Mozaik Peradaban Islam

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (1): Alasan Strategis

in Monumental

Last updated on September 17th, 2018 03:18 pm

“Bukan hanya karena Konstantinopel sangat kaya, tapi orang-orang Ustmaniyah sangat menyukai salah satu versi hadist Nabi yang berbunyi: ‘Suatu hari Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Seorang Amir yang baik dan pasukan yang baik akan mampu mencapai hal ini’.”

–O–

Hagia Sophia di Konstantinopel. Photo: kriptoa kademia

Dalam sejarah Eropa, Kekaisaran Romawi menikmati posisi paling unggul, kisah-kisahnya menjadi bahan pelajaran paling populer dibandingkan dengan sejarah Eropa manapun. Alasan paling jelas untuk ini adalah karena Romawi memiliki rentang kekuatan militer dan politik yang usianya sangat panjang, dan mereka  mewariskan banyak kebudayaan bagi masyarakat Barat yang bahkan sampai hari ini pengaruhnya masih terasa. Namun terlepas dari sejarah yang panjang dan digdaya tersebut, pada kenyataannya Romawi ditumbangkan oleh kekaisaran lain yang usianya jauh lebih muda dan relatif kecil wilayah kekuasaannya. Mereka yang menjatuhkannya adalah Kesultanan Ustmaniyah (Ottoman). Artikel ini akan membahas kejatuhan Konstantinopel, kota terpenting Romawi, pada tahun 1453 oleh Ottoman. Jatuhnya Konstantinopel menjadi penanda berakhirnya Kekaisaran Romawi (Timur/Bizantium) yang telah berkuasa selama 1.123 tahun.[1]

 

Alasan untuk Menaklukan Konstantinopel

Ottoman memiliki banyak alasan strategis untuk mengambil alih Konstantinopel, pusat Kekaisaran Romawi Timur sejak abad ke-4. Konstantinopel terletak di lokasi yang sangat strategis, yaitu di selat Bosphorus, sebuah selat yang menjadi jalur penghubung antara Laut Hitam dan Laut Tengah, Konstantinopel memiliki pelabuhan dengan perairannya yang dalam, membuatnya ideal untuk menjadi dermaga pengiriman bagi kapal-kapal besar. Kota ini juga terletak di perbatasan imajiner antara Eropa dan Asia, sehingga sangat penting bagi perdagangan global pada abad ke-15 dan sebelumnya.[2]

Kontrol Bizantium terhadap selat Bosporus dalam beberapa kesempatan menyebabkan masalah logistik yang serius bagi sultan – atau calon sultan – dan masing-masing pasukan dua imperium ini seringkali berpapasan, di antara Rumeli dan Anatolia. Selain itu, biaya penaklukan dan administrasi wilayah yang berada di bawah kekuasaan Ottoman semakin meninggi, apabila Ottoman mendapatkan kontrol atas keuntungan dari pajak perdagangan yang besar antara cekungan Laut Hitam, Laut Tengah, dan Eropa, maka ini akan sangat menjanjikan bagi pendapatan Ottoman di masa yang akan datang.[3]

Ottoman bukanlah yang pertama menyerang Konstantinopel. Selama berabad-abad, lusinan upaya dilakukan untuk mengambil alih Konstantinopel. Ottoman adalah kelompok terakhir dari mereka yang berupaya untuk menaklukan Konstantinopel, dan mereka berhasil. Tetapi mudah untuk menjelaskan mengapa mereka tertarik untuk tujuan ini. Pada saat mereka menyerang, ibu kota Ottoman adalah kota Edirne, di tepi Eropa, yang terletak hanya sekitar 225 km dari sebelah barat Konstantinopel. Ottoman telah menaklukan wilayah Eropa secara signifikan, dan seluruh Anatolia — yaitu semenanjung yang terdiri dari sebagian besar wilayah Turki hari ini.[4]

Namun jika melihat lebih jauh ke belakang, dari sejak era Sultan Orhan (Sultan Ottoman yang ke-2, berkuasa 1323-1362), Ottoman sebenarnya telah menguasai wilayah-wilayah bekas milik Bizantium. Pada saat itu Bizantium praktis sudah terkepung oleh wilayah-wilayah yang kini telah menjadi milik Ottoman. Hanya, barangkali Ottoman masih menunggu momentum yang tepat untuk menguasai Konstantinopel. Ottoman tahu, jika mereka berhasil menaklukan Konstantinopel, maka mereka tidak akan lagi memiliki sumber gangguan dan kesulitan bagi pertumbuhan kerajaan. Selain itu, kepemilikan Konstantinopel akan memungkinkan mereka untuk mendorong lebih jauh ke depan ke Eropa.[5]

Persatuan Gereja Ortodoks dan Katolik pada 1439 di Konstantinopel memiliki dampak serius bagi Ottoman karena dapat meningkatkan kemungkinan perang salib di masa depan dan mengangkat lagi pengaruh Latin di Konstantinopel. Kepemilikan Konstantinopel juga memiliki nilai simbolis yang memikat – kemenangan iman dan aspirasi kesultanan. Kota ini digambarkan dalam legenda Islam yang sakral dan sekuler, dan apabila berhasil ditaklukan, maka Ottoman akan memenuhi tradisi Islam dari sejak masa Nabi Muhammad SAW. Terdapat salah satu versi hadist yang sangat disukai oleh orang-orang Ottoman: “Suatu hari Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Seorang Amir yang baik dan pasukan yang baik akan mampu mencapai hal ini.” Konstantinopel juga merupakan “Apel Merah” – sebuah ekspresi yang digunakan Ottoman untuk menggambarkan keinginan tertinggi mereka. Dengan menyerang kota kekaisaran Bizantium, Sultan Mehmed II menginginkan pencapaian tertinggi baik bagi kesultanan maupun agama yang belum pernah dicapai oleh siapapun di masa sebelumnya.[6]

Alasan lain mengapa Sultan muda Ottoman, Mehmed II, menginginkan kota itu karena Konstantinopel telah lama menawarkan perlindungan bagi para pembangkang Kesultanan Ottoman. Ini adalah kebijakan yang terus berlanjut di bawah kaisar Bizantium yang ada, dan yang terakhir, Konstantinus XI. Alasan lainnya dan yang terakhir, yang tidak kalah pentingnya, Konstantinopel adalah kota yang teramat kaya.[7] (PH)

Bersambung ke:

Kesultanan Ustmaniyah Menaklukan Konstantinopel (2): Meriam Raksasa

Catatan Kaki:

[1] Eamon Gearon, Turning Points in Middle Eastern History, (Virginia: The Great Courses, 2016), hlm 176.

[2] Ibid.

[3] Caroline Finkel, Osman’s Dream: The Story of the Ottoman Empire 1300-1923 (Basic Books: 2006), hlm 39.

[4] Eamon Gearon, Loc.Cit.

[5] Ibid., hlm 156-157, 176-177.

[6] Caroline Finkel, Loc.Cit.

[7] Eamon Gearon, Ibid., hlm 177.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*