Mozaik Peradaban Islam

Tokoh

Mushab bin Umair (11): Pemanah pada Perang Uhud

Rasulullah berkata kepada pasukan pemanah, “Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan perang, maka janganlah kalian turut bergabung bersama kami.” Setelah Perang Badar, pada tahun berikutnya (625 M/3 H) umat Islam terlibat perang untuk yang kedua kalinya dengan kaum Quraish Makkah. Perang ini disebut dengan Perang Uhud. Perang ini merupakan kelanjutan… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (10): Perang Badar

Umat Islam meraih kemenangan besar dalam perang ini. Salah satu tawanan perang dari pihak Quraish adalah saudara kandung Mushab bin Umair. Bagaimana reaksi Mushab melihat saudaranya sendiri? Dua tahun setelah peristiwa hijrah besar, umat Islam terlibat peperangan dengan kaum Quraish Makkah yang sebelumnya telah menindas Muslim. Ada banyak penafsiran terkait apa yang melatarbelakangi terjadinya perang… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (9): Orang yang Ditangisi Rasulullah

Di Madinah, Rasulullah melihat keadaan Mushab, dan lalu mata Rasulullah penuh dengan air mata, dan dia mulai menangis. Setelah peristiwa hijrah besar, umat Islam dan Nabi Muhammad SAW menetap di Yastrib, yang namanya kemudian menjadi Madinah. Dalam berbagai riwayat, banyak dikisahkan tentang kesulitan yang dialami oleh Muslim di sana pada masa-masa awal. Tidak terkecuali dengan… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (8): Al-Muqri

“Marilah kita pergi kepada Mushab dan beriman bersamanya! Kata orang-orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah giginya,” penduduk Yastrib berbondong-bondong masuk Islam sehingga hampir tidak ada rumah orang Anshar yang tidak memiliki Muslim di dalamnya. Dalam riwayat versi lainnya, sebagaimana disampaikan oleh Tabrani dan Abu Nuaim dalam Dala’ilun Nubuwwah, ketika Mushab bin Umair berbicara kepada orang-orang… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (7): Saad bin Muadz dan Bani Abdil Ashhal

Pemimpin Anshar berkata, “Demi Allah! Jika bukan karena hubungan antara kau dan aku, engkau tidak akan pernah berpikiran untuk melakukan hal ini. Engkau berani memperkenalkan ke daerah kami sesuatu yang kami benci!” Usaid kemudian mengambil tombaknya dan pergi ke tempat di mana Saad bin Muadz dan orang-orangnya duduk dalam sebuah pertemuan. Ketika Saad bin Muadz… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (6): Usaid Bin Hudhair

Usaid, pemimpin musyrik Bani Abdil Ashhal di Yastrib, sambil membawa tombak mendatangi Mushab yang sedang berdakwah, berkata, “Engkau akan meninggalkan kami sendirian jika engkau menyayangi hidupmu!” Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm dan banyak lainnya meriwayatkan bahwa Asad bin Zurarah membawa Mushab bin Umair ke wilayah suku Bani Abdil Ashhal dan… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (5): Misi ke Yastrib

Yang pertama di antara kaum Muhajirin yang datang kepada kami adalah Mushab bin Umair yang berasal dari suku Banu Abdid Daar. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum, yang merupakan seorang buta yang berasal dari suku Bani Fihr. Sesampainya Mushab bin Umair di Yastrib (Madinah), dia mendapati bahwa kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (4): Perpisahan dengan Sang Ibu

Mushab mengajak ibunya untuk memeluk Islam, namun jawaban dia adalah, “Demi bintang! Sekali-kali aku tak akan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa menjadi rusak, dan buah pikiranku tidak akan diindahkan orang lagi.” Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab ke agama yang lama, wanita ini telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepada… Teruskan Membaca

Pustaka

Kitab al-Aghani Karya Abul Faraj al-Asfahani (2): Kontroversi Seputar Kitab

Seperti karya monumental lainnya, ada yang sepakat, mendiamkan, membela, dan mencacinya. Tetapi mereka sepakat bahwa kitab ini merupakan sumber pertama dan utama dalam kesusasteraan Arab. Oleh Khoirul Imam[i] Kitab al-Aghani karya Abul Faraj al-Ashfahani adalah masterpiece yang sampai saat ini belum tertandingi. Kitab ini terdiri dari 25 jilid besar, dengan jumlah halaman tiap jilid  bervariasi… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (3): Kembali ke Makkah

Sekembalinya Mushab, ketika para sahabat melihatnya, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya tampak basah. Keadaan Mushab menyedihkan, jauh dari penampilan dia sebelumnya. Meskipun kaum Muslim menikmati kedamaian dan keamanan di tanah Negus, namun pada dasarnya mereka ingin tetap berada di Makkah bersama dengan Rasulullah. Jadi ketika sebuah laporan mencapai Habsyi, menyatakan… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (2): Terbongkarnya Rahasia

Utsman bin Thalhah, secara diam-diam melihat Mushab memasuki rumah Arqam. Dia curiga, bagaimana mungkin seorang pemuda Quraish yang terpandang dapat memasuki rumah Arqam. Pada kesempatan lain, dia melihat Mushab salat. Setelah Mushab bin Umair RA masuk Islam, dia tidak takut apapun. Bahkan andai kata seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah… Teruskan Membaca

Tokoh

Mushab bin Umair (1): Duta Islam Pertama

Rasulullah berkata, “Dahulu aku lihat Mushab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Mushab bin Umair RA adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang kelak akan menjadi duta Islam yang pertama. Dia diutus oleh Rasulullah untuk mengajarkan Islam di Madinah.… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (4): Wawancara Zainal Abidin Bagir dengan Nasr: Generasi dengan Dua Kaki

Masyarakat modern ada bukan cuma di Barat, tapi juga di banyak negara Muslim. Masyarakat ini sudah melupakan hakikat keberadaan manusia dan memutus hubungan dengan Sumber Kebaikan. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] ZAB: Anda kerap mengkritik dunia modern dengan keras. Misalnya, Anda menulis bahwa dunia Barat itu pada esensinya buruk, dan hanya baik secara aksidental, sementara dunia… Teruskan Membaca

Pustaka

Kitab al-Aghani Karya Abul Faraj al-Asfahani (1): Tentang Penulis

Tak ada yang sia-sia dalam sejarah. Ia memberikan kita cara pandang holistik melihat masa lalu untuk meneropong masa depan. Mengamati keanekaragaman dari berbagai bentuk peninggalan, membaca sisa-sisa artefak dengan penuh kaitkelindan, dan menafsir ulang ragam narasi usang dengan gaya kekinian. Oleh Khoirul Imam[1] Salah satu peninggalan masa lalu yang menarik adalah Kitab al-Aghani. Kitab ini… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (3): Riwayat Hidup: Manusia “Pontifikal” di Pengasingan Barat

Nasr menulis buku Islam dalam Cita dan Fakta, menurut William C. Chittick, mungkin inilah satu-satunya buku tentang Islam yang ditulis Muslim taat tapi tak menyingung perasaan orang Kristen. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Nasr tak akan menolak, atau justru bangga, disebut bukan manusia modern. Baginya manusia modern adalah manusia Promethean, yang memberontak melawan Langit meski sukses… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (2): Filsafat Perennial: Kembali ke Masa Depan? (2)

“Saya tak pernah menolak temuan Galileo tentang jumlah bulan yang mengelilingi planet Jupiter, atau temuan-temuan lainnya yang tak terlalu penting bagi Tradisi.” Tapi yang ditolak Nasr adalah keyakinan akan tak adanya Pencipta. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Gagasan sentral lain dalam filsafat perennial adalah tentang Rantai Keberadaan (Great Chain of Being), yang mengimplikasikan adanya hirarki ontologis,… Teruskan Membaca

Studi Islam

Seyyed Hossein Nasr (1): Filsafat Perennial: Kembali ke Masa Depan? (1)

Filsafat perennial adalah nama lain dari metafisika Islam sebagaimana dipahami Nasr. Meskipun disebut “filsafat”, warna mistikalnya amat kental. Oleh Zainal Abidin Bagir[1] Resensi atas buku: L. E. Hahn, R. E. Auxier, L. W. Stone, Jr., eds., The Philosophy of Seyyed Hossein Nasr (The Library of Living Philosophers, Vol. XXVII), Open Court, Illinois, AS, 2001,1001+xviii hal.… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (10): Penutup

Dokumen-dokumen tentang kisah Ayuba, telah membantah anggapan kontemporer bahwa Muslim adalah orang asing yang datang belakangan ke Amerika Serikat. Faktanya, Ayuba telah hadir di sana tiga dekade sebelum Amerika Serikat memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah dapat pulang kembali ke rumahnya di Bundu, meskipun daerah itu terperangkap dalam gelombang peperangan antar suku, namun karena pada dasarnya Ayuba Suleiman… Teruskan Membaca

Tokoh

Ayuba Suleiman Diallo (9): Pulang ke Afrika

Ketika Ayuba pulang ke kotanya, dalam sebuah selebrasi, dia menembakkan senjatanya ke udara dan memacu kudanya berputar-putar dengan kencang. Ayuba adalah budak Afrika kedua yang dapat kembali pulang ke rumahnya. Setelah sekian lama tinggal di Inggris, pada tahun 1734 Ayuba Suleiman Diallo akhirnya berlayar pulang ke negaranya dengan bantuan dari Royal African Company, sebuah perusahaan… Teruskan Membaca

Tokoh

KH. Saifuddin Zuhri (2): Mencari Jati Diri

Masa kecil Saifuddin Zuhri dihabiskan untuk melahap kitab-kitab induk di bawah bimbingan guru ternama. Pada tahun 1937 Saifuddin merantau ke Solo. Saat itu umurnya menginjak 18 tahun. Di kota itu, Saufuddin tidak hanya belajar, tapi juga bekerja, dan mulai menapaki dunia keorganisasian. Sejak kecil, selain ditempa melalui kegiatan belajar agama secara formal, Saifuddin Zuhri sudah… Teruskan Membaca