Rohingya, Identitas yang Terpinggirkan (1)

in Studi Islam

Last updated on November 29th, 2023 04:26 am

“PBB menyebut orang-orang Rohingya sebagai “the most persecuted minority in the world”. Minoritas paling teraniaya di dunia.”

Sumber gambar: lowyinstitute.org

Ada 135 suku etnis yang diakui oleh negara Myanmar sebagai warganegaranya, kecuali, suku Rohingya, Karen, dan Naga. Selama tinggal di wilayah negara tersebut, ketiga golongan ini tidak diakui Myanmar. Faktor agama, perbedaan fisik, dan upaya ketiga golongan ini mendapatkan otonomi dari pemerintah, merupakan sumber ketidaksukaan pemerintah Myanmar terhadap suku Rohingya, Karen dan Naga.[1]

Dari ketiga suku minoritas tersebut, hanya suku Karen yang memiliki kemiripan pribumi Myanmar: kulit kuning, dan mata sipit. Namun, suku Karen menganut agama Kristen Baptis. Suku Naga seperti orang-orang India, dan mereka memeluk agama Hindu.

Sedangkan Rohingya yang memeluk agama Islam, perawakan mereka mendekati orang-orang Bangladesh. Diskriminasi paling mengenaskan terjadi pada orang-orang Rohingya, karena mereka kehilangan hak-hak kemanusiaan, dan terusir dari “rumah”.

Bahkan PBB menyebut orang-orang Rohingya sebagai “the most persecuted minority in the world”.[2]  Minoritas paling teraniaya di dunia.

Sejarah, Budaya, dan Identitas Rohingya

Nama Rohingya menjadi sebuah istilah identifikasi yang muncul sekitar tahun 1950-an, para ahli berpendapat itu merupakan identitas politik kolektif bagi kelompok tersebut. Akar etimologis dari kata “Rohingya” masih diperdebatkan, tetapi teori yang bisa diterima yakni: “Rohang” asalnya dari kata “Arakan”—dalam dialek Rohingya. “Ga” atau “Gya” berarti “Dari”.[3]

Menurut Chris Lewa, direktur Arakan Project kelompok advokasi yang berbasis di Thailand, memaparkan bahwa, “Kelompok etnis muslim tersebut (Rohingya) menegaskan ikatannya dengan tanah yang pernah berada di bawah kendali kerajaan Arakan.”

Rohingya adalah etnis yang bermukim di Myanmar—sebelumnya disebut Burma. Mereka tinggal di Rakhine, wilayah pantai barat negara Myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh. Sepertiga jumlah total populasi yang tinggal Rakhine adalah Rohingya. Dari data sebelum bulan Agustus 2017 ada sekitar satu juta orang, sisanya (sekitar 2,5 juta orang) tersebar di seluruh dunia.[4]

Dalam segi kesukuan, bahasa, maupun agama, Rohingya memang berbeda dari mayoritas etnis—yang dominan berkulit kuning, mata sipit, dan beragama Budha—di Myanmar.

Memang Rohingya cenderung persis orang-orang Bangladesh dengan kulit hitam, dan mata lebar. Bahasa mereka pun mendekati bahasa Bengali. Rohingya memeluk agama Islam Sunni yang dibawa oleh para sufi.

Semenjak awal abad ke-12 M umat Muslim telah tinggal di Arakan (yang mengacu pada daerah Rakhine), menurut sejarawan dan kelompok Rohingya.

Arakan adalah sebuah kerajaan pesisir independen, dan sejumlah kecil populasi Muslim tinggal di sana sekitar tahun 1430 M. Pada tahun 1784 M, Kerajaan Arakan ditaklukkan oleh kekaisaran Burma.[5] Keberadaan etnis Rohingya ditelusuri dari sejarahnya, terjadi ketika migrasi ribuan kaum Muslim ke bekas Kerajaan Arakan dari awal abad 15 M.

Hal ini dipaparkan oleh Arakan Rohingya National Organisation, “Rohingyas have been living in Arakan from time immemorial.” Bahwa sejak dahulu kala orang-orang Rohingya sudah tinggal di Arakan.[6]

Nara sumber lain menyebutkan bahwa, Rohingya yang merupakan keturunan Bengali sudah tinggal di lereng Gunung Apaukwa, Arakan, sejak abad ke-8 M. Leluhur suku Rohingya disebutkan pernah memerintah di Arakan selama 350 tahun.[7]

Ketika Arakan ditundukkan oleh suku Burma, raja (leluhur dari suku Rohingya) mengundurkan diri ke Gaur, ibukota Bengali. setelah 124 tahun kemudian, keturunan dari sang raja yang terbuang berhasil merebut kembali Arakan.

Lalu pada tahun 1824 M kekuasaan Kerajaan Burma runtuh setelah Inggris menginvasi, dan mengambil alih pemerintahan. Burma menjadi vasal Inggris selama lebih dari seratus tahun.

Selama kurun waktu 40 tahun, terjadi peningkatan tiga kali lipat jumlah penduduk Muslim di Burma. Orang-orang Muslim ini datang dari Bengal sebagai pekerja migran.

Maka selama pemerintahan Inggris di Burma (Myanmar) sejak 1824-1948 M, terjadi migrasi pekerja dalam jumlah besar dari India dan Bangladesh. Menurut Human Rights Watch, karena Inggris mengatur Burma sebagai provinsi di India maka migrasi semacam itu dianggap internal.[8]

Akar permasalahan muncul ketika terjadinya kolonisasi Inggris di Burma, dan setelah wilayah tersebut dimerdekakan pada tahun 1948. Inggris yang semula menjanjikan negara otonom terhadap Rohingya, karena bantuan mereka dalam Perang Dunia II, rupanya tidak terlaksana.

Mayoritas pribumi Burma yang setelah merdeka menjadi negara Myanmar, menolak untuk mengakui kelompok yang sudah berabad-abad berada di sana. Mereka memandang kaum-kaum minoritas ini, sebagai para imigran “yang tak diundang”.

(Bersambung)

Catatan kaki:


[1] Pusat Data dan Analisa Tempo, Seri Data Tematik: Pengungsi Rohingya: Krisis Kemanusiaan dari Myanmar (Bagian I) (TEMPO Publishing), hlm 31

[2] Erin Blakemore, Who are The Rohingya People?, pada laman https://www.nationalgeographic.com/culture/article/rohingya-people diakses pada 15 November 2023

[3] Eleanor Albert, Lindsay Maizland, The Rohingya Crisis, pada laman https://www.cfr.org/backgrounder/rohingya-crisis diakses pada 15 November 2023

[4] Eleanor Albert, Ibid.

[5] Erin Blakemore, Op. Cit.

[6] Al Jazeera Staff, Who are The Rohingya?, pada laman https://www.aljazeera.com/features/2018/4/18/who-are-the-rohingya diakses pada 15 November 2023

[7] Pusat Data dan Analisa Tempo, Loc. Cit.

[8] Al Jazeera Staff, Op. Cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*