Resensi Buku: Asrar al-Ayat

in Studi Islam

Last updated on November 30th, 2017 05:02 pm

Camkanlah baik-baik, seseorang yang menutup diri dengan apa yang telah diketahuinya dan mengingkari apa yang tidak dipahaminya, maka dia akan berhenti di batas pengetahuan dan pemahamannya, terhalangi dari hal yang ada di atas ambang akal dan keimanannya.”

—Ο—

 

Buku ini adalah salah satu karya ringkas Mulla Shadra seputar al-Qur’an. Dalam buku ini, Mulla Shadra mencoba menjelaskan al-Qur’an dalam konteks misteri Ilahi, bukan rangkaian huruf dan kata yang datar (face-value). Baginya, al-Qur’an adalah firman Ilahi yang bergradasi, penuh dengan rahasia (sirr), sandi (ramz) dan alusi (isyârah). Al-Qur’an hanya dapat dicerap secara utuh dan sempurna oleh Baginda Nabi dan para kekasih Allah, sedangkan selain mereka mencerapnya secara partikular dan segmental―sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Seperti juga Ibn Arabi, Mulla Shadra menunjukkan bahwa al-Qur’an bukanlah kumpulan kata yang bermakna tunggal, melainkan Kalam Ilahi yang memiliki berbagai tingkat makna dan realitas. Satu tingkatan makna tidak bisa menafikan tingkatan lainnya. Masing-masing tingkatan makna dan realitas itu akan terpampang dan terpahami oleh manusia sesuai dengan maqâm ruhani dan intelektualnya. Oleh sebab itu, Ibn Arabi menyebutkan bahwa “Setiap maujud menemukan apa yang diinginkannya dari al-Qur’an.”[1]

Seorang ahli suluk dan ahli hikmah seperti Mulla Shadra tidak akan pernah puas dengan satu tingkat makna atau realitas tertentu dari al-Qur’an. Dia senantiasa mencoba-singkap tingkat-tingkat tertinggi dan menyelami lapisan-lapisan terdalam yang dikandungnya. Setiap kali menaiki tingkat yang lebih tinggi atau menyelami lapisan yang lebih dalam, dia menemukan apa yang diistilahkan sebagai “rahasia”. Rahasia-rahasia itu dia temukan dengan upaya intelektual dan disiplin atau latihan kekalbuan (riyâdhah qalbiyyah) yang serius dan melelahkan. Rahasia-rahasia itu juga hanya bisa ditemukan apabila terjadi jalilan yang erat antara manusia dan al-Qur’an, sehingga pintu-pintu gaib terbuka baginya.

Oleh sebab itu, perjalanan yang mereka lakukan tidak saja bersifat diskursif-intelektual yang dingin dan hambar, tetapi yang lebih penting adalah proses eksperiensial-spiritual. Maka itu, apabila ayat-ayat al-Qur’an dibacakan kepadanya, keimanannya akan bertambah.[2] Dan keimanan bukanlah semata-mata representasi mental, melainkan penghayatan dan pengalaman kekalbuan (al-idrâk al-qalbi) yang jauh lebih dahsyat dan mengguncang. Pada ayat lain, Allah berfirman, “Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan (berupa) kitab (al-Qur’an) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, bergetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenanglah kulit dan hati (mereka untuk) mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa disesatkan Allah niscaya tiada baginya seorang penunjukpun.”[3] Bahkan, untuk mengumpamakan keagungan al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa apabila al-Qur’an diturunkan kepada suatu gunung, niscaya gunung itu akan bersikap khusyû’ dan meletus akibat ketakutan kepada Allah.[4]

Beberapa ayat di atas dan sejumlah hadis secara tegas memperlihatkan bahwa “bacaan” al-Qur’an para pesuluk melibatkan lebih dari sekadar indra dan otak, sehingga bacaan itu menyuguhkan suasana yang spektakular bagi mereka. Ini jelas berbeda dengan kelompok pembaca “huruf-huruf al-Qur’an” yang tidak mengalami apa-apa selain gejala indrawi dan perseptual. Bagi para pesuluk, al-Qur’an merupakan sumber yang terus mengalirkan emanasi Ilahi. Huruf-huruf dan kata-katanya adalah pintu-pintu menuju realitas yang lebih tinggi dan lebih “nyata.” Ia adalah Penyingkapan, Pewahyuan dan Pengungkapan Ilahi yang jauh melampaui perwujudan lahiriahnya. Inilah Firman Allah yang mengatasi semua pemahaman, bahasa dan pengalaman manusia.

Pemahaman dan penafsiran seseorang atas al-Qur’an justru dapat dijadikan cermin kedudukan (maqâm) dan kemampuan seseorang. Semakin tinggi kedudukan dan kemampuannya, semakin mendalam dan tepat penafsirannya terhadap al-Qur’an. Ia ibarat cermin yang memantulkan aspek batin semua orang yang di hadapannya; menjawab pertanyaan siapakah orang yang di hadapannya itu. Allah berfirman, “Katakanlah, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka terdapat sumbatan, sedang al-Qur’an itu adalah suatu kegelapan (kebutaan) bagi mereka. Mereka itu ibarat orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”[5]

Lebih jauh lagi, dalam filsafat Islam kita mengenal kaidah yang disebut dengan ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni penyatuan subjek yang mengetahui (knower) dengan objek yang diketahui. Dalam kaitan ini, Toshihiko Izutsu menuliskan: “Masalah bentuk-unik hubungan subjek-objek dibicarakan dalam (filsafat) Islam sebagai masalah ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni ‘penyatuan pengetahu dan yang diketahui’. Apapun objek pengetahuannya, tingkat tertinggi pengetahuan dicapai manakala pengetahu, subjek manusia, menjadi benar-benar tersatukan dan teridentifikasi dengan objeknya sedemikian sehingga tidak terdapat lagi pembedaan di antara keduanya. Karena, pembedaan dan pemisahan berarti jarak, dan jarak dalam kaitannya dengan kesadaran berarti kebodohan.”[6]

Selanjutnya Izutsu menyatakan: “Kaitan antara hal yang metafisikal dan epistemologis dalam konteks ini berarti hubungan kesamaan yang luar biasa antar apa yang disebut sebagai struktur realitas objektif dan apa yang dianggap berlangsung secara subjektif dalam kesadaran manusia. Secara ringkas, hal ini berarti bahwa tidak ada jarak dan tidak semestinya ada jarak antara ‘subjek’ dan ‘objek’. Rasanya tidak cukup tepat (dan tidak cukup tegas) untuk mengatakan bahwa keadaan subjek secara esensial menentukan sisi objek yang dipersepsi, dan bahwa satu objek yang sama cenderung tampak berbeda sesuai dengan sudut-sudut pandang yang diambil oleh subjek. Akan tetapi, lebih dari itu, keadaan kesadaran sesungguhnya adalah keadaan dunia luar itu sendiri.”[7]

Kaidah di atas sesungguhnya dapat kita terapkan untuk melihat hubungan manusia dengan al-Qur’an; mulai dari tingkat paling rendah (ketiadaan hubungan penyatuan) hingga yang paling intens (keindentikan mutlak)―karena “penyatuan” di sini mestilah dipahami sebagai kualitas yang bertingkat-tingkat (equivocal). Demikian itu lantaran manusia adalah realitas bertingkat dan perpaduan dari beragam unsur (ruh, akal, kalbu, khayal, syahwat dan pancaindra) yang memiliki hukum dan watak yang berbeda-beda. Sebagian unsur itu bahkan berada di alam batin, jauh dari pengamatan indrawi sang subjek. Akibatnya, hubungan-hubungan manusia dengan objek secara otomatis berlangsung subtil, kompleks dan penuh nuansa.[8]

Sebagian manusia “menyatukan” diri dengan al-Qur’an secara indrawi dan lahiriah, tetapi dia tidak menghadirkan al-Qur’an sebagai Firman yang hidup dan menghidupkan. Al-Qur’an baginya adalah sebagai teks yang telah mati―asâthir al-awwalîn. Sebagian lain “menyatu” dengan al-Qur’an secara syahwat dan nafsu, sehingga ia berani menundukkan al-Qur’an pada ra’yu-nya sendiri―memperdagangkan ayat-ayatnya secara murahan. Sebagian lagi “menyatu” dengan al-Qur’an secara khayalan dan berwaham seolah-olah Allah telah memberinya privilege untuk mengafirkan siapa saja yang menentangnya dengan al-Qur’an. Sebagian lain “menyatu” secara kalbu, sehingga seabrek perasaan menjauhkannya dari teks dan menyeretnya untuk membungkam akal sehatnya sendiri. Sebagian lain “menyatu” dengan al-Qur’an secara akal pikiran, sehingga ia mendapatkan segudang pengetahuan yang benar tetapi kalbunya tidak terisi oleh keimanan.

Sebagian manusia ada yang mengalami proses penyatuan dan duplikasi al-Qur’an secara bertahap. Mula-mula, indranya membaca huruf-huruf al-Qur’an dengan tartîl, tidak terdorong syahwat untuk mempercepat atau mempergenit bacaan. Khayalannya terkendali, tidak tersentil untuk melakukan takwil-takwil yang menyesatkan. Kalbunya pelan-pelan merasakan cinta dan rahmat Ilahi, dan satu demi satu penyakit yang diidapnya tersembuhkan oleh ayat-ayat yang ditartikannya. Akalnya mencerap sejuta hikmah, merenungkan kehinaan dirinya dan kemuliaan Tuhannya. Lalu ruhnya menyaksikan cahaya Ilahi hadir di hadapannya, membimbingnya menuju jalan pulang ke kampung abadi.

Dalam pengantar buku ini, Mulla Shadra mengutarakan bahwa al-Qur’an adalah, “Cahaya ilmu-ilmu Ilahi dan rahasia masalah-masalah Ketuhanan (Rabbâni)… Inilah sederet kunci untuk membuka pintu surga dan ar-ridhwân (keridhaan)―dengannya harta simpanan Ar-Rahmân tersingkapkan, intisari alam malakût[9] terungkapkan dan cahaya alam jabarût[10] terpendarkan. Itulah dambaan orang-orang yang bersuluk, kesembuhan bagi orang-orang yang beriman dan bertauhid, derita bagi para pengingkar dan penyangkal, petunjuk untuk mereka yang bertakwa dan kebutaan serta penghalang mata orang-orang munafik yang congkak. Dengannya banyak yang tersesat dan banyak pula yang mendapatkan hidayah. Yang menjadi sesat karenanya adalah orang-orang fasik. Dan aku menyebut karya ini dengan judul Asrâr al-Ayât wa Anwâr al-Bayyinât (Rahasia Ayat-ayat dan Cahaya Keterangan-keterangan).”[11]

Dalam karya yang lebih luas dan menyeluruh tentang topik yang sama, Mafâtîh al-Ghayb, Mulla Shadra menerangkan pengalamannya berikut ini, “Telah datang perintah dari Pemerintah kalbuku dan tersirat aba-aba dari sukma gaibku bahwa Dia telah menetapkan keputusan pasti untuk membukakan sejumlah sandi Ilahi, membeberkan pokok masalah ilmu-ilmu al-Qur’an, isyarat-isyarat kenabian, rahasia-rahasia keimanan, petikan-petikan hikmah dan goresan-goresan esoteris berkaitan dengan mukjizat-mukjizat Firman Ilahi dan keunikan-keunikan takwil al-Qur’an. Sungguh, itulah mata air hakikat-hakikat Ketuhanan dan khazanah makrifat Rabbâni. Dengannya kepelikan masalah-masalah irfan terungkapkan, sari-sari hikmah dan burhân terjuntaikan dan prinsip-prinsip ilmu ma’âni dan bayân terdedahkan. Mutiara-mutiara al-Kitâb dan keimanan menjadi jelas, pintu-pintu surga dan pundi-pundi Rahmat dan ar-Ridhwân terbuka lebar. Allah telah melapangkan dadaku dan menyinari hatiku. Dengan karunia, kebaikan, perhatian dan kemurahan-Nya, Dia membukakan pintu-pintu kalbuku dan memberiku makrifat tentang Kitab-Nya. Dia mengajariku, melalui takdir yang mujur dan tadbir yang tepat, (metode untuk) membaca ayat-ayat al-Qur’an dengan bacaan (yang menimbulkan) renungan dan keyakinan, padahal sebelumnya aku tidak mengetahui apakah al-Kitâb dan keimanan itu. Akan tetapi, Allah memberikan hidayah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya dan menyinari kalbu dengan cahaya petunjuk dan bimbingan-Nya.”

Selanjutnya, Mulla Shadra mengingatkan, “Hai orang berakal yang adil, bila kau ingin mengamati ilmu al-Qur’an, hikmah Allah dan prinsip-prinsip keimanan, yakni keimanan kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul dan hari kemudian, maka kau harus merujuk kepada para pembawa rahasia-rahasia dan makna-makna (esoteris) al-Qur’an…Lalu, hai pengamat, kalau kau menemukan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kau pegangi dan kau pahami dengan selera waras, janganlah sekali-kali kau menyangkalnya, karena ‘Di atas setiap ilmu ada yang Maha Mengetahui.’[12] Camkanlah baik-baik, seseorang yang menutup diri dengan apa yang telah diketahuinya dan mengingkari apa yang tidak dipahaminya, maka dia akan berhenti di batas pengetahuan dan pemahamannya, terhalangi dari hal yang ada di atas ambang akal dan keimanannya. Sungguh kebenaran lebih luas dari itu… Maka itu, hai orang berakal, keluarlah dari rumah yang mengurungmu dan (lepaskan) gagang pintumu. Campakkan baju kebohongan dan jahiliyah, beranjaklah dari belenggu-belenggu formal, akidah-akidah populer dan pendapat-pendapat resmi…”[13]

Kutipan-kutipan di atas secara ringkas menunjukkan pandangan Mulla Shadra tentang al-Qur’an sebagai sebuah cahaya petunjuk Ilahi, bukan semata-mata sebagai untaian teks yang statis. Banyak bagian dalam karya ini, terutama pada bagian-bagian awal, yang menjelaskan pandangan Mulla Shadra tentang al-Qur’an sebagai realitas ontologis yang memiliki banyak aspek dan tingkatan. Satu tingkatan mempertegas tingkatan lain. Satu aspek mendukung aspek lain. Dengan begitu, ia menjadi al-Qur’ân (pengumpul) di satu sisi, dan al-Furqân (pemisah) di sisi lain. Ia adalah Kalâm di satu sisi, dan Kitâb di sisi lain. Pemahaman yang tepat ihwal kebertingkatan realitas ini akan memudahkan kita untuk menyelami rahasia-rahasia al-Qur’an dan menemukan cakrawala hikmah yang tidak terbatas.

Akhirnya, harus saya akui dengan jujur dan rendah hati, rangkaian kata ini tidak akan bisa menyamai kekayaan pengalaman dan penjelajahan intelektual-spiritual yang telah dilalui oleh sang penulis. Rasa bahasa, emosi, alusi dan kekuatan yang tergelar sepanjang buku ini pasti akan membawa Anda memasuki dunia realisasi (tahqîq) yang sarat makna. Buku ini tidak bisa dianggap sebagai wacana teoretis semata, karena seperti telah kita ketahui, para penganut aliran hikmah muta’âliyyah[14], bukanlah tipe pemikir kenes yang gemar berwacana dan bermain kata-kata, melainkan seorang pesuluk serius yang berorientasi pada tindakan, penghayatan, pelibatan-diri secara total dan pengalaman-langsung.[]

Rujukan:
[1] W. C. Chittick, The Sufi Path of Knowledge, hal. 242, State University of New York Press, Albany, 1989.
[2] QS Al-Anfal (8), ayat ke-2.
[3] QS Az-Zumar (39), ayat ke-23.
[4] QS Al-Hasyr (59), ayat ke-21.
[5] QS Fushshilat (41), ayat ke-44.
[6] Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence, The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971, hal. 5. Teks aslinya: “The problem of the unique form of subject-object relationship is discussed in Islam as the problem of ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, i.e. the ‘unification of the knower and the known.’ Whatever may happen to be the object of knowledge, the highest degree of knowledge is always achieved when the knower, the human subject, becomes completely unified and identified with the object so much so that there remains no differentiation between the two. For differentiation and distinction means distance, and distance in cognitive relationship means ignorance.”
[7] Ibid., hal. 10. Teks aslinya: “The correlation between the metaphysical and the epistemological means in this context the relation of ultimate identity between what is established as the objective structure of reality and what is usually thought to take place subjectively in human consciousness. It means, in brief, that there is no distance, there should be no distance between ‘subject’ and ‘object’. It is not exact enough even to say that the state of subject essentially determines the aspect in which the object perceived, or that one and the same object tends to appear quite differently in accordance with different points of view taken by the subject. Rather the state of consciousness is the state of the external world.”
[8] Dalam tingkatan-tingkatan yang bertumpuk-tumpuk itu, seringkali terjadi kekeliruan atau penyimpangan yang sangat halus dan lembut. Misalnya, tidak jarang prasangka khayalan dikira sebagai pengalaman ruhani, atau pengindraan ragawi dianggap sebagai perasaan qalbi.
[9] Alam malakût adalah wadah perwujudan para malaikat, yang secara ontologis berada di atas tingkatan alam nasût atau mulk (alam material/fisik).
[10] Alam jabarût merupakan tingkatan ontologis di atas malakût, di sinilah Nama-nama Allah bermanifestasi secara aktual.
[11] Mulla Shadra, Asrâr al-Ayât, hal. 1-2, Anjumane Islamie Hikmat va Falsafie Iran, 1402 H.
[12] QS Yusuf: 76.
[13] Mulla Shadra, Mafatîh al-Ghayb, Pengantar, hal. 1-6.
[14] Bandingkan dengan tulisan saya pada pengantar buku Seri Filsafat Islam, Filsafat Islam, Majid Fakhry, 2001.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*