Mozaik Peradaban Islam

Mengenal Allah (6): Tanya Jawab (1): Perjalanan Abadi

in Tasawuf

Last updated on October 11th, 2020 01:42 pm

Setelah manusia mati perjalanan mengenal Allah tak akan pernah usai. Di alam kubur akan ada pelajaran makrifat Allah, pada alam setelahnya ada lagi pelajaran makrifat Allah, walhasil ini perjalanan abadi.

Foto ilustrasi: images.com/Corbis

Apa saja tahapan mengenal Allah, apakah cukup dengan membaca buku agama?

Mengenal Allah itu perjalanan sepanjang hidup, sampai kita mati. Bahkan, para arif berpendapat, setelah mati pun perjalanan mengenal Allah tak akan pernah usai. Di alam kubur akan ada pelajaran makrifat Allah, pada alam setelahnya ada lagi pelajaran makrifat Allah, walhasil ini perjalanan abadi.

Mengapa abadi?

Karena Allah Mahamutlak. Siapapun tidak mungkin mengklaim pengetahuannya tentang Dia itu selesai. Penulis pernah bertanya kepada dokter ahli jantung, “Apakah manusia saat ini sudah sampai menguasai pengetahuan tentang tubuhnya?”

Jawabannya, “Tidak”.

Bayangkan, memahami tubuh saja tidak tuntas. Padahal, industri kesehatan saat ini begitu besar, perhatian orang kepada tubuh sudah sangat banyak dan tubuh manusia terlalu mudah dijamah.

Bagaimana dengan mengenal Allah? Pasti tak akan pernah tuntas. Hanya saja, tahapan awal itu yang Allah inginkan. Ayo mulai. Karena ini kerjasama antara Allah dan hamba-Nya. Allah ingin melihat kesungguhan kita justru pada langkah awal.

Begitu kita melangkah, Allah akan merespons langkah itu lebih besar dan pasti. Seperti dalam hadis Nabi, “Jika engkau melangkah menuju Allah, Dia akan berlari kecil menujumu. Jika engkau berlari menuju Allah, Dia akan berlari cepat menujumu.” Intinya memulai terlebih dahulu.

Apakah benar doa yang tidak dikabulkan di dunia akan dikabulkan di akhirat?

Allah telah berfirman, “Berdoalah maka akan Aku ijabah.”

Ini telah dibahas sebelumnya. Tapi masalahnya, apakah kita sendiri mengetahui apa yang kita minta? Ada beberapa hal yang tidak mungkin Allah kabulkan lantaran apa yang kita minta merupakan keburukan. Ini pasti tidak terkabul.

Faktor kedua, doa tersebut tidak mungkin dikabulkan karena ketidakmampuan kita sendiri. Misalnya, seseorang meminta Allah menjadikannya penguasa bumi ini. Ini tentu menuntut kriteria dan syarat. Kalaupun permintaan ini dikabulkan, dia belum tentu menjadi baik ketika berkuasa.

Kalaupun baik, apa tujuannya dia berkuasa di bumi ini? Ini seperti wanita yang meminta menjadi orang tercantik di dunia, permintaan seperti ini untuk apa? Oleh karena itu, kita harus mengetahui benar-benar doa itu sehingga Allah mengabulkannya dengan hikmah atau kebaikan.

Faktor ketiga, Allah mungkin menyimpan ijabah doa kita. Misalnya, Anda telah berdoa sesuai ajaran Alquran dan Nabi, tapi tak kunjung terkabul.

Seperti bunyi sebuah doa seorang arif, “Kalau doa itu lambat realisasinya, aku yang akan menyesali dan mengecam kebodohanku atas-Mu karena Engkau pasti tahu permintaan yang seharusnya dipercepat ijabahnya dan permintaan yang ditunda ijabahnya.”

Anda mungkin telah memohon rezeki kepada Allah. Meminta rezeki itu baik dan hal itu diajarkan Nabi. Orang tak boleh meminta kemiskinan dan sakit meskipun tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tapi mengapa belum dikabulkan juga oleh Allah? Ini barangkali Allah simpan ijabahnya untuk suatu saat nanti Anda akan lebih membutuhkannya. Ini contohnya banyak.

Sayidina Ali Zainal Abidin pernah berdoa, “Ya Allah jadikanlah, kekayaan terbesarku, pada saat aku sudah tua dan lemah.”

Artinya, tidak perlu bangga dulu kalau berharta banyak di saat muda. Justru harusnya khawatir karena jangan-jangan harta itu tidak lama lagi habis.

Pada saat tua nanti, Anda mungkin perlu jasa orang lain untuk membantu Anda yang sedang lemah fisik. Ketika Anda membutuhkan jasa orang lain, Anda akan mengeluarkan harta untuk orang tersebut.

Bagaimana maksud kekayaan materi yang justru memperbudak orang? Sementara ada ajaran bahwa kita harus kaya dari semua sisi: Ilmu dan materi? Lalu apa yang dimaksud dengan kemiskinan spritual?

Kekayaan hakiki adalah kekayaan yang datang dari dalam diri kita, bukan kekayaan dari luar diri kita. Pada kenyataan hidup, semakin seseorang membutuhkan banyak benda, dia semakin lemah.

Misalnya, seseorang yang membutuhkan kacamata berarti matanya lemah. Atau seseorang yang butuh tongkat berarti kakinya lemah. Semakin banyak yang dibutuhkan, diri ini semakin lemah.

Sebaliknya, orang yang tidak banyak membutuhkan sesuatu dari luar, berarti memiliki kekayaan di dalam dirinya. Itulah hakikatnya kekayaan. Di dalam dirinya ada daya-daya yang teraktualisasi sehingga tidak butuh pada apapun.

Pada konteks ini Rasulullah pernah berdoa yang kemudian hadisnya dianggap kontroversial. Beliau berdoa, “Ya Allah jadikanlah aku orang miskin, hidup bersama orang miskin, dan kelak dibangkitkan bersama orang miskin.”

Miskin dalam hadis ini ialah orang yang kaya dalam dirinya meskipun tampak miskin dalam pandangan orang lain. Banyak orang kaya di sekitar kita tapi tampak miskin. Mereka tidak mudah mengeluh, tidak cengeng, dan selalu bahagia.

Mereka tidak merasa benda-benda di sekitarnya telah memperkayanya dan justru mensyukuri kekayaan dalam dirinya. Nah, kekayaan dalam diri itu datang dari mana?

Pertama, pasti dari Ilmu. Ilmu tak akan hilang meski kita bepergian sejauh apapun. Ini tidak seperti harta benda. Dan ilmu yang paling penting ialah makrifat Allah.

Kedua, datangnya dari spritualitas seperti suluk dan beribadah kepada Allah.

Marilah kita perhatikan makna puasa (shaum) menurut Ibnu Arabi. Menurutnya, kalau kita mengurangi makan atau sesuatu yang seharusnya masuk ke dalam tubuh, berarti kita mencari makan dalam ruh. Kita mencari makanan dari asupan-asupan yang sumbernya dari dalam diri kita sendiri.

Pembahasan ini panjang, tapi intinya, kita menjadikan diri kita ‘kenyang’ dari asupan-asupan yang ada di dalam diri kita. (MK)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*