Mozaik Peradaban Islam

Ibrahim bin Adham (8): Pertemuan dengan Iblis dan Jibril

in Tasawuf

Last updated on February 16th, 2021 02:39 pm

Ibrahim berjalan selama tiga hari di gurun tanpa makanan apa pun. Iblis mendatanginya, “Apakah engkau meninggalkan kerajaanmu hanya untuk pergi berziarah dengan kelaparan?”

Foto ilustrasi: Lukisan karya Eric Armusik. Sumber: Fine Art America

Keimanan kepada Allah

“Suatu waktu,” Ibrahim menceritakan, “aku sedang melakukan perjalanan di padang pasir dengan menaruh kepercayaanku kepada Allah. Selama beberapa hari aku tidak menemukan apa pun untuk dimakan.

“Aku teringat seorang temanku, tetapi aku berkata dalam hati, ‘Jika aku pergi kepadanya, kepercayaanku kepada Allah akan menjadi hampa.’

“Aku memasuki masjid dengan kata-kata di bibirku, ‘Aku telah menaruh kepercayaanku kepada Yang Maha Hidup, yang tidak mati. Tiada Tuhan selain Dia.’

“Sebuah suara dari langit menyeru, ‘Segala puji bagi Allah yang telah mengosongkan muka bumi dari orang-orang yang beriman kepada-Nya.’

“Aku berkata, ‘Mengapa kata-kata ini?’

“Suara itu menjawab, ‘Bagaimana bisa orang itu benar-benar beriman kepada Allah, yang melakukan perjalanan panjang demi kebaikan kecil yang diberikan oleh seorang teman duniawinya, dan kemudian menyatakan, ‘Aku telah menaruh kepercayaanku kepada Yang Maha Hidup, yang tidak mati’? Engkau telah menjual keimanan kepada Allah untuk sebuah kebohongan!’.”

Arti Hamba Allah

“Suatu waktu aku membeli seorang budak,” kenang Ibrahim.

“‘Siapa namamu?’ tanyaku.

“‘Apapun engkau memanggilku,’ jawabnya.

“‘Apa yang engkau makan?’

“‘Apapun yang engkau berikan kepadaku.’

“‘Apa yang engkau pakai?’

“‘Apapun pakaian yang engkau berikan untukku.’

“‘Apa yang engkau kerjakan?’

“‘Apapun yang engkau perintahkan.’

“‘Apa yang engkau inginkan?’ tanyaku.

“‘Apa hubungannya seorang hamba dengan keinginan?’ dia menjawab.

“‘Celakalah engkau,’ kataku pada diriku sendiri, ‘sepanjang hidupmu engkau telah menjadi hamba Allah. Nah, sekarang pelajarilah apa artinya menjadi seorang hamba!’

“Dan aku menangis begitu lama sampai aku jatuh pingsan.”

Tidak Duduk Bersila

Tak seorang pun pernah melihat Ibrahim duduk bersila.

“Mengapa engkau tidak pernah duduk bersila?” dia ditanya.

“Suatu hari, aku memang pernah duduk seperti itu,” jawabnya.

“Aku mendengar suara dari udara berkata, ‘Putra Adham, apakah para hamba duduk begitu di hadapan tuannya?’ Pada saat itu juga aku langsung duduk dengan lurus dan bertobat.

Pertemuan dengan Iblis

“Suatu waktu aku bepergian di gurun dengan menaruh kepercayaan kepada Allah,” Ibrahim bercerita. “Selama tiga hari aku tidak menemukan apa pun untuk dimakan.”

“Iblis mendatangiku. ‘Apakah engkau meninggalkan kerajaanmu dan begitu banyak kemewahan hanya untuk pergi berziarah dengan kelaparan?’ Iblis mengejekku. ‘Engkau juga bisa melakukan ziarah dengan kenyamanan dan tidak perlu menderita seperti ini.’

“Mendengar perkataan Iblis ini, aku mengangkat kepala tinggi-tinggi. ‘Ya Allah,’ aku menangis, ‘Apakah Engkau menunjuk musuh-Mu untuk menemui sahabat-Mu, untuk menyiksaku? Datanglah untuk menolongku! Karena aku tidak dapat menyeberangi gurun ini tanpa pertolongan-Mu.’

“Sebuah suara datang kepadaku, ‘Ibrahim, keluarkan apa yang engkau miliki di sakumu, agar Kami dapat mendatangkan apa yang dimiliki oleh Yang Maha Tersembunyi.’

“Aku memasukkan tanganku ke dalam saku. Ada empat koin perak yang telah aku lupakan. Segera setelah aku membuangnya, Iblis lari dariku, dan makanan muncul dari Yang Maha Tersembunyi.”

Menjadi Tukang Kebun

“Suatu waktu,” Ibrahim mengenang, “aku ditunjuk untuk mengurus sebuah kebun buah. Pemilik kebun datang dan berkata kepadaku, ‘Bawakan aku beberapa buah delima manis.’ Aku membawa beberapa, tapi rasanya asam.

“‘Bawakan aku yang manis,’ ulang si pemilik. Aku membawa sepiring lagi, tapi mereka juga asam.

“‘Alhamdulillah!’ teriak si pemilik. ‘Engkau telah menghabiskan waktu begitu lama di sebuah kebun, dan engkau tidak tahu yang mana buah delima yang matang?’

“‘Aku mengurus kebun buahmu, tapi aku tidak tahu seperti apa rasa buah delima karena aku belum pernah mencicipi satupun,’ jawabku.

“‘Dengan tingkat pengendalian diri seperti itu, aku curiga engkau adalah Ibrahim-e Adham (“e” biasanya digunakan oleh orang-orang Persia, maknanya sama dengan “bin”, yang berarti “putra”),’ kata si pemilik.

“Saat aku mendengar kata-kata itu, aku pergi dari tempat itu.”

Pertemuan dengan Jibril

“Suatu malam,” Ibrahim menceritakan, “Aku menyaksikan Jibril di dalam mimpi turun ke bumi dari langit dengan sebuah gulungan tulisan di tangannya.”

“‘Apa yang engkau inginkan?’ tanyaku.

“‘Aku menuliskan nama-nama para sahabat Allah,’ jawab Jibril.

“‘Tuliskan namaku,” kataku.

“‘Engkau bukan salah satu dari mereka,’ jawab Jibril.

“‘Aku adalah sahabat dari para sahabat Allah,’ aku menyela.

“Jibril merenung sejenak. Lalu dia berkata, ‘Perintah telah datang. Tuliskan nama Ibrahim yang pertama di antara yang lain. Karena di Jalan ini harapan muncul dari keputusasaan.’.”[1] (PH)

Bersambung ke:

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Farid al-Din Attar, Muslim Saints and Mystics (Tadhkirat al-Auliya’), diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh  A. J. Arberry, (Omphaloskepsis: Iowa, 2000), hlm 83-86.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*