Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Studi Islam

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (5): Tauhid dan Evolusi (2)

Tuhan yang terusir dari alam, bersama munculnya Darwin, bukanlah model Tuhan yang cukup canggih, meski amat populer. Dia adalah Tuhan yang, bagaikan tukang jam, menciptakan sesuatu di suatu saat tertentu, dan kemudian absen dari alam semesta. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Muthahhari menunjukkan bahwa “sistem penciptaan” yang diacu Alquran di banyak tempat mencakup segala macam proses… Teruskan Membaca

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (4): Tauhid dan Evolusi (1)

Muthahhari mengkritik “logika kaum beragama”, yang ketika menemui kebuntuan, ujung-ujungnya menyatakan bahwa kehidupan merupakan hasil intervensi Tuhan terhadap alam. Baginya, “Tuhan” ini diciptakan untuk menutupi ketidaktahuan manusia. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Muthahhari mengkritik keras Muslim “yang berpikir bahwa tauhid hanya bisa ditegaskan dengan menolak teori evolusi.” Dia menilai ada perbedaan krusial antara “logika Alquran” dengan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (3): Ilustrasi: Teori Evolusi dan Argumen Desain

Muhammad Iqbal menyatakan bahwa argumen desain hanya mampu menyimpulkan Tuhan sebagai tukang yang trampil, yang selesai mencipta di masa lalu, dan terpisah dari alam hasil karya-Nya. Bagi Iqbal, aktifitas pertukangan ini tak layak disebut “penciptaan”. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Mesti diakui bahwa teori evolusi merupakan tantangan yang amat serius terhadap agama. Meski demikian, bisa jadi… Teruskan Membaca

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (2): Posisi Muthahhari

Sains terbatas karena, tak seperti agama, ia tak mampu menyalakan harapan manusia, menumbuhkan cinta, ataupun menegaskan tujuan dan maksud segala perkembangan yang dipicunya sendiri. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Di mana posisi Muthahhari dalam pemetaan kasar ini? Tampaknya agak sulit menemukan posisinya. Kita bisa dengan segera mengatakan bahwa Muthahhari tidak dapat dimasukkan ke kelompok (1) dan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Islam dan Sains Modern: Perspektif Muthahhari (1): Ragam Tanggapan Muslim terhadap Sains Modern

Banyak ilmuwan Islam yang menjustifikasi sikap mereka dengan mengatakan bahwa sains modern adalah semata-mata perkembangan lebih lanjut dari apa yang berkembang dalam peradaban Islam. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Ada beberapa tipologi yang menggambarkan ragam tanggapan Muslim terhadap sains modern.[2]  Di sini saya tak ingin membahasnya secara spesifik, namun sekadar secara sederhana mencoba memetakan empat kecenderungan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (13)

Melalui instrumen kebudayaan inilah para Wali Songo memperkenalkan ajaran Islam yang ramatan lil alamain dan menegakkan apa yang disebut Rendra sebagai “Daulat manusia”. Salah satu contoh, bila sebelum adanya Islam, lakon perwayangan berisi narasi tentang para elit, pada era Wali Songo, masyarakat diperkenalkan lebih jauh dengan lakon Punakawan, yang tokoh-tokohnya adalah rakyat jelata. Namun demikian,… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (12)

Meski konsep nilai yang diusul Kesultanan Demak terbilang baru bagi masyarakat Jawa, tapi kehadirannya tidak mengubah sistem dan tatanan kehidupan masyarakat. Sebaliknya, menurut Agus Sunyoto, sistem hukum dan konsep hirarki kesultanan sebenarnya men-copy paste apa yang sebelumnya sudah ada di era Majapahit. Rendra, dalam pidato kebudayaanya yang berjudul Megatruh, menilai bahwa “daulat manusia” baru kenal… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (11)

Pada masa Kesultanan Demak, masyarakat penuh harga diri dan pasti diri. Ini semua karena mereka merasa punya jaminan kepastian hidup. Dan kepastian hidup ada karena adanya daulat hukum yang tertera dalam kitab “Salokantara” dan “Jugul Muda” ialah kitab UU Demak yang punya landasan syariah agama Islam, yang mengakui bahwa semua manusia itu sama derajatnya, sama-sama… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Luth (12): Kembali Bersama Ibrahim

Qatadah bin an-Numan meriwayatkan bahwa penduduk Sodom terdiri dari empat juta jiwa. Dan setelah peristiwa penghancuran, Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa kota-kota dan nama mereka dihapuskan dari muka bumi. Lalu ingatan tentang mereka dihapuskan. Alquran di dalam Surat an-Najm Ayat 53-54 berkata: “Dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan itu, Dia membinasakan(nya) lalu menutupinya dan sungguh mengerikan ketertutupan itu.”… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Luth (11): Turunnya Azab (2)

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan yang di atasnya ke bawahnya dan Kami hujani mereka dengan (batu) sijjil” (Q.S al-Hijr [15]: 73-74) Peristiwa diazabnya umat Nabi Luth di kota Sodom diabadikan di dalam ayat Alquran yang berbunyi: “Dan Kami hujani atas mereka hujan (batu), maka lihatlah… Teruskan Membaca