Mozaik Peradaban Islam

Kesultanan Demak (20): Transisi Politik di Nusantara (6)

in Islam Nusantara

Pada tahun 1513, armada gabungan nusantara menyerang Malaka. Tapi dengan mudah serangan mereka bisa dikalahkan oleh Portugis. Akan tetapi, meski sudah menguasai Malaka, Pelabuhan internasional yang luar biasa ini ternyata menjadi kutukan di tangan Bangsa Portugis. Hingga berakhir kekuasaannya di sana tahun 1641, Portugis tak kunjung menguasai jaringan perdagangan di Asia.  

Gambar Ilustrasi. Sumbet: http://en.topimpressionists.com

Afonso de Albuquerque tinggal di Malaka sampai bulan November 1511. Setelah membangun banteng-benteng dan memperbaiki sistem pertahanan di Pelabuhan Malaka, diapun kembali ke India dengan sebuah kapal besar namun tidak terawat. Dia pergi membawa banyak barang pampasan perang dari Malaka. Tapi sesampainya di lepas pantai Sumatera, kapal yang ditumpanginya karam beserta barang-barang yang dibawanya. Namun demikian, Albuquerque berhasil selamat dan berhasil mencapai India.[1]

Pada pertengahan tahun 1513, datanglah serangan gabungan Angkatan laut Nusantara yang dipimpin Adipati Unus ke Malaka. Menurut laporan Tome Pires dalam Suma Oriental, usia Adipati Unus ketika memimpin pasukan gabungan Angkatan laut Nusantara adalah sekitar 25 tahun. Tapi meskipun muda, wibawanya sangat besar bila dibanding dengan pemuka di tanah Jawa lainnya.[2] Sehingga tidak mengherankan bila hanya dalam waktu satu tahun, dia sudah berhasil menggalang kekuatan yang melibatkan partisipasi dari hampir seluruh Angkatan perang di pesisir utara Jawa, Kalimantan dan Sumatera.

Dalam Novel sejarah berjudul “Arus Balik”, Pramoedya Ananta Toer mengambarkan bagaimana masyarakat Tuban ketika itu berdecak kagum dengan banyaknya kapal-kapal (jung) perang yang bergerak ke Jepara. Dikisahkan Pram, Adipati Tuban ketika itu memerintahkan agar pasukannya berjalan dulu ke Jepara untuk bergabung di bawah komando Adipati Unus.[3]

Setelah berkumpul semua armada laut dari pesisir utara Jawa, Adipati Unus bergerak menuju Malaka. Di perairan sekitar Selat Karimata dan Bangka, sejumlah armada dari Palembang juga sudah menunggu untuk bergabung. Tapi sebagaimana sejarah mencatat, pasukan ini hancur lebur diterjang Meriam Portugis, dan Adipati Unus pun pulang ke Jepara dalam kondisi kalah.[4]

Menurut laporan Tome Pires, sesampainya di pelabuhan Malaka, armada perang Nusantara tersebut langsung memasang formasi menyerang. Tapi mereka tak mampu bertahan dalam posisi jangkarnya lebih dari enam jam. Hanya 7 sampai 8 kapal saja yang bisa kembali dengan selamat, sedang sisanya, ada yang karam dan ada pula yang dirampas oleh Portugis.[5]

Besar kemungkinan, kekalahan ini disebabkan oleh selisih agregat teknologi. Meriam-meriam Portugis ketika itu terkenal dengan daya tembaknya yang jauh melampaui jarak tembak senjata orang-orang nusantara. Teknologi ini mereka dapatkan dari pengalaman selama berkonflik dengan dunia Islam. Keampuhan senjata ini pertama kali disaksikan dunia ketika Kesultanan Turki Utsmani berhasil merobohkan banteng Konstantinopel.[6] Sejak itu, senjata tersebut menjadi primadona di medan perang manapun.

Meski telah mengalami kekalahan cukup telak, tapi nyala perlawanan di hati Adipati Unus tetap menyala. Sisa kapal yang compang camping dilabrak Meriam, dia pajang diperairan Jepara, sebagai pengingat bahwa perlawanan masih akan terus berlanjut. Di sisi lain, disebabkan perlawanan yang dilakukannya, hubungan pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa dengan Malaka menjadi rusak. Banyak komoditi dari Jawa yang biasanya disuplai melalui Malaka harus mangkrak, karena kehilangan akses ke pasar dunia.  

Tapi ternyata, hal yang sama juga di alami Portugis di Malaka. Meski sudah berhasil menaklukkan Kesultanan Malaka, tapi aliran perdagangan ke tempat itu terus menurun. Malaka menjadi pasar yang sepi, karena ditinggalkan oleh para pedagang. Hingga berakhir kekuasaannya di sana tahun 1641, Portugis tak kunjung menguasai jaringan perdagangan di Asia. [7] Pelabuhan internasional yang luar biasa ini ternyata menjadi kutukan di tangan Bangsa Portugis.

Sebagaimana dikatakan oleh Ricklefs, meski Portugis sudah menguasai Pelabuhan Malaka, tapi segera menjadi jelas bahwa mereka tidak menguasai perdagangan Asia yang berpusat di sana. Portugis menguasai banyak masalah. Mereka tak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan sangat bergantung pada para pedagang pemasok bahan makanan dari Asia seperti halnya para penguasa Melayu sebelumnya di Malaka.

Mereka kekurangan dana dan sumber daya manusia. Organisasi mereka ditandai dengan perintah-perintah yang saling tumpang tindih dan membingungkan, tidak efisien, serta korupsi yang marak terjadi. Bahkan gubernur mereka sendiri di Malaka, turut berdagang demi keuntungan pribadi di pelabuhan Malaka, Johor, yang pajak dan harga barang-barangnya lebih rendah, dan dengan demikian melanggar monopoli yang seharusnya mereka jaga. Sehingga para pedagang Asia mengalihkan sebagian besar perdagangan mereka ke pelabuhan-pelabuhan lain dan menghindari monopoli Portugis dengan mudah.[8] (AL)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1991, hal. 33

[2] Lihat, The Suma Oriental of Tome Pires, An Account of The East, From The Red Sea To Japan, Written In Malacca And India In 1512-1515, And The Book of Francisco Rodrigues, Rutter of A Voyage In The Red Sea, Nautical Rules, Almanack And Maps, Written And Drawn In The East Before 1515, Translated from The Portuguse MS in the Bibliotheque de la Chambre de Diputes, Paris, and Edit by Armando Cortesao, Volume I, (London: Printed For The Hakluyt Society, 1994), hal. 188

[3] Lihat, Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik, (Jakarta: Hasta Mitra, 2002), hal. 184

[4] Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit, hal. 58

[5] Lihat, The Suma Oriental of Tome Pires, Op Cit

[6] Uraian lebih jauh mengenai sejarah penggunaan Meriam oleh Kesultanan Utsmani dalam penaklukkan Konstantinopel bisa menakses link berikut: https://ganaislamika.com/kesultanan-ustmaniyah-menaklukan-konstantinopel-2-meriam-raksasa/

[7] Pada tahun 1641, Malaka berhasil ditaklukkan kembali setelah terjadi persekutuan antara VOC dengan Kesultanan Johor untuk menyerang Portugis. Lihat, M.C. Ricklefs, Op Cit, hal. 48

[8] Ibid, hal. 34

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*