H.O.S. Tjokroaminoto: Sosok Multidimensional dalam Kemajuan Bangsa dan Gerakan Islam Modern (3)

in Tokoh

“Keberanian Tjokroaminoto yang lantang berorasi, menjadikan ia sebagai sosok yang begitu dicintai, bahkan dianggap sebagai dewa penyelamat oleh kalangan masyarakat masa itu.”

Gambar ilustrasi. Sumber: tirto.id

Terlepas masalah internal dalam organisasi juga tuduhan keterlibatan ia dalam “kelompok radikal”, pada akhirnya tidak ada bukti yang sahih. Tjokroaminoto pun menjadi ketua beberapa periode di organisasi SI, dimana pada akhirnya SI pun menjadi sebuah partai politik.

Akan tetapi, bukan hanya sepak terjangnya di dalam dunia politik yang perlu disorot, melainkan tujuan utama Tjokroaminoto semasa hidupnya. Ia sudah begitu lama menginginkan negerinya tidak tunduk di bawah pemerintahan kolonial.

Ia mencetuskan gagasan merdeka bagi bangsa Hindia (sekarang Indonesia), yang disebutnya dengan zelfbestuur yakni pemerintahan sendiri. Keberanian Tjokroaminoto yang lantang berorasi, menjadikan ia sebagai sosok yang begitu dicintai, bahkan dianggap sebagai dewa penyelamat oleh kalangan masyarakat masa itu.

Dianggap Sebagai Juru Selamat

Tjokroaminoto yang begitu kharismatik pun disegani, perannya dijadikan masyarakat di Tanah Jawa terlalu “berlebihan”. Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa akan datangnya seorang Ratu Adil yang akan menyelamatkan rakyat dari kesengsaraan, dan profil Tjokroaminoto seolah sesuai dengan penggambaran yang pernah diramalkan. Adalah seorang Jayabaya pernah mencetuskan sosok juru selamat akan hadir, yang bernama Prabu Heru Tjokro.

Tentu saja Agoes Salim sebagai rekan dan sahabat Tjokroaminoto memperingatkan akan hal tersebut. Agoes Salim mengungkapkan bahwa Ratu Adil gerakan yang sangat berbahaya, karena merupakan kekuatan dari luar (masyarakat) dan tak bisa diawasi. Pun konsep tersebut merupakan sisa paham animis dan mistik, yang justru harus diredam.[1]

Tjokroaminoto yang semula mendebat, pada akhirnya menyadari akan hal itu. Ia bersama Agoes Salim, menekan konsep Ratu Adil dan semacamnya, dengan penguatan ajaran Islam kepada masyarakat.

Buah Pikiran dan Karya

Tjokroaminoto adalah sosok pengajar dan guru bagi tokoh-tokoh nasional yang kelak mencetuskan kemerdekaan Indonesia, di antaranya Soekarna, Semaoen, Kartosoewirjo, dan juga Abdul Malik yang kelak dikenal sebagai Buya Hamka. Sosoknya begitu dikagumi dan diidolakan oleh generasi-generasi muda.

Gagasan-gagasan Tjokroaminoto banyak tertuang dalam beberapa tulisan dan karya, yang berlandaskan ajaran Islam, baik dari Al Quran maupun As Sunnah. Bahkan teori Karl Marx dan Friedrich Engels yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama, ia baca dengan dengan kesadaran agama Islam, sehingga lahir gagasannya tentang Islam dengan sosialisme.

Artikel dengan judul “Apakah Sosialisme itu” dan “Sosialisme Berdasar Islam”, cukup menarik perhatian masyarakat kala itu. Artikel yang dimuat di surat kabar Oetoesan Hindia, pada 1 Januari 1913. Lalu ia pun menerbitkan sebuah buku “Sosialisme Islam”, di bulan November 1924.

Kutipan dari tulisan Tjokroaminoto mengenai prinsip sosialisme dengan ajaran Islam, yaitu:

“Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama, karena segala apa saja yang ada hanyalah berasal atau dijadikan oleh satu kekuatan atau satu kekuasaan, ialah Allah Yang Maha Kuasa.”[2]

Menurut Nasihin dalam Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945, Tjokroaminoto menegaskan bahwa sosialisme Islam ialah pergerakan sosialisme yang dikontrol oleh identitas keislaman untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia maupun akherat.[3]

Meski demikian, dalam beberapa hal, Tjokroaminoto tidak sepakat dengan beberapa gagasan sosialisme Karl Marx. Ia sempat melontarkan kritik pemikiran Karl Marx. Di mana Karl Marx menyatakan agama adalah kebingungan otak buatan manusia untuk meringankan beban hidup sehingga agama merupakan candu bagi rakyat.

Pun tentang ajaran materialisme historis Karl Marx yang menyatakan bahwa segala sesuatu berasal dari benda, oleh benda, dan kembali ke benda. Tjokroaminoto justru memaparkan bahwa umat Islam meyakini segala sesuatu berasal dari Allah, oleh Allah, dan akan kembali kepada Allah.

Begitu banyak buah pikiran yang ia tulis dan disebarluaskan, antara lain: Azaz Tandim Al Islam (1916), Islam dan Sosialisme (1924), Kultur dan Adat Islam (1933), Raglament Umum Bagi Umat Islam (1934).[4]

Gelar Pahlawan Nasional

Kesehatan Tjokroaminoto semakin memburuk sejak akhir tahun 1933, ia jatuh sakit seusai menghadiri Kongres di Banjarnegara. Bahkan ia sampai mengalami lumpuh. Tjokroaminoto pun mengembuskan napas terakhirnya pada 17 Desember 1934, di usia 52 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pekuncen, Yogyakarta.

Pada tahun 1961, Presiden Soekarno atas nama pemerintah Indonesia menetapkan Tjokroaminoto sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Sejarah hidup tentang Tjokroaminoto pun sempat dipopulerkan oleh sebuah karya sinema Tjokroaminoto: Guru Bangsa (2015), produksi Miles Films.

(Selesai)

Sebelumnya:

Catatan kaki:


[1] Iswara N. Raditya, Saat Tjokroaminoto Diangap Ratu Adil, Agus Salim Memperingatkannya, pada laman https://tirto.id/saat-tjokroaminoto-dianggap-ratu-adil-agus-salim-memperingatkannya-czH9 diakses pada 12 Agustus 2023

[2] Iswara N Raditya, H.O.S. Tjokroaminoto Memadukan Islam dan Sosialisme, pada laman https://tirto.id/hos-tjokroaminoto-memadukan-islam-dan-sosialisme-cwW1 diakses pada 12 Agustus 2023

[3] Ibid.

[4] William Ciputra, Profil HOS Tjokroaminoto dan Asal-Usul Julukan Raja Jawa Tanpa Mahkota, pada laman https://regional.kompas.com/read/2022/01/27/111000478/profil-hos-tjokroaminoto-dan-asal-usul-julukan-raja-jawa-tanpa-mahkota?page=all diakses pada 11 Agustus 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*