Potret Maladewa Sebagai Negara Kepulauan Interkonektif (6): Polemik Dan Masa Transisi Politik Pasca Kemerdekaan (2)

in Negara Islam

Last updated on June 15th, 2023 05:20 am

“Pemerintah terus menghadapi tantangan dalam menangani korupsi dan mengatasi masalah-masalah sistemik lainnya di Maladewa, seperti ekstremisme agama dan kekerasan politik.”

Ibrahim Mohamed Solih dan Abdulla Yameen Abdul Gayoom. Sumber foto: rasoline

Transisi dari satu presiden ke presiden lain, tidak lantas menyurutkan situasi politik yang memanas di Maladewa. Pemerintahan Presiden Yameen Abdul Gayoom—yang merupakan saudara tiri dari Maumoon Abdul Gayoom—tidak berbeda secara signifikan dengan pemerintahan sebelumnya. Yang juga ditandai oleh terjadinya aksi protes.

Masa Pemerintahan Presiden Abdulla Yameen Abdul Gayoom

Di luar polemik politik di masa pemerintahannya, Presiden Yameen merupakan sosok visioner, efisien, dan berorientasi pada hasil, meski tidak memiliki karisma seperti masa kepresidenan Maumoon Abdul Gayoom.

Dalam dua tahun pertama masa jabatannya, ia berhasil menurunkan defisit anggaran negara dari dua kali lipat menjadi lima persen. Ini merupakan posisi fiskal tersehat yang pernah terjadi di Maladewa dalam beberapa dekade terakhir. Ia pun melakukan upaya-upaya dan infrastruktur besar, di berbagai bidang.

The Islamic University (IUM) didirikan pada bulan Januari 2015, dimana visinya memperkenalkan pendidikan tingkat doktoral dan menjadi pusat unggul dalam pembelajaran Islam. Universitas tersebut lahir dari ambisi Presiden Yameen untuk memajukan institusi Kulliyah Al-Dhirasaathil Islamiyah dan pemahaman yang lebih dalam tentang iman Islam.[1]

Presiden Yameen pun memiliki visi di bidang kesehatan, dengan skema perawatan kesehatan dan akses terhadap obat-obatan paling mudah dan paling murah yang pernah ada. Salah satunya yang terwujud adalah, adanya sebuah apotek di setiap pulau berpenghuni di Maladewa, melalui State Trading Organization (STO). Sehingga semua orang Maladewa memiliki akses yang sama terhadap obat-obatan.

Akan tetapi, tekanan internasional terhadap Presiden Yameen terus bergulir.

Bermula dari penahanan mantan presiden Nasheed atas tuduhan terorisme pada bulan Februari tahun 2015. Yang telah menyebabkan reaksi keras terhadap Presiden Yameen di komunitas internasional. Di tahun yang sama pada bulan September, Presiden Yameen nyaris tewas saat speedboat yang ditumpanginya mengalami ledakan.[2]

Atas tuduhan tersebut tim pengacara Nasheed berupaya melakukan kampanye menjatuhkan sangsi kepada Maladewa, yang telah membiarkan penahanan tak adil. Selain itu, UN Working Group on Arbitrary Detention (UNWGAD) menyatakan bahwa penahanan mantan presiden Nasheed bersifat politik dan tidak sah.

Tekanan lain pun datang dari Commonwealth Ministerial Action Group (CMAG), yang juga menuntut Maladewa untuk menyelesaikan perseteruan politik.

Presiden Yameen mengalami tekanan dari Progressive Party of Maldives (PPM). Mantan Presiden Gayoom secara terang-terangan mendukung pihak oposisi. Terjadi perpecahan antara kedua kubu kakak-beradik tiri ini, dan berakhir dengan dikeluarkannya mantan Presiden Gayoom dari PPM.[3]

Namun, pihak oposisi bersatu untuk menggulingkan Presiden Yameen, dan mengajukan satu kandidat: Ibrahim Mohamed Solih. Ia salah satu anggota parlemen senior yang dekat dengan mantan Presiden Nasheed.[4] Saat diadakan pemilu pada tahun 2018, Solih meraih kemenangan dengan jumlah pemilih sebanyak 134.616 suara, mengalahkan Yameen yang mendapatkan 96.132 suara.[5]

Yameen dijebloskan ke penjara pada Desember 2022, atas tuduhan korupsi. Namun, ia menjadi kandidat partainya untuk mengoposisi Solih dalam pemilihan presiden pada 9 September 2023.[6]

Masa Pemerintahan Ibrahim Mohamed Solih

Banyak politisi oposisi Yameen yang dipenjara pada masa pemerintahannya, di mana Amerika Serikat serta Uni Eropa memberikan ancaman akan menjatuhkan sanksi sebelum pemungutan suara jika situasi demokratis tidak kunjung membaik. Namun, kemenangan Solih sebagai presiden disambut hangat oleh Amerika Serikat juga India.[7]

Ibrahim Mohamed Solih dilantik pada bulan November 2018. Dalam masa kepemimpinannya ini, ia bekerja untuk menghidupkan kembali hubungan Maladewa dengan negara India. Dalam dua tahun pertama masa jabatan Solih, India telah memberikan bentuk bantuan kepada Maladewa lebih dari 2 miliar dolar AS.[8]

Pemerintah terus menghadapi tantangan dalam menangani korupsi dan mengatasi masalah-masalah sistemik lainnya di Maladewa, seperti ekstremisme agama dan kekerasan politik. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi Presiden Solih untuk membenahi itu semua. Dukungan moril kepada Presiden Solih dituliskan oleh mantan Presiden Nasheed di twitter yang menyatakan Solih telah melakukan “an extremely good service” kepada rakyat Maladewa.[9] (TR)

Bersambung …

Sebelumnya:

Catatan Kaki:


[1] The Presiden Office Republic of Maldives, President Abdulla Yameen Abdul Gayoom, pada laman https://presidency.gov.mv/PO/FormerPresident/1 diakses pada 1 Juni 2023

[2] Rishi Iyengar, Maldives President Abdulla Yameen Escapes Unhurt After Explosion on His Boat, pada laman https://time.com/4051674/maldives-president-abdulla-yameen-boat-blast/ diakses pada 1 Juni 2023

[3] Embassy of The Republic of Indonesia in Colombo, Sri Lanka, Maladewa, pada laman https://www.kemlu.go.id/colombo/en/read/maladewa/1914/etc-menu diakses pada 1 Juni 2023

[4] Britannica, History of Maldives, pada laman https://www.britannica.com/place/Maldives/History diakses pada 30 Mei 2023

[5] BBC, Maldives election: Opposition defeats China-backed Abdulla Yameen, pada laman https://www.bbc.com/news/world-asia-45623126 diakses pada 1 Juni 2023

[6] The World Fact Book, Maldives, pada laman https://www.cia.gov/the-world-factbook/countries/maldives/ diakses pada 1 Juni 2023

[7] Op cit.

[8] Brittanica, History of Maldives, pada laman https://www.britannica.com/event/Indian-Ocean-tsunami-of-2004 diakses pada 30 Mei 2023

[9] Op cit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*