Mozaik Peradaban Islam

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (2): Meriam Raksasa

in Monumental

“Ustmaniyah membuat sebuah meriam raksasa seberat 16 ton, teknologi tercanggih pada masanya. Daya tembaknya melampaui 1,5 km. Inilah faktor kunci kemenangan mereka.”

–O–

Ilustrasi meriam raksasa dalam penaklukan Konstantinopel. Photo: historyanswers

Pada tahun 1953, walaupun masih menyandang nama besar Kekaisaran Romawi, namun pada dasarnya wilayah mereka yang sesungguhnya telah berkurang jauh dan tersisa hanya beberapa km persegi saja di Konstantinopel dan di Semenanjung Peloponnesian di Yunani selatan. Suku-suku Turki juga telah menyerang wilayah Bizantium di sekitar Anatolia dari sejak abad ke-11. Salah satu suku penyerang ini di antaranya adalah Ustmaniyah (Ottoman).[1]

Fakta bahwa Konstantinopel telah mampu bertahan terhadap berbagai macam invasi di masa lalu adalah hal yang penting untuk diingat. Berulang kali, keberhasilan Konstantinopel adalah karena sistem dinding pertahanan ganda dan paritnya yang mengesankan. Kemudian bagi mereka yang tidak mau melakukan serangan frontal melalui darat, mereka pun akan menghadapi pertahanan yang sama tangguhnya di tepi pantai, baik melalui Laut Marmara ataupun Golden Horn.[2]

 

Jumlah Pasukan

Menurut pedagang dari Venesia, Niccolò Barbaro, yang hadir di dalam pertempuran, jumlah pasukan Sultan Ottoman Mehmed II mencapai 160.000 orang. Sementara itu, George Sphrantzes, negarawan Bizantium, memperkirakan bahwa pasukan Bizantium kurang dari 5.000 orang yang ditambah beberapa ribu orang Latin yang datang untuk membantu.[3]

Sementara itu, dalam versi lain, sejarawan Eamon Gearon mengatakan bahwa pasukan Konstantinus XI berjumlah 4.773 orang Yunani, ditambah 3.000 orang asing non-Yunani, termasuk beberapa pasukan Turki, dan bahkan ada satu orang Skotlandia — seorang insinyur pertambangan bernama John Grant. Sebaliknya, Kesultanan Ottoman memiliki struktur kerajaan yang jauh lebih besar dan berfungsi lebih baik pada tahap ini. Meskipun tidak dapat dipastikan, Pasukan Mehmed diperkirakan ada sebanyak 60.000 orang, yang melawan kurang dari 8.000 pasukan Bizantium. Selain orang-orang yang bertempur ini, pasukan Mehmed juga didukung oleh ribuan pekerja, spesialis persenjataan, dan insinyur pertambangan.[4]

Eamon Gearon berulang kali mengatakan, bahwa catatan sejarah yang melaporkan jumlah suatu pasukan seringkali sama sekali tidak akurat. Jumlah pasukan yang dilaporkan dalam jumlah besar seringkali bukan menunjukkan angka yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah informasi yang menyatakan jumlahnya banyak sekali.[5] Namun terlepas dari berbagai macam versi dan ketidakakuratannya, umumnya sejarawan berpendapat bahwa jumlah pasukan Ottoman pada waktu itu jauh lebih banyak.

 

Senjata dan Taktik

Peperangan dalam konsep bertahan di dalam benteng biasanya paling disukai oleh pihak yang bertahan karena itu memberikan banyak sekali keuntungan: benteng yang tinggi, gerbang yang kokoh, parit yang dalam, serangan dari atas benteng yang mematikan, kemampuan visibilitas yang tinggi, dan masih banyak lagi lainnya. Sangat penting bagi mereka yang diserang untuk memiliki pasokan air bersih dan makanan yang cukup selama pertempuran berlangsung. Dalam hal ini, Konstantinopel memilikinya dalam jumlah yang melimpah, maka, meskipun dengan jumlah pasukan yang berbeda jauh, tapi itu bukanlah suatu jaminan bahwa Ottoman akan menang.[6]

Pasukan Bizantium pada awalnya cukup yakin bahwa mereka dapat melihat dengan jelas serangan musuh, karena kota itu sudah puluhan kali sebelumnya terbukti mampu menahan serangan karena memiliki visibilitas yang jauh lebih baik. Namun, kemajuan teknologi telah mengubah keseimbangan kekuatan secara radikal, yaitu dengan adanya meriam.[7]

Penggunaan meriam dalam serangan ke Konstantinopel pada tahun 1453 bukan untuk pertama kalinya. Meriam telah digunakan satu abad sebelumnya. Namun kemajuan teknologi memungkinkan meriam untuk dapat memuntahkan material yang jauh lebih besar, yang mana dapat menembakkan proyektil yang lebih besar dengan jarak yang lebih jauh. Seorang ahli pembuat meriam dari Hungaria yang bernama Urban sebelumnya telah menawarkan barangnya kepada Bizantium. Tetapi Constantine XI mengatakan dia tidak mampu membayar harga yang diminta Urban. Alih-alih, Urban menawarkannya kepada Ottoman.[8]

Urban berjanji kepada Mehmed bahwa dia bisa membuatkannya sebuah meriam yang sangat kuat. Ottoman mempekerjakannya. Hanya dalam waktu tiga bulan, senjata super Urban siap digunakan.[9] Meriam tersebut bentuknya seperti pipa yang sangat besar, dengan diameter dalamnya sepanjang 0,63 m dan panjang pipanya 5,182 m. Total berat meriam tersebut termasuk dengan dudukan dan segala macam pelengkapnya setelah dibangun mencapai 16 ton. Proyektilnya sendiri, beratnya mencapai 680 kg.[10]

Salah satu meriam Ottoman yang masih ada sampai hari ini. Photo: cael309/imgur

Meriam yang dibuat Urban adalah teknologi tercanggih pada masanya. Meriam tersebut dikisahkan dapat menembakkan proyektil sampai sejauh lebih dari 1,5 km – jarak yang sangat mengejutkan, dan mengkhawatirkan bagi pasukan Konstantinopel. Meskipun persiapan untuk menembaknya sangat lama, butuh waktu sekitar tiga jam untuk diisi ulang – karena perlu waktu untuk didinginkan menggunakan semacam pelumas – namun itu tetap senjata yang mengerikan, yang pada akhirnya menjadi faktor penentu bagi kemenangan Ottoman.[11] Laporan sejarah lainnya mengatakan bahwa meriam-meriam Urban disimpan di atas menara pelontar yang tingginya melebihi tinggi benteng kota Konstantinopel.[12] (PH)

Bersambung ke:

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (3): Bantuan dari Eropa

Sebelumnya:

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (1): Alasan Strategis

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 177.

[2] Ibid.

[3] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 40.

[4] Eamon Gearon, Ibid., hlm 177-178.

[5] Ibid., hlm 48.

[6] Ibid., hlm 178.

[7] Ibid.

[8] Ibid., hlm 178-179.

[9] Ibid., hlm 179.

[10] John Sammon, “Guns that Changed History: The Great Turkish Bombard”, dari laman https://www.guns.com/2012/01/04/guns-that-changed-history-the-great-turkish-bombard/, diakses 17 September 2018.

[11] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[12] Caroline Finkel, Loc.Cit.