Mozaik Peradaban Islam

Kisah Nabi Luth (10): Turunnya Azab (1)

in Studi Islam

Last updated on October 14th, 2019 01:37 pm

Dan ketika waktu penghancuran yang ditentukan tiba, Jibril mengangkat negeri mereka dengan sayapnya dan membalikannya. Dia mengangkatnya begitu tinggi sehingga penduduk surga dapat mendengar kokok ayam jantan dan gonggongan anjing.

Ilustrasi Luth dan kedua putrinya meninggalkan Sodom, sementara itu istrinya berbalik dan menoleh ke belakang. Sumber: Catholic Family News

Setelah para malaikat mengungkapkan identitas mereka kepada Nabi Luth dan mengatakan akan memberikan hukuman bagi para penduduk kota Sodom, sebagaimana tercatat di dalam Alquran, mereka memberi instruksi:

“Maka pergilah di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (Q.S al-Hijr [15]: 65)

Kemudian Allah berfirman:

“Dan telah Kami tetapkan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa belakang mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (Q.S al-Hijr [15]: 66)[1]

Proses turunnya azab kepada umat Luth, kemudian digambarkan dalam banyak riwayat, di antaranya oleh Said (al-Tabari tidak menjelaskan Said mana yang dia maksud di sini, namun apabila melihat riwayat sebelumnya yang membicarakan tentang Kaum Luth, kemungkinan dia adalah Said bin Zaid):

Para utusan pergi dari (tempat) Ibrahim menuju ke (tempat) Luth, dan ketika mereka tiba (di tempat) Luth dan hal-hal yang disebutkan oleh Allah telah terjadi kepada mereka, Jibril berkata kepada Luth, “Wahai Luth! Kami akan menghancurkan orang-orang di kota ini, karena sesungguhnya rakyatnya adalah umat yang zalim.”

Luth berkata kepada mereka, “Hancurkanlah mereka segera!”

Dan Jibril berkata, “Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Dan Allah memerintahkan agar Luth pergi bersama keluarganya pada malam hari, dan bahwa tidak seorang pun dari mereka diperbolehkan untuk berbalik dan melihat ke belakang, kecuali istri Luth. Jadi dia tertinggal.

Dan ketika waktu penghancuran yang ditentukan tiba, Jibril mengangkat negeri mereka dengan sayapnya dan membalikannya. Dia mengangkatnya begitu tinggi sehingga penduduk surga dapat mendengar kokok ayam jantan dan gonggongan anjing (di negeri Sodom).

“Dia membalikkan mereka dan menghujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.”

Istri Luth mendengar penghempasan tersebut dan berkata, “Wahai umatku!” dan sebuah batu jatuh kepadanya dan membunuhnya.[2]

Dengan versi yang sedikit berbeda, Hudzaifah bin al-Yaman meriwayatkan:

Ketika dia melihat para utusan, wanita tua jahat itu, istri Luth, menemui orang-orang Sodom dan berkata, “Luth memberikan keramahtamahan (menerima tamu) kepada beberapa orang yang paling tampan yang pernah aku lihat, dan yang berkulit paling lembut dan wangi.”

Mereka datang dengan tergesa-gesa ke rumah Luth, seperti yang telah Allah firmankan, dan Luth menutup pintu. Mereka mulai mencoba membujuknya untuk membiarkan mereka masuk. Jibril meminta izin kepada Tuhannya untuk menghukum mereka, dan Dia mengabulkannya.

Maka Jibril menampar mereka dengan sayapnya dan membuat mereka buta, berkeliaran kesana kemari; itu adalah malam terburuk yang pernah menimpa mereka. Kemudian para malaikat berkata kepada Luth, “Kami adalah utusan Tuhanmu, jadi pergilah bersama keluargamu pada sebagian malam.”

Telah disebutkan bahwa istri Luth bersama mereka (ikut bersama Luth dan keluarganya yang lain) ketika mereka meninggalkan kota, tetapi ketika dia mendengar suara kehancuran dia berbalik, dan Allah menjatuhkan sebuah batu ke arahnya dan menghancurkannya.[3]

Dalam riwayat versi lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Qatadah bin an-Numan, penduduk Sodom digambarkan berhasil menerobos ke dalam rumah Luth:

Kemudian mereka masuk ke tempat para malaikat itu berada, dan para malaikat menghadapi mereka dan menampar mata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Luth! Engkau mendatangkan kepada kami para tukang sihir yang telah menyihir kami, sebagaimana juga terhadapmu, sampai kami terbangun di pagi hari.”

Kemudian Jibril mengangkat empat kota (umat) Luth, yang masing-masingnya terdiri dari seratus ribu orang. Dia membawa mereka di atas sayapnya antara langit dan bumi, sampai penduduk surga paling bawah dapat mendengar suara ayam jantan mereka. Lalu dia membalikkan mereka, dan Allah membuat mereka terguncang.[4]

Ibnu Abbas dan Murrah al-Hamdani, Ibnu Masud dan beberapa sahabat Rasulullah, mengelaborasi ayat-ayat di dalam Alquran dalam sebuah riwayat:

Ketika Luth berkata, “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan) (Q.S Hud [11]: 80),” Jibril membentangkan sayapnya dan mencungkil mata mereka.

Mereka berlarian saling menginjak kaki, buta, berkata, “Tolong! Tolong! Di rumah Luth ada penyihir terkuat di dunia!”

Dan inilah firman Allah, “Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya menyangkut tamunya maka Kami butakan mata mereka (Q.S al-Qamar [54]: 37).”

Mereka berkata kepada Luth, “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal (Q.S Hud [11]: 81),” – yaitu, pergi dengan mereka dan pergi ke tempat engkau diperintahkan.

Kemudian Allah membawa mereka ke Suriah, dan Luth berkata, “Hancurkanlah mereka segera!”

Namun mereka berkata, “Kami diperintahkan (untuk melakukannya) hanya pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”

Ketika subuh tiba, Luth pergi, membawa keluarganya kecuali istrinya, karena itu adalah pernyataan Allah, “Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing (Q.S al-Qamar [54]: 34).”[5]

Terkait tempat tewasnya istri Luth, dalam riwayat lain, Hudzaifah bin al-Yaman mengatakan, “Tempatnya diketahui.”[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] Kedua ayat ini adalah terjemahan Quraish Shihab.

[2] Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk: Volume 2, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh William M. Brinner (State University of New York Press: New York, 1987), hlm 119-120.

[3] Ibid., hlm 120.

[4] Ibid., hlm 120-121.

[5] Ibid., hlm 121-122.

[6] Ibid., hlm 121.

2 Comments

  1. apakah rujukan surah QS. Al-Hijr [15] 1-2 (dan bunyi ayat) telah diperiksa [?]

    “Maka pergilah di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (Q.S al-Hijr [15]:1)
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    “Dan telah Kami tetapkan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa belakang mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” (Q.S al-Hijr [15]:2)[1]

    • Terimakasih banyak atas koreksinya mas Tham Effendie, sudah kami konfirmasi ke penulis yg bersangkutan, itu maksudnya QS. Al-Hijr [15] 65-66. Kami akan segera edit artikel ini. Adapun redaksi kata-katanya sudah mengikuti terjemahan Ustadz Quraish Shihab.

      Sekali lagi terimakasih banyak atas koreksinya…..

Leave a Reply to tham effendie Cancel reply

Your email address will not be published.

*