Mozaik Peradaban Islam

Sejarah

Kesultanan Malaka (10): Mahmud Syah dan Era Kolonialisme Bangsa Eropa (2)

“Tabula Rogeriana” adalah mahakarya yang mengubah zaman kegelapan Bangsa Eropa. Tiba-tiba bumi ini terhampar begitu meyakinkan, karena didukung oleh data dan informasi yang tersusun secara ilmiah. Segera setelah itu, era penjelajahan dunia pun di mulai. Di zaman kegelapan yang menyeliputi Bangsa Eropa, mereka beruntung karena berkesempatan berinteraksi langsung dengan pemegang otoritas peradaban paling agung masa… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (39): Menyerang Jurchen Jin (5)

Genghis Khan berkata, “Tidak ada yang baik dari semua ini (peperangan) sampai semuanya selesai.” Maksudnya adalah segala cara boleh dilakukan asal itu mendatangkan kemenangan, bahkan dengan cara licik atau kejam. Cara berperang prajurit Mongol adalah penyempurnaan dari sistem perang masyarakat padang rumput tradisional yang telah dikembangkan di Mongolia selama ribuan tahun. Senjata-senjata milik musuh yang… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (22): Al-Mahdi (1)

Bila Al-Manshur berhasil mengukuhkan legitimasi kekuasaan Bani Abbas, maka Al-Mahdi berhasil menegakkan marwah kekhalifahannya sedemikian rupa. Sedemikian sehingga titel khalifah bergeser, dari semula sebagai khalifah penerus Rasul, kini menjadi Khalifatullah fil Ardh. Khalifah Allah di muka bumi, seolah menjadi bayang-bayang kekuasaan Allah di bumi. Namanya adalah Muhammad bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (38): Menyerang Jurchen Jin (4)

Pasukan Mongol menciptakan kerusuhan di pedesaan-pedesaan yang berada di sekeliling kota dan dengan cepat menghilang. Mereka baru muncul kembali hanya ketika kota tersebut telah merasa aman. Genghis Khan hendak menciptakan teror. Terlepas dari segala kekurangan pasukan Mongol – bertempur di tanah asing dan prajurit mereka kalah jumlah dibanding musuh, Genghis Khan memiliki kelebihan yang tidak… Teruskan Membaca

Sejarah

Kesultanan Malaka (9): Mahmud Syah dan Era Kolonialisme Bangsa Eropa (1)

Di era pemerintahan Sultan Mahmud Syah, Malaka layaknya jantung kehidupan ekonomi, sosial dan politik di kepulauan Nusantara. Ia memompa peredaran ilmu, agama, budaya, hingga komoditi. Sehingga gugusan pulau-pulau di nusantara ini hidup layaknya satu tubuh. Pada tahun 1488 M, Sultan Alauddin Riayat Syah wafat. Ketika itu usianya masih 30 tahun. Dia digantikan oleh putranya yang… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (37): Menyerang Jurchen Jin (3)

Pasukan Mongol tidak berbaris rapi sebagaimana militer-militer lainnya. Mereka bergerak dengan menyebar. Persoalannya, dengan bentuk seperti ini dan seluruhnya buta huruf, bahkan perwiranya, bagaimana mereka berkomunikasi? Namun mereka memiliki cara yang jitu. Tentara tradisional lain biasanya bergerak bersama dalam barisan panjang yang besar dan rapi. Sementara itu, persediaan makanan mereka yang besar mengikuti di belakang… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengilmuan Islam dan Integrasi Ilmu dengan Etika: Gagasan Kuntowijoyo (1)

Awalnya Islam dianggap sebagai mitos, lalu sebagai ideologi, dan terakhir sebagai ilmu. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Secara garis besar, ada dua gagasan utama Kunto yang dibahas di sini: pengilmuan Islam dan integrasi ilmu dengan etika. Meskipun di tulisan-tulisan awalnya (80-an dan awal 90-an) dia tampak bersimpati pada gerakan islamisasi ilmu, belakangan ia membedakan gagasannya tentang… Teruskan Membaca

Sejarah

Kesultanan Malaka (8): Kontroversi Sosok Hang Tuah

Menurut hasil analisis DNA, Hang Tuah, bukan berdarah Melayu, melainkan China. Lagi pula kata “Hang”, yang mengawali nama Hang Tuah dan teman-temannya, bukan nama khas masyarakat Melayu. Tapi lebih terdengar seperti nama marga di China. Dugaan sementara, seperti Cheng Ho, dia dan teman-temannya adalah prajurit Muslim yang dikirim untuk membantu mengamankan Malaka Dalam sejarah Kesultanan… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (36): Menyerang Jurchen Jin (2)

Marco Polo memberi kesaksian, ketika prajurit Mongol sudah tidak punya makanan, “Mereka menyayat pembuluh darah kuda, meminum sedikit darahnya dan menutupnya kembali.” Pada awal abad ketiga belas, China terbelah dalam beberapa kekaisaran (Jurchen Jin di utara dan Song di selatan) dan melemah. Ia diumpakan, “Seperti seorang wanita tua, tenggelam dalam lamunan, mengenakan pakaian yang terlalu… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (4): Syariat Menurut Para Sufi

Bagi sufi sejati, syariat adalah thariqah yang sesungguhnya. Untuk mencapai haqiqah atau hakikat, unsur keseimbangan antara cinta dan amarah, benci dan sayang, derita dan senang yang terdapat dalam syariat tidak bisa ditinggalkan. Kehadiran Ilahi (Divine Presence) mempunyai dua sisi penampakan atau manifestasi; Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan). Sang Penyiksa, Pemarah, Pemberi ancaman, Pembalas, Penghancur, dan… Teruskan Membaca

Pilihan

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (1)

Umumnya sejarawan menilai bahwa era pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan puncak masa keemasan peradaban Islam. Tapi di balik gemerlap pencapaian tersebut, sejarah politik … Teruskan Membaca

Arsitektur

Budaya Islam

Nusantara

Kaligrafi

Monumental

Mualaf

Negara Islam

Orientalis

Sejarah