Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Tasawuf

Tasawuf

Diskursus Sufi (18): Falsafah Kematian

“…Di tahap akhir, aku akan mati dari (keadaan sebagai) manusia; untuk bisa berubah menjadi salah satu sayap malaikat; Setelah jadi malaikat, aku akan terus mencari ufuk lain; Karena “ Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (Jalaluddin Rumi) Makna Kematian Kembali ke sisi Allah SWT dan keluar dari kehidupan dunia menuju kehidupan lain digambarkan oleh Allah… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (17): Kiat Menjadi Pencinta Allah

Rumi bertutur: “Wahai orang yang telah menjual diri hakikinya lantaran ketakmampuannya mengekang hawa nafsu! Engkau mengira makhluk asing (baca: binatang) sebagai dirimu, padahal ia jelas-jelas bukan dirimu.” Memang sedikit yang bisa dikatakan orang tentang cinta, tapi lebih sedikit lagi yang bisa dikatakan orang tentang Tuhan. Maka, ketika cinta menemukan Tuhan, orang tiada lagi bisa berkata-kata. … Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (16): Paradoks Doa

Dalam berdoa, kita mesti selalu sadar bahwa kita teramat bodoh, lemah, dan tidak mengerti mana yang terbaik buat diri kita sendiri. Sedangkan Dia Teramat Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang. Sehingga apapun jawaban yang diberikan Allah atas doa kita, haruslah kita terima. Berbicara tentang doa dan munajat bukanlah perkara yang mudah. Lebih-lebih, bila pembicaraan tersebut… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (15): Takwa (5)

Menurut Sayidina Ali,”…orang-orang yang bertakwa ialah manusia-manusia yang bijak bestari. Kebenaran menjadi inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka…, Sekiranya bukan karena kepastian ajal yang telah ditetapkan Allah, niscaya roh mereka takkan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan oleh kerinduannya kepada pahala Allah ataupun ketakutannya… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (14): Takwa (4)

Jiwa ibarat mata manusia dalam melihat realitas, dan takwa adalah selaput yang menjaganya dari segala debu dan polusi. Tanpa selaput itu, kotoran dan debu akan mengenai mata dan mata akan menampilkan gambar-gambar yang buram dan kabur. Dari gambar-gambar itu kemudian kita melihat dunia yang, tak pelak lagi, penuh dengan kekacauan dan kesulitan. Pengaruh takwa yang… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (13): Takwa (3)

Selama ada takwa, ketenangan dan keheningan dalam jiwa dapat terpelihara. Dan dalam suasana yang hening itulah seruan akal bisa bergema dengan jelas. Sebaliknya, jiwa yang gaduh oleh bentakan hawa nafsu yang telah terjerat rayuan setan tidak akan bisa mendengarkan ajakan akal ke jalan yang benar. Setelah secukupnya kita membahas makna takwa, kaitannya dengan kehendak dan… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (12): Takwa (2)

Di kalangan sufi, ada setidaknya dua jenis takwa. Pertama, “takwa negatif” yang bersumber pada upaya menjauhkan diri dari noda-noda maksiat. Persis seperti upaya seseorang memelihara kesehatan fisiknya dengan menjauh dari lingkungan yang diduga terserang penyakit atau wabah tertentu. Kedua, “takwa positif” yang bersumber pada kekuatan dalam jiwa. Layaknya orang yang telah menjalani vaksinasi, takwa jenis… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (11): Takwa (1)

Ungkapan “ittaqullah” (bertakwalah kepada Allah), sering diterjemahkan menjadi “takutlah kepada Allah”. Padahal, para ahli bahasa mengatakan bahwa arti “takwa” adalah “menjaga” dan “memelihara”. Jadi arti yang lebih tepat dari ungkapan itu ialah “peliharalah dirimu dari pembalasan Allah” Salah satu istilah yang lazim dipakai oleh para sufi dan ulama akhlak adalah kata taqwa (selanjutnya ditulis, takwa)… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (10): Murah Hati dan Kikir

Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang murah hati yang bodoh lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir.” Dalam Ar-Risalah, Al-Qusyairi mengatakan bahwa… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (9): Fitrah

Pengetahuan manusia akan keberadaan Tuhannya adalah kesadaran fitri. Meski kerap kali kesadaran itu “tergantikan” oleh tuhan-tuhan palsu, tapi fitrah manusia menuntut kembali pada hakikatnya sebagai hamba yang hanya merunduk rendah di hadapan Tuhan sejati. Dan sebelum kehambaan (‘ubudiyyah) dan penghambaan (‘ibadah) kepada Tuhan dan Pemilik Sejati itu tercapai, manusia akan senantiasa berada dalam keadaan sesat,… Teruskan Membaca