Falsafah Surga & Neraka: Sebuah Kajian Teologis dan Teleologis (3)

in Studi Islam

Berdasarkan kesimpulan dari berbagai ayat Al-Qur’an, perbuatan manusia selama di dunia akan menjelma dalam wujud yang sebenarnya di akhirat, sehingga balasan yang akan menimpa pelaku kebaikan dan keburukan, pada hakekatnya berupa wujud hakiki dari perbuatan mereka itu sendiri.

Gambar ilustrasi. Sumber: portaljember.pikiran-rakyat.com

Salah satu perbedaan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi adalah bahwa dunia merupakan tempat untuk menunaikan tugas dan tanggung jawab sementara akhirat adalah tempat menerima balasan. Imam Ali bin Abi Thalib  “Hari ini adalah untuk berbuat tanpa ada perhitungan dan esok adalah hari perhitungan tanpa ada kesempatan untuk berbuat” 

Dunia adalah tempat untuk meraih berbagai kesempurnaan, tempat perbaikan, tempat untuk menyandang berbagai karakter luhur, tempat menunaikan perbuatan baik, tempat dimana pintu taubah dan kembali masih terbuka sementara akhirat merupakan tempat untuk meraih hasil dari apa yang diupayakan di dunia, tidak ada lagi tanggung jawab, dan tidak ada lagi perbuatan dan perubahan.

Di antara perbedaan mendasar antara dunia dan akhirat adalah, berdasarkan kesimpulan dari berbagai ayat Al-Qur’an, perbuatan manusia selama di dunia akan menjelma dalam wujud yang sebenarnya di akhirat, sehingga balasan yang akan menimpa pelaku kebaikan dan keburukan, pada hakekatnya berupa wujud hakiki dari perbuatan mereka itu sendiri.

Dalam sebuah ungkapan pendek yang menggoncang, berkenaan dengan Hari Kiamat, Al-Qur’an berfirman

Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat lalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. Al-Kahfi 59)

Di ayat-ayat di bawah ini, Allah berfirman,

Hari itu manusia digiring dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka perbuatan-perbuatan mereka. Maka barang siapa melakukan amal kebaikan seberat atom niscaya ia akan melihatnya dan barang siapa melakukan kejahatan seberat atom niscaya ia akan melihatnya “ (QS. Az-Zilzal 6)

Berdasarkan prinsip tajassumul a’mal (penjelmaan amal perbuatan) tindak kezaliman di dunia akan menjelma menjadi kegelapan yang akan mengelilingi pelakunya di akhirat kelak sebagaimana yang terungkap dalam sabda Rasul saw.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala [neraka]. (QS An-Nisa’: 10)

Dalam ayat lain, Allah menyerupakan riba dengan sejenis penyakit yang membuat pemakannya mengalami jatuh-bangun, Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran [tekanan] penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti [dari mengambil riba], maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datang larangan]; dan urusannya [terserah] kepada Allah. Orang yang mengulangi [mengambil riba], maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah 275),

Lalu Allah mengumpamakan harta yang ditumpuk oleh para penimbun harta yang kikir ibarat belenggu yang memberatkan di leher para pelakunya, Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan [yang ada] di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al ‘Imran: 180)

Dalam ayat lain Allah mengumpamakan pergunjingan dengan memakan daging bangkai saudaranya. Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12).

Demikianlah sebagian perumpamaan tentang penjelmaan amal-amal perbuatan manusia di akhirat yang berbeda sama sekali dengan bentuk amal-amal itu di dunia ini.

Al-Qur’an banyak bercerita tentang kehidupan setelah mati di surga atau di neraka untuk sebagai tempat balasan perbuatan manusia dan jin kelak.

Misalnya, dalam surah Ar-Ra’ad 35, Allah menggambarkan surga sebagai berikut: Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman). mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.

Keberadaan surga ditunjukkan dengan dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dari al-Qur’an, di antaranya adalah firman Allah Swt:

 “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada Surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 13-15)

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati maka akan diperlihatkan kepadanya tempat kembalinya setiap pagi dan sore. Kalau diperlihatkan bahwa dia termasuk penghuni neraka, maka dia akan menjadi penghuni neraka. Dan Jika diperlihatkan sebagai penghuni Surga, maka dia akan menjadi penghuni Surga. Lalu dikatakan, “Inilah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari Kiamat.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi ayat dan hadis yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk Allah Swt yang telah diciptakan, sebagaimana pula dengan neraka. Maka orang yang mengingkari keyakinan ini termasuk ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah yang mengatakan bahwa surga belum diciptakan tetapi baru diciptakan pada hari Kiamat kelak. (MK)

Bersambung…

Sebelumnya:

Catatan kaki:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*