Mozaik Peradaban Islam

Category archive

Studi Islam - page 3

Studi Islam

Warna-Warna dalam Alquran dan Tradisi Islam (3): Putih dan Hijau

Jika ada dua warna dalam Alquran yang cenderung ditampilkan sebagai simbol kebaikan, maka kedua warna itu adalah putih dan hijau. Selain predikat warna benda, Allah SWT juga menjadikan kedua warna tadi sebagai simbol kebaikan. Jika putih melambangkan kesucian dan kebahagiaan serta cahaya terang, maka hijau melambangkan kesuburan, keindahan, dan kenyamanan. Dalam Islam terutama dalam kitab… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (4): Tentang Wujud dan Kemaujudan (4): Hubungan Wujud dan Maujud (Hubungan Sebab dan Akibat atau Pencipta dan Ciptaan)

Para ahli hikmah menyebut seluruh maujud selain Wujud Mutlak atau Allah sebagai ‘bayangan’ (syabah), penampakan’ (tajalli), nama (ism), tanda (âyah) atau perumpamaan (matsal). Hubungan Wujud Mutlak dan semua maujud selain-Nya biasanya diistilahkan dengan hubungan sebab dan akibat atau hubungan ciptaan dan Pencipta. Hubungan ini tidak bisa digambarkan seolah-olah Wujud memberi kewujudan pada suatu maujud, sehingga… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (3): Tentang Wujud dan Kemaujudan (3): Ketunggalan dan Penampakan

Apabila kita membayangkan semua maujud selain Wujud Mutlak, dengan pasti kita akan menemukan bahwa semua selain Dia hanyalah pancaran dan penampakan-Nya. Seperti telah berulang-ulang ditegaskan, Wujud bersifat tunggal dan sederhana karena semua yang kita bayangkan pasti bisa kita rujukkan kepada-Nya. Dalam filsafat Islam, ada prinsip yang disebut: “صرف الشئ لا يتثنّى ولا يتكرّر” (Sesuatu pada… Teruskan Membaca

Studi Islam

Warna-warna dalam Alquran dan Tradisi Islam (2): Hijau, Kuning, Merah, dan Biru

Empat warna, yakni hijau (hadroa), kuning (sufrah), merah (hamroa), dan biru (zurqa) dengan atau tanpa variasi warna, tertera dalam Alquran. Jika hijau (hadroa) disebutkan sebanyak sembilan kali, maka kuning (sufrah) dan merah (hamroa) lima kali, dan biru (zurqa) satu kali. Selain hitam (muswadda) dan putih (baidha), maka hijau (hadroa), kuning (sufrah), merah (hamroa), dan biru… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (2): Tentang Wujud dan Kemaujudan (2): Wujud dan Cahaya

Wujud kadang-kadang digambarkan sebagai sesuatu yang tidak tampak dalam dirinya sendiri, tapi menampakkan segala sesuatu selainnya. Karena itu, wujud pada umumnya diibaratkan dengan “cahaya”. Dalam pemikiran Islam, wujud sering dikontraskan dengan mâhiyyah (ماهيّة). Wujud adalah realitas objektif (الواقع الخارجي), sedangkan mahiyah adalah gagasan  tentang realitas objektif partikular. Semua maujud partikular pasti memiliki mahiyah, sedangkan Wujud… Teruskan Membaca

Studi Islam

Warna-Warna dalam Alquran dan Tradisi Islam (1): Hitam dan Putih

Enam warna dan makna simboliknya disebutkan beberapa kali dalam Alquran. Dua di antara enam warna itu adalah hitam (muswadda) dan putih (baidho). Jika hitam – setidak-tidaknya – disebutkan empat belas kali, maka putih – paling tidak – disebutkan tiga belas kali. Dalam surat dan ayat apa serta bagaimana bunyinya? Jika diperhatikan, maka sebagian warna yang… Teruskan Membaca

Studi Islam

Pengantar Teosofi Islam (1): Tentang Wujud dan Kemaujudan (1)

Makna wujud sama dengan segala sesuatu, segala perkara, segala hal, segala tindakan, segala sebab dan akibat, segala gagasan dan acuan, segala angan-angan, dan segala-galanya. Konsep wujud hadir dalam semua yang ada sebagai sesuatu atau ke-sesuatu-an. Sesuatu dan Wujud Ada atau wujûd (وجود) adalah segala sesuatu yang kita temukan. Ia merupakan gagasan (term) yang tidak bisa… Teruskan Membaca

Studi Islam

Sejarah Fikih (1): Makna dan Penamaan

“Fikih ialah memadukan ilmu dan amal. Seorang fakih adalah orang yang memalingkan diri dari dunia, zuhud demi urusan akhirat, serta menguasai bidang agama.” (Imam Hasan al-Basri)[i] Mempelajari sejarah sebuah ilmu, pada dasarnya adalah upaya mengetahui gagasan, problem, tujuan dan buahnya, sehingga jelas manfaat mempelajarinya. Begitu pula, ketika menelaah sejarah fikih. Tinjauan Makna Secara konsepsi, fikih… Teruskan Membaca

Studi Islam

Keterbukaan Imam Bukhari terhadap Para Periwayat Syiah (3): Penerimaan Para Ulama

Imam Dhahabi berkata, “Seandainya riwayat mereka seluruhnya ditolak, maka hilanglah sebagian sunnah Nabi, dan hal ini akan menjadikan kerusakan yang nyata.” Oleh Syafiq Basri | Mantan Wartawan Tempo, Pengamat Masalah Sosial, Agama, dan Komunikasi Ibnu al-Madini (w. 234 H) telah mensinyalir, kalau saja para kritikus hadis menjadikan keyakinan periwayat sebagai acuan diterima atau ditolaknya sebuah… Teruskan Membaca

Studi Islam

Keterbukaan Imam Bukhari terhadap Para Periwayat Syiah (2): Asal-Usul Syiah dan Metode Pemilihan Hadis Sahih

Dari penelitian, dapat ditemui para periwayat hadis dari berbagai jenis kelompok Syiah, mulai Syiah biasa (ringan), Syiah berlebihan (ghuluw/mufrit shadid/jalad/muhtaraq), hingga kelompok Rafidah (sejenis sempalan Syiah yang ekstrim), yang narasinya dimuat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Oleh Syafiq Basri | Mantan Wartawan Tempo, Pengamat Masalah Sosial, Agama, dan Komunikasi Banyak pendapat tentang sejarah kemunculan… Teruskan Membaca