Mozaik Peradaban Islam

Tag archive

Utusan

Mushab bin Umair (8): Al-Muqri

in Tokoh

“Marilah kita pergi kepada Mushab dan beriman bersamanya! Kata orang-orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya,” penduduk Yastrib berbondong-bondong masuk Islam sehingga hampir tidak ada rumah orang Anshar yang tidak memiliki Muslim di dalamnya. Dalam riwayat versi lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Tabrani dan Abu Nuaim dalam Dala’ilun Nubuwwah, ketika Mushab bin Umair berbicara kepada orang-orang…

Teruskan Membaca

Mushab bin Umair (7): Saad bin Muadz dan Bani Abdil Ashhal

in Tokoh

Pemimpin Anshar berkata, “Demi Allah! Jika bukan karena hubungan antara kau dan aku, engkau tidak akan pernah berpikiran untuk melakukan hal ini. Engkau berani memperkenalkan ke daerah kami sesuatu yang kami benci!” Usaid kemudian mengambil tombaknya dan pergi ke tempat di mana Saad bin Muadz dan orang-orangnya duduk dalam sebuah pertemuan. Ketika Saad bin Muadz…

Teruskan Membaca

Mushab bin Umair (6): Usaid Bin Hudhair

in Tokoh

Usaid, pemimpin musyrik Bani Abdil Ashhal di Yastrib, sambil membawa tombak mendatangi Mushab yang sedang berdakwah, berkata, “Engkau akan meninggalkan kami sendirian jika engkau menyayangi hidupmu!” Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm dan banyak lainnya meriwayatkan bahwa Asad bin Zurarah membawa Mushab bin Umair ke wilayah suku Bani Abdil Ashhal dan…

Teruskan Membaca

Mushab bin Umair (5): Misi ke Yastrib

in Tokoh

Yang pertama di antara kaum Muhajirin yang datang kepada kami adalah Mushab bin Umair yang berasal dari suku Banu Abdid Daar. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum, yang merupakan seorang buta yang berasal dari suku Bani Fihr. Sesampainya Mushab bin Umair di Yastrib (Madinah), dia mendapati bahwa kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas…

Teruskan Membaca

Mushab bin Umair (4): Perpisahan dengan Sang Ibu

in Tokoh

Mushab mengajak ibunya untuk memeluk Islam, namun jawaban dia adalah, “Demi bintang! Sekali-kali aku tak akan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa menjadi rusak, dan buah pikiranku tidak akan diindahkan orang lagi.” Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab ke agama yang lama, wanita ini telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepada…

Teruskan Membaca