Mozaik Peradaban Islam

Tasawuf

Diskursus Sufi (2): Pengantar (2)

Dalam literatur sufi, Tuhan adalah puncak kesempurnaan. Semua yang sempurna dalam maknanya yang paling mutlak dan tak terbatas adalah esensi Tuhan. Manusia, di sisi lain, adalah replika Tuhan. Raison d’atre penciptaannya tak lain ialah menjadi manusia paripurna (insan kamil). “Quantum Being” Pada paruh kedua abad 20, sejumlah pemikir Barat seperti Max Planck, Paul Dirac, Louis… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (31): Kekaisaran Mongol (4)

Genghis Khan mengembangkan metode komunikasi yang rumit menggunakan sinyal-sinyal. Kelak, ini akan menjadi kunci bagi ekspansi Mongol lainnya, sebab musuh tidak dapat memahami pergerakan pasukan Mongol. Hierarki Militer Seluruh anggota Tumen (divisi yang memiliki anggota 10.000 prajurit)  milik Genghis Khan berperan seperti seorang kakak laki-laki tertua dalam sebuah keluarga. Oleh karena itu, posisi mereka lebih… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (18): Abdullah Abu Ja’far (Al-Manshur) (3)

Setelah wafatnya Abu Muslim, para pengikutnya melakukan pemberontakan kepada Al-Manshur. Tapi yang tak disangka, ideologi politik gerakan-gerakan ini kemudian bertranformasi menjadi paham-paham baru, yang justru bertentangan, bahkan berbalik menentang ajaran Islam. Sebagaimana sudah dikisahkan pada edisi sebelumnya. Abu Muslim al Khurasani telah dibunuh secara licik oleh Al-Manshur. Di satu sisi, hal ini membuat Dinasti Abbasiyah… Teruskan Membaca

Tasawuf

Diskursus Sufi (1): Pengantar (1)

“Demi Allah, seandainya kau wahai dunia, adalah manusia yang tampak nyata, berjiwa berperasaan, niscaya akan kulaksanakan hukuman Allah atas dirimu, sebagai pembalasan bagi hamba-hamba yang telah kau kelabui dengan angan-angan kosong. Atau bangsa-bangsa yang kau jerumuskan ke dalam jurang-jurang kehancuran. Atau raja-raja yang kau halau ke dalam kebinasaan dan kau masukkan ke pusat-pusat bala` dan… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (30): Kekaisaran Mongol (3)

Untuk mempertahankan kesetiaan para pejabatnya, Genghis Khan meminta anak-anak para pejabat tersebut untuk diserahkan ke dalam penguasaannya sebagai “sandera”. Adopsi Tulisan Untuk menjalankan kekaisarannya yang membentang di atas hamparan tanah yang begitu luas, secara umum Genghis Khan memerlukan sarana yang harus dikuasai oleh rakyatnya, yakni kemampuan baca-tulis. Namun, secara khusus dia memerlukannya untuk mencatat dan… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (17): Abdullah Abu Ja’far (Al-Manshur) (2)

Abu Muslim al Khurasani terbunuh pada tahun 137 H/755 M. Dia seorang jenderal yang sangat mumpuni, tapi juga terkenal kejam. Menurut Tabari, tak kurang dari 600.000 jiwa yang sudah dibunuh oleh Abu Muslim selama karir kemiliterannya. Pengaruhnya setara seorang khalifah. Ini sebabnya, kematian Abu Muslim seakan mengafirmasi kedaulatan Bani Abbas di tengah kaum Muslim. Membunuh… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif ‘Irfan (2)

Para anggota Walisongo secara keseluruhan adalah para guru panteisme (tawhid wujudi). Oleh Haidar Bagir[1] Sebagai konsekuensinya (bahwa budaya adalah juga tanda-tanda [ayat] Tuhan-red), orang Indonesia, Muslim bukan hanya dapat  memeluk, melainkan wajib memelihara budaya Indonesia. Pertanyaannya, seperti apa budaya Indonesia itu? Sutan Takdir Alisjahbana pernah mengupas budaya Nusantara, yang dia sebut memiliki tiga lapisan. Pertama, lapisan… Teruskan Membaca

Sejarah

Bangsa Mongol dan Dunia Islam (29): Kekaisaran Mongol (2)

Pada saat Genghis Khan berkuasa, banyak pengikutnya yang telah menganut Buddhisme, Kristen, Manicheanisme, dan Islam. Dia menjamin kebebasan total bagi mereka, dan membebaskan para pemukanya dari segala macam kewajiban membayar pajak. Hewan Ternak dan Perburuan Meski mencuri hewan ternak selalu dianggap salah, tetapi itu sudah menjadi hal yang biasa dalam budaya jarah-menjarah masyarakat padang rumput,… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (16): Abdullah Abu Ja’far (Al-Manshur) (1)

Al-Manshur dikenal sangat kikir, sampai-sampai digelari “Abu Dawaniq” (Dawaniq adalah jamak dari Daniq, nama mata uang zaman itu), karena kebiasaannya menghitung harta sampai rincian yang terkecil untuk para pegawainya. Tindakan pertamanya adalah membunuh Abu Muslim, sosok yang paling berjasa dalam drama revolusi Abbasiyah. Nama lengkapnya Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, atau… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif ‘Irfan (1)

Belajar dan menghayati budaya merupakan sumber pengetahuan dan penghayatan terhadap agama itu sendiri. Oleh Haidar Bagir[1] Belakangan ini wacana agama banyak diwarnai dengan kekhawatiran menguatnya eksklusivisme legal-tekstual bersama masuknya faham Islam transnasional yang, sayangnya, cenderung bermusuhan dengan budaya dan produk-produknya. Masih belum hilang ingatan kita kepada Talibanisme yang menghancurkan patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan, ketika… Teruskan Membaca

Pilihan

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (1)

Umumnya sejarawan menilai bahwa era pemerintahan Dinasti Abbasiyah merupakan puncak masa keemasan peradaban Islam. Tapi di balik gemerlap pencapaian tersebut, sejarah politik … Teruskan Membaca

Arsitektur

Budaya Islam

Nusantara

Kaligrafi

Monumental

Mualaf

Negara Islam

Orientalis

Sejarah