Kesultanan Demak (21): Transisi Politik di Nusantara (7)

in Islam Nusantara

Setelah takluknya Kesultanan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511, Kesultanan Demak segera bangkit menggantikan Malaka. Dalam waktu singkat, Demak menjadi pusat perdagangan, otoritas politik, dan sekaligus pusat Pendidikan Islam paling maju. Situasi ini secara otomatis mengangkat pamor Kesultanan Demak sebagai pusat episentrum peradaban di Nusantara.

Gambar ilustrasi. Sumber: salamadian.com

Pada tahun 1511, Kesultanan Malaka berhasil sepenuhnya dikuasai oleh Portugis. Sayangnya, Portugis ternyata tak mampu mewarisi sistem perdagangan canggih yang sudah dirintis oleh Malaka. Sehingga praktis, keruntuhan Malaka mengubah skema sistem perdagangan di Kawasan Asia, khususnya di Nusantara.[1]

Dalam situasi seperti itu, Kesultanan Demak dengan cekatan mengambil alih dominasi perdagangan di Nusantara, dengan memanfaatkan instrument perdagangan yang dimiliki Malaka, yaitu Bahasa Melayu, Jaringan Pendidikan keulamaan, dan tentu saja, agama Islam. Ketiga instrument ini, pada masa selanjutnya membentuk sebuah ranah kebudayaan sendiri yang khas Nusantara.

Terkait hal ini, Prof. Azyumardi Azra, dalam salah satu tulisannya mengatakan, “Kaum muslim Nusantara tidak hanya memiliki ortodoksi Islam yang bersumber dari para ulama otoritatif, tapi wilayah Nusantara sendiri terbentuk menjadi ranah budaya Islam (Isilamic Culture Spheres) yang distingtif. Wilayah Muslim Nusantara adalah salah satu dari delapan ranah budaya Islam yang memiliki distingsi masing-masing. Kedelapan ranah budaya itu antara lain, Arab; Persia atau Iran; Turki, Anak Benua India; Nusantara; China atau Asia Timur; Afrika Sudan atau Afrika Hitam atau Afrika Sub-Sahara; dan Belahan dunia Barat.”[2]

Menurut Azra, masing-masing dari ranah budaya Islam tersebut memiliki faktor pemersatu seperti bahasa, budaya dan tradisi sosial khas, sehingga ekspresi sosial-budaya dan politiknya pun berbeda-beda. Ranah budaya Islam Nusantara mengandung sejumlah faktor pemersatu, yang membuat kaum Muslimin Indonesia dari berbagai suku, traidisi, dan adat istiadat berada dalam satu kesatuan. Faktor pemersatu itu antara lain, tradisi keulamaan dan keilmuan Islam yang sama, bahasa Melayu sebagai lingua franca dan tradisi sosial budaya dan adat istiadat yang memiliki banyak kesamaan daripada perbedaan.[3]

Dari tiga faktor pemersatu yang disampaikan oleh Azra, faktor tradisi keulamaan dan keilmuan Islam yang sama merupakan satu identifikasi yang kerap muncul dalam studi-studi yang dilakukan oleh para sejarawan baik dalam tema keindonesiaan, terlebih dalam tema keislaman. Di samping itu, beberapa kesimpulan lain yang umum didapat para sejarawan, bahwa Islam menyebar di Nusantara secara damai, dan mengandung muatan sufistik yang kental. Tak ayal temuan-temuan ini mengarah pada satu asumsi yang sama, bahwa Islam di Nusantara menyebar dengan dibawa oleh satu kelompok kaum yang memiliki narasi perjalanan keilmuan dan keturunan yang sama.

Dari sekian banyak pelabuhan yang ada di pesisir utara pulau Jawa, adalah Semarang, yang didaulat sebagai pelabuhan utama untuk menggantikan kedudukan Malaka. Oleh Raden Fatah, pelabuhan Semarang dijadikan pusat semua sistem perdagangan di laut Jawa yang ketika itu umumnya sudah dikuasai oleh pemeluk agama Islam. Sistem perdagangan ini terhubung dengan Kesultanan Maluku yang juga negara Islam, dan menjadi pusat komoditi terlaris dunia, yaitu rempah-rempah.[4]

Jadi, meskipun Potugis sudah berhasil menaklukkan Malaka, namun tidak otomatis berhasil mengambil alih monopoli perdagangan di Nusantara dan Asia. Dengan adanya Kesultanan Demak, para pelancong dari China dan berbagai tempat di Asia, mulai berdatangan ke Jawa untuk mengambil komoditi berkualitas dari Nusantara.

Dalam waktu cepat, Pulau Jawa menjadi pusat perdagangan, otoritas politik, dan sekaligus pusat Pendidikan Islam paling maju. Situasi ini secara otomatis mengangkat pamor Kesultanan Demak sebagai pusat episentrum peradaban di Nusantara.

Pada tahun 1518, Adipati Unus naik tahta sebagai Raja di Kesultanan Demak. Tidak terlalu banyak informasi yang bisa kita dapatkan terkait era pemerintahannya. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Adipati Unus tetap meneruskan pembangunan armada lautnya di Jepara. Dengan pengalaman dari pertempuran sebelumnya di tahun 1513, Adipati Unus memodifikasi sejumlah armada lautnya untuk kembali menyerang Malaka. Pada tahun 1521, serangan kedua pun dilancarkan.[5] Namun lagi-lagi, serangan itupun gagal, dan mengakibatkan gugurnya Adipati Unus. (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Sebagaimana dikatakan oleh Ricklefs, meski Portugis sudah menguasai Pelabuhan Malaka, tapi segera menjadi jelas bahwa mereka tidak menguasai perdagangan Asia yang berpusat di sana. Portugis menguasai banyak masalah. Mereka tak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan sangat bergantung pada para pedagang pemasok bahan makanan dari Asia seperti halnya para penguasa Melayu sebelumnya di Malaka. Mereka kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi mereka ditandai dengan perintah-perintah yang saling tumpang tindih dan membingungkan, tidak efisien, serta korupsi yang marak terjadi. Bahkan gubernur mereka sendiri di Malaka, turut berdagang demi keuntungan pribadi di pelabuhan Malaka, Johor, yang pajak dan harga barang-barangnya lebih rendah, dan dengan demikian melanggar monopoli yang seharusnya mereka jaga. Sehingga para pedagang Asia mengalihkan sebagian besar perdagangan mereka ke pelabuhan-pelabuhan lain dan menghindari monopoli Portugis dengan mudah. Lihat, Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 34

[2] Lihat, Prof. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Nusantara, dalam ‘Islam Nusantara; Dari Ushul Fiqh hingga Paham Kebangsaan”, Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (Edt), Bandung, Mizan, 2016, hal. 172

[3] Ibid

[4] Lihat, Prof. Dr. Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerjaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara, Yogyakarta, LkiS, 2005, hal. 195-196

[5] Ibid, hal. 216

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*