Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (4): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (2)

in Islam Nusantara

“Nenek moyang dari Wali Songo masih merupakan keturunan dari ‘Alawiyin”

–O–

Berbicara mengenai Habaib atau keturunan Alawiyin yang mengambil peran penting dalam struktur kerajaan di Nusantara, kita tidak bisa melepaskannya dari sosok Al-Imam Jamaluddin Husain atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Syekh Jumadil Kubro”. Beliau adalah putra Maulana Ahmad Jalaluddin bin Abdullah Azmathkhan bin Abdul Malik bin Awali bin Muhammad Shahib Mirbath (leluhur semua keturunan Alawi sekarang). Beliau lahir pada pertengahan abad ke-13 dan wafat pada awal abad ke-14. Jumadil Kubro bukan berdarah murni Yaman, melainkan mempunyai darah dari garis ibu yang merupakan bangsawan India dan Cina.[1]

Berdasarkan cita-cita dan arahan leluhur beliau hingga Al-Imam Abdul Malik untuk Nusantara (Asia Tenggara), beliau membuat konsep dakwah di Nusantara yang kemudian konsep itu digunakan secara berkesinambungan oleh beliau dan anak cucu beliau. Konsep itu terus dikembangkan hingga pada puncaknya, cucu beliau yang bergelar Sunan Ampel (Maulana Ahmad Rahmatullah bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Syekh Jumadil Kubro) berhasil mengubah budaya Jawa dengan konsep Wali Songo-nya sehingga peneliti barat ada yang menyebut keberhasilan Sunan Ampel adalah yang kedua setelah Rasulullah karena beliau berhasil mengubah budaya sebuah bangsa dengan tim Wali Songo yang beliau buat.[2]

Maka keberhasilan Sunan Ampel sebenarnya bukan keberhasilan beliau sendiri, melainkan keberhasilan bersama mulai Al-Imam Abdul Malik. Konsep Wali Songo adalah intisari dari master plan yang dibuat oleh Syekh Jumadil Kubro, sedangkan Syekh Jumadil Kubro mengembangakan “cetak biru” yang dibuat oleh Al-Imam Abdul Malik dan dikembangkan oleh Maulana Abdullah Azmatkhan dan Maulana Ahmad Jalaluddin.[3]

Keturunan Syekh Jumadil Kubro diketahui selalu memerankan diri seperti pribumi di tempat mana pun. Misalnya, yang tinggal di tanah Jawa berasimilasi dengan penduduk lokal sehingga kemudian mereka tidak bisa lagi dibedakan dengan suku “Jawa asli”. Hal yang serupa terjadi pula di Madura, tanah Sunda, dan sebagainya.[4]

Di kemudian hari keturunan Syekh Jumadil Kubro tidak hanya mewarnai struktur kekuasaan di pulau Jawa saja, tapi juga daerah-daerah lainnya, bahkan sampai Asia Tenggara, sebut saja penguasa Kesultanan Campa (Vietnam), Kesultanan Patani (Thailand), Kesultanan Mindanau (Filipina), Kesultanan Kelantan (Malaysia), Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Palembang.[5]

 

Bukan Habib

Ismail Fajrie Alatas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Habib adalah seluruh keturunan Alawiyin dari Hadhramaut, Yaman, yang tersebar di Hadhramaut itu sendiri, Asia Tenggara, dan Pesisir Swahili di Afrika Timur.[6] Maka bila merujuk ke definisi tersebut, mestinya Syekh Jumadil Kubro masih termasuk dalam kategori seorang Habib.

Akan tetapi, keturunan Syekh Jumadil Kubro sendiri, yang diwakili oleh K.H. Ali Badri, bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina “Naqabat Ali Azmatkhan Al-Husaini” dan di Indonesia lebih populer dengan nama “Majelis Dzuriyat Wali Songo”, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Habib adalah keturunan Alawiyin dari garis  Al-Faqih Al-Muqaddam. Menurutnya, walaupun sama-sama berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Imam Ahmad bin Isa atau al-Imam al-Muhajir—generasi ke-8 dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra—namun dalam perkembangannya antara keluarga Azmatkhan Al-Husaini dan Al-Faqih Al-Muqaddam berasal dari keluarga yang berbeda. Keturunan Al-Faqih Al-Muqaddam yang datang belakangan ke Indonesialah yang memperkenalkan istilah Habib untuk keturunan Alawiyin.[7]

Walaupun demikian, dalam perkembangan kekinian, sebagaimana yang dikatakan oleh Ismail Fajrie Alatas di atas, umumnya penduduk di Indonesia beranggapan bahwa seluruh keturunan Alawiyin bergelar Habib (Jamak: Habaib).

 

Wali Songo

Wali Songo atau yang secara harfiah berarti wali sembilan merupakan tokoh-tokoh penyebar Islam di nusantara. Mereka adalah Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Maulana Makhdam Ibrahim), Sunan Giri (Muhammad ‘Ain Al-Yaqin/ Sultan ‘Abd Al-Faqih), Sunan Drajat (Maulana Syarifuddin), Sunan Kalijaga (Maulana Muhammad Syahid), Sunan Kudus (Maulana Ja‘far Al-Shadiq ibn Sunan ‘Utsman), Sunan Muria (Raden Umar Said bin Maulana Ja‘far Al-Shadiq), dan Sunan Gunung Jati (Maulana Al-Syarif Hidayatullah).

Berdasarkan pohon silsilah hasil penelitian Sayid Zain bin Abdullah Alkaf dalam Khidmah al-‘Asyirah, sebagaimana dikutip oleh Musa Kazhim,[8] kecuali Sunan Kalijaga, delapan Wali Songo lainnya adalah keturunan Abdullah Azmathkhan (Keturunan Alawiyin yang bermukim di India) dari jalur Syekh Jumadil Kubro, atau dengan kata lain mereka adalah masih keturunan Alawiyin dari Yaman. Lebih jelas silakan lihat pohon silsilah di bawah ini:

Keterangan gambar: Tampak dari silsilah di atas bahwa nenek moyang Wali Songo adalah Jamaluddin Husin Akbar (Syekh Jumadil Kubro), yakni keturunan Azamathkhan (di antara kaum ‘Alawiyin yang tinggal di India) yang kemudian hijrah ke Indonesia. Dialah yang termasuk di antara pendakwah Islam pertama di Indonesia dan kemudian, lewat beberapa generasi, melahirkan keturunan Wali Songo (Dikutip dari Pengantar Muhammad Baqir untuk Sayid Abdullah Al-Haddad, Thariqah Menuju Kebahagiaan, (Mizan: Bandung, 1998), hlm. 45.

Mengenai Sunan Kalijaga, Professor Sumanto Al Qurtuby mengatakan bahwa beliau adalah putra dari Raja Majapahit Brawijaya V, yang menikahi seorang perempuan China Muslim yang bernama Retna Subanci. Retna Subanci merupakan anak dari Babah Ba Tong atau Tan Go Hwat. Babah Ba Tong atau Babah Bentong pada waktu itu merupakan seorang China Muslim yang mempunyai pengaruh luas di Jawa Tengah, Cirebon, dan Pesisir pantai Utara Pulau Jawa. Versi lain megatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan anak dari raja Tuban yang bernama Oei Tik To, nama lain dari Sunan Kalijaga adalah Oei Sam Ik.[9]

Tidak hanya Sunan Kalijaga, Sunan Bonang pun dikatakan memiliki nama China, yaitu Bo Bing Nang. Beberapa penyebar Islam lainnya yang bukan Wali Songo juga diidentifikasikan sebagai China Muslim, misalnya Ki Ageng Gribig (Siauw Dji Bik), Ki Ageng Pengging (Heng Pa Hing), dan Sunan Pajang (Na Pao Tjing).[10]

Nama-nama China yang melekat pada sebagian Wali Songo dan penyebar Islam lainnya sesungguhnya memungkinkan, mengingat Jumadil Kubro sendiri selain dari Yaman nyatanya masih ada keturunan China. Selain itu proses kawin mawin antara keturunan Alawiyin dan orang-orang China di Indonesia juga memungkinkan karena jumlah China pada waktu itu sudah banyak dan mereka juga memainkan peran sentral dalam situasi politik dan kultural di Indonesia. Mengenai Nasab dari para penyebar Islam di Indonesia yang masih keturunan China akan kita bahas dalam artikel lain.

Singkat kata, berdasarkan pohon silsilah di atas, maka dapat dikatakan bahwa mayoritas Wali Songo merupakan keturunan Alawiyin dari Yaman. Dalam perkembangannya keluarga mereka akan memainkan peran penting dalam dakwah Islam di Indonesia, dan bahkan beberapa di antaranya ada yang sampai naik ke tampuk kekuasaan tertinggi kerajaan-kerajaan di Indonesia. Pembahasan mengenai hal itu akan dibahas dalam artikel selanjutnya. (PH)

Bersambung…

Sebelumnya:

Melacak Asal-Usul Habib di Indonesia (3): Habaib dalam Pusaran Kerajaan di Indonesia (1)

Catatan Kaki:

[1] Muhammad Subarkah, Jalur Dakwah Diaspora Hadhramaut, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, (Yogyakarta: RausyanFikr Institute, 2013), hlm 243.

[2] K.H. Ali Badri, Sikap Mempribumi Kunci Sukses Dakwah Ulama ‘Alawiyin Di Nusantara, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 162.

[3] Ibid., hlm 162-163.

[4] Muhammad Subarkah, Ibid., hlm 244.

[5] .H. Ali Badri, Ibid., hlm 163.

[6] Ismail Fajrie Alatas, Habaib in Southeast Asia, The Encyclopaedia Of Islam Three (Leiden: Brill, 2018), hlm 56.

[7] K.H. Ali Badri, Ibid., hlm 157-164

[8] Musa Kazhim, “Sekapur Sirih Sejarah ‘Alawiyin dan Perannya Dalam Dakwah Damai Di Nusantara: Sebuah Kompilasi Bahan”, dalam Peran Dakwah Damai Habaib/’Alawiyin di Nusantara, Ibid., hlm 19-20.

[9] Sumanto Al Qurtuby, The Tao of Islam: Cheng Ho and the Legacy of Chinese Muslims in Pre-Modern Java, (Studia Islamika, Vol. 16, No. 1, 2009), hlm 60-61.

[10] Ibid.

10 Comments

    • Sementara ini belum ada Mas, penulisnya masih research soal ini. Silakan follow medsos kami untuk update artikel2 terbarunya.

  1. alhamdulillah, jadi mengerti sedikit perbedaan antara Habaib, Alawiyin, dan dzuriyat Rosululloh saw
    ditunggu kelanjutannya, jazakumulloh kher

Leave a Reply to Rudy Permana (Nic Bonic) Cancel reply

Your email address will not be published.

*