Mozaik Peradaban Islam

Al-Quran Raksasa dari Wonosobo

in Kaligrafi

“Al-Quran ini mulai dibuat dari sejak tahun 1991, dan hingga kini, sudah ada sembilan al-Quran yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta (TMII) , Masjid Agung Makassar,  Semarang, Depok,  serta beberapa kota besar lainnya. Bahkan pada tahun 2006 lalu salah satunya dipesan khusus untuk Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam.”

–O–

Pembuat hiasan ornamen al-Quran Akbar, Anas Ma’ruf menunjukkan Alquran Akbar di Wonosobo. Photo: Antara/Anis Efizudin.

Di Wonosobo, Jawa Tengah terdapat tempat pembuatan al-Quran dengan ukuran raksasa atau sering disebut al-Quran Akbar. Al-Quran ini berukuran 200 x 150 cm, dengan halaman sebanyak 315 halaman, yang membuatnya menjadi tebal sekitar 25 cm. Berat total al-Quran ini mencapai 315 kg. Bahan dasarnya terbuat dari kertas HVS yang dipesan secara khusus dengan kualitas premium, diklaim memiliki daya tahan yang panjang, yakni 150 tahun.

Kalimat al-Quran yang dituliskan pada al-Quran tersebut ditulis dengan menggunakan alat tulis tradisional, yakni bambu yang diruncingkan. Maka, tak heran, proses pembuatan al-Quran ini dapat memakan waktu sampai bertahun-tahun, dan memakan biaya yang lumayan besar, yakni 100 juta Rupiah per satu al-Quran.

Pembuatan al-Quran Akbar ini awalnya digagas oleh seorang ulama ternama, Kyai Haji Muntaha al-Hafidz , dengan tujuan menyebarkan agama ke penjuru nusantara sekaligus agar al-Quran selalu dibaca oleh umat muslim. Namun, penulisnya sendiri adalah Hayatuddin, seorang dosen kaligrafi di Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ), sekaligus pengurus pondok pesantren Al-Asy’ariyyah, di Wonosobo.

Hayatuddin mulai membuat al-Quran ini dari sejak tahun 1991, dan hingga kini, dia telah menyelesaikan sembilan al-Quran. Al-Quran Akbar sudah tersebar di berbagai kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta (TMII) , Masjid Agung Makassar,  Semarang, Depok,  serta beberapa kota besar lainnya. Bahkan pada tahun 2006 lalu salah satu karyanya dipesan khusus untuk menjadi hadiah untuk Sultan Hassanal Bolkiah, di Brunei Darussalam.[1]

Al-Quran karya Hayatuddin di Masjid Agung Makassar. Photo: merdeka.com

 

Proses Pembuatan

Penulisan al-Quran dilakukan setiap hari oleh Hayatudin bersama ke empat rekannya,  mulai dari pukul 8 pagi hingga malam hari. Sebagaimana tradisi seorang khattat (penulis kaligrafi) yang telah bertahan selama berabad-abad, bahwa ketika hendak menulis ayat suci al-Quran, mereka diwajibkan harus selalu dalam keadaan bersuci.

Dalam bukunya yang berjudul Calligraphy and Islamic Culture, Annemarie Schimmel, menjelaskan pentingnya bersuci bagi seorang khattat. Seorang khattat harus memiliki karakter yang lembut dan memiliki sifat sederhana. Selain itu, karena yang akan ditulisnya adalah ayat-ayat suci, maka dia pun tidak boleh kotor sepanjang waktu. Sebagaimana yang dinasihatkan oleh Sultan Ali, penulis kaligrafi abad pertengahan, yang mahir dalam membuat rima dalam karyanya yang berjudul Sirat as-sutur—atau Sirat al-khatt (cara membuat garis dalam tulisan) pada tahun 1514, yang mana karya tersebut disalin ulang oleh master kaligrafi gaya Nasta’liq, Mir-Imad.

Artikel Terkait:

Dia berkisah, “saya menemui seorang khattat wanita yang mempunyai pekerjaan menyulam tulisan berwarna emas pada pakaian untuk jenazah, setiap pagi sebelum berangkat untuk bekerja dia selalu melaksanakan ritual mandi besar (ghusl—bahasa Arab).”

Pada tahapan yang lebih rendah, walaupun tidak melaksanakan mandi besar setiap harinya, paling tidak seorang khattat wajib selalu dalam keadaan suci, yakni dengan cara memperbaharui wudhu-nya secara terus menerus apabila dia membatalkannya. Kesucian dalam penulisan adalah kesucian dalam jiwa, dan kesucian ini akan terpancar pada tampilan luarnya juga. Tujuan tertinggi dari seorang khattat adalah menulis ayat suci Al-quran dengan benar dan indah, maka dari itu kesucian adalah syarat utama bagi seorang khattat, sebagaimana tercantum dalam ayat al-Quran itu sendiri:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS Al-Waqi’ah Ayat 79)[2]

Begitu pula dengan Hayatuddin dan kawan-kawan, mereka juga meyakini hal yang serupa, bahwa ketika menuliskan ayat suci, mereka harus memastikan dirinya berada dalam keadaan suci. Sebelum menulis, mereka selalu berwudhu terlebih dahulu.

Untuk proses awal penulisan, Hayatuddin harus membuat sketsa tulisan menggunakan pensil di atas kertas yang dipesan khusus untuk al-Quran Akbar ini. Setelahnya, barulah sketsanya ditebalkan menggunakan tinta khusus yang diracik sendiri oleh Hayatudin, ditulis menggunakan bambu yang diruncingkan. Kemudian agar tampak lebih rapi dan indah, ornamen penghias al-Quran dicetak  menggunakan alat sablon secara manual.

Hayatuddin sedang menulis al-Quran Akbar. Photo: Seputar Wonosobo/Flickr

Adapun mengenai gaya kaligrafi, jenis tulisan yang digunakan untuk isi al-Quran tersebut adalah Khat Naskhi, dan untuk nama-nama suratnya menggunakan Khat Tsuluts (ada banyak gaya kaligrafi di dunia, di antaranya gaya Arab, Persia, Turki, dan Maroko, namun yang disebut ini keduanya merupakan gaya Arab). Dan yang terakhir, untuk ornamennya dibuat oleh Anas Makruf.[3]

Hayatuddin mengatakan, untuk menyelesaikan al-Quran Akbar membutuhkan waktu 1,5 hingga 3 tahun. Hal ini tergantung dari deadline yang ditentukan. “Untuk menyelesaikan satu al-Quran berukuran besar ini tidak sama. Tergantung yang memesan atau mau diserahkan kapan,” kata Hayatuddin.

Delegasi Afghanistan melihat al-Quran Akbar saat kunjungan ke Wonosobo. Photo: wonosobozone.com

Di momen bulan Ramadhan tahun 2018 ini, Hayatuddin sedang menggarap al-Quran Akbar yang nantinya akan diberikan sebagai hadiah kepada Jokowi, Presiden Indonesia. “Saya akan memulainya pada tanggal 17 Bulan Ramadan. Al-Quran ini akan dikirim ke Istana Negara untuk pak Jokowi,” ujarnya.

Untuk itu, dia menargetkan, agar al-Quran raksasa ini sudah bisa selesai sebelum pemilihan presiden. Sehingga, bisa langsung diterima oleh Presiden Joko Widodo. “Untuk targetnya harus jadi selama Pak Jokowi masih menjabat sebagai Presiden Indonesia,” kata dia.[4] (PH)

Catatan Kaki:

[1] Marwan Albab, “Pembuatan Al qur’an Raksasa Butuh Waktu Hingga Tiga Tahun”, dari laman https://newsplus.antvklik.com/news/pembuatan-al-quran-raksasa-butuh-waktu-hingga-tiga-tahun, diakses 27 Mei 2018.

[2] Annemarie Schimmel, Calligraphy and Islamic Culture (London: I.B Tauris & Co Ltd, 1990), hlm 37.

[3] Rizal, “Ada Tulisan Jokowi, Ini Uniknya Alquran Raksasa Wonosobo”, dari laman https://news.idntimes.com/indonesia/rizal/alquran-raksasa-wonosobo/full, diakses 27 Mei 2018.

[4] Uje Hartono, “Melihat Alquran Raksasa dari Wonosobo untuk Presiden Jokowi”, dari laman https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4040861/melihat-alquran-raksasa-dari-wonosobo-untuk-presiden-jokowi?_ga=2.179606372.1718107338.1527415991-1497653977.1526141049, diakses 27 Mei 2018.