Safiyyah Binti Huyayy (3)

in Tokoh

Last updated on June 22nd, 2023 07:48 am

“Nabi Muhammad Saw pun memberikan tawaran kepada Safiyyah Ra, Safiyyah diperkenankan kembali ke kaumnya atau menerima Islam.”

Sumber foto: muslim.okezone.com

Sebelum menjelaskan pendapat lain perihal Safiyyah Ra menjadi tawanan, perlu dipahami bahwa pada masa itu hukuman bagi pihak yang ditaklukkan adalah para tawanan wanita mereka dijadikan budak tanpa hak.

Nabi Muhammad Saw tidak pernah memelihara budak dalam konteks ini, tetapi tidak mencegah para sahabat untuk melakukannya. Karena Nabi Muhammad Saw pada akhirnya bertujuan untuk menghapuskan perbudakan secara bertahap.

Oleh sebab itulah, dalam pendapat pertama, Ali bin Ali Thalib menyegerakan Bilal untuk membawa Safiyyah Ra kepada Rasulullah. Agar tidak ada yang mencemari atau mempermalukan Safiyyah Ra sebagai tawanan.

Ada pun versi lain dari penawanan Safiyyah Ra adalah sebagai berikut:

Seorang sahabat, Dihya Al Kalbira, meminta agar Nabi Muhammad Saw mengijinkan ia untuk memiliki seorang budak perempuan dari tawanan perang. Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa Dihya dapat memilih budak mana saja. Lalu Dihya memilih Safiyyah Ra untuk dirinya sendiri.

Namun, seorang pria menghampiri Rasulullah dan mengatakan bahwa Safiyyah Ra adalah seorang sayyidah (perempuan terhormat atau keturunan bangsawan) dari Bani an-Nadhir. Hanya Nabi Muhammad Saw yang pantas untuk Safiyyah Ra.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, “Rasulullah menyerbu Khaybar … Kami menaklukkan Khaybar, membawa tawanan, dan harta rampasan perang dikumpulkan. Dihya datang dan berkata, ‘Wahai Rasul Allah! Berikanlah aku seorang budak perempuan dari para tawanan’.

“Nabi berkata, ‘Pergilah dan ambillah budak perempuan mana saja’. Dia mengambil Safiyyah binti Huyayy. Seorang pria mendatangi Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasul Allah! Engkau telah memberikan Safiyyah binti Huyayy kepada Dihya dan ia adalah wanita pemimpin dari suku Quraiza dan Nadir dan ia tidak pantas untuk siapa pun kecuali engkau’.

“Maka Nabi berkata, ‘Bawalah dia bersamanya’. Maka Dihya datang bersamanya dan ketika Nabi melihatnya, beliau berkata kepada Dihya, ‘Ambillah budak wanita mana pun selain dia dari para tawanan’.” (HR. Bukhari)[1]

Anas bin Malik menambahkan, bahwa Rasulullah kemudian memerdekakan Safiyyah Ra dan menikahinya.

Apakah Safiyyah Dipaksa untuk Menikahi Rasulullah?

Ada ujaran “menuding” atas sebab utama Nabi Muhammad Saw menikahi Safiyyah Ra. Bahwa pernikahan Safiyyah Ra dengan Rasullah atas dasar paksaan. Di mana dalam tuduhan tersebut menyatakan, Nabi Muhammad Saw telah mengambil Safiyyah Ra sebagai budak, memberi makan, dan kemudian menikahinya. Seolah-olah Safiyyah tidak punya pilihan untuk menikahi Rasul, jika tidak ia takkan bisa hidup dengan “aman”.

Pernyataan tersebut tidaklah berdasar. Karena sudah sangat jelas, Nabi Muhammad Saw tidak pernah mengambil tawanan perang sebagai budaknya.

Yang terjadi adalah sebaliknya, Safiyyah Ra ikhlas dan menerima agama Islam sebagai pedoman hidup. Bukti dari riwayat-riwayat yang menyatakan Safiyyah Ra dengan terbuka menerima Islam, dan Nabi Muhammad Saw memberikan penawaran kepada Safiyyah Ra, adalah sebagai berikut:

Ja’far bin Mahmud dalam al-Waqidi memberikan keterangan rinci dalam hal ini. Ia meriwayatkan, “Ketika Safiyyah datang kepada Nabi, beliau berkata kepadanya, ‘Di antara orang-orang Yahudi, ayahmu tidak berhenti memusuhiku hingga Allah membinasakannya’.

“Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah! Sungguh Allah berfirman di dalam kitab-Nya, ‘Tidak ada seorang pun yang akan memikul beban orang lain’. Maka Nabi berkata kepadanya, ‘Tentukan pilihanmu, jika engkau memilih Islam, aku akan membebaskanmu dan mengembalikanmu kepada kaummu’.

“Dia berkata, ‘Wahai Rasul Allah, sesungguhnya aku merindukan Islam dan bersaksi untukmu bahkan sebelum engkau memberikan undangan ini ketika aku datang kepadamu. Aku tidak memiliki wali dari kalangan Yahudi, baik ayah maupun saudara laki-laki dan aku lebih memilih Islam daripada kekafiran. Allah dan Rasul-Nya lebih aku cintai daripada kebebasan yang kembali kepada kaumku’.”[2]

Mengenai hal ini pun dipertegas oleh Anas bin Malik, tentang Hajjaj bin ‘Ilat yang memberitahukan paman Nabi Muhammad Saw, paman al-Abbas mengenai perang Khaybar. Anas bin Malik meriwayatkan, “Rasulullah telah memilih Safiyyah, putri Huyayy, untuk dirinya sendiri dan menawarkan kepadanya pilihan antara memiliki kebebasannya dan menikahinya, atau bergabung dengan keluarganya; dia memilih untuk memerdekakan dirinya dan menjadi istrinya.”[3]

Sehingga bisa disimpulkan bahwa Safiyyah Ra setelah menjadi tawanan perang, ia dibawa ke hadapan Rasulullah. Lalu Nabi Muhammad Saw pun memberikan tawaran kepada Safiyyah Ra: ia diperkenankan kembali ke kaumnya atau menerima Islam dan dipersunting oleh nabi.

Safiyyah Ra memilih Islam karena atas keinginannya sendiri, dan memutuskan menikah dengan Nabi Muhammad Saw. Adapun mahar dari pernikahan tersebut adalah kemerdekaan Safiyyah dari perbudakan. (TR)

Bersambung …

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Waqaar Akbar Cheema, Two Issues Around Prophet Muhammad’s Marriage With Safiyya, pada laman https://www.icraa.org/two-issues-around-prophet-muhammads-marriage-with-safiyya/#_ftn11 diakses pada 12 Juni 2023

[2] Ibid.

[3] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*