Mozaik Peradaban Islam

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (5): Standar Baru Ala Bukhari (1)

Meskipun Bukhari dikatakan terlambat dalam penyusunan sahihnya, yakni dua abad setelah masa Nabi, namun dia berhasil menciptakan standar baru dalam ilmu hadis. Meskipun dikatakan bahwa tradisi menulis atau sekadar mencatat hadis telah berlangsung sejak awal (awa’il dan isnad—lihat penjelasannya pada artikel sebelum ini), namun Bukhari lah (wafat 256 H/870 M) orang pertama yang dianggap telah… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (4): Para Pengumpul Hadis

Meskipun Bukhari disebut-sebut sebagai orang pertama yang mengompilasi hadis, tapi sebenarnya sudah pernah ada orang lain yang melakukannya. Siapa saja mereka? Dilahirkan pada tahun 809 atau 810 M di kota Bukhara, yang sekarang berada di Uzbekistan, al-Bukhari adalah orang pertama yang menyusun, menyeleksi, dan mengotentikasi (mensahihkan) kumpulan hadis-hadis. Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, hasil karya… Teruskan Membaca

Tokoh

Perjalanan Intelektual Imam Bukhari (3): Hadis Nabi

Pada awalnya hadis-hadis Nabi tidak dikumpulkan secara menyengaja, namun seiring berjalannya waktu ia mulai dikumpulkan dan dikemas secara lebih formal, terstruktur, dan dogmatis. Pengantar redaksi: Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang berjudul Perjalanan Intelektual Imam Bukhari, Murid dari Seribu Guru (1).Artikel tersebut sebelumnya hanya terdiri dari dua seri artikel, namun karena dirasa masih ada… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (15): Warisan untuk Dunia (2)

Universitas-universitas Renaisans di Eropa mengadopsi sepenuhnya sistem pendidikan mazhab di dalam Islam. Bahkan, gelar Doktor yang kita kenal sekarang merupakan terjemahan literal dari bahasa Arab. Kembali ke Baghdad pada masa al-Kindi dan Hunayn bin Ishaq. Dalam kebanyakan kasus, para penerjemah yang bekerja di Bayt Al-Hikmah bukan hanya menerjemahkan buku-buku dari dunia Hellenic, Persia, Cina, India,… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (14): Warisan untuk Dunia (1)

Tanpa Bayt Al-Hikmah, Eropa tidak akan pernah lepas dari Abad Kegelapan menuju Renaisans, sebab sumber referensi utama para sarjana Kristen di Eropa berasal dari Bayt Al-Hikmah. Demikianlah kita telah mengulas perjalanan hidup dua tokoh besar Bayt Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan): al-Kindi dan Hunayn bin Ishaq. Meskipun keduanya sama-sama berjasa bagi dunia ilmu pengetahuan, bahkan hingga masa… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (13): Hunayn bin Ishaq (7): Karya-Karya

Selain sebagai penerjemah, Hunayn juga menulis karyanya sendiri, terutama topik tentang obat-obatan. Pada artikel sebelumnya kita pernah membahas beberapa karya terjemahan Hunayn bin Ishaq yang paling terkenal, di antaranya seperti karya Galen dari Pergamon dan Republik karya Plato. Namun sesungguhnya di luar itu masih banyak karya-karya Hunayn lainnya yang juga tidak kalah penting. Secara selengkapnya,… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (12): Hunayn bin Ishaq (6): Di Bawah Tekanan Khalifah Al-Mutawakkil (3)

Khalifah al-Mutawakkil menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan, sampai dia bermimpi bertemu dengan Nabi Isa, yang menyatakan bahwa Hunayn dapat menyembuhkannya. Setelah lebih dari enam bulan, Khalifah al-Mutawakkil menyadari lagi kesalahannya (lagi! Karena ini adalah yang kedua kalinya), apakah ini berdasarkan informasi dari mata-matanya ataupun karena pengakuan dari para pelaku pemfitnahan kepada Hunayn bin Ishaq… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (11): Hunayn bin Ishaq (5): Di Bawah Tekanan Khalifah Al-Mutawakkil (2)

Setelah mendapatkan jabatan yang istimewa sebagai kepala dokter istana, hidup Hunayn tiba-tiba berubah drastis kembali. Khalifah al-Mutawakkil menuduhnya sebagai seorang pengkhianat dan mesti menerima hukuman. Karir Hunayn bin Ishaq di masa kepemimpinan Khalifah al-Mutawakkil berlangsung secara paradoks. Satu sisi dia diangkat setinggi-tingginya, sisi lain dia dijatuhkan serendah-rendahnya. Ini adalah masa terbaik sekaligus masa terburuk Hunayn… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (10): Hunayn bin Ishaq (4): Di Bawah Tekanan Khalifah Al-Mutawakkil (1)

Khalifah meminta Hunayn untuk membuatkan racun untuk membunuh musuh-musuhnya. Hunayn menjawab, bahwa seorang dokter hanya mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi manusia. Hunayn bin Ishaq disukai oleh Khalifah al-Mamun bukan hanya karena kemampuan menerjemahkannya saja, tapi juga karena ilmu kedokterannya. Bahkan meskipun Hunayn beragama Kristen Nestorian, dia juga diangkat oleh sang khalifah untuk menjadi dokter pribadinya.[1]… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (9): Hunayn bin Ishaq (3): Menjadi Kepala Bayt Al-Hikmah

Puas dengan hasil karyanya, Hunayn adalah satu-satunya penerjemah yang dibayar oleh Khalifah al-Mamun dengan emas sebesar setiap berat teks yang dia terjemahkan. Dengan kecerdasan dan semakin dekatnya Hunayn bin Ishaq dengan para petinggi istana kerajaan, sekitar tahun 830 M[1] dia diangkat menjadi kepala penerjemahan di Bayt Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) oleh Khalifah al-Mamun.[2] Tugas Hunayn adalah… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (8): Hunayn bin Ishaq (2): Kembali ke Baghdad dan Mengguncang Dunia Kedokteran

Setelah terusir dari Baghdad, Hunayn kembali ke kota itu dengan membawa ilmu dan kemampuan menerjemahkan yang berkualitas tinggi. Dokter senior di kota itu bahkan menyebutnya sebagai “Guru Kami”. Setelah mengembara ke beberapa tempat untuk menimba ilmu tentang kedokteran dan bahasa, Hunayn bin Ishaq kemudian kembali ke Baghdad pada tahun 826 M, waktu itu usianya baru… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (7): Hunayn bin Ishaq (1): Bapak Penerjemahan Bahasa Arab

Bayt Al-Hikmah dikenal sebagai salah satu lembaga yang paling berjasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Namun uniknya, lembaga ini dikepalai Hunayn bin Ishaq, seorang Kristen Nestorian. Hunayn bin Ishaq al-Ibadi dikenal sebagai penerjemah paling produktif pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Sepanjang hidupnya, dia telah menerjemahkan 116 naskah ke dalam Bahasa Arab dan Suriah.… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (6): Al-Kindi (4): Jiwa Manusia

Tugas kita adalah untuk membersihkan jiwa dari noda yang melekat padanya dari tubuh, dan naik melalui alam surga, akhirnya ke dunia intelek di mana ia akan berada dalam terang Sang Pencipta. Al-Kindi memiliki dua karya yang dia dedikasikan untuk membahas ontologi jiwa manusia, yaitu Bahwa Ada Substansi Non-Material dan Wacana Tentang Jiwa. Kedua karya ini… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (5): Al-Kindi (3): Kebenaran Pertama

Semua ilmu filsafat adalah tentang penyelidikan kebenaran, maka filsafat pertama adalah pengetahuan tentang kebenaran pertama dan penyebab semua kebenaran. Karya Al-Kindi yang paling ternama, yang berjudul Mengenai Filsafat Pertama, dikhususkan untuk membahas filsafat pertama atau metafisika, atau lebih spesifik lagi ini adalah studi tentang Ketuhanan. Argumen yang tercantum di dalamnya di antaranya adalah: karena semua… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (4): Al-Kindi (2): Karya-Karya

Al-Kindi adalah ahli kriptografi, sebuah ilmu tentang analisa frekuensi huruf dan kode. Kriptografi adalah pembuka jalan bagi dunia komputer, Internet, dan digital. Al-Kindi disebut-sebut sebagai Bapak Kriptografi. Para pencinta ilmu di masa kini cukup beruntung karena deretan buku yang dianggap hasil karya al-Kindi terselamatkan. Daftar karya-karya al-Kindi awalnya ditemukan dalam sebuah buku dari abad ke-10… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (3): Al-Kindi (1): Di Bawah Dekapan Khalifah Abbasiyah

Al-Kindi dikenal sebagai filsuf Muslim pertama. Dia sangat disukai Khalifah al-Mamun. Namun di bawah Khalifah al-Mutawakkil hidupnya menderita. Salah satu sarjana terbesar yang hidup pada Zaman Keemasan Islam adalah seorang pria yang bernama Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq as-Sabbah al-Kindi, atau lebih tenar dengan sebutan al-Kindi saja.[1] Di antara deretan filsuf terkemuka Muslim lainnya, al-Kindi… Teruskan Membaca

Monumental

Bayt Al-Hikmah (2): Gerakan Penerjemahan

Khalifah Al-Mamun meminta kepada Kaisar Kristen Bizantium untuk mengiriminya salinan setiap buku dari perpustakaan mereka. Fakta ini menyanggah mitos abadi tentang benturan antara dunia Muslim dan Kristen yang seolah-olah kaku dan tidak dapat ditawar-tawar. Pengantar redaksi: Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel yang berjudul Bayt Al-Hikmah: Lembaga Riset Pertama Islam. Artikel tersebut sebelumnya hanya terdiri… Teruskan Membaca

Tokoh

Omar Khayyam (4): Rubaiyat, Puisi-Puisi Karya Omar Khayyam

Beberapa (mengharap) untuk Kemuliaan Dunia Ini; dan beberapa Mendesah untuk Surga Sang Nabi, yang akan datang; Ah, ambillah Uang Tunainya, dan bebaskanlah tagihannya, Juga tidak perlu mengindahkan gemuruh Gendang di kejauhan! Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, keterkenalan Omar Khayyam di dunia Barat adalah karena puisi-puisinya – atau puisi yang mengatasnamakan dirinya, sebagaimana akan sedikit diulas di… Teruskan Membaca

Tokoh

Omar Khayyam (3): Jenius Matematika dan Astronomi

Omar Khayyam menciptakan sistem kalender baru yang disebut dengan Kalender Jalali, yang mana oleh sarjana Barat pun diakui bahwa keakuratannya melebihi kalender Gregorian yang dipakai saat ini. Omar Khayyam, yang memiliki nama lengkap Ghiyath al-Din Abu al-Fath Umar bin Ibrahim al-Nisaburi al-Khayyami, dilahirkan di Nishapur, Persia (sekarang di Iran) pada 18 Mei 1048. Dia wafat,… Teruskan Membaca

Tokoh

Omar Khayyam (2): Matematika dari Masa ke Masa (2)

Jauh sebelum John Wilson (1741 – 1793) menemukan teori bilangan “Teorema Wilson”, Ibnu al-Haitham (965-1040) sesungguhnya telah menemukannya terlebih dahulu. Matematika pada Zaman Keemasan Islam (2) Pada abad ke-10 para ahli aljabar di dunia Islam memperoleh perkembangan dari yang tadinya hanya menggunakan polinomial kuadrat al-Khawarizmi beralih ke penguasaan aljabar ekspresi yang melibatkan kekuatan integral positif… Teruskan Membaca