Kontroversi Akal dan Kalbu dalam Pembentukan Pengetahuan Manusia: Sebuah Refleksi Kritis (8)

in Studi Islam

Pada hakikatnya, kita tidak akan punya akal yang sejati, sebagaimana kita juga tidak akan punya pengetahuan yang sejati. Semua pengetahuan kita, bahkan juga eksistensi kita, hanyalah pantulan yang rambang dari Cermin Realitas Ilahi.”

Gambar ilustrasi. Sumber: rbth.com

Kesimpulan

Hadis qudsi yang menyebut akal sebagai ciptaan pertama Allah, seperti juga hadis qudsi yang menyebut nur muhammad sebagai ciptaan pertama-Nya, menujukkan betapa perjalanan manusia mendaki puncak-puncak kesempurnaan bergantung sepenuhnya pada peran akal di dalam jiwa setiap manusia dan peran Nabi di alam raya. Tanpa keduanya, tidak ada cahaya di bumi, dan manusia akan terhempas dalam lipatan gelombang kegelapan yang tak bertepi.

Dalam QS. an-Nur [24]: 35, Allah berfirman:

Allah adalah cahaya langit dan bumi.Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah ceruk (misykat) yang di dalamnya ada pelita besar (mishbah). Pelita itu sendiri ada di dalam kaca (zujaj), yang seperti bintang (bersinar) laksana mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja sudah) berpendar-pendar walaupun tak tersentuh api. (Allah adalah) cahaya di atas cahaya (yang berlapis-lapis), Allah akan membimbing sesiapa yang dikehendak-Nya, dan Allah membuat berbagai perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalam menjelaskan ayat di atas, Murtadha Muthahhari menujukkan bahwa cahaya itu tidak bersifat material, melainkan metaforis. Ia adalah ibarat dari suatu “maujud yang terang dan menerangkan.”

Alquran menyebut “iman” sebagai nur (cahaya) dalam QS. al-An‘am 122. Nabi Saw menyebut ilmu sebagai cahaya. Sejumlah teks menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai cahaya.

Al-Farabi, Ibn Sina dan al-Suhrawardi menyebut wujud sebagai cahaya. Muthahhari menyebut akal sebagai cahaya. Ibn Sina bahkan sampai mentamsilkan cahaya dalam ayat itu dengan tingkatan-tingkatan akal. Jalal al-Din Rumi menyebut cinta (‘isyq) sebagai cahaya. Dalam puisinya, Maulawi bertutur:

            Cinta berkuasa dan aku dikuasainya;

            bak bulan aku menjadi terang berkat cahaya cinta.[1]

Imam Ali menyebut Allah sebagai. “ya nur ya quddus”(Wahai Cahaya yang Mahakudus, yang terbebas dari segala ketaksempurnaan). Sebelum penggalan itu, ada kalimat yang berbunyi: “bi nuri wajhikal-ladzi adha’ a lahu kullu syay’ (Dengan Cahaya Wajah-mu yang menyinari segala sesuatu.”

Siti Fathimah Az-Zahra pernah mengajarkan doa al-Nur kepada Salman al-Farisi yang berbunyi:

            Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

            Dengan nama Allah Sang Cahaya,

            Dengan nama Allah Sang Cahayanya cahaya,

            Dengan nama Allah Sang Cahaya di atas cahaya …

            Dengan nama Allah yang menciptakan cahaya dari cahaya.[2]

Saat menjelaskan masalah jihad an-nafs, Imam Khomeini menempatkan tafakur sebagai kunci pembuka penyempurnaan manusia. Tafakur yang dimaksudkannya tak lain adalah melihat kelemahan dan ‘azm (kebulatan tekad). [3] Dan peran akal yang demikian itu sama dengan sifat cahaya yang terang dan menerangi.[4]

Barangkali itulah sebabnya seorang Mulla Shadra mensejajarkan fungsi akal manusia dengan Nabi Saw, yang sama-sama bertugas menepis kebodohan. Allah berfirman:

Sesungguhnya telah datang dari Allah kepada kalian sebuah cahaya dan kitab yang jelas. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelap-gulitaan menuju cahaya dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. 5:15-16).

Akan tetapi, sesuai dengan kaidah kebertingkatan realitas, bila dibandingkan dengan tingkat realitas yang lebih tinggi, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa akal kita pun juga berfungsi sebagai imajinasi. Ia hanyalah alat untuk menangkap citra suram dari Cahaya Kehadiran Ilahi yang pada dasarnya adalah segala sesuatu itu sendiri.

Dengan kata lain, kita tidak akan punya akal yang sejati, sebagaimana kita juga tidak akan punya pengetahuan yang sejati. Semua pengetahuan kita, bahkan juga eksistensi kita, hanyalah pantulan yang rambang dari Cermin Realitas Ilahi.

Oleh karena itu, adalah penting untuk kita sadari bahwa keraguan bukanlah kenistaan. Sebaliknya, keraguan adalah cara akal kita mengajak dan menggugah jiwa untuk berpikir. Muthahhari menuliskan:

“Tidak seperti kebanyakan orang, saya tidak pernah merasa gelisah akibat keragu-raguan dan kebingungan dalam permasalahan Islam, walaupun saya terikat dengan dan percaya pada Islam. Sebaliknya, di kedalaman hati saya, saya merasa gembira, karena saya percaya dan telah mengalami dalam masa hidup saya bahwa setiap kali dan dengan cara bagaimanapun suatu aspek dari tata hidup yang suci dan Ilahi ini diserang keraguan, ia malah mempertunjukkan diri dengan lebih kuat, lebih kukuh, lebih jelas, dan lebih cemerlang.” [5]

Mengutip dari risalah al-Ghazali berjudul Mizan Al-‘Amal, Muthahhari meneruskan:

“Perlunya nasihat kami ini hanyalah supaya anda bisa mulai meragu-ragukan konsepsi-konsepsi tradisional anda yang telah dimakan zaman, karena keraguan adalah titik-tolak penyelidikan, dan seseorang yang tidak merasa ragu tidak akan memikirkan hal-hal secara benar dan tidak akan melihat hal dengan baik, dan orang seperti itu sebenarnya hidup dalam kebutaan dan kebingungan.”[6]

Sekali lagi, tidak perlu kita cari-cari bukti untuk mengingkari keterbatasan eksistensi dan pengetahuan kita. Teori ‘ilmu hudhuri bukan untuk menunjukkan kepastian dan swa-objektivis pengetahuan Ilahi kita, melainkan mula-mula untuk menjawab keraguan akan “sifat” pengetahuan Tuhan mengenai segenap makhluk-Nya.

Ia hanya berupaya menunjukkan bahwa pengetahuan Ilahi lebih pasti dibanding dengan pengetahuan representasional kita. Karena, pengetahuan kita tentang diri kita itu sendiri, bila kita kaitkan dengan eksistensi kita yang representatif dan relatif, maka jelas ia hanyalah a pale reflection of reality (pantulan suram dari realitas).

Selanjutnya, bagaimana kita bisa punya pengetahuan yang pasti mengenai sesuatu apabila eksistensi kita sendiri saja tidak pernah punya kepastian dan kemandirian (seperti tesirat pada kata swaobjektivitas pengetahuan dengan kehadiran).

Dalam filsafat, ada kaidah yang berbunyi tsubut ash-shifah lil maushuf far’u tsubut al-maushuf, yakni bahwa penerapan predikat pada subjek sepenuhnya bergantung pada eksistensi subjek itu sendiri.

Nah, apakah ada kepastian dan kemandirian pada eksistensi subjek manusia? Jelas tidak. Seperti telah kita sebutkan di atas, substansi eksistensi manusia senantiasa berada dalam gerak naik-turun dan perubahan yang tiada henti.[7]

Singkat kata, ‘ilmu hudhuri’ yang sejati adalah milik Tuhan. Dalam filsafat Islam, manusia disebut sebagai faqid asy-syay (tidak punya apa-apa). Bagaimana mungkin kita bisa punya pengetahuan. Dan inilah makna dari apa yang disebut oleh Mulla Shadra dengan al-imkan al-faqri.[8]

Selesai

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] ‘Ali Qui Qara’i dan Mahliqa Qara’i, “Post-Ibn Rusyd Islamic Philosophy in Iran” dalam Al-Tawhid, Vol. III, No. 3, Tahun 1406, Rajab-Ramadhan.

[2] Murtadha Muthahhari, Pelajaran-pelajaran Penting dari Al-Quran, buku kedua, Jakarta: Lentera, 2001, bab VI dan VII.

[3] Ruhullah Al-Musawi al-Khomeini, Al-Arba’una Haditsan, Qum: Dar Al-Kitab Al-Islami, tanpa tahun, hal. hal. 27.

[4] Abbas Al-Qummi, Mafatih Al-Jinan, Beirut: Mu’assasah Al-A’ala Lil Mathbu’att, 1992, hal. 166.

[5] Murtadha Muthahhari, Hak-hak Wanita dalam Islam, Jakarta: Lentera, cetakan kelima, 2000, hal. 14, dengan perubahan seperlunya.

[6] Ibid.

[7] Murtadha Muthahhari, The Philosphy of Sadr Muta’allihin, At-Tauhid, vol X, No. 2 &3, Tahun 1413, Rabi’ al-Tsani-Ramadhan.

[8] Mulla Shadra, Syarh Ushul Al-Kafi, Mu’assasa-e Muthala’at va Tahqiqat Farhang, 1414/1993, Bab Akal dan Kebodohan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*