Mozaik Peradaban Islam

Pustaka

Kitab al-Aghani Karya Abul Faraj al-Asfahani (2): Kontroversi Seputar Kitab

Seperti karya monumental lainnya, ada yang sepakat, mendiamkan, membela, dan mencacinya. Tetapi mereka sepakat bahwa kitab ini merupakan sumber pertama dan utama dalam kesusasteraan Arab. Oleh Khoirul Imam[i] Kitab al-Aghani karya Abul Faraj al-Ashfahani adalah masterpiece yang sampai saat ini belum tertandingi. Kitab ini terdiri dari 25 jilid besar, dengan jumlah halaman tiap jilid  bervariasi… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (3): Kembali ke Makkah

Sekembalinya Mushab, ketika para sahabat melihatnya, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya tampak basah. Keadaan Mushab menyedihkan, jauh dari penampilan dia sebelumnya. Meskipun kaum Muslim menikmati kedamaian dan keamanan di tanah Negus, namun pada dasarnya mereka ingin tetap berada di Makkah bersama dengan Rasulullah. Jadi ketika sebuah laporan mencapai Habsyi, menyatakan… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (2): Terbongkarnya Rahasia

Utsman bin Thalhah, secara diam-diam melihat Mushab memasuki rumah Arqam. Dia curiga, bagaimana mungkin seorang pemuda Quraish yang terpandang dapat memasuki rumah Arqam. Pada kesempatan lain, dia melihat Mushab salat. Setelah Mushab bin Umair RA masuk Islam, dia tidak takut apapun. Bahkan andai kata seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (1): Duta Islam Pertama

Rasulullah berkata, “Dahulu aku lihat Mushab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Mushab bin Umair RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang kelak akan menjadi duta Islam yang pertama. Dia diutus oleh Rasulullah untuk mengajarkan Islam di Madinah.… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (4): Wawancara Zainal Abidin Bagir dengan Nasr: Generasi dengan Dua Kaki

Masyarakat modern ada bukan cuma di Barat, tapi juga di banyak negara Muslim. Masyarakat ini sudah melupakan hakikat keberadaan manusia dan memutus hubungan dengan Sumber Kebaikan. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] ZAB: Anda kerap mengkritik dunia modern dengan keras. Misalnya, Anda menulis bahwa dunia Barat itu pada esensinya buruk, dan hanya baik secara aksidental, sementara dunia… Teruskan Membaca

Pustaka

Kitab al-Aghani Karya Abul Faraj al-Asfahani (1): Tentang Penulis

Tak ada yang sia-sia dalam sejarah. Ia memberikan kita cara pandang holistik melihat masa lalu untuk meneropong masa depan. Mengamati keanekaragaman dari berbagai bentuk peninggalan, membaca sisa-sisa artefak dengan penuh kaitkelindan, dan menafsir ulang ragam narasi usang dengan gaya kekinian. Oleh Khoirul Imam[1] Salah satu peninggalan masa lalu yang menarik adalah Kitab al-Aghani. Kitab ini… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (3): Riwayat Hidup: Manusia “Pontifikal” di Pengasingan Barat

Nasr menulis buku Islam dalam Cita dan Fakta, menurut William C. Chittick, mungkin inilah satu-satunya buku tentang Islam yang ditulis Muslim taat tapi tak menyingung perasaan orang Kristen. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Nasr tak akan menolak, atau justru bangga, disebut bukan manusia modern. Baginya manusia modern adalah manusia Promethean, yang memberontak melawan Langit meski sukses… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (2): Filsafat Perennial: Kembali ke Masa Depan? (2)

“Saya tak pernah menolak temuan Galileo tentang jumlah bulan yang mengelilingi planet Jupiter, atau temuan-temuan lainnya yang tak terlalu penting bagi Tradisi.” Tapi yang ditolak Nasr adalah keyakinan akan tak adanya Pencipta. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Gagasan sentral lain dalam filsafat perennial adalah tentang Rantai Keberadaan (Great Chain of Being), yang mengimplikasikan adanya hirarki ontologis,… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (1): Filsafat Perennial: Kembali ke Masa Depan? (1)

Filsafat perennial adalah nama lain dari metafisika Islam sebagaimana dipahami Nasr. Meskipun disebut “filsafat”, warna mistikalnya amat kental. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Resensi atas buku: L. E. Hahn, R. E. Auxier, L. W. Stone, Jr., eds., The Philosophy of Seyyed Hossein Nasr (The Library of Living Philosophers, Vol. XXVII), Open Court, Illinois, AS, 2001,1001+xviii hal.… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (10): Penutup

Dokumen-dokumen tentang kisah Ayuba, telah membantah anggapan kontemporer bahwa Muslim adalah orang asing yang datang belakangan ke Amerika Serikat. Faktanya, Ayuba telah hadir di sana tiga dekade sebelum Amerika Serikat memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah dapat pulang kembali ke rumahnya di Bundu, meskipun daerah itu terperangkap dalam gelombang peperangan antar suku, namun karena pada dasarnya Ayuba Suleiman… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (9): Pulang ke Afrika

Ketika Ayuba pulang ke kotanya, dalam sebuah selebrasi, dia menembakkan senjatanya ke udara dan memacu kudanya berputar-putar dengan kencang. Ayuba adalah budak Afrika kedua yang dapat kembali pulang ke rumahnya. Setelah sekian lama tinggal di Inggris, pada tahun 1734 Ayuba Suleiman Diallo akhirnya berlayar pulang ke negaranya dengan bantuan dari Royal African Company, sebuah perusahaan… Teruskan Membaca

Tokoh

KH. Saifuddin Zuhri (2): Mencari Jati Diri

Masa kecil Saifuddin Zuhri dihabiskan untuk melahap kitab-kitab induk di bawah bimbingan guru ternama. Pada tahun 1937 Saifuddin merantau ke Solo. Saat itu umurnya menginjak 18 tahun. Di kota itu, Saufuddin tidak hanya belajar, tapi juga bekerja, dan mulai menapaki dunia keorganisasian. Sejak kecil, selain ditempa melalui kegiatan belajar agama secara formal, Saifuddin Zuhri sudah… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (8): The Fortunate Slave, Lukisan Istimewa Abad ke-18

Lukisan ini pada tahun 2009 dilelang dan dibeli dengan harga £ 554.937 (sekitar 10 milyar Rupiah). Ia berharga sangat tinggi karena memiliki nilai historis, lukisan pertama orang berkulit hitam, dan obyeknya adalah Ayuba. Lukisan di atas pernah penulis tampilkan pada seri pertama artikel ini. Tapi apakah yang Anda pikirkan ketika melihat lukisan Ayuba Suleiman Diallo… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (7): Menulis Alquran

Dilaporkan oleh Bluett pada tahun 1734, di Inggris Ayuba menulis tiga buah salinan Alquran hanya benar-benar mengandalkan ingatannya. Dan setelah selesai menulis salinan, pengerjaan salinan selanjutnya juga tanpa melihat salinan sebelumnya. Demikianlah, setelah ditebus oleh James Oglethorpe, Ayuba Suleiman Diallo berlayar menuju London dari Amerika. Selama perjalanan dan sesampainya di London, orang-orang di sekitar Ayuba… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (6): Surat untuk Sang Ayah

Ayuba menulis surat untuk ayahnya dalam bahasa Arab. Surat itu tidak sampai ke ayahnya, namun kepada seorang bangsawan Inggris, James Oglethorpe. Di luar dugaan, setelah membaca terjemahannya, Oglethorpe menebus kebebasan Ayuba. Setelah dibawa kembali dari penjara oleh Tolstoy, Ayuba Suleiman Diallo memiliki lebih banyak kebebasan untuk mempraktikkan keyakinannya. Namun ini semua belum cukup baginya, bagaimanapun… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (5): Dipenjarakan

Di dalam penjara, Ayuba menjadi terkenal karena memiliki kemampuan menulis dalam bahasa Arab dan berasal dari garis keturunan bangsawan Afrika. Berita ini menyebar hingga keluar, hingga menarik perhatian seorang pengacara. “Allah. Muhammad,” hanya inilah kata-kata yang diucapkan oleh Ayuba Suleiman Diallo ketika dia berada di dalam penahanan oleh keamanan setempat di Kent County, Pennsylvania, tidak… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (4): “Allah. Muhammad.”

“Allah. Muhammad,” hanya dengan mengulang kata-kata inilah Ayuba menjawab pertanyaan ketika ditangkap setelah melarikan diri di Amerika. Ayuba melarikan diri dari perbudakan karena ketika sedang salat dia diejek dan wajahnya dilempari kotoran. Setelah Ayuba Suleiman Diallo dan penerjemahnya, Loumein Yoas, ditangkap dan digunduli oleh orang-orang suku Mandingo, membuat seolah-olah mereka adalah tawanan perang, mereka dijual… Teruskan Membaca

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (5): Tauhid dan Evolusi (2)

Tuhan yang terusir dari alam, bersama munculnya Darwin, bukanlah model Tuhan yang cukup canggih, meski amat populer. Dia adalah Tuhan yang, bagaikan tukang jam, menciptakan sesuatu di suatu saat tertentu, dan kemudian absen dari alam semesta. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Muthahhari menunjukkan bahwa “sistem penciptaan” yang diacu Alquran di banyak tempat mencakup segala macam proses… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (3): Perbudakan dan Hukum Islam di Afrika

Budak diperlakukan dengan sangat baik, makan dengan tuan mereka, bekerja bersama mereka, dan begitu juga cara berpakaian…. sehingga tidak mungkin untuk membedakan mereka (para budak) dengan orang-orang yang merdeka. Pada artikel sebelumnya, telah disebutkan bahwa Ayuba Suleiman Diallo ditangkap untuk dijadikan budak, justru setelah dia sendiri menjual dua orang budak. Sekilas, kisah ini tampak seperti… Teruskan Membaca