Mozaik Peradaban Islam

Ibrahim bin Adham (7): Kedermawanan Ibrahim

in Tasawuf

Last updated on February 15th, 2021 02:23 pm

Ibrahim naik perahu dengan rambut panjang dan pakaian compang-camping. Seseorang menjambak rambut dan mencabutnya serta menampar lehernya untuk bahan tertawaan. Tiba-tiba badai datang.

Foto utama: art.com

Kepedulian kepada Teman

Sahl bin Ibrahim menceritakan kisah berikut ini:

Aku melakukan perjalanan dengan Ibrahim-e Adham (“e” biasanya digunakan oleh orang-orang Persia, maknanya sama dengan “bin”, yang berarti “putra”), dan dalam perjalanan aku jatuh sakit.

Dia menjual semua yang dia miliki dan membelanjakannya untukku. Aku memohon kepadanya sesuatu, dan dia menjual keledainya dan menghabiskan hasil penjualannya untukku.

“Di mana keledainya?” aku bertanya ketika telah membaik.

“Aku menjualnya,” jawabnya.

“Apa yang harus aku naiki?” aku bertanya.

“Saudaraku,” jawab Ibrahim, “ayo, naiklah ke punggungku.”

Dan dia mengangkatku ke punggungnya dan menggendongku selama tiga tahap (perjalanan).

Berbaik Sangka

Setiap hari Ibrahim pergi bekerja menawarkan jasanya dan bekerja sampai malam. Semua penghasilannya dia habiskan untuk teman-temannya. Tetapi dia baru kembali kepada teman-temannya setelah melaksanakan salat magrib dan membeli sesuatu (makanan untuk teman-temannya), dan itu sudah terlalu malam.

Suatu malam teman-temannya berkata, “Dia terlambat datang. Ayo, mari kita makan roti dan segera tidur. Itu akan menjadi petunjuk baginya untuk kembali lebih awal ke depannya. Dia tidak semestinya membuat kita menunggu terlalu lama.”

Maka mereka melakukannya. Ketika Ibrahim kembali, dia melihat bahwa mereka sedang tertidur. Dia menyangka bahwa mereka belum makan apa-apa dan tidur dengan kelaparan, dia langsung menyalakan api.

Dia telah membawa sedikit tepung, lalu dia membuat adonan untuk memberi mereka sesuatu untuk dimakan ketika mereka terbangun, agar mereka bisa berpuasa keesokan harinya.

Teman-temannya terbangun, melihat janggutnya di tanah, dia sedang meniupi api. Air mata mengalir dari matanya (karena terkena asap dari api), dan dia dikerubungi oleh asap.

“Apa yang sedang engkau lakukan?” mereka bertanya.

“Aku melihat kalian tertidur,” jawab Ibrahim. “Aku berkata pada diriku sendiri, mungkin kalian tidak dapat menemukan apa-apa dan tidur dalam keadaan lapar. Jadi aku membuatkan sesuatu untuk kalian makan saat kalian bangun. “

“Lihatlah bagaimana dia memikirkan kita, dan bagaimana kita memikirkannya,” seru mereka.

Kebahagiaan Ibrahim

“Semenjak engkau menapaki jalan ini, apakah engkau pernah mengalami kebahagiaan?” Ibrahim ditanya.

“Beberapa kali,” jawabnya.

“Suatu ketika aku berada di perahu dan sang kapten tidak mengenalku (bahwa dulunya Ibrahim adalah seorang raja). Aku mengenakan pakaian compang-camping, rambutku tidak dipotong, dan aku sedang berada dalam ekstasi spiritual yang tidak disadari oleh semua orang di sana.

“Mereka menertawakan dan mengejekku. Ada seseorang yang suka melucu di perahu itu, dan sesekali dia akan datang dan menjambak rambutku dan mencabutnya serta menampar leherku. Pada saat-saat itu aku merasa bahwa aku telah mencapai keinginanku, dan sangat bahagia karena telah begitu dipermalukan.

“Tiba-tiba gelombang besar muncul, dan semua takut mereka akan binasa. ‘Kita harus membuang salah satu dari orang-orang ini ke laut,’ teriak juru mudi. ‘Maka kapalnya akan lebih ringan.’

“Mereka meringkusku untuk dilemparkan ke laut. Ombak reda, dan perahu bahkan kembali tenang. Saat itu, ketika mereka menarikku secara tiba-tiba untuk melemparkanku ke dalam air, aku merasa bahwa aku telah mencapai keinginanku, dan bahagia.

“Pada kesempatan lain aku pergi ke sebuah masjid untuk tidur di sana. Mereka tidak mengizinkanku, dan aku sangat lemah dan lelah sehingga aku tidak bisa bangun. Jadi mereka mencengkeram kakiku dan menyeretku keluar.

“Masjid itu memiliki tiga anak tangga, kepalaku menghantam setiap anak tangga secara bergantian, dan darah mengalir keluar. Aku merasa bahwa aku telah mencapai keinginanku. Pada setiap langkah mereka menjatuhkanku, misteri seluruh negeri menjadi terungkap kepadaku.

“Aku berkata, ‘Seandainya saja masjid itu memiliki lebih banyak anak tangga, untuk menambah kebahagiaanku yang amat sangat!’

“Pada kesempatan lain aku larut dalam keadaan ekstasi. Seseorang yang suka melucu datang dan mengencingiku. Kemudian aku juga bahagia.

“Juga pada kesempatan lainnya aku mengenakan mantel bulu yang dipenuhi kutu yang memangsaku tanpa belas kasihan. Tiba-tiba aku teringat pakaian bagus yang aku simpan di gudang (kerajaannya dulu).

“Jiwaku menangis di dalam diriku, ‘Mengapa, sakit apa ini?’ Kemudian aku juga merasa bahwa aku telah mencapai keinginanku.”[1] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Farid al-Din Attar, Muslim Saints and Mystics (Tadhkirat al-Auliya’), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh  A. J. Arberry, (Omphaloskepsis: Iowa, 2000), hlm 80-83.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*