Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Tasawuf - page 2

Tasawuf

Diskursus Sufi (11): Takwa (1)

Ungkapan “ittaqullah” (bertakwalah kepada Allah), sering diterjemahkan menjadi “takutlah kepada Allah”. Padahal, para ahli bahasa mengatakan bahwa arti “takwa” adalah “menjaga” dan “memelihara”. Jadi arti yang lebih tepat dari ungkapan itu ialah “peliharalah dirimu dari pembalasan Allah” Salah satu istilah yang lazim dipakai oleh para sufi dan ulama akhlak adalah kata taqwa (selanjutnya ditulis, takwa)… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (10): Murah Hati dan Kikir

Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang murah hati dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Orang murah hati yang bodoh lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir.” Dalam Ar-Risalah, Al-Qusyairi mengatakan bahwa… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (9): Fitrah

Pengetahuan manusia akan keberadaan Tuhannya adalah kesadaran fitri. Meski kerap kali kesadaran itu “tergantikan” oleh tuhan-tuhan palsu, tapi fitrah manusia menuntut kembali pada hakikatnya sebagai hamba yang hanya merunduk rendah di hadapan Tuhan sejati. Dan sebelum kehambaan (‘ubudiyyah) dan penghambaan (‘ibadah) kepada Tuhan dan Pemilik Sejati itu tercapai, manusia akan senantiasa berada dalam keadaan sesat,… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (8): Mukasyafah (Penyingkapan)

“Menyaksikan haqiqah” dan “mengalami penyingkapan” niscaya berimbas besar pada keadaan lahiriah dan batiniah seseorang. Itulah yang disebut oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai “tanda-tanda” ketakwaan. Seperti umumnya istilah-istilah kaum sufi, mukasyafah atau penyingkapan spiritual itu tampak oleh saya sebagai suatu keadaan yang tak terperikan. Kata para sufi, memang susah menjelaskan manisnya madu tanpa langsung… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (7): Pengetahuan Kalbu

Pengetahuan kalbu merupakan puncak pengetahuan manusia. Ia menjadi paling mulia dan sempurna, karena objeknya adalah realitas nonbendawi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dan tidak tunduk pada kaidah-kaidah logika. Nilai pengetahuan ini terletak pada rasa (dzauq) dan keyakinan (al-yaqin) yang juga sering disebut dengan syuhud atau kasyf (penyingkapan atau penyaksian). Sebagai sarana terbaik manusia,… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (6): Gerak Ruhani

Manusia adalah gabungan ruh dan jism (badan), maka geraknya pun ada yang bersifat ruhani (metafisik) dan ada yang bersifat jismani (fisik). Gerak keduanya terjadi di “alam” yang berbeda dengan hukum-hukum yang berbeda. Tapi, ada persamaan antara keduanya. Guman Makun keh Chu To Beguzary Jahan Guzarad, Hezar Syam’ Bekusytan va Anjuinan Baqi-ist. (Jangan pikir karena kau… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (5): Sejarah Jiwa

Pertempuran tanpa jedah antara tentara akal dan tentara kejahilan, adalah narasi yang membentuk sejarah kerajaan jiwa. Pemenangnya, akan mengusai iradah (kehendak), yang merupakan tahap paling awal bagi pelaku suluk, lantaran ia mendahului semua tindakan. Para sufi menyebut pemula dalam suluk dengan murid, yakni orang yang mempunyai kehendak dan kemauan. Bayangkan bila keadaan jiwa itu seperti… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (4): Syariat Menurut Para Sufi

Bagi sufi sejati, syariat adalah thariqah yang sesungguhnya. Untuk mencapai haqiqah atau hakikat, unsur keseimbangan antara cinta dan amarah, benci dan sayang, derita dan senang yang terdapat dalam syariat tidak bisa ditinggalkan. Kehadiran Ilahi (Divine Presence) mempunyai dua sisi penampakan atau manifestasi; Jalal (keagungan) dan Jamal (keindahan). Sang Penyiksa, Pemarah, Pemberi ancaman, Pembalas, Penghancur, dan… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (3): Tasawuf sebagai Penghayatan atas Kehambaan

Puncak tasawuf sebenarnya adalah realisasi (tahaqquq) dan penghayatan terhadap kehambaan kepada Allah. Dalam mencapai kehambaan itu, sebagian sufi (seperti Al-Ghazali) menekankan ketakutan, sementara sebagian lain (seperti Jalaluddin Rumi) menekankan kecintaan. Salah satu persoalan yang senantiasa menghantui pikiran dan perasaan manusia adalah tujuan penciptaan alam semesta, terutama tujuan penciptaan manusia. Persoalan inilah yang melahirkan filsafat dan… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (2): Pengantar (2)

Dalam literatur sufi, Tuhan adalah puncak kesempurnaan. Semua yang sempurna dalam maknanya yang paling mutlak dan tak terbatas adalah esensi Tuhan. Manusia, di sisi lain, adalah replika Tuhan. Raison d’atre penciptaannya tak lain ialah menjadi manusia paripurna (insan kamil). “Quantum Being” Pada paruh kedua abad 20, sejumlah pemikir Barat seperti Max Planck, Paul Dirac, Louis… Teruskan Membaca