Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Studi Islam

Studi Islam

Shirathal Mustaqim dalam Pandangan Ibnu Arabi (3): Semua Memiliki Jalan menuju Allah (2)

Ibnu Arabi menjelaskan bahwa meninggalkan istiqamah terkadang juga suatu keharusan dalam istiqamah. Pasalnya, di dalam istiqamah juga ada bengkoknya. Tanpa kemungkinan bengkok sama sekali tidak ada makna istiqamah. Tiada apapun di kosmos ini kecuali beristiqamah, karena Allah yang mewujudkannya berada di Shirathal Mustaqim (jalan yang istiqomah). Allah adalah Rabbnya. Jika sabil-sabil itu saling berhimpitan dan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Shirathal Mustaqim dalam Pandangan Ibnu Arabi (2): Semua Memiliki Jalan menuju Allah (1)

Allah menurunkan apa yang sesuai dengan keunikan lokus manifestasi ilahi yang berbeda-beda. Allah berfirman, “Untuk tiap-tiap umat di antara kalian Kami berikan aturan (syariat) dan jalan yang terang (minhaj).” Salah satu metode Ibnu Arabi yang lazim kita saksikan dalam melihat perbedaan pendapat adalah mensitesiskan semuanya. Meski pendekatan ini bisa dikaitkan dengan kaidah umum di kalangan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (19): Cahaya di Atas Cahaya (6): Alur Penciptaan

Manusia, sebagian menyerap kehidupan fisik yang serba-sementara, sebagian lain menembus kehidupan non-fisik yang tak-terbatas, dan sebagian lain melebur dan menyatu dengan Sumber Kehidupan Mutlak. Allah SWT berfirman: Dialah yang menurunkan air dari langit, kemudian lembah-lembah mengalirkannya sesuai dengan kadar masing-masing. Arus air lalu membawa buih yang mengapung. Pada apa (logam) yang mereka leburkan dalam api… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (18): Cahaya di Atas Cahaya (5): Prinsip Kadar dan Keadilan Ilahi

Kegelapan sebenarnya adalah keadaan tiada atau kurang cahaya (amr ‘admy), karena cahaya adalah kecemerlangan yang mewujud secara nyata. Jadi, kezaliman identik dengan kekurangan dan ketiadaan. Dalam bahasa Alquran, kekuasaan antara lain diungkapkan dengan kata قدرة (qudrah). Qudrah berakar dari kata yang sama dengan  قدر (qadr) dan berarti kadar atau ukuran. Dengan demikian, ketika Alquran menyebut… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (17): Cahaya di Atas Cahaya (4): Cahaya Ilahi (2)

An-Nasafi menulis: “Ayat ‘Dia menciptakan tujuh langit’ (QS 65: 12) tidak membuktikan bahwa tidak ada lagi langit yang lain kecuali yang tujuh itu.” Dalam sebuah hadis, Baginda Nabi bersabda: “Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan Allah ke dalam hati seorang hamba yang dikehendaki-Nya.” Ilmu disebut cahaya karena memang ilmu itu bersifat terang dan menerangi pemiliknya. Dengan… Teruskan Membaca

Studi Islam

Shirathal Mustaqim dalam Pandangan Ibnu Arabi (1): Suluki dan Wujudi

“Muhammad Nabi di Shirathal Mustaqim Suluki yang memiliki kembarannya sebagai Nur Muhammad di Shirathal Mustaqim Wujudi” Istilah Shirathal Mustaqim beberapa kali ditemukan di dalam Alquran. Di antaranya adalah di dalam Surah Hud ayat 63, yang berbunyi: إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ… Teruskan Membaca

Studi Islam

Perjalanan Mengetahui

Musa melemparkan tongkatnya, tirai-tirai alam fenomenal tersingkapkan dari pandangannya. Barulah kemudian, di balik tirai bentuk-bentuk fenomenal itu dia menyaksikan kemahakuasaan Realitas Mutlak. Perjalanan manusia dimulai dari kebodohan (jahl), berlanjut kepada pandangan dari kejauhan yang disebut dengan keraguan (syakk). Pengetahuan (‘ilm) didapatnya ketika ia mulai mendekat dan menghampiri apa yang dipandangnya dari kejauhan itu. Pada tahap… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (15): Cahaya di Atas Cahaya (2): Allah sebagai Pencipta

Semua penciptaan yang dilakukan setiap manusia, yang bukan Allah, sebenarnya hanyalah sebatas rancangan, rangkaian, atau pengembangan. Kata خلق dalam bahasa Arab biasa diterjemahkan menjadi mencipta. Ketika Allah berkata bahwa Dia mencipta, maksudnya jelas bukanlah seperti tindak mencipta pada manusia. Karena, semua pencipta selain Allah sebenarnya adalah perancang, perangkai, atau pengembang. Misalnya, ketika Thomas Alva Edison… Teruskan Membaca

Studi Islam

Mengenal Kaum Khawarij, Mereka yang Keluar dari Barisan

“Mereka (Khawarij) telah punah, wahai Amirul Mukminin!” Ali menjawab, “Tidak! Demi Allah, mereka masih ada dalam sulbi-sulbi kaum pria dan rahim-rahim kaum wanita.” Abu Said Al-Khudri pernah mengabarkan peristiwa berikut: Suatu kali Nabi mengumpulkan para sahabat untuk melakukan pembagian harta. Tiba-tiba seseorang yang bernama Abdullah bin Dzil Khuwaysharah berteriak, “Berlakulah adil wahai Muhammad!” Dengan nada… Teruskan Membaca