Mozaik Peradaban Islam

Studi Islam

Kisah Nabi Hud (5): Awan Hitam

Pemimpin Kaum Ad berdoa di Makkah, dan Allah mendatangkan tiga awan, satu putih, satu merah, dan satu hitam. Dia memilih awan berwarna hitam karena beranggapan di dalamnya mengandung banyak air. Dia tidak tahu apa yang ada di dalamnya adalah bencana. Demikianlah, setelah delegasi Kaum Ad mengetahui keislaman Marthid bin Sa’d dan mengecamnya, mari kita ikuti… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (10): Raden Fatah (5)

Di Pulau Jawa, Raden Fatah akhirnya berguru dengan Sunan Ampel. Selanjutnya dia mulai berdakwah di wilayah Demak dan Bintoro. Melalui satu peperangan, Raden Fatah berhasil menggulingkan penguasa setempat, dan menjadi penguasa di wilayah tersebut. Setelah itu, dia menggabungkan kedua wilayah tersebut, sehingga dikenal kemudian dengan sebutan Demak-Bintoro. Berbeda dengan yang dituturkan oleh Serat Kadaning Ringgit… Teruskan Membaca

Pustaka

Kitab Al-Luma’ fi At-Tashawwuf Karya Abu Nasr as-Sarraj (15): Bab 51, Tafsir Alquran Kaum Sufi

Allah akan mewariskan ilmu yang sebelumnya tidak mereka keta­hui, yakni yang Allah bukakan untuk orang-orang pilihan-Nya. Bab 51: Bagaimana Kaum Sufi Mengambil Penafsiran yang Tepat dalam Memahami Alquran, Hadis dan Sumber-sumber lain serta pelbagai Metode Tafsir mereka Syaikh [Abu Nashir Al-Sarraj] berkata, sebagai jawaban atas pertanyaan makna ‘penafsiran mendalam’ (deeper interpretations), bahwa istilah tersebut merujuk… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Hud (4): Marthid bin Sa’d, Bangsawan Ad yang Menyembunyikan Ke-Islamannya

Marthid bin Sa’d adalah salah satu delegasi Kaum Ad yang pergi ke kota suci Makkah untuk meminta hujan. Namun dalam proses itu, identitas keislamannya terungkap. Demikianlah, setelah Kaum Ad dilanda kekeringan selama tiga tahun, mereka mengirimkan delegasi mereka ke Makkah untuk berdoa meminta hujan. Bagaimana jalannya proses tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam riwayat yang… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (9): Raden Fatah (4)

Disamping mempelajari ilmu agama, Raden Fatah juga mempelajari ilmu pemerintahan dari Arya Damar. Dengan kedua dasar ilmu ini, bisa dimaklumi bila di kemudian hari, Raden Fatah demikian tangkas memanjat struktur sosial dan politik di tengah masyarakat. Berdasarkan informasi dari naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang, Raden Fatah tinggal dan dididik oleh Arya Damar sekitar… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Hud (3): Kemarau Tiga Tahun

Hud berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah menjawab, “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Kaum Ad lalu ditimpa kemarau tiga tahun. Namun mereka belum patah semangat. Nabi Hud terus menjawab semua pertanyaan dari Kaum Ad dengan sabar. Dia kemudian menjelaskan tentang Hari Perhitungan, yaitu hari ketika seluruh… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (8): Raden Fatah (3)

Besar kemungkinan, Raden Fatah sudah menjadi Muslim sejak bayi. Adapun madrasah pertamanya, tidak lain adalah ibunya sendiri. Selanjutnya, Raden Fatah mendalami ilmu agama di bawah bimbingan ayah tirinya, yaitu Arya Damar. Berdasarkan narasi sejarah tentang asal usul Raden Fatah, hampir semua catatan menyebut bahwa dia lahir di tanah Palembang. Soal waktu kelahirannya, naskah Klenteng Sam… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Hud (2): Hud Si Orang Gila

“Wahai Hud! Engkau tidak memberikan bukti yang jelas kepada kami dan kami tidak akan meninggalkan tuhan kami atas perintahmu. Kami tidak percaya kepadamu. Kami hanya percaya bahwa salah satu dari tuhan kami telah merasukimu dengan cara yang buruk.” Setelah Nabi Hud AS diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada Kaum Ad, dia berbicara kepada mereka.… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (7): Raden Fatah (2)

Tentang kejanggalan hubungan nasab antara Arya Damar dengan Raden Fatah yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi, Prof. Dr. Slamet Muljana berkomentar dalam bukunya: “…Dalam hal ini pemberitaan Babad Tanah Jawi agak jumbuh (teledor). Hal ini dapat dipahami.” Arya Damar, bisa dikatakan sosok cukup penting dalam rangkaian kisah sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Bukan hanya karena… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Hud (1): Kaum Ad

Kaum Ad adalah anak-anak keturunan Nabi Nuh dari jalur Sem. Mereka dianugerahi fisik yang kuat dan sempurna. Mereka terkenal akan keahlian dalam membangun bangunan-bangunan tinggi yang megah. Tidak lama setelah Allah SWT menenggelamkan umat Nabi Nuh, muncullah suatu kaum yang disebut dengan Kaum Ad. Alquran tidak menjelaskan berapa rentang waktu antara peristiwa banjir besar sampai… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (12): Akhir Banjir, Awal Mula Kehidupan

Al-Tabari berkata, “Di dunia ini hari ini, anak-anak Adam adalah keturunan langsung dari Nuh dan tidak ada keturunan Adam lainnya.” Lalu bagaimana dengan nasib manusia-manusia lainnya? Setelah bahtera tiba di al-Judi, Alquran mengabadikan momen-momen yang terjadi di sana: Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (6): Raden Fatah (1)

Ibu Raden Fatah adalah seorang selir Brawijaya asal negeri Cina. Ketika sedang hamil, selir ini diberikan pada Arya Damar yang juga putra dari Brawijaya. Setelah melahirkan Raden Fatah, selir tersebut dinikahi oleh Arya Damar, yang kemudian melahirkan Raden Kusen Adipati Terung. Asal Usul Sebagaimana sudah diurai sebelumnya, umumnya sejarawan setuju, bahwa Sultan pertama Demak bernama… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (11): Mengarungi Lautan

Ibnu Abbas berkata, “Mereka naik bahtera pada tanggal 10 Rajab, dan mereka berangkat pada Hari Asyura, (hari kesepuluh) al-Muharram; oleh karena itu, semua orang berpuasa pada Hari Asyura.” Ibnu Abbas mengatakan, Allah mengirimkan hujan selama 40 hari dan 40 malam sampai akhirnya membanjiri kaum penyembah berhala.[1] Tidak diketahui dengan pasti apakah banjir tersebut menutupi seluruh… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (5): Setting Sejarah (4)

Sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh Kertawijaya selama masa pemerintahannya telah membuka membuka kesempatan bagi kaum Muslimin di tanah Jawa untuk membangun pondasi dakwah Islam yang lebih terorganisir dan sistematis. Selain beberapa istri dan sebagian putra-putranya beragama Islam, sejumlah kebijakan yang ditetapkan Sri Prabu Kertawijaya tampak sekali memberi peluang bagi orang-orang beragama Islam untuk memegang tampuk… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (10): Banjir Besar (2)

Nuh berkata kepada salah satu putranya, “Nak, ikutlah bersama kami!” Dia menjawab, “Aku akan lari ke gunung yang akan melindungiku dari air.” Dia sering berlindung di pegunungan ketika hujan besar turun, dan dia berpikir bahwa dia akan selamat. Suatu waktu Rasulullah SAW menceritakan tentang peristiwa yang terjadi kepada umat Nabi Nuh. Aisyah yang mendengarkannya, kemudian… Teruskan Membaca

Islam Nusantara

Kesultanan Demak (4): Setting Sejarah (3)

Sejarah berdirinya Kesultanan Demak, dimulai ketika Majapahit diperintah oleh Prabu Kertawijaya (1447-1451). Menurut Agus Sunyoto, dialah Raja Majapahit pertama yang memberi perhatian besar pada perkembangan agama Islam. Mudahnya bangsa Portugis merebut hegemoni di perairan Nusantara, tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah yang berkembang sebelumnya di Pulau Jawa, yaitu kemunduran Majapahit. Imperium terbesar di Nusantara ini,… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (9): Banjir Besar (1)

Ibnu Katsir menggambarkan, “Air naik dari retakan di bumi, tidak ada celah dari mana air tidak naik. Hujan turun dari langit dalam jumlah yang belum pernah terlihat sebelumnya di bumi. Bagian dalam bumi bergerak, dan dasar samudera terangkat tiba-tiba, membanjiri tanah yang kering.” Setelah selama 400 tahun membangun bahtera yang sangat besar (menurut riwayat Salman… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (85): Abu Ishaq Al-Muktasim (16)

Setelah melakukan pengepungan selama 55 hari, Bentang Ammuriyya berhasil ditaklukkan. Sekitar 3.000 orang pasukan Bizantium yang tewas dalam pertempuran ini, dan sekitar 30.000 lainnya ditawan. Al-Muktasim memerintahkan benteng tersebut dibumi hanguskan. Dan sejak itu, Kota Ammuriyya tidak pernah bisa bangkit lagi. Rumor tentang adanya konspirasi yang melibatkan Abbas bin Al-Makmun belum sampai ke telinga Al-Muktasim… Teruskan Membaca

Studi Islam

Kisah Nabi Nuh (8): Dialog Nabi Isa dengan Putra Nuh

Nabi Isa mengambil segenggam tanah di telapak tangannya, lalu berkata, “Ini adalah kuburan putra Nuh, Ham.” Dia memukul bukit itu dengan tongkatnya dan berkata, “Bangkitlah dengan izin Allah!” Dan bangkitlah Ham dengan rambut abu-abu. Demikianlah Nabi Nuh membuat bahtera sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT. Setelah bahtera itu selesai dibuat, ada banyak riwayat dengan versinya masing-masing,… Teruskan Membaca

Sejarah

Dinasti Abbasiyah (84): Abu Ishaq Al-Muktasim (15)

Di tengah kecamuk perang yang sedang berlangsung, seorang bernama Amr al-Farghani membocorkan rahasia pada temannya, bahwa saat ini “Persiapan yang dilakukan oleh Al-Abbas bin Al-Makmun sudah selesai, dan segera kita akan menyatakan kesetiaan kita padanya dan membunuh Al-Muktasim, Ashnas, dan yang lainnya.” Di Kota Ancyra (Anqirah), Al-Muktasim kembali membagi pasukannya menjadi tiga kelompok. Yang pertama… Teruskan Membaca