HOS. Tjokroaminoto (1)

in Tokoh

Last updated on October 23rd, 2017 01:40 pm

Seorang pemimpin nasionalis berkebangsaan Belanda, P.F. Dahler, menyebut Tjokroaminoto sebagai seorang “harimau mimbar”, yang pidato-pidatonya dapat memukau pendengarnya sampai berjam-jam. Dengan postur tubuh yang tegap, penampilan yang berwibawa, dilengkapi dengan suara yang berat dan bahasa yang teratur membuat beribu-ribu hadirin harus terpaku mendengarnya kendati panas terik membakar mereka. Salah seorang yang mengikuti jejaknya adalah muridnya Koesno, atau Soekarno, pemuda dari Blitar yang kelak menjadi proklamator dan presiden pertama RI.

Soso Tjokroaminoto memang tidak bisa hilang dari kesan bangsa Indonesia terhadap orasi-orasinya. Ia dikenal oleh masyarakat luas karena pidato-pidatonya. Pidato-pidato itu disampaikan dalam berbagai kegiatan musyawarah maupun kunjungan kerja ke daerah-daerah. Kunjungan-kunjungan Tjokkroaminoto ke cabang-cabang Syarikat Islam (SI) daerah barangkali merupakan kesan kedua bagi rakyat terhadap tokoh ini. Selama kepemimpinannya dalam pergerakan SI, kunjungan ke daerah menjadi bagian tak terpisahkan dari kepemimpinan Tjokroaminoto sekaligus sebagai sumber energy yang membuat organisasi ini menjadi besar.

Tjokroaminoto dilahirkan pada 16 Agustus 1882. Nama kecilnya adalah Oemar Said. Ia lahir di sebuah kampung di Madiun bertepatan dengan meletusnya gunung Krakatau di Selat Sunda, dari keluarga Raden Mas Tjokromiseno. Dalam diri Tjokroaminoto mengalir sekaligus darah santri dan priyayi. Bakat kepemimpinan Tjokroaminoto merupakan turunan dari kakeknya Raden Mas Adipati Tjokronegoro yang menjadi bupati Ponorogo dan ayahnya sendiri sebagai Wedana di Kepatihan Pleco. Kakek dari nasab ibunya yaitu Kyai Bagoes Salim Kasan Besari, adalah seorang ulama terkenal dari Ponorogo, Jawa Timur yang memiliki sebuah pondok pesantren di desa Tegalsari. Kakeknya tersebut merupakan seorang ulama kenamaan pada penghujung abad kesembilan belas, yang menyemarakkan kegiatan keagamaan di wilayah karesidenan Madiun. Sebagai pemimpin agama yang berkiblat pada kepentingan umat, Kasan Besari menjalani kehidupan bersahaja, sesuai dengan keadaan masyarakat yang miskin dan terbelakang. Pengaruhnya semakin luas sampai menjangkau daerah-daerah lain di luar kawasan Ponorogo dan Jawa Timur.

Agaknya, latar belakang keluarganya itulah yang menyebabkan Oemar Said dapat menjalani kehidupan masa kecilnya tanpa melalui guncangan yang berarti, sebagaimana terjadi pada lazimnya anak-anak pribumi. Ayahnya memberinya pendidikan agama ketat sejak dini, disamping pendidikan Barat sesuai lazimnya para pejabat pemerintah kala itu.

Pada usia dua puluh tahun, Oemar Said telah menyelesaikan pendidikannya di OSVIA Magelang, sebuah sekolah gubermen yang mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pegawai pamong praja. Tiga tahun berikutnya, ia bekerja sebagai juru tulis di Kepatihan Ngawi. Ia bahkan sempat berhasil menjadi patih, tetapi tidak lama kemudian meninggalkan pekerjaan ini untuk pindah ke Surabaya dan bekerja pada sebuah perusahaan Belanda. Di kota ini juga ia mengikuti kursus-kursus pada malam hari dalam menekuni soal teknik mesin di Sekolah Teknik Mesin.

Pada tahun 1907, ia mulai menekuni dunia jurnalistik. Tulisan-tulisannya di berbagai media cetak dikenal sangat tajam. Dunia jurnalistik inilah yang membuatnya meninggalkan tugasnya dari pemerintahan Hindia Belanda. Tetapi kemudian ia melamar menjadi masinis, lalu bekerja sebagai ahli kimia di sebuah pabrik gula, di daerah dekat Surabaya.

Sementara itu, semangat kebangsaannya mulai tumbuh. Ia kemudian mewujudkan semangat kebangsaannya itu dengan masuk ke kancah politik dan mulai mengorganisasikan para pemuda pribumi untuk lebih aktif meningkatkan kesadaran dan kemampuan di segala bidang.

Sesudah ia menunaikan ibadah haji, ia meninggalkan gelar keningratannya, dan lebih suka memperkenalkan diri dengan nama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, atau lebih dikenal dengan panggilan akrab HOS. Tjokroaminoto.

Pada tahun 1905 berdiri organisasi Sarekat Dagang Islam, di bawah pimpinan seorang kiai pengusaha, H. Samanhudi. Organisasi ini merupakan organisasai pergerakan kumpulan para pengusaha batik di Solo, yang didirikan sebagai respon terhadap “kebijakan” pemerintah Hindia Belanda yang sangat menganaktirikan penduduk bumi putra yang beragama Islam, dan menempatkan warga kelas putih yang beragama Kristen sebagai warga Negara kelas satu. Terkenal sekali pada saat itu pernyataan Ratu Belanda yang disampaikan dalam pidatonya, “sebagai Negara Kristen, Pemerintah Belanda berkewajiban mengatur dengan lebih baik kedudukan hukum rakyat Kristen yang berada di Kepulauan Hindia Belanda….”

Perlakuan diskriminatif tersebut memberikan semangat bagi SDI untuk memberikan kesadaran politik terhadap pedagang-pedagang Muslim pribumi tentang hak-hak mereka yang diperkosa oleh pemerintah Kolonial, dan meningkatkan persatuan segenap umat Islam. Dalam waktu singkat, wadah para pedagang Muslim ini menyebar ke seluruh penjuru tanah air. Sambutan hangat dan meriah datang dari daerah-daerah di pelosok Nusantara. Mereka mendirikan cabang-cabang SDI di daerahnya. Di Surabaya, Tjokroaminoto menyambut SDI dan segera tampil menjadi pemimpin muda yang sangat berbakat. Ia menjadi  ketua Cabang SDI Jawa Timur.

Pada waktu itu, Tjokroaminoto telah cukup dikenal dengan sikap-sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia dikenal sebagai seorang yang menganggap dirinya sama derajatnya dengan pihak manapun, baik orang Belanda maupun pejabat pemerintah. Harapannya begitu besar untuk dapat melihat sikap yang dimilikinya itu juha menjadi sikap kawan-kawan sebangsanya, terutama dalam berhubungan dengan orang-orang Belanda  dan bangsa asing pada umumnya. Pada zaman ketika orang pribumi harus menunduk dan duduk bersila saat berhadapan dengan pejabat pemerintah kolonial Belanda, Tjokroaminoto dengan dramatis sekali berani melanggar kebiasaan itu. Ia memiliki keberanian untuk duduk di kursi ketika menemuo seorang pejabat pemerintah. Ia bicara dengan tenang tanpa menundukkan kepala, bahkan pandangan matanya disorotkan dengan tajam. Ia duduk dengan santai sambil meletakkan sebelah kakinya pada kakinya yang lain. Ia kemudian dikenal sebagai Gatotkaca Sarekat Dagang Islam. (SI)

Bersambung ke:

HOS. Tjokroaminoto (2)

Sumber Referensi:

HOS. Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, Sega Arsy, Bandung, 2008.

Masyhur Amin, HOS Tjokroaminoto; Rekonstruksi Pemikiran dan Perjuangannya, Cokroamioto University Press, Yogyakarta.

1 Comment

  1. foto bergaya Jawa (berkumis) bukan HOS Tjokroaminoto tetapi Tirto Adi Suryo (TAS) yang mendiriian Sarekat Dagang Islamiyyah di Buttonzorg (Bogor, 1909) sebagai tandingan bagi Sarek at Dagang Islam (SDI)nya KH Samanhudi di Surakarta.
    ttd
    nunu a hamijaya
    penulis buku titik nol 1916

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*