Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Islam Nusantara

Islam Nusantara

Gebang Tinatar: Masterplan Peradaban Pesantren (1)

Pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Santri datang silih berganti. Yang hidup menggantikan yang mati. Pesantren ini mungkin tinggal kenangan dan sisa-sisa bangunan yang terus diziarahi, tapi ilmu yang diajarkannya terus menggelora dalam sanubari para santri. Keikhlasan para kiai itu telah menjelma ribuan bahkan jutaan pahala yang menemani sejuk… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (8): Masjid Kuno Bayan Beleq (2)

“Masjid ini bentuknya harus dipertahankan sebagaimana bentuk aslinya terdahulu, dan tidak ada seorangpun yang boleh memperbaiki masjid ini terkecuali masyarakat adat setempat. Material bekas masjid ini pun terlarang untuk digunakan kembali pada bangunan apapun.” –O– Di dalam Masjid Kuno Bayan, pada bagian atas mimbarnya terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian badan Naga tersebut terdapat gambar… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (7): Masjid Kuno Bayan Beleq (1)

“Tidak semua orang diperbolehkan shalat di masjid ini adalah karena dulunya masjid ini hanya satu-satunya masjid yang berada di Lombok. Bagian dalam masjid hanya mampu menampung sebanyak 40 orang, oleh karena itu hanya pemuka-pemuka agama dari perwakilan tiap daerah Lombok yang bisa salat di sini.” –O– Masjid Bayan Beleq adalah masjid tertua di Pulau Lombok.… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (6): Dakwah Tuan Guru (2)

“Pemberontakan Tuan Guru tidak mudah dipadamkan oleh Belanda dan berlangsung terus sampai tahun 1894. Pemberontakan itu berpusat di Praya (Lombok Tengah), dan pucuk pimpinannya adalah Guru Bangkol, seorang bangsawan setempat, yang sekaligus salah seorang guru tarekat Naqsyabandiyah.” –O– Orang Jawa, Makasar, Bugis, Bali, Belanda dan Jepang berhasil menguasai Lombok lebih kurang satu millennium. Kerajaan Hindu-Majapahit… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (5): Dakwah Tuan Guru (1)

“Para pelajar asli Lombok yang naik haji dan menimba ilmu Mekah, sepulangnya dari sana mereka menemukan kejanggalan ajaran Islam di Lombok. Ternyata ajaran agama Islam tidak sepenuhnya dilaksanakan dan masih bercampur baur dengan ajaran animisme dan dinamisme warisan nenek moyang. Mereka bertekad untuk membuat perubahan, mereka adalah yang dikenal dengan sebutan Tuan Guru.” –O– Pada… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (4): Strategi Penyebaran Islam (2)

“Pembinaan Islam yang diutamakan di Lombok adalah kesadaran ketuhanan dan ibadah dengan pendekatan yang bersifat sufistik. Pola sufisme sinkretik dipandang efektif untuk syiar Islam saat itu dan lebih mudah diterima. Sampai dengan penghujung abad ke-17 M, Islam sudah tersebar di seluruh pulau Lombok.” –O– Para penyebar agama Islam di Lombok yang dimulai oleh Sunan Prapen… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (3): Strategi Penyebaran Islam (1)

“Wayang Lombok menceritakan kisah tentang kepahlawanan dalam Islam seperti Lakon Perang Badar yang terkenal dengan sebutan ‘Awang Media’, Sayyidinâ Alî bin Abî Thâlib yang dilukiskan sebagai ‘Selander Alam Dahur’, dan Abû Lahab (si tukang fitnah) yang dinamai ‘Baktak’.” –O– Menurut babad Lombok, Sunan Giri memerintahkan tiga orang dari muridnya yaitu: Lembu Mangkurat untuk mengislamkan Banjarmasin;… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (2): Masuknya Islam

“Agama Islam masuk di pulau Lombok kira-kira abad ke-16 M, diperkenalkan oleh Sunan Prapen (Sayyid Maulana Muhammad Fadlullah), putra Sunan Giri (salah satu Wali Songo). Maka setelah kedatangannya, masyarakat Lombok yang tadinya beragama Hindu-Jawa, beralih ke agama Islam.” –O– Deskripsi tentang sejarah masuknya Islam ke Lombok dapat menjelaskan kenapa Islam di Lombok dapat terbagi menjadi… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam di Lombok (1): Pulau Seribu Masjid

“Ada dua jenis praktik agama Islam di Lombok, yaitu Waktu Lima dan Wetu Telu. Islam Waktu Lima mempraktikan rukun Islam, sedangkan Islam Wetu Telu tidak. Islam Wetu Telu masih sangat kuat berpegang teguh pada adat-istiadat nenek moyang, misalnya mereka shalat dzuhur hanya sekali pada hari Jum’at, atau sembahyang pada hari Kamis sore, atau sembahyang subuh… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Syeikh Syamsuddin Wasil (4)

  “Terlepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syeikh Syamsuddin Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang diyakini sebagai guru rohani Sri Mapanji Jayabaya. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di… Teruskan Membaca