Mozaik Peradaban Islam

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (10)

Tradisi kelimuan kaum Alawiyin (Habaib) dikenal juga dengan “Thariqah Alawiyah”.  Meski tak bisa lepas dari dasar-dasar teoretis pemikiran kesufian, Thariqah Alawiyah bukanlah suatu orde sufi (tarekat). Ajaran ini, lebih menganjurkan pada berbagai praktik mujahadah dan riyadhah untuk mengembangkan keadaan-keadaan spiritual tertentu yang melahirkan akhlak yang baik. Oleh sebab itu, Thariqah Alawiyah dikelompokkan ke dalam apa yang biasa disebut sebagai “tasawuf akhlaki”. Thariqah Alawiyah yang… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (5): Tantangan Mendatangkan Azab

Wahai Nuh, sesungguhnya engkau telah membantah dan memusuhi kami, dan engkau memperpanjangnya. Maka datangkanlah azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika engkau memang benar. Pertentangan antara Nuh dengan para penguasa, orang-orang kaya, dan orang-orang kuat terus meningkat. Melihat Nuh terus mendapatkan pengikut dari golongan orang-orang lemah, mereka mencoba melakukan tawar menawar dengan Nuh, “Dengarkanlah, Nuh!… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (9)

Menurut Habib Luthfi, metode dakwah yang digunakan oleh para penyebaran Islam awal di Nusantara, tidak menonjolkan atribut keagamaan lahiriah. Tapi lebih mengedepankan akhlaq, dan yang paling penting, mereka datang ke dalam satu masyarakat dengan membawa solusi, bukan masalah. Sebagaimana sudah dibahas pada edisi sebelumnya, bahwa besar kemungkinan Islam sudah masuk ke Nusantara jauh sebelum Singasari… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (4): Nabi Kaum Miskin

Pada usia 480 tahun Nuh diutus. Orang-orang mendengarkan perkataan Nuh dalam diam. Apa yang diucapkannya menghantam pikiran mereka yang telah membeku. Meski sepi perhatian, diam-diam orang-orang miskin tersentuh hatinya. Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS menjadi rasul pertama bagi umat manusia. Ibnu Abbas mengatakan, ketika Nuh diutus, usianya sudah 480 tahun.[1] Allah SWT berkata kepada… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (81): Abu Ishaq Al-Muktasim (12)

Babak Khurmi dihukum dengan cara dimutilasi terlebih dahulu. Legenda mengisahkan, bahwa ketika tangannya terputus, Babak membasuh wajahnya dengan darah yang mengalir dari lengannya. Ini dilakukannya untuk menunjukkan sikap pembangkangan sampai akhir kepada penguasa Abbasiyah Setelah berhasil tertangkap di wilayah Armenia, Babak Khurmi kemudian dibawa terlebih dahulu ke hadapan Al-Afshin. Setelah itu, Al-Afshin melaporkan pada Al-Muktasim, bahwa… Teruskan Membaca

Pustaka

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (14): Bab 18, Bagaimana Mengenal Allah?

Akal itu sangat lemah dan hanya akan mampu menunjukkan pada sesuatu yang lemah pula seperti dirinya. Ketika Allah menciptakan akal, Dia bertanya kepadanya, ‘Siapakah Aku?’ Tapi akal terdiam, tak bisa menjawab. Bab 18: Tentang Pertanyaan: “Bagaimana Anda Mengenal Allah?” dan Perbedaan Antara Mukmin dan Arif Seseorang bertanya pada Abu Al-Husain Al-Nuri, semoga Allah merahmatinya, “Bagaimana… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (3): Waddan, Berhala Pertama Umat Manusia

Iblis berkata, “Aku melihat kalian bersedih karena kematian orang ini. Bolehkan aku membuat patung yang menyerupai dia?” Dahulu kala, jauh hari sebelum masa Nabi Nuh, terdapat seorang pria yang bernama Waddan. Dia adalah seorang saleh yang berbudi baik dan sangat dicintai oleh para pengikutnya. Suatu waktu Waddan meninggal. Dengan diliputi kesedihan, rakyatnya kemudian mengubur jasad… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (80): Abu Ishaq Al-Muktasim (11)

Pada tahun 222 H, Babak Khurmi berhasil ditangkap dan digelandang ke Samarra. Dengan demikian, total waktu yang dibutuhkan Al-Afshin untuk penaklukkan ini sekitar 1,5 tahun; menghabiskan 10.000 dirham perhari untuk pasukannya; dan 5000 dirham khusus untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika masa serangan umum ke Bentang Al-Badhdh, Al-Muktasim menambah lagi anggaran perangnya hingga mencapai 30 juta… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (2): Kelahiran Nuh

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Ada sepuluh generasi antara Nuh dan Adam, seluruhnya adalah pengikut hukum agama yang benar. Kemudian mereka berselisih dan Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar baik dan pemberi peringatan.” Kisah tentang Nabi Nuh tidak hanya dimiliki oleh Islam saja, agama-agama Samawi lainnya, yakni Yahudi dan Nasrani, juga memiliki kisahnya, dan tentu saja… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (3); Setting Sejarah (2)

Tome Pires, seorang penulis Portugis yang singgah ke Demak pada sekitar tahun 1515, menggambarkan Kota Demak sebagai kota yang makmur; terdiri dari 8.000 sampai 10.000 rumah dan tanah di sekitarnya menghasilkan beras melimpah-limpah, yang sebagian diekspor ke Malaka. Keberhasilan Vasco da Gama mencapai India begitu membanggakan dan terbilang sangat monumental bagi masyarakat Eropa kala itu.… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (8)

R. Michael Feener dalam salah satu jurnalnya menyebutkan, bahwa sebelum datangnya kolonialisme bangsa Eropa, Islam lebih dikenal sebagai ajaran nilai yang mewujud sebagai akhlak yang mulia, ketimbang identitas kelompok tertentu. Seperti sebuah trend etika, nilai-nilai agama ini menyatu secara alamiah dengan kebudayaan setempat. Sebagaimana sudah diurai pada edisi sebelumnya, bahwa Kitab Undang-Undang Angger Surya Ngalam… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (79): Abu Ishaq Al-Muktasim (10)

Di bawah kepemimpinan Al-Afshin, metode perang tentara Abbasiyah menjadi sangat berbeda. Pasukan Abbasiyah dari divisi lainnya bisa menyaksikan langsung satu teknik pertempuran baru. Dimana taktik, intrik, dan permainan telik sandi justru menjadi motor utama kemenangan mereka. Pada tahun 220 H, Al-Afshin bergerak bersama seluruh pasukannya menuju Azarbaijan. Pasukan ini tidak hanya terdiri dari divisi budak… Teruskan Membaca

Tasawuf

Memperingati Hari Kemerdekaan, Membebaskan Diri dari Penjajahan oleh Hawa Nafsu

Rasulullah berkata, perang fisik sebesar apapun, itu harus dilihat sebagai jihad asghar, atau sebagai perang kecil, jika dibandingkan dengan perang melawan hawa nafsu. Oleh Haidar Bagir Tidak terasa pada tahun ini kita telah melaksanakan kembali peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan adalah suatu peristiwa besar, bukan hanya dalam sejarah negara atau bangsa kita. Tetapi, sesungguhnya, persoalan… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (2); Setting Sejarah (1)

Menurut catatan Prof. Dr. Slamet Mulyana, Kesultanan Demak pertama berdiri pada tahun 1475 M, setelah berhasil meruntuhkan negara Majapahit. Pada periode yang sama, peta politik nusantara dan dunia sedang mengalami pancaroba.   Berdasarkan catatan sejarah, Kesultanan Demak diperkirakan eksis pada sekitar akhir abad ke 15 sampai pertengahan abad ke 16 Masehi. Periode ini adalah masa… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (1): Rasul Pertama

Pada saat air bah tiba, seorang ibu lari membawa anaknya ke puncak gunung. Hingga air itu naik sampai ke lehernya, dia mengangkat anaknya dengan tangannya. Rasulullah berkata, “Jika Allah hendak mengampuni salah satu dari mereka, itu akan diberikan kepada ibu dari anak kecil itu.”[1] Di dalam ajaran Islam, Nabi Nuh AS dianggap sebagai salah satu… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (78): Abu Ishaq Al-Muktasim (9)

Pada tahun 220 H, Al-Muktasim memecat Fadl bin Marwan dari posisinya sebagai wazir (perdana menteri), karena tuduhan korupsi. Di tahun ini juga, Al-Muktasim mengangkat Al-Afshin, seorang jenderal asal Turki, untuk menjadi panglima perang Abbasiyah. Pada tahun 220 H, atau ketika Al-Afshin ditugaskan berangkat menghadapi Babak Khurmi, Al-Muktasim memecat Fadl bin Marwan dari posisinya sebagai wazir… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (1)

Kesultanan Demak dipercaya sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Tapi sejarah yang menyelubungi eksistensi kesultanan ini tidaklah secerah nama besarnya. Padahal, kesultanan ini berdiri di salah satu fase paling krusial dalam sejarah di Nusantara, yaitu pertengahan abad ke 15 sampai pertengahan ke 16 Masehi.   Bila kita melacak sejarah masuk dan berkembangnya Islam ke… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (77): Abu Ishaq Al-Muktasim (8)

Pada tahun 220 H, Al-Muktasim mulai menggunakan jasa pasukan dari Turki secara formal. Misi pertama mereka adalah menaklukkan kekuatan Babak Khurmi, sebuah agama baru di Azarbaijan. Kelompok ini, nyaris tak terkalahkan sejak masa Al-Makmun. Meski tidak sedikit pihak yang meragukan keputusan Al-Muktasim untuk menggunakan jasa pasukan budak dari Turki sebagai kekuatan utama Dinasti Abbasiyah. Tapi… Teruskan Membaca

Studi Islam

Megatruh: Sebuah Syarah Kesejarahan (7)

Bila kita asumsikan, Kitab Undang-Undang Hukum Majapahit kental nuansa syariat Islam. Bukan tidak mungkin pada masa itu, norma-norma ajaran Islam sudah hidup, bahkan mendominasi nilai-nilai yang berkembang di masyarakat Jawa. Tahun 1215 M, ketika bangsa Inggris mendapatkan daulatnya dengan ditandatanganinya Magna Charta oleh Raja John, masyarakat nusantara – khususnya di Jawa bahkan belum mengenal adanya… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (76): Abu Ishaq Al-Muktasim (7)

Keputusan Al-Muktasim memindahkan ibu kota Dinasti Abbasiyah dari Baghdad ke Samarra memberi dampak yang fundamental pada struktur sosial-politik dalam tubuh dinasti ini. Pada masa selanjutnya, berdampak luas terhadap sejarah peradaban Islam. Kota Samarra Sebagaimana sudah dikisahkan pada edisi terdahulu, disebabkan protes dari pendudukan Baghdad, Al-Muktasim akhirnya memindahkan korp budak-budak Turki, dari Baghdad ke Samarra. Kota… Teruskan Membaca