Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Tasawuf

Tasawuf

Memperingati Hari Kemerdekaan, Membebaskan Diri dari Penjajahan oleh Hawa Nafsu

Rasulullah berkata, perang fisik sebesar apapun, itu harus dilihat sebagai jihad asghar, atau sebagai perang kecil, jika dibandingkan dengan perang melawan hawa nafsu. Oleh Haidar Bagir Tidak terasa pada tahun ini kita telah melaksanakan kembali peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan adalah suatu peristiwa besar, bukan hanya dalam sejarah negara atau bangsa kita. Tetapi, sesungguhnya, persoalan… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (18): Falsafah Kematian

“…Di tahap akhir, aku akan mati dari (keadaan sebagai) manusia; untuk bisa berubah menjadi salah satu sayap malaikat; Setelah jadi malaikat, aku akan terus mencari ufuk lain; Karena “ Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (Jalaluddin Rumi) Makna Kematian Kembali ke sisi Allah SWT dan keluar dari kehidupan dunia menuju kehidupan lain digambarkan oleh Allah… Teruskan Membaca

Tasawuf

Asfala Safilin sebagai Pangkalan Terbang Manusia Mendaki Menuju Ruh Ketuhanan dalam Diri: Perspektif Ibnu Arabi

Dengan diturunkannya manusia ke tempat rendah itu (Asfala Safilin), manusia menjadi memiliki kesempurnaan forma. Oleh Haidar Bagir Sambil membaca tafsir Ibnu Arabi tentang laylatul qadar beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri memahami ulang tafsir Sang Syaikh soal ayat: “(Sungguh kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk) lalu kami tolak mereka ke tempat yang paling rendah (Kecuali… Teruskan Membaca

Tasawuf

Catatan Tentang Al-Fatihah & Makna Rahman-Rahim Dalam Futuhat Ibnu Arabi

Alquran adalah kitab wujud, dan Surat Al-Fatihah adalah kunci pembukanya. Al-Fatihah di mulai “dengan nama Allah bermulalah penciptaan” (basmalah), lalu diiringi dengan dua sifat rahmah, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Keberadaan basmalah di awal Al-Fatihah ini seolah menunjukkan bahwa “niat” Allah dalam penciptaan adalah tidak lain untuk mencurahkan kasih sayang-Nya kepada makhluk. Oleh: Haidar Bagir Al-Fatihah… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (17): Kiat Menjadi Pencinta Allah

Rumi bertutur: “Wahai orang yang telah menjual diri hakikinya lantaran ketakmampuannya mengekang hawa nafsu! Engkau mengira makhluk asing (baca: binatang) sebagai dirimu, padahal ia jelas-jelas bukan dirimu.” Memang sedikit yang bisa dikatakan orang tentang cinta, tapi lebih sedikit lagi yang bisa dikatakan orang tentang Tuhan. Maka, ketika cinta menemukan Tuhan, orang tiada lagi bisa berkata-kata. … Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (16): Paradoks Doa

Dalam berdoa, kita mesti selalu sadar bahwa kita teramat bodoh, lemah, dan tidak mengerti mana yang terbaik buat diri kita sendiri. Sedangkan Dia Teramat Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang. Sehingga apapun jawaban yang diberikan Allah atas doa kita, haruslah kita terima. Berbicara tentang doa dan munajat bukanlah perkara yang mudah. Lebih-lebih, bila pembicaraan tersebut… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (15): Takwa (5)

Menurut Sayidina Ali,”…orang-orang yang bertakwa ialah manusia-manusia yang bijak bestari. Kebenaran menjadi inti ucapan mereka, kesederhanaan adalah pakaian mereka dan kerendahan hati mengiringi gerak-gerik mereka…, Sekiranya bukan karena kepastian ajal yang telah ditetapkan Allah, niscaya roh mereka takkan tinggal diam dalam jasad-jasad mereka walau hanya sekejap, baik disebabkan oleh kerinduannya kepada pahala Allah ataupun ketakutannya… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (14): Takwa (4)

Jiwa ibarat mata manusia dalam melihat realitas, dan takwa adalah selaput yang menjaganya dari segala debu dan polusi. Tanpa selaput itu, kotoran dan debu akan mengenai mata dan mata akan menampilkan gambar-gambar yang buram dan kabur. Dari gambar-gambar itu kemudian kita melihat dunia yang, tak pelak lagi, penuh dengan kekacauan dan kesulitan. Pengaruh takwa yang… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (13): Takwa (3)

Selama ada takwa, ketenangan dan keheningan dalam jiwa dapat terpelihara. Dan dalam suasana yang hening itulah seruan akal bisa bergema dengan jelas. Sebaliknya, jiwa yang gaduh oleh bentakan hawa nafsu yang telah terjerat rayuan setan tidak akan bisa mendengarkan ajakan akal ke jalan yang benar. Setelah secukupnya kita membahas makna takwa, kaitannya dengan kehendak dan… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (12): Takwa (2)

Di kalangan sufi, ada setidaknya dua jenis takwa. Pertama, “takwa negatif” yang bersumber pada upaya menjauhkan diri dari noda-noda maksiat. Persis seperti upaya seseorang memelihara kesehatan fisiknya dengan menjauh dari lingkungan yang diduga terserang penyakit atau wabah tertentu. Kedua, “takwa positif” yang bersumber pada kekuatan dalam jiwa. Layaknya orang yang telah menjalani vaksinasi, takwa jenis… Teruskan Membaca