Mozaik Peradaban Islam

Benteng Merah Agra (1): Jejak Peradaban Mongol-Islam di India

in Arsitektur

Babur, seorang kaisar keturunan Genghis Khan dari sisi ibu, dan Timur Lang dari sisi ayah mendirikan Dinasti Mughal pada 1526. Babur memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke India, jejak bersejarahnya masih ada hingga hari ini.

Benteng Agra, atau juga sering disebut Benteng Merah di Agra,[1] dibangun pada tahun 1573 di bawah pemerintahan Kaisar Akbar – salah satu Kaisar terhebat dari Dinasti Islam Mughal. Luas keseluruhan kompleks Benteng Agra mencapai 380.000 meter persegi. Untuk menyelesaikan pembangunan benteng ini, konon  dibutuhkan lebih dari 4.000 pekerja dan delapan tahun masa pengerjaan yang berat.[2] Benteng Agra terletak di sisi Sungai Yamuna, di kota bersejarah Agra, di bagian barat-tengah negara bagian Uttar Pradesh, utara-tengah India hari ini.[3] Mengetahui pentingnya lokasi ini, Akbar membangun benteng untuk menjadikannya sebagai tempat tinggal utama orang-orang Mughal. Benteng ini menjadi kediaman utama para Kaisar Dinasti Mughal sampai tahun 1638.[4]

Gerbang masuk Benteng Merah Agra. Photo: Xenia Cities

Benteng ini memiliki sejumlah struktur bangunan yang mengesankan seperti Jahangir Mahal (Ruang khusus wanita), Khas Mahal (Ruang Kaisar), Diwan-i-Khass (Ruang Tamu Kehormatan), Diwan-i-Am (Aula Publik), Machchhi Bhawan (Ruang Ikan, tempat kolam ikan mas langka kesayangan kaisar), dan Masjid Moti. Pada tahun 1638, ibukota Dinasti Mughal dipindahkan dari Agra ke Delhi, yang menyebabkan Benteng Agra kehilangan statusnya sebagai tempat tinggal utama para kaisar Mughal. Benteng ini hanya berjarak 2,5 km dari monumen bersejarah lainnya, Taj Mahal. Sering digambarkan sebagai kota bertembok, Benteng Agra kini menjadi salah satu situs Warisan Dunia UNESCO.[5] Saat ini, beberapa bagian benteng Agra terbuka untuk umum dan telah menarik banyak wisatawan dari seluruh dunia. Sementara itu pada bagian lainnya, sebagaimana sejarah pendiriannya, masih dijadikan sebagai markas militer dan tertutup untuk umum.[6]

 

Kekaisaran Mughal

Benteng Agra ternama karena memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Benteng ini telah berganti kepemilikan dari berbagai penguasa ke penguasa lainnya di masa lalu. Ia juga telah mengalami berbagai macam renovasi sehingga penampilannya selalu berubah-ubah. Semuanya bermula pada tahun 1526, di Asia Tengah, seorang pangeran yang bernama Ẓahir al-Din Muḥammad (1483-1530) naik tahta menjadi seorang kaisar. Kaisar muda tersebut memiliki gelar “Babur”, yang dalam bahasa Persia artinya adalah Macan.[7]

Lukisan Kaisar Babur dari abad ke-16. Pelukis tidak diketahui.

Babur memiliki garis keturunan Mongol dari ibunya yang merupakan cicit dari penguasa besar Mongol Genghis Khan. Sementara itu, dari garis ayahnya dia berdarah Turki, ayah Babur adalah cicit dari penguasa Asia Tengah terbesar pada masanya, Timur Lang. Pada tahun 1526, untuk memperluas wilayah kekuasaannya, dari pusat kekuasaannya di Kabul, Afghanistan, Babur mulai merambah ke India. Dalam Perang Panipat I, Babur berhasil mengalahkan Sultan Delhi pada waktu itu, Ibrahim Lodi. Semenjak itu, kerajaan Babur dikenal sebagai Dinasti Mughal. Nama Mughal berasal dari bahasa Arab, Mogul, yang artinya adalah Mongol.[8]

Setelah mengalahkan Ibrahim Lodi, Babur menjadikan benteng dan istana peninggalan Ibrahim Lodi sebagai rumahnya. Dia kemudian memodifikasi benteng dengan membangun sebuah sumur besar (baoli) di dalamnya. Benteng itu segera menjadi monumen penting bagi Kekaisaran Mughal. Bahkan Humayun, putra Babur, dinobatkan menjadi Kaisar di benteng tersebut pada tahun 1530.[9]

Humayun tidak dapat duduk tenang, karena para kaisar dari dinasti lain, mengingat lokasi Benteng Agra yang strategis, juga mengincar tempat tersebut. Pada tahun 1540, Sher Shah Suri dari Kekaisaran Sur mengobarkan perang melawan Humayun dan mengalahkannya di Bilgram. Sher Shah Suri kemudian mengambil alih kepemilikan benteng tersebut dan melakukan beberapa perubahan kecil agar sesuai dengan selera arsitekturnya sendiri. Benteng itu kemudian menjadi kediaman para kaisar Dinasti Sur sampai 15 tahun berikutnya.[10]

Pada tahun 1555, Humayun berhasil merebut kembali kota Agra dan juga benteng itu. Tetapi setahun kemudian, Hemu Vikramaditya, jenderal dan komandan militer Adil Shah Suri (kaisar terakhir Dinasti Sur) berhasil merebut kembali Agra. Dia mengejar tentara Mughal yang melarikan diri ke Delhi, dan Pertempuran Tughlaqabad terjadi di antara Tardi Beg Khan, komandan militer Mughal, dengan Hemu Vikramaditya. Tardi Beg Khan kalah telak dalam pertempuran tersebut. Setelah kemenangannya yang gemilang, Hemu Vikramaditya kemudian berhasil mengangkat dirinya sendiri untuk menjadi seorang raja pada tahun 1556. Namun nahas, raja Hindu tersebut hanya berkuasa selama satu bulan.[11]

Kaisar Akbar ketika remaja. Photo: Vincent A. Smith: Akbar the Great Mogul, 2nd Edition (Oxford: Clarendon Press, 1917)
Benteng Agra setelah dibangun oleh Kaisar Akbar. Photo: the palace on wheels

Pada 5 November 1556, Kaisar Akbar, putra Humayun, bersama pasukannya berbaris menuju Delhi dan mengalahkan Hemu dalam Perang Panipat II. Benteng Agra akhirnya kembali menjadi miliki Dinasti Mughal. Benteng tersebut, yang sebelumnya bernama Badalgarh, karena dibangun hanya dengan menggunakan batu bata biasa saja, pada saat Akbar berkuasa, kondisinya telah rapuh. Menyadari pentingnya sejarah dan situasi bangunan tersebut, Akbar memutuskan untuk membangunnya kembali dengan menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir merah.[12] (PH)

Bersambung ke:

Benteng Merah Agra (2): Puncak Peradaban Dinasti Mughal beserta Keruntuhannya

Catatan Kaki:

[1] UNESCO, “Agra Fort”, dari laman https://whc.unesco.org/en/list/251, diakses 24 Januari 2019.

[2] Cultural India, “Agra Fort”, dari laman https://www.culturalindia.net/indian-forts/agra-fort.html, diakses 24 Januari 2019.

[3] “Agra Fort: Fortress, Agra, India”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Agra-Fort, diakses 24 Januari 2019.

[4] Cultural India, Ibid.

[5] UNESCO, Ibid.

[6] Lonely Planet, “Agra Fort”, dari laman https://www.lonelyplanet.com/india/agra/attractions/agra-fort/a/poi-sig/449177/356509, diakses 24 Januari 2019.

[7] “Mughal dynasty”, dari laman https://www.britannica.com/topic/Mughal-dynasty, diakses 24 Januari 2019.

[8] Ibid.

[9] Cultural India, Ibid.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*