Yusuf Islam (2): Pencarian Makna Hidup Dalam Keterasingan Dan “Nearly Death Experience”

in Mualaf

Last updated on May 30th, 2023 08:58 am

“Di dalam hiruk pikuk ketenaran dan kekayaan yang berlebih, ia kehilangan inspirasi. Bahkan Yusuf Islam mengalami krisis identitas.”

Sumber Poto: liveabout.com/Michael Putland/Getty Images

Pengalaman di antara hidup dan mati mengubah perspektif Yusuf Islam. Pemulihan selama hampir satu tahun, mungkin telah menyelamatkan jiwanya. Ia mendapatkan kesempatan untuk merasakan kedamaian, cara pandang hidupnya mulai berubah. Akan tetapi, dia tidak bisa berhenti mencari arti hidup itu sendiri.

Mengalami Krisis Identitas dan Mengasingkan Diri

Dinyatakan sembuh total dari tuberkulosis, Yusuf Islam kembali memasuki dunia yang pernah membawa tenar namanya. Di satu pesta ia bertemu seorang model dan aktris bernama Patty D’Arbanville. Mereka menjalin hubungan yang manis selama dua tahun, tetapi akhirnya berakhir. Itu membuat Yusuf Islam patah hati, bahkan ia menciptakan beberapa lagu ballad yang menyayat hati untuk D’Arbanville.

Di umurnya yang ke-25, Yusuf Islam memutuskan untuk mengasingkan diri. Dia mulai merasa tersesat setelah menjadi superstar dan merilis album-album yang sukses. Di dalam hiruk pikuk ketenaran dan kekayaan yang berlebih, ia kehilangan inspirasi. Bahkan Yusuf Islam mengalami krisis identitas.

Ia pun menyumbangkan uang ke badan amal anak-anak. Pergi ke daerah-daerah yang dilanda kelaparan dan peperangan seperti Ethiopia, Bangladesh, dan Kenya. Yusuf Islam pun memutuskan pindah ke Negara Brasil—ketika itu dianggap sebagai lokasi yang sepi. Harapannya, agar bisa menemukan pencarian jati diri.

Di Brasil, dia benar-benar merasa sendiri dan begitu menyakitkan hatinya untuk waktu yang begitu lama. Dalam pengakuannya kepada majalah Melody Maker tahun 1975 ia mengatakan, “Saya bahkan tidak dapat berbicara dengan wanita yang memasak dan menjaga kebersihan tempat itu (rumah di Brasil).”

Bahkan ia membuat dirinya nyaris tak dikenali, dengan mencukur habis rambut ikal panjang juga janggutnya.[1]

Yusuf Islam masih merilis banyak lagu, selama dalam kebimbangan di hati. Lagu-lagunya banyak berhubungan dengan pencarian jati diri. Ia pun mempelajari berbagai macam agama dan kepercayaan, tetap tidak menyurutkan dahaga yang dirasakan. “Tetapi saya tidak menyukai dogma agama … saya menginginkan cara yang lebih spiritual untuk menemukan apa yang benar dan salah,” ungkapnya.[2]

Pengalaman Spiritual Hingga Konversi Agama

Di tahun 1976—di tahun yang sama dengan tur Majikat Earth, Yusuf Islam hampir tenggelam di Pantai Malibu. Sebuah pengalaman nyaris mati yang ia sebut sebagai “keajaiban”. Ia pergi berenang ketika berada di kediaman Jerry Moss, produser rekamannya dari Amerika. Selama satu setengah jam ia berenang, dan tidak bisa kembali ke pantai. Tidak ada siapa pun di sana, Yusuf Islam yakin dia pasti akan mati tenggelam.

Lalu ia memohon dan berkata, “Ya Tuhan, jika Engkau menyelamatkan saya, saya akan bekerja untuk-Mu.” Pada saat itu, ombak datang dan mendorong tubuhnya dari belakang. Yusuf Islam tiba-tiba saja memiliki semua energi yang ia butuhkan, ia kembali ke daratan dengan selamat.[3]

Semenjak kejadian itu, Yusuf Islam menjadi pribadi yang lebih religius, tetapi ‘terlalu terikat dengan dunia’. Dia masih berkutat dengan ‘pencarian’, dan tak kunjung mendapatkan apa yang ia cari.

Ia mengungkapkan “keajaiban” lain yang kali ini membawanya pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam batinnya.  

Saudara laki-lakinya—David—kembali dari Yerusalem, dan membawakan Yusuf Islam sebuah terjemahan Al Quran. David sendiri bukan muslim dia hanya memberikan Al Quran sebagai hadiah, karena menyadari pencarian spiritual adik laki-lakinya itu.

Itu kali pertama ia mengenali agama Islam.

Membaca Al Quran dan menafsirkannya sendiri, karena tidak ada siapa pun yang bisa menjelaskan, Yusuf Islam merasa tertohok. Ia ungkapkan keterkejutannya ketika diwawancarai oleh Larry King di CNN.

Menurut Yusuf Islam pernyataan tentang kepercayaan pada satu Tuhan di alam semesta, adalah sesuatu yang sangat kuat. Dia merasakan pendekatan universal, ketika membaca dan mempelajari Al Quran. Bahkan tak pernah ia sangka nabi-nabi sebelum Muhammad pun disebutkan dalam Al Quran.[4]

Al Quran merupakan gerbang pembuka bagi Yusuf Islam. Ia tak bisa menahan dirinya lagi setelah lebih dari satu tahun mendalami agama Islam, dan merasa bahwa bersujud kepada Allah adalah jawaban yang ia cari selama ini.

Di tahun 1977, setelah kembali ke London ia menemui seorang muslimah bernama Nafisa. Yusuf Islam mengungkapkan keinginannya untuk menjadi mualaf. Pada hari Jumat setelah salat Jumat, Yusuf Islam menemui imam masjid New Regent, dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia pun menjadi seorang muslim, dan mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. (TR)

Bersambung …

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Becky Stephenson, The Tragic Story of Cat Stevens, pada laman https://www.grunge.com/1220559/the-tragic-story-of-cat-stevens/ diakses pada 23 Mei 2023

[2] Amy Rieter, Cat Stevens, pada laman https://www.salon.com/1999/08/14/cat_2/ diakses pada 24 Mei 2023

[3] Ibid.

[4] Transcripts, CNN Larry King Live Interview with Yusuf Islam, Formerly Cat Stevens, pada laman https://transcripts.cnn.com/show/lkl/date/2004-10-07/segment/01 diakses pada 24 Mei 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*