Mozaik Peradaban Islam

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (11): Para Raja dan Masa Keemasan Kerajaan (3)

Rupanya memberikan takhta kerajaan kepada Raden Mas Rangsang, merupakan keputusan tepat. Hanyokrowati yang berwasiat bahwa putranya dari Dyah Banowati untuk menjadi raja, mungkin atas berbagai pertimbangan yang melihat jiwa kepemimpinan Raden Mas Rangsang. Raden Mas Rangsang adalah penguasa paling terbesar dari raja-raja di tanah Jawa, dan menjadi salah satu sosok yang dianugerahi sebagai pahlawan nasional,… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (10): Para Raja dan Masa Keemasan Kerajaan (2)

Lebih dari satu dekade Mataram berusaha menaklukkan Surabaya sebagai vasal wilayahnya di bagian timur Jawa. Di bagian barat, adalah Banten yang hingga masa runtuhnya Mataram, sama sekali tidak bisa dijatuhkan oleh Mataram. Justru Banten hancur, karena VOC. Akhir Masa Kepemimpinan Hanyokrowati Masa peperangan antara Mataram dan Surabaya, cukup alot dan sengit. Salah satu pos dagang… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (9): Raja-Raja Penguasa dan Masa Keemasan Kerajaan (1)

“Di masa pemerintahannya, Panembahan Hanyokrawati nyaris tidak ada ekspansi wilayah, melainkan ia sibuk menumpas pemberontakan-pemberontakan.” Sekalipun Sutawijaya telah menaklukkan hampir seluruh tanah Jawa, sukses di bidang politik-militer, tetapi banyak raja yang tak mengakui Sutawijaya sebagai raja sederajat dan sejajar dengan mereka. Mungkin itu sebabnya, yang membuat Sutawijaya seolah ‘haus akan validasi’ untuk menundukkan tanah Jawa.… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (8): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (5)

Dikemukakan oleh de Graaf dan Pigeaud, “Panembahan Senapati (Sutawijaya) adalah orang yang bertanggung jawab terhadap kemunduran Pajang dan sekaligus peletak dasar Kerajaan Mataram Islam”.[1] Sutawijaya sebagai raja pertama Mataram, membangun kekuasaan politiknya dengan berbagai upaya. Pemberontakan dan Penaklukkan Wilayah oleh Mataram Pemberontakan pada Mataram kali pertama dilakukan oleh Pangeran Puger. Sebagai keturunan terakhir Demak, Pangeran… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (7): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (4)

“Pangeran Benawa memberi mandat agar Sutawijaya mengambil alih kekuasaan Pajang, dan menjadi sultan. Sutawijata pun menerima, meski ia tidak menggunakan gelar sultan. Hal tersebut ia lakukan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Sutawijaya hanya menggunakan gelar Panembahan Senopati.” Gelar Sultan Ngawantipura diberikan kepada Arya Pangiri selama ia menduduki takhta di Kesultanan Pajang. Namun, rupanya… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (6): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (3)

“Sultan Hadiwijaya pun mengambil tindakan atas perbuatan Sutawijaya yang sudah berkhianat terhadap Pajang. Ia membawa pasukannya untuk menyerang Mataram. Peristiwa peperangan Pajang dan Mataram terjadi pada tahun 1587 di sekitar Candi Prambanan.” Alasan-alasan yang berkaitan dengan pembangkangan Sutawijaya telah dipaparkan sebelumnya, tetapi belum menjadi momentum terjadinya pemberontakan. Sultan Hadiwijaya masih memiliki kesabaran, dan seolah berharap… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (5): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (2)

“Sebelum menunjukkan pemberontakannya kepada Pajang, Sutawijaya melalui berbagai peristiwa yang sebagian berkesan bak cerita “supernatural”.” Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Juru Mentani rupanya menjadi nyata. Mendapati perangai Sutawijaya yang terkesan menyepelekan, membuat sultan Pajang menyadari ada sesuatu yang tak beres dari sikap putra angkatnya. Utusan Sultan Pajang ke Senopati Mataram Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (4): Berdirinya Kerajaan dan Ekspansi Tanah Jawa (1)

“Sutawijaya yang diberikan gelar istimewa oleh Sultan Hadiwijaya, mulai menunjukkan pembangkangan terhadap Pajang.” Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan, sang putra hidup sangat layak. Jabatan kekuasaan sebagai bupati Mataram, Kepala Prajurit Pengawal Raja, diserahkan kepada Sutawijaya. Bahkan Sultan Hadiwijaya mengangkat ia menjadi seorang panglima, dengan gelar Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama (panglima yang dijunjung tinggi atau sang… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (2): Jejak Perjalanan Berdirinya Sebuah Kerajaan (1)

“Pujangga kerajaan Mataram di abad ke-17 hingga 18 M, menuliskan kisah-kisah secara hiperbolis mengenai kebangsawanan dan asal-usul moyang raja. Sehingga banyak cerita dianggap isapan jempol belaka.” Di nara sumber sebelumnya, Arya Penangsang sempat terluka oleh tombak Sutawijaya (putra Ki Ageng Penambahan) hingga ususnya terburai keluar. Namun, Arya Penangsang menyarungkan ususnya pada gagang keris. Bahkan ia… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kerajaan Mataram (1): Membangun Sejarah di Tanah Jawa

“Wilayah kadipaten yang kelak menjadi Kerajaan Mataram itu merupakan hadiah yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan.” Sejarah historis nama Mataram digunakan kali pertama oleh sebuah kerajaan pra-islam di abad ke-8 M, diambil dari Bahasa Sanskerta “Matr” artinya adalah “Ibu”.[1] Kerajaan yang disebut Mataram Kuno ini terletak di Bhumi Mataram (Yogyakarta dan sekitarnya), Jawa Tengah. Lalu… Teruskan Membaca

Studi Islam

Rohingya, Identitas yang Terpinggirkan (3)

“Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, membantah adanya upaya pembersihan etnis di negaranya.” Sejak seperempat terakhir abad ke-20, karena kekerasan antar-komunitas di negara bagian Rakhine, atau kampanye tentara Myanmar—yang menjadikan suku Rohingya sasaran—membuat Rohingya melarikan diri dari negara tersebut. Melarikan Diri ke Negara Tetangga Mereka pergi ke daerah lain di Myanmar atau negara… Teruskan Membaca

Studi Islam

Rohingya, Identitas yang Terpinggirkan (2)

“Ada 135 suku etnis yang diakui oleh negara Myanmar sebagai warganegaranya, kecuali, suku Rohingya, Karen, dan Naga. Undang-Undang Kewarganegaraan pada tahun 1982, tidak memasukkan Rohingya ke dalam 135 kelompok etnis nasional yang diakui di Myanmar.” Tidak ada tanda-tanda pemerintahan Myanmar modern untuk memberikan wilayah otonom negara Muslim bagi Rohingya. Justru yang terjadi adalah upaya pemerintah… Teruskan Membaca

Studi Islam

Rohingya, Identitas yang Terpinggirkan (1)

“PBB menyebut orang-orang Rohingya sebagai “the most persecuted minority in the world”. Minoritas paling teraniaya di dunia.” Ada 135 suku etnis yang diakui oleh negara Myanmar sebagai warganegaranya, kecuali, suku Rohingya, Karen, dan Naga. Selama tinggal di wilayah negara tersebut, ketiga golongan ini tidak diakui Myanmar. Faktor agama, perbedaan fisik, dan upaya ketiga golongan ini… Teruskan Membaca

Tokoh

Jabir bin Hayyan: Putra Apoteker Menjadi Bapak Kimia Modern (2)

Minim catatan sejarah mengenai kehidupan Jabir melarikan diri setelah Tragedi Barkamiah. Salah satu sumber hanya menyebutkan bahwa ia justru diusir dari Baghdad karena kedekatannya dengan keluarga al-Barmakiah, lalu Jabir kembali ke Kota Kufah hingga akhir hayatnya di sana.[1] Muncul perbedaan pendapat mengenai Jabir bin Hayyan. Hal ini sempat menjadi perdebatan panjang antara ilmuwan Muslim pun… Teruskan Membaca

Tokoh

Jabir bin Hayyan: Putra Apoteker Menjadi Bapak Kimia Modern (1)

“Karena kedekatan Jabir dengan keluarga wazir, ia pun terpaksa melarikan diri ke Kufa. Ia bersembunyi dari para pendukung khalifah Harun Al-Rasyid.” Perkembangan dunia sains didominasi oleh Muslim sekitar tahun 800 M. Berawal dari pemerintahan Harun al-Rashid di Baghdad, hingga beberapa pemerintahan khalifah setelahnya. Yang disebut sebagai The Golden Age of Islam atau Masa Keemasan Islam.… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Banten (19): Sebab dan Akibat Runtuhnya Kesultanan

Sikap pro Sultan Haji kepada VOC membuat kekecewaan besar di hati Sultan Ageng Tirtayasa. Apalagi putranya yang sudah memiliki kekuasaan cukup besar, mulai menancapkan cengkramannya terhadap kerajaan. Sehingga terjadi perpecahan di Kesultanan Banten, antara faksi Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji. Kudeta Terhadap Sultan Ageng Tirtayasa Di bulan Mei 1680 M, Sultan Haji mengutus perwakilannya… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Banten (18): Puncak Kejayaan Kesultanan (2)

“Sultan Ageng Tirtayasa berharap putranya akan meneruskan perjuangan yang selama ini dilakukan. Akan tetapi, sikap Sultan Haji di luar ekspetasi sang ayah.” Permusuhan antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan VOC semakin meruncing dari waktu ke waktu. Sikap penguasa Banten ini bukan tidak ada alasan, karena VOC melakukan berbagai tindakan ‘curang’ dengan memblokade pelabuhan Banten. Kapal-kapal dagang… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Banten (17): Puncak Kejayaan Kesultanan (1)

“Sikap keras Sultan Ageng Tirtayasa tak hanya diimplementasikan pada syariat agama yang dijalankan di kesultanan, tetapi juga masalah perniagaan dan perekonomian.” Perkembangan agama Islam di Banten pada masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, semakin kuat. Terlebih sang sultan menjalankan syariat agama secara ketat di wilayah kekuasaannya, Islam menjadi bagian tak terpisahkan bagi budaya masyarakat. Ilmu tarekat… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Banten (16): Dinamika Sosial dan Politik Hingga ke Masa Kejayaan Sultan (13)

“Karena kegigihannya melawan VOC, ia dianugerahi gelar sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia. Orang-orang mengetahuinya sebagai Sultan Ageng Tirtayasa.” Di usia 55 tahun Abul Mafakhir mangkat setahun setelah peristiwa Pagarage, di tahun 1651. Ia dimakamkan di samping makam putranya, Abul Ahmad, dan sang ibu, Ratu Wanagiri.[1] Masa-masa keterpurukan Kesultanan Banten berhasil diatasi oleh sultan keempat… Teruskan Membaca