Mozaik Peradaban Islam

Bayt Al-Hikmah (13): Hunayn bin Ishaq (7): Karya-Karya

in Monumental

Last updated on August 15th, 2021 01:47 pm

Selain sebagai penerjemah, Hunayn juga menulis karyanya sendiri, terutama topik tentang obat-obatan.

Ilustrasi wajah Hunayn bin Ishaq. Foto: Google/Unknown

Pada artikel sebelumnya kita pernah membahas beberapa karya terjemahan Hunayn bin Ishaq yang paling terkenal, di antaranya seperti karya Galen dari Pergamon dan Republik karya Plato. Namun sesungguhnya di luar itu masih banyak karya-karya Hunayn lainnya yang juga tidak kalah penting.

Secara selengkapnya, karya-karya Hunayn disebutkan di bawah ini, sebagaimana dihimpun oleh Maman Lesmana, Hunayn bin Ishaq dan Sejarah Penerjemahan Ilmu Pengetahuan ke dalam Bahasa Arab, dalam jurnal Susurgalur:

Karya-karya yang diterjemahkan oleh Hunayn bin Ishaq adalah karya-karya Galen, yaitu De Sectis, Ars Medica, De Pulsibus ad Tirones, Ad Glauconem de Medendi Methodo, De Ossibus ad Tirones, De Musculorum Dissectione, De Nervorum Dissectione, De Venarum Arteriumque Dissectione, De Elementis Secundum Hippocratem, De Temperamentis, De Facultibus Naturalibus, De Causis et Symptomatibus, De Locis Affectis, De Pulsibus, De Typis, De Crisibus, De Diebus Decretoriis, dan Methodus Medendi.

Hunayn juga menerjemahkan karya-karya Hippocrates dan Dioscorides; karya Plato, yaitu Republik; karya Aristoteles, yaitu Categories, Physics, dan Magna Moralia; tujuh buku anatomi karya Galen, yang dalam bahasa aslinya, yaitu Yunani, telah hilang, namun terjemahan bahasa Arabnya masih ada; Perjanjian Lama dari The Greek Septuagint, yang penerjemahannya tidak tuntas; beberapa karya R. Duval dalam bidang ilmu kimia; sebuah buku dalam bidang ilmu kimia yang berjudul ‘An al-Asma yang artinya “Tentang Nama”, buku ini tidak diperoleh oleh para peneliti, tapi ada dalam Dictionary of Ibn Bahlool dari abad ke-10 dan Kitab al-Ahjar atau The Book of Stones.[1]   

Apabila dirangkum, secara keseluruhan Hunayn bin Ishaq telah menerjemahkan dua puluh buku Galen ke dalam bahasa Suriah, dua buku untuk putra Jabril bin Bukhtishu, dua buku untuk Salmawaih bin Bunan, satu buku untuk Jabril bin Bukhtishu, dan satu buku untuk Yuhanna bin Massawayh.

Selain itu dia juga merevisi enam belas terjemahan yang dibuat oleh Sargis al-Ras’ayni dari Ras al-’Ain di Sungai Khabur, yang terjemahannya dikenal dengan nama Corpus Galena.[2]

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, karya-karya tersebut tidak langsung diterjemahkan dari Bahasa Yunani ke Arab. Hunayn bertugas menerjemahkan naskah dari bahasa Yunani ke Suriah. Keponakannya melanjutkan menerjemahkan naskah dari bahasa Suriah itu ke bahasa Arab. Dan Ishaq, anaknya, mengoreksi hasil terjemahan.[3]

Selain sebagai penerjemah, Hunayn juga menulis karyanya sendiri. Hal ini terungkap di dalam sebuah kitab yang bernama Kitab al-Fihrist (Katalog Buku-Buku).  Kitab ini ditulis oleh Ibnu al-Nadim, seorang pencinta buku; warraq (penyalin naskah); pedagang buku, dia memiliki toko buku yang besar di pusat kota Baghdad; dan cendekiawan yang terkenal dan termasyhur pada masanya.[4]

Di dalam Kitab al-Fihrist disebutkan bahwa Hunayn banyak menulis topik tentang obat-obatan. Tercatat ada dua puluh sembilan karya Hunayn bin Ishaq yang membuatnya disejajarkan dengan para tokoh terkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan di Arab.

Meskipun sebagian besar kontribusi intelektualnya didasarkan pada alam pemikiran Yunani, namun Hunayn bin Ishaq juga membuat penambahan, peningkatan, dan modifikasi yang berarti dalam teori-teori tentang pengobatan.[5]

Kita dapat melihat bahwa seluruh karya terjemahan Hunayn berasal dari Yunani, dan bahkan karya tulis orisinilnya sendiri pun bergantung kepada referensi-referensi dari Yunani.

Tapi jangan sangka jika orang-orang Arab pada masa itu dapat menemukan dengan mudah teks-teks dari Yunani tersebut. Sebagian dari mereka justru mengalami kesulitan dalam mencari naskah yang akan diterjemahkan.

Dalam rangka untuk mencari manuskrip karya-karya Aristoteles dan lain-lain, Khalifah al-Makmun pernah mengutus sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang paling terpelajar ke Bizantium. Hunayn bin Ishaq adalah salah satu anggotanya. Diperkirakan Hunayn menjadi lebih terampil dalam bahasa Yunani daripada para ilmuwan lainnya di Baghdad, karena dia ikut dalam ekspedisi ini.

Selain ke Bizantium, Hunayn juga mencari naskah-naskah tersebut ke tempat lainnya, mulai dari Mesopotamia, Suriah, Palestina, Mesir, sampai ke Alexanderia, tapi dia tidak menemukan sesuatu apa pun di tempat-tempat itu, kecuali hanya sebagian di Damaskus (Suriah).[6] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Maman Lesmana, Hunayn bin Ishaq dan Sejarah Penerjemahan Ilmu Pengetahuan ke dalam Bahasa Arab (Susurgalur: Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah, No.1, Vol.1, Maret 2013), hlm 8.

[2] Ibid., hlm 7-8.

[3] Wan Ulfa Nur Zuhra, “Hunayn ibn Ishaq, Syekh Para Penerjemah”, dari laman https://tirto.id/cpQD, diakses 7 Agustus 2021.

[4] Agus Rifai, Kontribusi Ibn Al-Nadim dalam Dunia Kepustakawanan Islam: Kajian terhadap Kitab al-Fihrist (Jurnal Al-Maktabah, Vol.8 No.2, Oktober 2006), hlm 73-74.

[5] Maman Lesmana, Op.Cit., hlm 6-7.

[6] Ibid., hlm 8.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*