Abu Thalib dan Salah Persepsi (2)

in Sejarah

Last updated on May 28th, 2018 06:10 am

Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah, tetapi membuatnya menerima kebenaran itu susah.”

—Ο—

 

Dalam banyak ayat Al-Qur’an kita menemukan pertanyaan-pertanyaan retoris berkenaan dengan manusia-manusia yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau menerima dan berperilaku sesuai dengannya. Di akhir ayat-ayat itu biasanya kita menyaksikan bahwa Al-Qur’an menggelari mereka sebagai orang-orang yang كافر (kâfir). Secara bahasa, kâfir diturunkan dari akar-kata كفر (kafar) yang berarti menutupi atau menyelubungi, sehingga kâfir dalam ungkapan orang Arab juga berarti malam. Jadi, semua orang yang menutupi cahaya kebenaran bisa disebut sebagai kâfir.[1] [2]

Orang kâfir di dalam ungkapan Al-Qur’an lazim diidentifikasi sebagai orang-orang bodoh (جاهل), lantaran keduanya sama-sama muncul dari sikap menutup diri. Misalnya, dalam surah Al-A`raf ayat 138, Al-Qur’an menyebutkan Bani Israil sebagai kaum yang bodoh (qaumun tajhalûn). Dalam surah Huud ayat 29, Nabi Nuh menyebut kaumnya yang ingkar juga sebagai kaum yang bodoh (qauman tajhalûn). Nabi Luth dalam surah An-Naml ayat 55 menyebut kaumnya yang kafir sebagai bodoh. Dalam surah Al-An`am ayat 111, Allah menyebut orang-orang yang kafir terhadap Nabi Muhammad saw sebagai orang-orang bodoh dan zaman mereka hidup disebut dengan Zaman Jahiliyah (QS 3: 154 dan 5: 50) dan sebagainya.

Mengenai orang bodoh, Ali bin Abi Thalib memiliki perkataan yang menarik. Beliau menuturkan:

اثبات الحجّة على الجاهل سهل، ولكن اقرا ره بها صعب

“Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah, tetapi membuatnya menerima kebenaran itu susah.”

Konon pernah dua orang Baduwi, Amr dan Zaid, berselisih tentang sesosok benda yang mereka lihat di kejauhan. Amr memastikan bahwa sosok itu adalah kambing, sedang Zaid memastikan bahwa sosok itu adalah burung. Merasa yakin dengan pendapatnya masing-masing, kedua orang ini akhirnya bersepakat untuk mendekati benda itu. Begitu sudah cukup dekat, Amr berteriak bahwa sosok itu pasti adalah burung elang. Zaid tetap bergeming, menegaskan bahwa itu adalah kambing pandang pasir. Amr lantas mengambil batu dan melempar ke arah binatang itu, dan ternyata burung itu terbang. Melihat burung yang terbang itu, Amr menyatakan bahwa itu adalah sejenis kambing yang bisa terbang (عنز ولو طرد).

Anekdot ini sebenarnya ingin mengilustrasikan kehendak kukuh dalam diri orang yang bodoh, pendirian tegas dalam diri orang yang sesat, dan tipuan licik dari seorang yang bingung. Inilah puncak kebodohan yang melahirkan kebencian (atau kecintaan) tanpa dasar, kejumudan berpikir, penipuan sejarah dan pelbagai malapetaka lain yang menimpa umat Islam. Bilamana penilaian dan pendapat kita didasarkan pada sikap-sikap demikian, maka bisa dipastikan kita akan bergerak menjauh dari kebenaran dan kebajikan.

Ironisnya, para penulis, pengajar, pelajar dan pembaca sejarah Islam kerap berpegang pada cara-cara penilaian seperti itu. Maka, kita melihat bagaimana para pejuang dan pembela Islam sejati dikafirkan dan dicoreng hitam secara semena-mena dan demi memuaskan sekelompok orang bejat. Abu Thalib adalah salah satu korban dari cara penilaian yang demikian. Puluhan bahkan ratusan bukti otentik mengenai keislaman beliau diabaikan, sementara prasangka-prasangka seputarnya terus disebar-sebarkan.

Banyak penulis dan lebih banyak lagi pembaca sejarah Islam sekonyong-konyong memvonis paman dan pembela Baginda Nabi ini sebagai kafir, dengan tanpa sedikit pun rasa malu atau rasa bersalah terhadap Baginda Nabi. Sebagian penulis sejarah sampai ada yang berani merekayasa dalil-dalil berkenaan dengan kekafiran Abu Thalib seperti sebab turunnya ayat 56 surah Al-Qashash (28) dan sejumlah hadis palsu lain. Dalil-dalil palsu itu telah dibantah habis oleh penulis buku “Abu Thalib Mukmin Quraisy”, Abdullah al-Khanizi, secara menyeluruh dan elaboratif.

Lebih konyol lagi, tuduhan atas Abu Thalib yang berpijak pada kebohongan ini dijadikan alasan oleh sejumlah ahli kalam untuk menarik kesimpulan rancu menyangkut hidayah dan keimanan. Kata mereka, “Manusia sangat tidak berdaya dalam masalah hidayah dan keimanan, dan Allah sangat ‘kikir’ dan ‘sempit’ dalam memberi hidayah kepada seseorang. Bagaimana tidak? Abu Thalib yang mati-matian membela Rasulullah saja mati dalam keadaan kafir?” Kesimpulan semacam ini tidak lain dari kesimpulan orang yang tidak mengenal Allah sama sekali, karena Allah sesungguhnya adalah Tuhan yang Maha Pemberi rahmat dan hidayah, Maha Pemurah, Maha Penerima taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Gambaran tentang Allah yang menakutkan dan mencekam ini agaknya telah merasuki akidah dan pola beragama sebagian umat Islam. Akibatnya, mengikuti gambaran yang seperti itu, tanpa berpikir panjang, dengan gampang dan cepat, mereka bisa mengkafirkan atau memusyrikkan seseorang atau sekelompok orang yang berbeda dengan mereka. Akidah dan pola keberagamaan yang kasar ini umumnya dianut oleh golongan Wahabi dalam tubuh umat Islam. Barangkali wajar saja kalau mereka berlaku seperti itu, lantaran Allah dalam bayangan mereka adalah Tuhan yang ‘kikir’ dan ‘sempit’, na’udzu billahi min dzalik!

Bersambung...

Abu Thalib dan Salah Persepsi (3)

Sebelumnya:

Abu Thalib dan Salah Persepsi (1)

Catatan kaki:

[1] Abu al-Qasim al-Raghib al-Isfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Dar Al-Ma`rifah, Beirut, t.t.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*