Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (2)

in Studi Islam

Allah SWT berfirman: “Jikalau sekitarnya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

 –Ο–

 

Lelaki Beriman Dari Pengikut Fir’aun

Dalam Tafsir Ibn Katsir dikatakan, menurut riwayat yang masyhur, lelaki mukmin dalam surat Al Mu’min ayat 28-29 tersebut adalah seorang bangsa Mesir dari kalangan keluarga Fir’aun. As-Saddi mengatakan bahwa dia adalah saudara sepupu Fir’aun yang membelot dari Fir’aun dan bergabung bersama Musa a.s. Menurut suatu pendapat, ia selamat bersama Musa a.s. dari kejaran Fir’aun. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir; Ibnu jarir menjawab pendapat yang mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang Bani Israil, bahwa ternyata Fir’aun mau mendengarkan perkataan lelaki itu dan terpengaruh olehnya, lalu tidak jadi membunuh Nabi Musa AS. Seandainya laki-laki itu adalah seorang Bani Israil, pastilah Fir’aun menyegerakan hukumannya, karena dia adalah dari kalangan mereka (Bani Israil).[1]

Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa tiada seorang pun dari kalangan keluarga Fir’aun yang beriman kecuali lelaki ini, istri Fir’aun, dan seorang lelaki lainnya yang memperingatkan Musa a.s. melalui perkataannya, yang disitir oleh firman-Nya: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu.” (Al-Qasas: 20). Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Lelaki ini menyembunyikan imannya dari mata kaumnya bangsa Mesir. Dia tidak menampakkannya kecuali pada hari itu, yaitu ketika Fir’aun mengatakan: “Biarkanlah aku membunuh Musa. (Al-Mu’min: 26) Maka lelaki itu menjadi marah karena Allah Swt.[2]

Tapi, perdebatan tersebut tidak berhenti pada batas ini. Fir’aun mengutarakan kata-katanya tetapi seorang mukmin itu tetap tidak puas dengannya, kemudian lelaki mukmin itu kembali berbicara:

“Dan orang yang beriman itu berkata: ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak akan menghendaki berbuat kelaliman terhadap hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan dirimu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan mernberi petunjuk. Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: ‘Allah tidak akan mengirimkan seorang (rasul pun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. al-Mu’min: 30-35)

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini lelaki mukmin tersebut menghujamkan argumentasinya ke titik yang lebih jauh, yaitu sejarah Mesir itu sendiri. Suatu pengetahuan dan pengalaman yang dekat dengan mereka, yang menjadi buah bibir dan legenda dalam kehidupan masyarakat di sana. Ia memperingatkan tentang nasib-nasib kaum terdahulu yang mengingkari kebenaran. Sebelum masa mereka, terdapat umat-umat yang menentang rasul-rasul yang dikirim oleh Allah SWT, lalu Allah SWT menghancurkan mereka. Mereka adalah kaum Nuh, kaum ‘Ad, dan kaum Tsamud, dan zaman mereka tidak terlalu jauh dengan zaman Fir’aun ketika itu. Lelaki mukmin tersebut mengajak para hadiri untuk menyimak kembali, bahwa apa yang diserukan oleh Nabi Musa AS tidak berbeda dengan Yusuf AS dan para nabi yang utus sebelumnya. Dan nasib dari para pembangkang ajaran-ajaran mereka juga terlihat nyata. Allah SWT menenggelamkan mereka dengan topan dan Allah SWT menghancurkan mereka dengan kilat atau Allah SWT menenggelamkan mereka dalam bumi.

Pembicaraan lelaki mukmin itu demikian terang benderang, dan mengandung beberapa peringatan yang mengerikan. Tampaknya ia berhasil memuaskan para hadirin bahwa ide membunuh Musa adalah ide yang tidak aman. Atau dengan kata lain, itu adalah ide yang yang tidak menjamin keselamatan mereka. Oleh karena itu, ide tersebut hendaklah ditinggalkan. Setelah itu, ketika bukti-bukti sudah dipaparkannya secara terang benderang, pada tahap selanjutnya lelaki mukmin itu berusaha untuk menunjukkan kepada mereka kebenaran yang dibawa oleh Musa AS. Ia yang semula menggunakan bahasa isyarat, kini berusaha untuk menggunakan bahasa yang terang dan gamblang. Dalam ayat selanjutnya, terlihat bahwa ia telah berani menampakkan kebenaran:

“Orang yang beriman itu berkata: ‘Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.'” (QS. al-Mu’min: 38-40)

Akhirnya, keimanan lelaki mukmin itu pun tersingkap. Ia diketahui sebagai seorang mukmin yang tidak lagi menyembunyikan keimanannya. Pada akhir pembicaraannya, ia menegaskan:

“Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Mengapa) kamu menyeruku kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak aku ketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan mengingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. al-Mu’min: 41-44)

Pada titik ini, lelaki mukmin tersebut terlihat mengambil alih resiko yang seharusnya ditimpakan ke Nabi Musa AS. Ia secara penuh menarik perhatian masyarakat Mesir dengan menyeru agar mengikutinya, dan melupakan narasi kekuasaan Fir’aun untuk membahas dan bahkan membunuh Nabi Musa AS. Jelas ini tindakan yang sangat berani. Dan tampaknya Allah SWT memang mengirim sosok ini dalam situasi seperti ini, agar misi Nabi Musa tercapai.

Jelas sekali, Al-Qur’an menyingkap bahwa lelaki ini merupakan salah seorang intelektual Mesir yang mengetahui sejarah dan mampu menganalis serta memiliki kemampuan untuk menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain sehingga ia mengetahui sebab-sebab dan akhir dari suatu peristiwa. Orang yang beriman itu mampu menggiring akal mereka menuju kebenaran. Fir’aun tersibukkan dengan lelaki mukmin ini hingga beberapa saat ia lupa untuk memikirkan Musa.

Tampaknya, kata-kata yang disampaikan oleh lelaki mukmin tersebut berhasil memikat sebagian pengikut Fir’aun, dan membelah keberpihakan kubu-kubu dalam istana tersebut, yaitu yang pro dengan Nabi Musa dan yang anti dengannya. Dan ini berarti kemenangan yang besar bagi ajaran Nabi Musa AS. Untuk beberapa waktu, keberadaan lelaki mukmin ini sudah berhasil mengacaukan konspirasi yang buat oleh Fir’aun dan anak buahnya. Dan mengubah rencana dari sebelumnya membunuh Nabi Musa AS, berbalik perhatiannya pada pengaruh yang mendadak dimunculkan oleh lelaki mukmin tersebut.

Pada ayat berikutnya, Allah SWT berfirman:  “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS. al-Mu’min: 45)

Sepertinya, Fir’aun dan anak buahnya sudah mulai meracik strategi untuk memusnahkan lelaki mukmin ini. Tapi Allah SWT memeliharanya dari kejahatan tipudaya mereka. Sebagaimana kita ketahui setelahnya, Fir’aun tetap memakai busana kesombongannya; ia tetap menyiksa Bani Israil, menghina mereka dan menodai kehormatan wanita-wanita serta membunuh anak-anak.

Akhirnya, tibalah waktunya bagi Allah SWT untuk bersikap keras kepada keluarga Fir’aun. Allah SWT menurunkan bencana kepada mereka dan menakut-nakuti mereka dengan azab sehingga mereka mengurungkan niat untuk menghancurkan Musa dan laki-laki mukmin itu, dan sebagai pembuktian atas kebenaran kenabian Musa. Allah SWT menurunkan tahun-tahun yang kering dan tandus kepada orang-orang Mesir di mana bumi tampak kering kerontang dan sungai Nil pun mengering hingga buah-buahan jarang sekali ditemukan dan harga semakin mencekik leher. Akibatnya, kelaparan melanda di sana-sini. Dalam keadaan demikian, orang-orang Mesir menganggap bahwa kehidupan mereka terancam. Sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh lelaki mukmin tersebut, semua akibat seperti ini akan selalu menimpa manusia ketika mereka berpaling dari keimanan dan takwa. (AL)

Bersambung…

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (3): Orang yang Dimatikan Seratus Tahun Lalu Dihidupkan Kembali (1)

Sebelumnya:

Beberapa Sosok Penting Tanpa Nama di Dalam Al Quran (1)

Catatan kaki:

[1] Lihat, http://www.ibnukatsironline.com/2015/10/tafsir-surat-al-mumin-ayat-28-29.html, diakses 14 Mei 2018

[2] Ibid