Mozaik Peradaban Islam

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (6)

“Mengenai menangis, pepatah Portugis mengatakan bahwa: ‘Menangis membasuh jiwamu’. Kalau dipikir-pikir, setelah menangis, tidakkah rasanya seperti itu?” Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” “Karena Ibu memang perlu menangis,” jawab si ibu. “Aku tidak mengerti maksud Ibu,” kata sang anak. Si Ibu hanya memeluk anaknya dan berkata, “Dan kamu memang tidak akan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (5)

“Jika benar tangisan dan air mata merupakan tanda kelemahan, lalu mengapa hal itu menjadi ekspresi wajib bagi para nabi dan orang-orang suci saat dibacakan ayat-ayat Allah atas mereka?” Pada saat kebiasaan masyarakat umum lebih cenderung mengkritik, memandang rendah dan mengejek orang yang menangis karena dianggap “kurangnya kekuatan” yang bersangkutan, Islam justru mengangkat orang yang mampu… Teruskan Membaca

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (4)

“Sungguh sayang! Banyak manusia yang lalai bahwa engkau (air mata) adalah air kehidupan dan penyelamat mereka.” Sebagaimana manusia dengan hati yang lembut mampu merasa­kan setiap musibah dan penderitaan orang lain, sungguh tak diragukan bahwa sifat tidak peduli pada penderitaan sesama dan memberikan konsen­trasi yang berlebihan pada acara-acara hiburan yang merusak dan melampaui batas, bakal membuat… Teruskan Membaca

Pustaka

Kosmologi Islam dan Dunia Modern oleh William C. Chittick (2): Musnahnya Sebuah Warisan (2): Ijtihad

Mengingat kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang mujtahid, sebagian besar Muslim Sunni selama beberapa abad telah berpendapat bahwa pintu ijtihâd telah tertutup. Golongan Syi’ah, sebaliknya, menganggap hal itu selalu terbuka. Kata taqlîd sering dikupas dalam tulisan-tulisan pemikir Muslim zaman modern, yang biasanya dia menggambarkannya sebagai celaan masyarakat Islam. Bagaimanapun, bahasan-bahasan di sini, tidak berfokus pada… Teruskan Membaca

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (3)

“Pedang, tombak, panah, senapan, meriam, dan roket, bukanlah senjata yang dapat dipakai untuk mengalahkan musuh internal (hawa nafsu), namun tangisan dan air mata, akan dengan mudah meredam dan memadamkan kobaran apinya.” Menangis dan meneteskan air mata, terutama bagi pria, umumnya dipandang sebagai tanda kelemahan dalam beberapa budaya, bahkan di kalangan sebagian kaum Muslimin. Sedangkan sebagian… Teruskan Membaca

Pustaka

Kosmologi Islam dan Dunia Modern oleh William C. Chittick (1): Musnahnya Sebuah Warisan (1)

Di dalam Islam ada dua jenis pengetahuan, yaitu taqlîd (mengikuti otoritas) dan tahqîq (intektual). Tidaklah masuk akal jika orang mengaku memahami tahqîq tapi dia hanya meniru gurunya. Pengantar Redaksi Artikel dalam rubrik pustaka kali ini akan mengutip beberapa halaman sebuah buku yang ditulis oleh William C. Chittick, yang berjudul Science of the Cosmos, Science of… Teruskan Membaca

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (2)

Apakah hanya tertawa yang bisa menghibur lara ataukah menangis juga dapat meringankan dan memberi energi bagi manusia? Pada bagian pertama tulisan ini, sudah dibahas tentang manfaat tertawa khususnya bagi fisik dan jiwa manusia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Begitu pula sekilas pembahasan tentang makna air mata yang disebut sebagai salah satu mukjizat terbesar… Teruskan Membaca

Studi Islam

Manfaat dan Keajaiban Menangis bagi Manusia (1)

Bagaimana pandangan Islam tentang air mata dan tangisan? Benarkah Islam melarang orang menangis—seperti anggapan sebagian Muslim? Pada umumnya masyarakat sudah mengerti manfaat tertawa bagi kesehatan dan kebahagiaan manusia. Akan tetapi, apakah kita sudah mengetahui manfaat dan keajaiban menangis bagi manusia sebagai keadaan esensial yang tidak mungkin dilepaskan dari kehidupan? Tulisan ini akan memberikan penjelasan dan… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (17): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (5): Abu Rayyah, Sang Penggugat Abu Hurairah (3)

Menurut Abu Rayyah, orang-orang yang paling bertanggungjawab atas tersebarnya riwayat-riwayat Israiliyyat adalah Ka‘ab al-Akhbar, Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam, Tamim bin Aus al-Dari, dan Abu Hurairah. Keadilan para Sahabat (2) Selain menyebutkan bahwa ada di antara para sahabat yang melakukan kebohongan tentang hadis, sebagaimana telah disinggung dalam artikel sebelumnya, Abu Rayyah juga mengkritik dengan… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (16): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (4): Abu Rayyah, Sang Penggugat Abu Hurairah (2)

Sistem keadilan para sahabat harus digugurkan, karena di antara mereka pun terjadi perdebatan dan kecurigaan mengenai pemalsuan dan bertambahnya hadis. Adhwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah Artikel kali ini masih membahas seputar kritik hadis dari Abu Rayyah. Kita akan mengulas mengenai buku pertamanya yang berjudul Adhwa ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah (terbit 1958).  Secara garis besar buku itumembahas beberapa… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (15): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (3): Abu Rayyah, Sang Penggugat Abu Hurairah (1)

Abu Rayyah, seorang ulama muda Mesir, menggugat keberadaan Abu Hurairah dalam Sahih Bukhari. Menurutnya, Abu Hurairah bukanlah sosok yang kredibel. Tokoh ulama Muslim selanjutnya yang mengkritik Sahih Bukhari (atau lebih tepatnya kepada seluruh ulama pengumpul hadis) adalah Abu Rayyah (1889-1970 M). Abu Rayyah yang memiliki nama lengkap Mahmud Abu Rayyah adalah seorang ulama asal Mesir.… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (14): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (2): Al-Tirmidzi

Al-Tirmidzi, ulama hadis yang juga murid dari Bukhari ini, memberikan kritik terhadap Sahih Bukhari. Dia mempersoalkan keberadaan periwayat yang bernama Ibnu Abu Laila dalam Sahih Bukhari. Namun siapakah Ibnu Abu Laila? Kritik terhadap hadis Sahih al-Bukhari bukan hanya datang dari kalangan non-Muslim saja, tapi juga dari kalangan ulama Muslim itu sendiri, hal ini bahkan sudah… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (13): Kritik terhadap Sahih al-Bukhari (1): Sudut Pandang Non-Muslim

Bagaimana bisa hadis yang baru dicatat sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi dianggap asli? Bisa saja hadis-hadis tersebut digunakan untuk kepentingan politis. Meskipun Bukhari disebut-sebut sebagai orang pertama yang menerapkan standar baru dalam metode pengumpulan hadis, bahkan melebihi ulama pengumpul hadis lainnya, namun bukan berarti hasil karyanya ini bebas dari kritik. Kritik terhadap Sahih al-Bukhari… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (12): Keragaman Perawi (6)

Hubungan guru dan murid di antara mazhan Syiah dan Sunni, dan sebaliknya, dalam pengumpulan hadis, adalah suatu bukti yang tidak terbantahkan bahwa ulama-ulama pada masa Bukhari dan sebelumnya, meskipun berbeda mereka dapat hidup harmonis. Demikianlah kita telah memaparkan bahwasanya Bukhari terbukti memasukkan riwayat dari periwayat yang berlainan mazhab ke dalam sahihnya. Di antara mazhab-mazhab yang… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (11): Keragaman Perawi (5)

Di dalam Sahih al-Bukhari, ditemukan banyak sekali hadis yang diriwayatkan oleh orang-orang Syiah. Keberadaan mereka dikonfirmasi baik oleh ulama Sunni maupun Syiah sendiri. Berikut ini adalah beberapa contohnya. Dalam seri artikel kali ini kita akan menampilkan hadis-hadis dari periwayat yang bermazhab Syiah yang riwayatnya dimuat dalam Sahih Bukhari. Adapun mengenai pembuktian bahwa mereka adalah seorang… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (10): Keragaman Perawi (4)

Seorang murid Bukhari mempertanyakan mazhab Syiah yang dianut oleh Abu Ghassan, salah satu guru Bukhari. Bukhari malah menjawab, bahwa guru-guru dia lainnya yang berasal dari Kufah juga bermazhab Syiah. Kita akan kembali ke pembahasan tentang keragaman mazhab para periwayat yang riwayatnya dicatat ke dalam Sahih Bukhari. Di antara hal yang mesti dicermati, di masa Bukhari… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (9): Keragaman Perawi (3)

Dalam hal pertemuan antara penyampai dan penerima hadis, Bukhari menambahkan kriteria pengetat lainnya, yaitu hubungan mereka harus guru dan murid, bukan sekadar pertemuan sambil lalu. Demikianlah kita telah mengulas tentang syarat-syarat ketat untuk diterimanya seorang perawi oleh Bukhari, termasuk ditambahkannya syarat liqa (mesti bertemunya orang yang menyampaikan hadis ke penerima hadis), yang mana tidak ditemukan… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (8): Keragaman Perawi (2)

Berbeda dengan Imam Muslim yang hanya mensyaratkan bahwa penyampai dan penerima hadis mesti hidup sezaman, Bukhari mensyaratkan bahwa mereka mesti bertemu dan mendengar langsung. Di dalam kitab hadis, jumlah rantai transmisi (sanad) dalam sebuah riwayat paling sedikit adalah sebanyak lima orang. Jika di dalam kitab hadis terdapat 3.000 hadis misalnya, maka ini berarti dibutuhkan penyelidikan… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (7): Keragaman Perawi (1)

Mengingat ketelitian Bukhari, maka mustahil jika dimasukkannya orang-orang Syiah sebagai perawi semata karena kebetulan, ketidaksengajaan, atau kealpaan. Dalam artikel seri kali ini kita akan mengulas keterbukaan Bukhari terhadap para perawi dari berbagai golongan. Kita tahu, bahwa hadis Bukhari secara luas diterima oleh para ulama Sunni sebagai kitab yang sahih. Namun jarang diketahui, ternyata dalam rantai… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (6): Standar Baru Ala Bukhari (2)

Bukhari membuat standar baru yang belum pernah diterapkan pada kitab-kitab hadis mana pun yang dibuat oleh orang lain sebelum masanya, yaitu penyusunan hadis secara tematis. Tempat kelahiran Bukhari adalah salah satu lokasi terpenting di Jalur Sutra kuno, yaitu jaringan rute perdagangan yang, sejak sekitar 100 SM, menghubungkan Cina (dan ekspor sutranya) ke berbagai negara seperti… Teruskan Membaca