, tak kuasa untuk tidak memenuhi permohonan orang-orang yang lama jauh darinya. Dia pun memenuhi permintaan mereka. Ketika waktu shalat telah tiba, dengan pijakkan kaki yang teguh, Bilal menaiki tangga ke tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan adzan. Ia menarik nafas dalam, memulai suaranya. Lantunan kumandang adzan pun menyapa pendengaran banyak orang.[9]

Allahuakbar Allahuakbar….” Bilal memulai Adzan, Kota Madinah tiba-tiba saja menjadi senyap. Penduduk Madinah terkejut, suara yang telah hilang selama bertahun-tahun terdengar lagi. Ketika sampai pada kalimat, “Asyhadu an laa ilaha illallah….” orang-orang berlari dari segala penjuru menuju sumber suara itu. “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah…. ” sedu-sedan tangis penduduk Madinah menggema, air mata mereka membanjir. Luapan rindu yang dalam kepada Sang Utusan, Muhammad SAW tak terbendung sudah. Mereka menangis.[10]

Terkenanglah masa-masa saat Rasulullah SAW masih berada di tengah-tengah mereka. Bilal sendiri yang tengah adzan pun tercekat, dia tidak sanggup meneruskannya. Air matanya berderai-derai di pipi. Hari itu, Madinah berluapan rasa rindu nan syahdu. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Muhammad SAW. Lantunan adzan Bilal bin Rabah-lah yang memulainya, yang memantiknya menjadi nyala cahaya. Itulah adzan terakhir dalam usia senja sang muadzin pertama dunia. Adzan yang tak pernah dia bisa tuntaskan karena terlalu sedih.[11]

 

Menjelang Ajal

Menjelang ajalnya di Suriah, Bilal terbaring di atas tempat tidur, sementara istrinya duduk di sampingnya seraya berkata, “sungguh menyedihkan musibah yang kualami!” Bilal mengatakan, “justru inilah saat kebahagiaan dan kesenangan. Tahukah engkau bahwa kematian merupakan sesuatu yang membahagiakan?” Istrinya berkata, “saat perpisahan telah tiba.” Bilal mengatakan, “saat perjumpaan telah datang.”[12]

Istrinya berkata, “malam ini engkau akan pergi ke laut orang-orang asing.” Bilal mengatakan, “jiwaku akan kembali ke tempat asalnya.” Istrinya berkata, “betapa malangnya diriku!” Bilal mengatakan, “betapa bahagianya diriku.” Istrinya bertanya, “setelah ini, kapan aku bisa berjumpa denganmu lagi?” Bilal menjawab, “di taman para kekasih Ilahi (surga).” Istrinya berkata, “dengan kepergianmu, semuanya terasa hancur bagiku.” Bilal mengatakan, “tubuh ini bagai awan yang menyatu dan setelah itu berpisah.”[13] (PH)

Selesai.

Sebelumnya:

Kisah Bilal bin Rabah (9): Adzan Pertama di Mekah

Catatan Kaki:

[1]  Ibnu Hisyam, Sirah an-Nabawiyah, 2/655; Zadul Ma’ad, 2/137, dalamShafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001), hlm 619-620.

[2] Syahruddin el-Fikri, “Muazin Pertama dalam Islam”, dari laman http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/17/04/13/oocdr5313-muazin-pertama-dalam-islam, diakses 26 Februari 2018.

[3] Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, terjemahan ke bahasa Indonesia oleh Mahyuddin Syaf, dkk (CV Penerbit Diponegoro: Bandung, 2001), hlm 116.

[4] Abdullah, Ysuf. al-Isti’ab. Print. Pg.150, dalam Allamah Sayyid Sa’eed Akhtar Rizvi, Slavery from Islamic and Christian Perspectives,  (Vancouver Islamic Educational Foundation: Vancouver, 2014), hlm 28-29.

[5] Khalid Muhammad Khalid, Ibid., hlm 117.

[6] “Bilal bin Rabah RA, Sang Muadzin Pertama Dunia”, dari laman http://www.panjimas.com/inspirasi/2016/10/11/bilal-bin-rabah-ra-sang-muadzin-pertama-dunia/, diakses 26 Februari 2018.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ali Sadaqat, 50 Kisah Teladan, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Ibn Alwi Bafaqih dan Najib H.AI-Idrus, (Cahaya: Jakarta, 2005), hlm 320.

[13] Ibid., hlm 320-321.

18 Comments

  1. Saya sudah lama tidak menangis ketika membaca sebuah tulisan, dan saat membaca tulisan ini saya benar benar menangis, rindu dengan mu wahai rasulluah. Begitu luarbiasa cinta yang engkau berikan untuk kami, dan cinta itu masih terasa hangat sampai saat ini

  2. Saya sudah lama tidak menangis ketika membaca sebuah tulisan, dan saat membaca tulisan ini saya benar benar menangis, rindu dengan mu wahai rasulluah. Begitu luarbiasa cinta yang engkau berikan untuk kami, dan cinta itu masih terasa hangat sampai saat ini

  3. Masyaallah… saya menangis membaca kisah bilal betapa ia merindukan rasulullah😢 dan bagaimana ia tak bisa melanjutkan adzannya karena mengingat beliau…. sungguh saya menangis karena kisah ini.

  4. Masyaallah… saya menangis membaca kisah bilal betapa ia merindukan rasulullah😢 dan bagaimana ia tak bisa melanjutkan adzannya karena mengingat beliau…. sungguh saya menangis karena kisah ini.

  5. Kalau saya misal hidup di jama itu saya Juga akan sangat menangis dan menangis.
    Membaca saja sudh menangis apa lgi mengalaminya.

  6. Cerita ini sungguh menakjubkan, dan tak terasa airmata pun mengalir.. alloh humma solli ngala muhammad wa ngala ali muhammad

  7. Saat saya membacanya tak terasa air mata berlinang dan jatuh berguguran layaknya dedaunan. Terbaca akan cinta Bilal yg begitu besar kepada pimpinan umat islam sayyidina muhammad saw. Saya pun ingin seperti Bilal..

  8. Tak terasa air mata berlinang dan jatuh berguguran layaknya dedaunan. Terbaca akan cinta Bilal yg begitu besar kepada pimpinan umat islam sayyidina muhammad saw. Saya pun ingin seperti Bilal..

  9. Saat saya membacanya tak terasa air mata berlinang dan jatuh berguguran layaknya dedaunan. Terbaca akan cinta Bilal yg begitu besar kepada pimpinan umat islam sayyidina muhammad saw. Saya pun ingin seperti Bilal..

  10. Tak terasa air mata berlinang dan jatuh berguguran layaknya dedaunan. Terbaca akan cinta Bilal yg begitu besar kepada pimpinan umat islam sayyidina muhammad saw. Saya pun ingin seperti Bilal..

  11. Masyaallah
    Air mata saya mengalir sendirinya membaca kisah bilal yg begitu merindukan nabi muhammad SAW
    😥😥😥😥😥😥😥
    😭😭😭😭😭😭😭

  12. Masyaallah
    Air mata saya mengalir sendirinya membaca kisah bilal yg begitu merindukan nabi muhammad SAW
    😥😥😥😥😥😥😥
    😭😭😭😭😭😭😭

  13. Subhanallah,,
    kerinduan seorang bilal kepada Rasulullah SAW .
    Membaca kisahnya saja sangat mengharukan ,,apa lagi jika kita merasakannya pada waktu itu

  14. AZAN TERAKHIR BILAL YANG PALSU
    Semua pasti tahu, bahawa pada zaman Nabi, setiap masuk waktu solat, maka yang mengumandangkan azan adalah Bilal bin Rabah. Bilal dipilih kerana memiliki suara yang merdu. Lelaki berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang unik. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh sesiapapun, kecuali saat perang, atau saat keluar kota bersama Nabi. Kerana beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui الله‎ Ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan azan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar رضي الله عنه memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata: “Biarkan aku jadi mu’adzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan mu’adzin siapa-siapa lagi.”
    Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf, apakah engkau membebaskanku kerana dirimu atau kerana الله‎?.” Abu Bakar رضي الله عنه hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku kerana dirimu, maka aku bersedia jadi mu’adzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku kerana الله‎, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar رضي الله عنه pun tak mampu lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan azan.
    Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi ﷺ, terus menghurung hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah mengikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi ﷺ hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? (Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”) Bilal pun tersentak bangun, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.
    Setiba di Madinah, Bilal bersedu-sedan melepas rasa rindunya pada Nabi ﷺ, pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi ﷺ, Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi ﷺ itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal: “Pakcik, mahukah pakcik sekali saja mengumandangkan azan buat kami? Kami ingin mengenang datuk kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah menjadi Khalifah juga melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan azan, meski sekali saja.
    Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu solat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia azan pada masa Nabi ﷺ masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan azan. Saat lafaz “ٱللهُ أَكْبَر” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktiviti terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali. Ketika Bilal melaungkan kata “أَشْهََدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللهُ”, seluruh isi kota Madinah bergegas ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
    Dan saat Bilal mengumandangkan “أَشْهََدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رُسُولُ ٱلله”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan azannya, lidahnya tersekat oleh air mata yang berderai.
    Hari itu, Madinah mengenang masa saat Nabi ﷺ masih ada. Tak ada peribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi ﷺ. Dan azan itu, azan yang tak mampu disudahkan itu, adalah azan pertama sekaligus azan terakhirnya Bilal bin Rabah, semenjak Nabi ﷺ wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan azan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang kerananya, darjat dirinya terangkat begitu tinggi.
    Takhrij Kisah
    Kisah ini cukup masyhur dan popular di kalangan Quburiyyun (pemuja kuburan), bahkan dijadikan dalil oleh sebahagian mereka seperti As-Subki dalam Syifa As-Siqam fi Ziyarati Khairil Anam hal. 52, Ibnu Hajar Al-
    Haitsami dalam Tuhfatuz Zuwar ila Qabri Nabi Mukhtar hal. 67 dan Syaikh Aidh Al-Qarni dalam kitabnya Al-Misku wal ‘anbar fi Khutabi Minbar 1/74-75.
    Diriwayatkan Abu Ahmad Al-Hakim dalam Fawaid-nya juz 5 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya pada biografi Bilal dari jalan Muhammad bin Al-Faidh dari Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilal bin Abu Darda’ dari ayahnya dari datuknya dari Ummu Darda’ dari Abu Darda.
    Darjat Kisah
    MUNKAR, kerana disebabkan:
    1. Ibrahim bin Muhammad bin Sulaiman bin Bilal
    :point_right: Al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi berkata: “Syaikh ini tidak dikenal dengan kepercayaan, amanah, hafalan dan keadilan, bahkan dia adalah seorang yang majhul, tak dikenal dengan riwayat hadis. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Muhammad bin Al-Faidh yang meriwayatkan kisah munkar ini”.
    :point_right: Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Asakir menulis biografi tentangnya dan membawakan riwayatnya dari ayahnya dari datuknya dari Ummu Darda’ dari Abu Darda’ tentang kisah “Perjalanan Bilal ke Syam” dan kedatangannya ke kota Madinah dan azannya di Madinah serta gemparnya Madinah dengan tangisan kerana azannya. Kisah ini sangat nyata dustanya”.
    2. Sulaiman bin Bilal bin Abu Darda’.
    :point_right: Al-Hafizh Ibnu Abdil Hadi berkata: “Dia tidak dikenal, majhul hal, sedikit riwayatnya dan tidak ada satu imampun sepanjang pengetahuan saya yang menganggapnya tsiqah (terpercaya). Imam Bukhari juga tidak mencantumkannya dalam kitab beliau, tidak pula Ibnu Abi Hatim, ditambah lagi dia tidak diketahui bahawa dia mendengar dari Ummu Darda””.
    *Komentar Ulama Ahli Hadis*
    :point_right: Imam Adz-Dzahabi berkata: “Sanadnya layyin iaitu munkar”.
    :point_right: Imam Ibnu Abdil Hadi berkata : “Atsar gharib munkar, sanadnya majhul dan terputus”.
    :point_right: Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Kisah ini sangat jelas palsunya”.
    :point_right: Imam Ibnu Arraq menyetujui ucapan Al-Hafizh di atas.
    :point_right: Al-Allamah As-Syaukani berkata: “Tidak ada asalnya”. Dan dipersetujui oleh Al-Allamah Syaikh Yahya Al-Muallimi.
    :point_right: Al-Allamah Ali Al-Qari menghukum kisah ini dengan Maudhu’ (palsu) dalam kitabnya Al-Mashnu” fi Ma’rifatil Hadis Maudhu’.
    :point_right: Lajnah Daimah (Anggota Majlis Fatwa Arab Saudi) yang diketuai oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh menetapkan: “Para pakar ulama telah menegaskan bahwa hadis ini tidak sahih”. Kemudian mereka menukilkan sebahagian komentar ulama diatas.
    *Analisis Matan (Teks) Kisah*
    Matan kisah inipun perlu dikritik kerana beberapa hal berikut:
    :point_right: Seluruh ahli sejarah yang terpercaya telah bersepakat bahwa Bilal tidak pernah azan setelah wafatnya Nabi Muhammad kecuali hanya sekali saja iaitu ketika Umar datang ke Syam. Sehingga manusia teringat pada Nabi dan tidak pernah diketahui orang yang menangis lebih banyak daripada hari itu.
    Demikianlah ditegaskan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikhnya 3/316, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa Nihayah 7/102, Al-Bukhari dalam Tarikh As-Shaghir 1/53, Ibnu Hibban dalam Masyahir Ulama Amshar hal. 50 dan As-Suyuthi dalam Is’af Mubtha’ bi Rijal Al-Muwatha’ 3/185 -Tanwir Hawalik-.
    :point_right: Seluruh ahli hadis dan sejarah menegaskan bahwa Bilal wafat di kota Syam pada zaman pemerintahan Umar bin Khathab, sedangkan kuburan Nabi pada zaman Umar berada di kamar rumah Aisyah yang tidak diperbolehkan seorangpun untuk masuk kecuali dengan izinnya. Dan telah sahih dalam sejarah bahawa tatkala Umar bin Khathab ditusuk, beliau memerintahkan anaknya Abdullah supaya pergi kepada Aisyah seraya mengatakan padanya: “Sesungguhnya Umar berpesan: “Bila tidak memberatkan dirimu, maka aku senang untuk dikubur bersama kedua sahabatku (Nabi dan Abu Bakar)”. Aisyah menjawab: “Aku tidak keberatan” Maka Umar berkata: “Bila demikian, maka kuburkanlah aku bersama keduanya”. (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/93).
    Sumber : Waspada Terhadap Kisah-kisah Tak Nyata, karya Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi hal. 53-57

Leave a Reply to Audina friska Cancel reply

Your email address will not be published.

*