Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Hud (7): Sarsar, Angin yang Sangat Kencang

in Studi Islam

Last updated on September 12th, 2019 01:29 pm

Wahb bin Munabbih berkata, “Ketika Allah menghukum Kaum Ad. Siapa pun yang sedang tidak berada di rumah, dihempaskan oleh angin hingga dia membelah gunung dengannya, dan dengan demikian mereka semua dihancurkan.”

Foto Ilustrasi: fox2now

Al-Tabari berkata, “Telah dikatakan, bahwa pemimpin dan orang terhebat mereka (Kaum Ad) saat itu adalah al-Khuljan.”

Diriwayatkan dari al-Abbas bin al-Walid dari ayahnya dari Ismail bin Ayyash dari Muhammad bin Ishaq: Ketika angin bertiup ke arah (Kaum) Ad dari wadi (sungai kering di padang pasir yang hanya terisi air jika hujan turun), tujuh dari mereka, salah satunya adalah al-Khuljan, berkata, “Ayo, mari kita bertahan di tepi wadi dan buat ia (angin) mundur.”

Namun angin bertiup ke masing-masing bagian bawah mereka dan mengangkat mereka, lalu menjatuhkan dan mematahkan leher mereka. Itu membuat mereka, seperti yang Allah firmankan, “Bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk),” (Q.S 69:7) sampai hanya al-Khuljan yang selamat.

Dia berbalik ke arah gunung dan memegang satu sisinya dan mengguncangnya, dan (gunung) itu bergetar di tangannya. Lalu dia menyusun (sajak) berikut ini:

Hanya al-Khuljan saja yang tersisa.

oh, hari yang luar biasa, setelah hari yang menghantamku

Dengan telapak yang kuat, perkasa dalam daya hancurnya.

jika itu tidak datang kepadaku, aku akan datang ke sana untuk mencari tahu tentang hal itu.

Hud berkata kepadanya, “Celakalah engkau, wahai Khuljan! Menyerahlah (kepada Allah) dan engkau akan selamat!”

Al-Khuljan bertanya, “Dan apa yang akan aku dapat dari Tuhanmu jika aku menyerah?”

Hud menjawab, “Surga.”

Al-Khuljan berkata, “Dan apa yang aku lihat di awan, seolah-olah mereka adalah unta berpunuk dua?”

Hud menjawab, “Mereka adalah malaikat Tuhanku.”

Al-Khuljan berkata, “Dan jika aku menyerah, akankah Tuhanmu melindungiku dari mereka?”

Hud menjawab, “Celakalah engkau! Pernahkah engkau melihat seorang raja melindungi seseorang dari pasukannya sendiri?”

Al-Khuljan berkata, “Apakah Dia akan melakukan apa yang aku inginkan?” Kemudian angin datang dan membawanya, dan menyatukannya bersama teman-temannya.

Abu Jafar meriwayatkan, “Allah menghancurkan al-Khuljan dan mengakhiri Kaum Ad, kecuali beberapa orang yang tersisa. Mereka binasa, tetapi Allah menyelamatkan Hud dan mereka yang beriman kepadanya. Dikatakan bahwa Hud hidup 150 tahun.”

Dalam riwayat versi lainnya, al-Suddi berkata:

Dan kepada Kaum Ad (diutus) saudara mereka, Hud, yang berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia.” (Q.S 11: 50) Ini artinya bahwa bahwa Hud datang kepada Kaum Ad dan memperingatkan mereka, mengingatkan mereka tentang apa yang telah Allah katakan dalam Alquran, tetapi mereka tetap tidak beriman kepadanya, dan menantangnya untuk menghukum mereka.

Lalu dia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya.” (Q.S 46: 23)

Mana kala Kaum Ad adalah orang-orang yang tidak beriman, mereka dilanda kekeringan yang begitu mengerikan sehingga mereka menjadi sangat menderita. Kemudian Hud berdoa untuk kemalangan mereka dan Allah mengirim mereka angin yang kering, yaitu angin yang tidak menyerbuki pohon-pohon (bukan angin yang memberi kehidupan kepada alam).

Ketika mereka melihatnya, mereka mengira itu hanya peristiwa biasa dari (datangnya) musim hujan. Tetapi ketika itu mendekati mereka, mereka melihat unta-unta dan orang-orang yang terhempas di antara langit dan bumi.

Ketika mereka melihat itu, mereka bergegas masuk ke dalam rumah mereka. Ketika mereka memasuki rumah mereka, (angin) itu menghantam mereka dan menghancurkan mereka di sana. Kemudian, (angin) itu memaksa mereka keluar dari rumah mereka dan membuat mereka (mengalami) “hari nahas yang terus menerus.” (Q.S 54: 19)

“Nahas yang terus menerus” adalah kemalangan yang abadi. Angin terus menghukum mereka selama “tujuh malam panjang dan delapan hari yang melelahkan.” (Angin) itu menyapu semua yang ada di jalurnya.

Ketika mereka dihempaskan keluar dari rumah mereka, Allah berfirman, “Menyapu orang-orang (dari rumah mereka) seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk),” (Q.S 69: 7) tercerabut dari dasar dan “lapuk” – mereka menjadi lapuk dan bergelimpangan.

Dan setelah Allah menghancurkan mereka, Dia mengirim burung-burung hitam untuk mereka, yang mana mengambil dan membawa mereka ke laut, dan melemparkan mereka ke dalamnya. Seperti yang Dia katakan, “Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka.” (Q.S 46: 25)

Angin bertiup seperti biasanya kecuali pada hari itu ketika berhembus kepada gudang harta dan menimpa mereka. Mereka tidak dapat melihat batas kekuatannya, karena seperti yang Dia katakan, “Mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang.” (Q.S 69: 6) Sarsar (صَرْصَرٍ) berarti sesuatu yang memiliki suara yang amat kencang.

Masih berkaitan dengan riwayat di atas, Wahb bin Munabbih meriwayatkan, “Ketika Allah menghukum Kaum Ad dengan angin yang mengutuk mereka, (angin) itu mencabik-cabik pohon-pohon besar dari dasarnya, dan menghancurkan rumah-rumah mereka di atas mereka. Siapa pun yang sedang tidak berada di rumah, dihempaskan oleh angin hingga dia membelah gunung dengannya, dan dengan demikian mereka semua dihancurkan.”[1] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 2, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press: New York, 1987), hlm 38-40.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*